Istri Sang Mafia

Istri Sang Mafia
BAB 31: Sebuah pengakuan


__ADS_3

Langit yang semula gelap kini berubah menjadi terang dengan sorot cahaya matahari yang mulai terbit di ufuk timur. Dering alarm menggema diruangan yang dipenuhi dengan buku-buku tebal dan beberapa boneka berukuran sedang menunggu sang pemilik menyentuhnya. Tangan yang masih lemas kini merayap merajalela mencari sumber kebisingan yang mengganggu kenyamanan tidurnya.


"Huaaaa....." Moanna menutup mulutnya dengan tangan kiri. "Rasanya baru satu jam aku tidur." Ucapnya tanpa Sadar bahwa ia menghabiskan malam untuk tidur sekitar lebih dari enam jam. Sungguh waktu yang cukup bukan? Tapi begitulah manusia, tidak pernah merasa cukup dengan segala hal.


Moanna menarik tubuhnya untuk duduk sejenak sebelum akhirnya pergi ke kamar mandi untuk membersihkan dirinya. Rambutnya yang panjang tampak acak-acakan layaknya rambut singa begitu pun dengan penampilan yang hanya mengenakan piyama berwarna nude.


Beberapa menit kemudian Moanna sudah selesai dengan dirinya. Kini ia berjalan keluar kamar untuk menemui sang Mama yang pastinya sudah berada didapur menyiapkan sarapan untuk dirinya.


Namun keanehan terasa ketika ia tak mendengar kebisingan apapun dari dapur. "Mama?" Panggil Moanna seraya berjalan pelan menuju dapur.


Ternyata tak ada siapapun disana. Bahkan alat bekas memasak pun tidak ada. Kemana mamanya pergi? bukankah kemarin dia berada disini? Moanna kini beralih ke ruangan lain yang sedikit gaduh dirumahnya itu. Dan betapa terkejutnya dia mendapati banyak orang diruang tamu. Disana terdapat mamanya, Alvin yang tentu saja bersama kedua orang kepercayaannya.


"Ada apa ini?" tanya Moanna penasaran ketika ia tiba didepan orang-orang yang tengah berbincang serius itu.


Mamanya segera menghampiri Moanna lalu menariknya untuk ikut duduk bergabung bersama mereka. "Jelaskan ini!" Pinta mamanya sambil menunjuk sebuah alat tes kehamilan yang tersimpan diatas meja.


"Itu alat tes kehamilan." Jawab Moanna dengan entengnya hingga membuat para pria yang berada diruangan itu mengelengkan kepalanya mereka. "Apa dia pura-pura bodoh?" gumam Rei dalam hatinya.


"Dia seorang dokter tapi ternyata gadungan." Ledek Kenzo dalam hatinya. Mereka tak menyangka bahwa Moanna bisa berpikiran seenteng itu.


"Moanna, Mama serius!" Sergah Mamanya yang mengira bahwa anak perempuannya itu tengah mengalihkan keadaan dengan candaanya.


"Aku juga serius mah, itu alat tes kehamilan. Mama juga pasti sudah tau, bukan?"


Perdebatan antara ibu dan anak itu membuat Alvin menggeleng. "Apakah ini milikmu?" Potong Alvin hingga kedua wanita yang tengah bersitegang itu menoleh padanya.

__ADS_1


"Apa maksudmu?" heran Moanna dengan tatapan mata yang sinis.


Alvin mengambil alat tes kehamilan itu. "Apa benda ini milikmu?" tanyanya lagi.


Kedua mata Moanna terbuka lebar. "Tentu saja bukan!" Tegasnya. "Lagipula darimana kalian menyimpulkan bahwa benda itu milikku?"


"Mama menemukan itu dari tong sampah didapur. Jika bukan kau, siapa lagi?" Timbal Mamanya.


Kemarin saat tengah membersihkan dapur, ia tak sengaja melihat alat itu didalam tong sampah. Untuk meyakinkan bahwa yang ia pikirkan itu benar, Mama Moana mengambil benda itu yang ternyata benar tes kehamilan. Karena ia yakin bahwa benda itu sudah pasti milik putrinya, mama Moanna segera menelpon putrinya itu untuk meminta penjelasan. Tapi sayangnya karena pekerjaannya, Moanna tidak dapat menjelaskannya dan dia pun terpaksa menunggu kepulangan putrinya itu.


"Sekarang akui saja, Moanna." Lanjut Mamanya meminta supaya anak sulungnya itu mengaku.


Moanna seketika berdiri. "Akui apa? Apa yang harus aku akui?" Sergah moana dengan amarah yang mulai tumbuh pada dirinya.


Moanna menatap Alvin, "TIDAK MUNGKIN!" Sanggah Moanna. "Ki-kita baru berhubungan sekali, apakah semudah itu untuk tumbuh?" Tutur Moanna tanpa sadar mengakui bahwa dirinya dan Alvin pernah berhubungan suami-istri. Orang-orang yang tengah duduk diruangan itu tampak menahan tawa mereka karena kebodohan Moanna yang mencoba mengelak tuduhan dengan sebuah pengakuan.


Kenzo mengelengkan kepalanya perlahan, "Dia malah dengan suka rela mengakuinya," Batin pria itu.


"Ternyata tidak serumit yang kupikir." Batin Rei merasa lega karena ia tak perlu lagi mencari bukti kuat tentang kehamilan Moanna yang ia dan Kenzo buat-buat.


Kedua pria yang mengetahui kebenaran dari kejadian itu hanya dapat tersenyum didalam hatinya. Karena jika sedikit saja bibir mereka bergerak, Alvin dengan cepat akan menyadarinya dan semua rencana yang mereka susun akan sia-sia. Sungguh disayangkan momen yang begitu lucu itu tak dibarengi oleh tawa mereka.


"Ma-maksudku.. " Moanna mencoba menjelaskan maksud ucapannya. Namun sial, mereka semua sudah mendengar pengakuan dari mulutnya langsung.


"Kau sudah mengakuinya, jadi mama berharap kau mengerti." Ucap sang mama sambil memegangi kedua tangan Moanna yang masih berdiri. "Mah..." Lirih Moanna.

__ADS_1


"Aku akan bertanggung jawab." Seru Alvin hingga Mata coklat terang Moanna menatap ke arahnya.


"Haruskah aku menikah dengan pria yang baru aku kenal?" Rengek Moanna. "Lagipula siapa yang akan mengurus pernikahan dadakan ini? Aku sangat sibuk." Lanjutnya mencari alasan untuk menolak pertanggungjawaban Alvin. Tanpa ia ketahui bahwa Alvin memiliki lebih dari seratus orang yang siap dikerahkan untuk melakukan hal semacam itu, termasuk Rei dan Kenzo.


"Serahkan semuanya padaku." Ucap Alvin seraya bangkit dari duduknya. "kau hanya perlu datang ke tempat acara diadakan tanpa membawa apapun." Lanjutnya lalu pergi menuju pintu keluar diikuti oleh Rei dan Kenzo.


"AKU TIDAK MAU!" Tegas Moanna.


"Aku tidak butuh persetujuanmu!" Tegas Alvin dengan tatapan tajam yang menusuk perasaan Moanna. Ya setelah melihat tatapan Alvin barusan, Moanna merasakan sisi kepribadian Alvin yang sebenarnya, Jahat dan kejam.


Begitulah perasaan Moanna mendefinisikan tatapan mata Alvin. "Apa mama tidak salah dengan keputusan mama menikahkanku dengan pria itu?" Tanya Moanna dengan mata yang mulai memerah dan bergenang air mata.


Wanita tua itu membelai rambut putrinya. "Mama yakin dia pria terbaik untukmu dan calon bayimu." Tangan yang sudah keriput itu kini mengelus perut rata Moanna.


Usai keluar dari rumah Moanna dan masuk kedalam mobilnya, Alvin segera meminta kedua orang kepercayaannya itu untuk mengurus segala keperluan pernikahannya. "Apa kau serius akan menikahi wanita itu?" Tanya Kenzo kembali meyakinkan keputusan tuannya itu.


"Apa wajahku kurang serius?" Kesal Alvin menatap tajam pada spion.


"Dia sepertinya ingin membunuh seseorang saat ini." Gumam Kenzo saat menatap tuannya itu. ia tak habis pikir bahwa Alvin akan menikah dengan wanita berprofesi Dokter yang baru dikenalnya. Itupun karena ulah dirinya dan Rei, bukan?


"Baiklah, kapan kau ingin acara itu berlangsung, Vin?" Tanya Rei memotong tatapan tajam Alvin pada Kenzo.


"Rabu, aku ingin hari Rabu pertama." jawab Alvin tanpa ragu-ragu.


"Baiklah, itu berarti lima hari lagi." Ujar Rei setelah membuat pengingat di kalender tabletnya.

__ADS_1


__ADS_2