Istri Sang Mafia

Istri Sang Mafia
BAB 24: Keinginan Sang Signore


__ADS_3

Suara kapal pesiar yang berlayar di pagi hari membangunkan Alvin yang masih berselimut tebal dan mata yang kembali ia pejamkan. Usai dari restoran semalam Alvin segera pulang karena ia merasa tubuhnya itu mulai lemas. Bahkan untuk berjalan pun ia merasa agak berat. Entah mengapa ia jadi sering merasakan hal itu sejak operasi dilakukan.


Tak ada yang tahu bahwa dirinya berkali-kali merasakan hal itu kecuali dirinya sendiri. Ia takut jika itu akan didengar oleh para pesaingnya dan menjadi kesempatan mereka untuk melawan dirinya yang mulai melemah itu. Meskipun dua orang dibelakangnya tidak akan membiarkan semua itu terjadi, tapi ada baiknya jika ia berjaga-jaga.


Setelah kapal pesiar yang berisik itu lewat, Alvin perlahan membuka kedua matanya dan mengelilingi ruangan yang begitu luasnya seraya mencoba menarik tubuh berototnya itu untuk bersandar terlebih dahulu.


Alvin membuka kancing bajunya untuk melihat bekas operasi di dadanya itu. Kilas balik kejadian waktu itu kembali terbayang dipikirannya hingga membuat pria itu menautkan kedua alisnya. "Dia menembak dari jarak dekat, tapi kenapa pelurunya tidak menembus tubuhku?" Gumam Alvin bingung.


Bunyi dari ponselnya mengalihkan perhatian Alvin dari pikirannya dan beralih mengambil benda itu. Sebuah Poto dikirim oleh Enzio padanya hingga membuat Alvin segera melihatnya. Ternyata itu adalah Poto Moanna yang tengah menyiram tanaman didekat jendela rumahnya.


Senyuman merekah diwajah pria itu tiba-tiba muncul setelah ia menatap cukup lama Poto itu. Ia kini beralih pada kontak resepsionis Rumah sakit tempatnya check up kemarin.


"Pagi, Bisakah kau memberiku nomor Dokter Moanna? Aku salah satu pasien yang memiliki janji dengannya." Tutur Alvin dengan suara pelan dan harmonis.


"Mohon maaf yang sebesar-besarnya tuan, kami tidak dapat mengirimkan nomor pribadi kepada sembarang orang. Jika tuan berkenan melakukan check up atau sebagainya, disarankan untuk datang ke Rumah sakit langsung." Jelas resepsionis yang merupakan seorang wanita itu.


Alvin yang semula melengkungkan senyuman kini kembali berwajah masam. Tanpa basa-basi ia segera mematikan panggilan itu dan beralih menghubungi Kenzo yang tidak ia ketahui keadaannya sekarang bagaimana.


"Ada apa Vin?" Tanya Kenzo ketika ia mendengar suara Alvin memanggilnya dari balik telepon.


"Aku memerlukan nomor Dokter Moanna, apa kau masih menyimpannya?" Tanya Alvin. Ia berharap bahwa Kenzo masih menyimpan nomor Moanna karena waktu itu yang menghubungi Moanna untuk membuat janji adalah Kenzo.


"Akan aku periksa setelah urusanku selesai dan mengirimnya padamu!" Ujar Kenzo.


"Lima menit!" Tegas Alvin lalu menutup teleponnya.

__ADS_1


"Astaga, anak ini...." Kesal Kenzo. Ia pun segera mencari nomor Moanna dari riwayat panggilannya dan segera mengirimkan nomor itu pada Alvin sebelum lima menit. Karena jika telat sedikit saja ia bisa gawat dan berada dalam ancaman. Tentu saja ia tidak akan mendapatkan ketenangan karena Alvin akan membuat ponselnya berbunyi dengan pesan-pesan berisi umpatan-umpatan hingga kemauannya itu terpenuhi.


"Ditempat ini, apapun yang terjadi aku harus bisa tenang!" Seru Kenzo dengan kepalan tangannya memberi semangat setelah memberi apa yang diinginkan oleh sang Signore. akhirnya dia dapat bernapas lega di kamar mandi seraya membuang sisa makanan semalam yang sudah diserap tubuhnya.


Sedangkan wanita yang tengah menyirami tanaman kini beralih untuk mulai membuat sarapan untuk dirinya sendiri setelah mandi. Karena ia menginginkan makanan yang simpel untuk sarapan, Rustico menjadi pilihan Moanna. Camilan gurih tradisional dengan isian berupa saus béchamel, tomat, dan keju mozzarella yang dapat menambah kenikmatan dalam sarapannya.Serta tak lupa segelas Kopi hangat disampingnya pelengkap sarapan yang sederhana itu.


Ditempat yang sama keempat orang yang sudah tiga kali bergantian mulai merasa bosan dengan pekerjaan mereka yang satu ini. Bukan pertarungan ataupun perkelahian yang mereka tangani, melainkan mengintai sosok wanita yang tidak mereka ketahui siapa dan kenapa mereka melakukannya. Sungguh kegiatan yang sangat jauh dari kebiasaan mereka.


"Apakah aku sudah boleh bergantian?" Ujar Pengintai tiga yang mulai menutup matanya perlahan karena mengantuk itu. Ia mendapat bagian saat tengah malam, dimana orang-orang mulai menutup kedua matanya.


"Hubungi orang yang ingin kau ajak bergantian. Setelah ia datang, kau boleh pulang." Jelas Pengintai satu.


Pengintai tiga lantas menghubungi rekannya untuk bergantian menjaga teropong panjang itu dengan kedua matanya. "Temui aku di atap gedung disamping Bank!"


Pria yang baru membuka matanya itu menggeliat seraya berkata, "Sepagi ini?" Keluhnya dengan mata yang mengeluarkan air karena menguap.


Mendengar hal itu lantas membuat pria yang baru saja membuka selimut tebalnya seketika loncat dan berlari ke kamar mandi untuk segera bersiap menuju tempat yang dimaksud pengintai tiga tadi.


Setelah bujukannya itu berhasil, pengintai tiga lantas memasukan kembali ponselnya dan kembali berfokus pada Moanna yang tengah berada di dapur. Hanya dapur dan halaman rumah Moanna saja yang dapat dilihat oleh keempat pengintai disetiap sudutnya. Selain itu mereka tak dapat melihatnya karena terhalang banyak hal.


"Bolehkan aku menanyakan sesuatu pada kalian?" Ucap pengintai dua tiba-tiba hingga terdengar ke telinga setiap pengintai lainnya karena mereka menggunakan earphone yang saling terhubung.


"Apa?" Tanya yang lainnya kompak hingga pengintai dua kaget akan kekompakan mereka semua.


"Siapakah wanita itu?"

__ADS_1


Semua pengintai terdiam. Mereka pun tak tahu siapa wanita yang mereka intai itu. Apakah wanita itu target mereka selanjutnya? Tapi sepertinya wanita itu tidak terlibat dalam dunia gelap seperti mereka. Lantas siapakah wanita itu? Pertanyaan yang sama mulai muncul dibenak mereka.


"Entahlah, aku hanya mendengar bahwa Enzio yang menyuruh kita bergantian untuk mengintainya." Jawab pengintai satu yang mendengar penjelasan itu dari orang sebelumnya dirinya.


Setelah selesai sarapan Moanna bersiap untuk berangkat ke rumah sakit. Namun ternyata ia meninggalkan ponselnya didalam kamar dan bergegas kembali untuk mengambil benda itu. "Hampir saja aku melupakanmu!" ujar Moanna seraya mengambil benda persegi panjang yang tergeletak diatas tempat tidurnya.


Getaran yang dirasakan oleh tangannya membuat Moanna membuka ponselnya yang ternyata terdapat sebuah panggilan dari nomor yang tak dikenalinya. "Siapa pagi-pagi sudah memanggil?" Moanna penasaran dan mengangkat panggilan itu.


"Siapa ini?" tanya Moanna setelah menjawab sapaan dari orang itu.


"Aku Kenzo Falwis, orang yang membuat janji denganmu tempo hari." Ucap Kenzo sambil melirik seseorang yang tengah memperhatikannya berbicara dengan Moanna.


"Oh iya, aku ingat." ucap Moanna. "Apa pasien kemarin mengalami suatu hal yang aneh?"


"Ya, kau benar." Jawab Kenzo spontan hingga Alvin yang mendengarkan obrolan mereka melebarkan kedua matanya tak terima dengan ucapan Kenzo yang menurutnya keterlaluan itu.


"Ma-maksudku, dia memiliki keluhan dan ingin menanyakannya padamu tentang itu." Kenzo segera meralat ucapannya tadi.


"Atur waktu bertemu!" Avin berkata tanpa suara hingga membuat Kenzo beberapa kali memutar otaknya untuk berpikir. "Astaga Vin, ada apa denganmu?" Batin Kenzo.


"Bisakah kita membuat janji untuk bertemu?" tanya Kenzo setelah ia mengerti maksud Alvin.


"Tentu, datanglah ke Rumah sakit dan temui aku setelah makan siang." Ujar Moanna seraya berjalan keluar dari kamarnya.


"Jangan dirumah sakit." Lagi-lagi Alvin berkata tanpa suara sambil melambaikan tangannya menolak usulan Moanna.

__ADS_1


Hah...


"Bisakah kita bertemu ditempat lain?"


__ADS_2