Istri Sang Mafia

Istri Sang Mafia
BAB 16: Bantuan tak terduga


__ADS_3

Melaju bagai raja jalanan, Kenzo menancapkan gas dalam kecepatan tinggi untuk mencari keberadaan Rei yang diketahui menghilang sejak semalam. Bahkan Ettore bilang bahwa pria itu juga belum sempat menemui Alvin sejak pria itu masuk rumah sakit.


Amarah yang semula memuncak perlahan memudar setelah ia mengetahui seluruh kejadian kemarin malam dari cctv restoran Ornansha. Ia tidak bisa hanya mengandalkan ucapan Ettore yang merupakan saksi langsung kejadian itu.


"Sial. Aku bahkan tidak tahu setiap tempat dikota ini!" Kesalnya lalu memukul kemudi. Ia bingung harus memulai semuanya dari mana karena cukup sulit mencari satu manusia ditengah kerumunan manusia.


Dering ponsel membuat perhatian Kenzo teralihkan dari jalanan pada ponselnya. "Aku akan segera tiba!" Ucapnya setelah ia mengangkat benda itu mendekati telinganya. Setelah berkata demikian Kenzo kembali menyimpan ponsel itu dan mempercepat laju mobilnya.


Baru beberapa menit ia menyimpan benda persegi panjang dengan kecanggihan yang setara dengan otak manusia itu, tiba-tiba benda itu kembali berbunyi hingga membuat Kenzo berdecak kesal. "Sabarlah sedikit! Aku akan segera tiba!" Ucapnya dengan tegas.


"Kenz...." Lirih seseorang dari balik ponsel yang merupakan seorang wanita.


Kenzo yang terkejut lantas memeriksa siapa orang yang telah memanggilnya itu. Ternyata orang yang memanggilnya saat ini berbeda dengan orang yang menghubunginya sebelumnya. "Maaf, aku pikir kau—"


"Rei.." potong wanita itu dengan napas yang berat. "Rei ditembak, Kenz!" Lanjutnya hingga Kenzo yang tengah melakukan mobilnya berhenti mendadak ditengah jalan dan membuat orang-orang membunyikan klakson.


"Apa maksudmu?" Sergah Kenzo.


"Dia baru saja memanggilku dan tiba-tiba..." Wanita itu tak sanggup melanjutkan ucapannya.


"Tiba-tiba kenapa, Sarah?" Teriak Kenzo tak sabar mendengarkan kabar Rei dari wanita itu.


"Tiba-tiba a-aku mendengar suara tembakan." Lanjutnya. "Aku tidak tahu harus meminta bantuan pada siapa lagi selain dirimu, meskipun kau tidak di Orlan, tapi setidanya tolong kirim seseorang untuk membantunya." Pinta Sarah dengan suara parau. Ia tidak tahu jika saat ini Kenzo tengah mencari keberadaan pria itu.


"Kau tahu dimana dia?" Tanya Kenzo.


"Hem." Jawab Sarah. "Akan aku kirim lewat pesan." Lanjut Sarah kemudian memutuskan panggilan itu.


"Aku tidak akan menguburmu jika kau benar-benar mati hari ini, Rei!" Gumam Kenzo. Beberapa detik kemudian sebuah pesan masuk ke ponselnya dan ia pun segera menyuruh orang yang ia ingin temui tadi supaya menuju alamat yang ia dapat dari sarah.


Perlu waktu sekitar lima belas menit untuk sampai si tempat dimana Rei berada. Panasnya hari itu begitu terik membuat Kenzo memutuskan untuk mengenakan topi dan kacamata hitam kemudian keluar dari mobil ketika rekannya telah tiba.

__ADS_1


"Apa kau melihat dimana Rei?" Tanya Kenzo pada seorang pria yang berusia tak jauh dari dirinya. Pria itu menggeleng setelah matanya melihat ke setiap penjuru namun tak menemukan seseorang pun disana.


"Cari bangunan kosong disekitar sini!" Perintah Kenzo meminta agar perpencar supaya lebih cepat menemukan Rei—meskipun itu hanya sekedar jasadnya.


Melalui tempat yang tinggi, kedua pria itu mencari sebuah bangunan terbengkalai dan kosong yang cocok untuk tempat bersenang-senang. Karena tempat itu cukup luas, membuat mereka sedikit kesulitan menemukan tempat seperti itu. Kenzo pun tak habis akal untuk menemukan Rei.


"Ettore, apa kau tahu bangunan yang terbengkalai atau kosong di dekat pantai Orlan?" Tanya Kenzo.


Ettore mencoba mengingat salah satu tempat yang seperti Kenzo maksud. "Ada satu gudang bekas pengasapan ikan." Jawabnya kemudian. "Jika tidak salah ada disebelah Utara hotel Motela."


"Baiklah, terimakasih." Kenzo memutar tubuhnya untuk mencari lokasi hotel Motela yang dimaksud oleh Ettore. Ternyata tempat itu adalah tempat yang tengah rekannya datangi untuk mencari keberadaan Rei .


"Kenz, Aku menemukan gudang yang kau inginkan." Ucapnya setelah mengintip dari celah pintu bahwa ada beberapa orang yang tengah bersenang-senang. Kenzo pun segera menghampiri rekannya dan langsung masuk kedalam gudang itu.


"Hentikan semua tindakan bodohmu itu!" Teriaknya Hingga membuat Michael Hwuan dan anak buahnya menatap padanya.


"Kenz...." Lirih Rei yang samar-samar melihat wajah rekannya yang mungkin akan bergantian menghajarnya.


Tepukan tangan menggema diruangan itu, "bravo... Bravo.. bravo... Tameng pria yang tengah kita mainkan telah tiba." Ucapnya dengan lantang. Entah pujian ataukah hitaan maksud ucapan pria itu. Namun melihat Rei yang sudah terbaring membuat amarah Kenzo perlahan naik.


"Lanjutkan tindakanmu! Jangan dengarkan dia!" Tegas Michael Hwuan hingga Rei kembali merasakan sakit pada kaki yang terluka akibat sabetan pisau.


"Hentikan sekarang atau aku yang melakukannya?" Kenzo mempertegas perkataan.


"Jika kau mau, lakukanlah!" Tantang Michael Hwuan. Ia belum tahu kemampuan Kenzo sebenarnya dan ingin membuktikan desas-desus kabar tantang kemampuan tangan kanan Alvin Fortino itu.


Kenzo tersenyum kesal dan berjalan mendekati pria itu. Tentu saja dengan tangan kosong. Yang pria itu bawa hanyalah topi dan kacamata hitam yang menempel pada dirinya. "Baiklah, jika itu maumu. Akan aku penuhi!" Ujar Kenzo seraya melirik kebawah untuk melihat Rei.


"Sekarang giliran mu Kenz," Batin Rei yang sudah siap menerima hukuman dari Kenzo atas kecerobohannya. Matanya menatap dua kelompok yang siap bertarung dengan anggota yang berbeda jumlah itu.


Michael kini mengejar Kenzo karena pria itu mengalami kekalahan akibat melawan tiga orang sekaligus. Sedangkan satu orang yang ikut bersamanya tadi hanya mampu menangani satu orang saja. Sedangkan Rei, pria malang itu hanya dapat tengkurap sambil melihat rekannya itu beraksi.

__ADS_1


"Mereka kalah jumlah, jika seperti ini harus ada sesuatu yang ikut serta dalam pertarungan." Gumam Rei setelah ia menatap Kenzo yang sudah kewalahan. Bukan karena ia tidak ahli dalam bela diri, tapi jika lawannya banyak sekaligus, sekuat apapun dirimu pasti akan mengalami kekalahan.


Rei mencoba mengangkat tubuhnya untuk bangun dan mencari sesuatu yang dapat membantunya. Kilauan pisau yang berlumuran darahnya membuat pria itu mengambil benda itu. "Kenz, kau perlu ini!" Teriak Rei seraya melempar pisau itu pada Kenzo.


Layaknya sebuah adegan yang direncanakan, Kenzo berhasil menangkap benda tajam itu dengan sempurna meskipun tangannya tergores hingga mengeluarkan darah. "Sekarang kita tahu siapa orang pengecut yang sebenarnya." Sindir Michael sambil tertawa.


"Aku hanya membawa satu pisau, sedangkan kalian melawanku bersamaan dengan masing-masing pistol ditubuh kalian." Ledek Kenzo. Ia tak mau kalah berdebat ataupun bertarung dengan siapapun. Karena baginya kekalahan adalah hal yang memalukan. "Jadi siapakah tikus pengecut disini?"


Tak terima dengan Kenzo yang meledeknya dengan sebutan Tikus, Michael segera menyerang pria berpisau itu secara membabi buta. Namun karena Dirinya memegang senjata, sedikit saja goresan yang mengenai tubuh mereka akan membuatnya menyesal dan kesakitan. Apalagi jika Kenzo melakukan penyerangan gila-gilaan yang akan membuat mereka seketika mati. Untungnya Kenzo berhasil mengendalikan dirinya dan hanya memberi goresan kecil.


"Huh... Huh... Huh... " Kenzo mengatur napasnya setelah ia berhasil melumpuhkan ketiga orang itu dengan menusuk bagian perut mereka. Kini ketiga orang itu terkapar bermandikan darah segar yang keluar dari tubuhnya. "Panggil ambulans dan bawa mereka. Lakukan seperti biasa!" Perintah Kenzo pada anak buahnya.


Satu ucapan saja sudah sangat dipahami oleh pria berambut cepak hitam itu. Tentu saja itu harus membersihkan semuanya seperti sedia kala, mengurus kejadian semalam supaya tidak terendus kepolisian ataupun wartawan, juga menjaga ketiga orang itu hingga sembuh lalu kemudian membawanya menghadap Alvin. Tentunya saat berada ke kota Viterbo.


Kini pria berambut seperti madu itu berjalan mendekati Rei. Tangan kanannya ia ulurkan untuk membantu pria itu bangun. Namun Rei tak langsung membalas uluran tangan Kenzo, ia menatap pria itu dengan pikiran yang bertanya-tanya. Mengapa dia mengulurkn tangan? Kenapa dia tidak melakukan apapun? Kenapa ini?


"Aku manusia, bukan robot. Tanganku juga bisa pegal!" Celetuk Kenzo hingga Rei pun meraihkan tangan kanan pria itu lalu mencoba bangkit.


"Malam ini kita kembali ke Viterbo." Ucap Kenzo seraya memapah Rei.


"Baiklah," Rei setuju dengan ajakan pria itu. lagipula urusannya dengan Ilker Agha juga sudah selesai."Bagaimana dengan Alvin? Apa dia baik-baik saja?" Tanya Rei penasaran.


"Aw..." Aduh Rei ketika Pria yang berusia lebih tua darinya itu memukul rusuknya, "kenapa kau memukulku?"


"Itu balasan karena kau malah meninggalkan Alvin sendirian di rumah sakit." ujar Kenzo.


"Dia tidak sendirian. Ettore bersamanya," Sangkal Rei.


"Banyak alasanmu." Timbal Kenzo.


Tak ada satu pertanyaan pun yang keluar dari mulut Kenzo mengenai kejadian semalam hingga membuat Rei merasa heran. Namun pria berambut gondrong itu sudah dapat menebak bahwa Kenzo telah mengetahu semuanya.

__ADS_1


Tentu saja. Setibanya di rumah sakit, Kenzo menyuruh Ettore menceritakan semuanya secara detail. Namun karena posisi pria itu jauh dari lokasi Alvin, akhinya Ettore menyarankan Kenzo supaya melihat rekaman cctv restoran Ornansha.


Dan itu sudah cukup jelas bahwa semua kejadian bukanlah seratus persen kesalahan Rei.


__ADS_2