Istri Sang Mafia

Istri Sang Mafia
BAB 37: Pertemuan Moanna dan Anete


__ADS_3

Acara pernikahan pun kini telah selesai. Semua tamu undangan telah pergi meninggalkan hotel beberapa jam yang lalu. Kini hanya keluarga inti yang masih berada disana dan akan kembali besok pagi. Begitu juga dengan mama Alvin, Anete. Wanita itu rencananya akan kembali ke Milan malam itu juga setelah menemui putrnya dan juga menantunya itu.


"Nyonya, apa kita berangkat sekarang?" Tanya asistennya.


"Tunggu setelah kedua pengantin itu menemuiku." Ketus Anete. "Karena bagaimanapun aku adalah ibu dari mempelai pria." Lanjutnya.


"Baik, nyonya." Ucap sang asisten.


Anete pun mengambil cangkir berisi teh hijau itu lalu mengecapnya. Tangannya kini mulai membuka kembali lembaran-lembaran majalah untuk melihat barang-barang branded yang baru dipasarkan.


Ketukan pintu membuat sang asisten segera membukanya. "Tuan Alvin, nona..."


"Moanna," sahut Moanna memperkenalkan dirinya.


"Ah nona Moanna, silahkan masuk." Asisten Anete pun lantas mengantarkan kedua mempelai itu untuk menghadap Majikannya.


"Selamat malam, Nyonya." Moanna mencoba mencairkan suasana dengan menyapa mertuanya itu dahulu.


Sebuah sapaan membuat Anete menutup majalah ditangannya dan menatap pada kedua orang yang tengah berdiri didepannya. Tentu saja dengan wajah dingin dan ketus yang sangat tidak ramah.


"Apa ini mama mertuaku?" Gumam Moanna dalam hatinya. Cantik dan elegan begitu terlihat dari penampilan wanita berusia tak lagi muda itu.


"Sekarang dia adalah istriku, juga menantumu. Jadi perlakuan dia dengan baik layaknya keluargamu sendiri." Tutur Alvin pada Anete memperkenalkan Moanna pada mamanya.


Moanna yang berdiri disamping Alvin sedikit terkejut dengan cara bicara suaminya itu dengan mama mertuanya. Apa yang terjadi pada hubungan diantara mereka berdua hingga perilakunya seperti itu? Moanna bertanya-tanya dalam hatinya. Daripada dirinya diacuhkan lagi, lebih baik ia diam dan membiarkan sang suami berbicara.


Anete tersungging melihat anak dan menantunya itu. "Mengapa begitu?" Tanyanya. "Bukankah mertua seharusnya mengenali banyak hal tentang menantunya? Lantas pantaskah aku menjadi mertuanya sedangkan aku sendiri tidak tahu namanya?" Tutur wanita itu kemudian berdiri.


"Dengarkan aku wanita murahan! Jangan pernah kau anggap aku mertuamu karena aku tak sudi memiliki menantu dadakan yang miskin dan gila harta." Tegasnya dihadapan wajah Moanna.


Moanna menundukkan kepalanya mendengar cacian dari mertuanya itu dihari pertama mereka bertemu. Keputusan semula yang ragu-ragu kini mulai mendapat keyakinan bahwa dirinya memang benar-benar tidak cocok dilingkungan keluarga Alvin.

__ADS_1


"Hinaanmu terlalu kasar untuknya!" Sahut Alvin hingga Moanna mulai berani mengangkat sedikit kepalanya untuk melihat wajah Anete. "Cobalah gunakan kata yang halus agar lebih menusuk hatinya." Lanjut Alvin membuat Moanna merasa terhina sebawah-bawahnya


Anete tersenyum lalu menghampiri putranya itu. "Baiklah, akan aku turuti saranmu." Ucapnya hendak menyentuh bahu Alvin namun dihadang oleh pria itu.


"Jangan sentuh aku!" Tegas Alvin hingga wanita itu mengurungkan kembali tangannya.


"Perkenalan ini sudah selesai, sekarang kau boleh pulang ke Milan." Ujar Alvin lalu menarik tangan Moanna untuk ikut bersamanya meninggalkan wanita yang telah melahirkannya itu.


"Berangkat sekarang, nyonya?" tanya Asistennya.


"Tentu saja. Aku sudah tak nyaman berada disini." keluh Anete lalu pergi meninggalkan ruangan itu dengan beberapa koper yang dibawa oleh asistennya.


"Lepaskan aku!" Pinta Moanna ia mencoba melepaskan cengkraman tangan pria itu dari tangannya.


"Hei! Kau dengar tidak?" Kesal Moanna. "Aku bilang, lepaskan aku!"


"Diam!" Satu kata yang terucap dari Alvin hingga membuat Moanna seketika diam tak lagi berontak dan memilih untuk mengikuti kemana pria itu akan membawanya.


Alvin tiba-tiba berhenti dan berbalik menghadap Moanna. "Masuk!" Ucapnya ketika mereka tiba didepan sebuah kamar, kamar mereka berdua.


Moanna mematung sambil menatap wajah Alvin. "Dengar tidak? Masuk!" Jelas Alvin.


"Aku mendengarnya. Tidak perlu marah-marah!" Jawab Moanna seraya melewati Alvin lalu masuk kedalam seperti yang diperintahkan.


Kini Alvin menjauh dari ruangan itu menuju sebuah tempat dimana orang-orang sudah menunggunya. Rasanya begitu aneh, kini tiba-tiba ia sudah menjadi seorang suami. Bukan karena alasan cinta, melainkan demi sebuah kekuasaan.


Orang-orang yang sudah duduk berjejer seketika berdiri ketika Alvin berjalan menghampiri mereka.


"Selamat malam!" Sapa semua orang kompak.


"Selamat atas pernikahan dadakan mu itu." Ucap Luigi memberikan senyuman dengan sebuah arti, sebuah ejekan.

__ADS_1


"Iya Luigi benar, selamat atas pernikahan mu itu." Seru yang lainnya bergantian memberi selamat kepada Alvin.


"Terimakasih atas ucapan tulus yang kalian semua berikan padaku," ucap Alvin dengan bibir yang tersenyum penuh arti lalu menundukkan sedikit kepalanya kemudian mendaratkan tubuhnya di salah satu kursi. "Langsung pada intinya karena aku tidak mau membuang banyak waktu." ucap Alvin memulai.


"Seperti yang kalian ketahui, aku sekarang sudah berkeluarga, dan istriku tidak akan terlibat dalam urusan kita. Jadi aku harap kalian mengerti jika suatu saat istriku bertanya tentang bisnis kita jawablah sepantasnya." Pesan Alvin.


"Apa maksudmu, dia tidak tahu kau seorang mafia?" Tanya Oslaw. "Sungguh diluar dugaan." Lanjutnya tak habis pikir.


"Dia adalah warga sipil juga tenaga medis, cukup bertentangan seandainya dia tahu bahwa aku seorang pembuat luka sedangkan dia orang yang mengobati." Tutur Alvin menjelaskan alasannya tidak memberitahu sang istri tentang pekerjaannya. Padahal nyatanya ia memang sengaja menutupi pekerjaan sebenarnya.


"Itu urusanmu. Urusan kami saat ini adalah bisnis yang akan datang dan memberi keuntungan luar biasa," seru Oslaw.


"Sesuai kesepakatan tempo hari, keputusan ada ditangan sang Signore." Ujar Clarina. Satu-satunya wanita cantik yang menjadi ketua dari keluarga Vyer.


"Keputusanku tetap sama, tidak ada bisnis narkoba didalam lingkungan kita!" Tegas Alvin.


"Mengapa, Vin?" Heran Oslaw. "Itu bisnis yang sangat menggiurkan. Kenapa kau selalu menolak?"


"Bisnis itu terlalu beresiko, polisi dan hakim dalam cengkramanku tidak akan sanggup jika itu berurusan dengan narkoba." Jelas Alvin. "Kenapa tidak melanjutkan saja bisnis yang sudah ada? Seperti Minuman atau kasino?" Tanya Alvin.


"Keuntungannya Kalah jauh dari bisnis narkoba."Ujar Fousto.


"Keuntungan yang menurutmu menggiurkan itu hanya datang sesaat," ujar Alvin. "Jika kau tetap bersikukuh untuk memulai bisnis itu, silahkan. Aku tidak akan melarangnya."


"Apa itu artinya kau memberi dukungan padaku?" tanya Oslaw.


"Aku hanya memberi izin, bukan perlindungan. Jika sesuatu terjadi pada bisnis itu, jangan libatkan aku ataupun pihakku!" Tegas Alvin.


"Tapi kau—" Oslaw tak melanjutkan ucapannya karena Alvin terlanjur pergi meninggalkan tempat duduknya.


"Ck, sial." Umpat Oslaw.

__ADS_1


"Keadaannya belum sepenuhnya pulih, jadi ia memerlukan istirahat lebih banyak. Harap kalian dapat mengerti." Jelas Kenzo.


__ADS_2