
Makan malam keluarga kini akan dimulai setelah orang yang ditunggu-tunggu sudah bergabung bersama mereka. Alvin duduk tepat disamping sang Mama yang duduk ditengah-tengah meja sebagai penyelenggara acara.
Dentingan gelas yang dipukul perlahan membuat suasana yang semula berisik seketika senyap. Mama Alvin lantas berdiri dengan senyuman, "Selamat malam keluarga ku sekalian.." sapa wanita itu kepada keluarganya. Ya, hanya keluarganya. Tidak ada satupun orang yang datang diacara itu dari pihak keluarga suaminya.
"Alasan aku mengadakan acara ini untuk merayakan kesuksesan bisnisku di Roma juga kesuksesan putra sulungku yang sudah berhasil membangun bisnisnya sendiri tanpa—"
"Hentikan semua tentangku. Jelaskan saja tentangmu!" Potong Alvin hingga membuat semua keluarganya menatap pria yang kini berwajah dingin itu.
Begitupun dengan wanita yang tengah berbicara tadi kini tengah bergantian menatap Alvin dan keluarganya. "Ba-baiklah, untuk selanjutnya silahkan nikmati hidangan yang sudah tersedia."Lanjutnya dengan senyuman yang dipaksakan karena menahan malu atas sikap Alvin.
Semua orang kini menikmati hidangan di meja dan mulai berbincang satu sama lain. Itu juga yang kini tengah dilakukan oleh sang pemilik acara. "Apa maksudmu mengatakan hal itu?" Tanya Mama Alvin kepada anaknya. "Apa kau ingin mempermalukan ku karena aku tidak dekat dengan putraku?"
Dengan wajah yang datar Alvin menjawab, "Itu pikiranmu. Aku tidak bermaksud kesana," Alvin menatap kearah wanita yang telah melahirkan nya itu. "Aku hanya ingin pekerjaanku menjadi urusanku." Jelasnya menatap tajam mata ibunya.
"Satu hal lagi," Alvin yang semula hendak pergi kembali mendekatkan wajahnya pada sang ibu. "Aku tidak suka bisnisku di ketahui banyak orang. Jadi jangan sekali lagi kau melakukan hal yang sama!" Tegas Alvin kemudian bangkit dari duduknya begitupun dengan Kenzo yang duduk disamping Alvin, kini ditarik oleh pria itu untuk ikut dengannya.
"Padahal aku baru akan makan, Vin." Kesal pria itu dengan suara pelan karena takut terdengar oleh orang-orang diruangan itu. Namun Alvin mampu mendengar apa yang baru saja dikatakan oleh Kenzo padahal keadaan disana begitu ricuh.
"Aku bisa memberikanmu yang lebih daripada itu, Kenz." Seru Alvin kemudian namun tak terdengar oleh pria yang berada dibelakangnya itu.
Malam hari begitu dingin terasa hingga Moanna memilih untuk memasak makan malam yang dapat menghangatkan tubuhnya. Saat mencari bahan makanan yang akan ia buat ia hanya menemukan bacon, sosis, kaldu ayam, krim, serta sayuran seperti kangkung, bawang, dan kentang hingga ia berpikir untuk membuat Zuppa toscana, salah satu sup khas Italia.
Kesibukannya didapur bukan hanya dirasakan olehnya saja. Melainkan seseorang yang kini tengah memperhatikannya melalui teropong dari kejauhan juga dapat merasakannya. "Apa dia yang akan dia masak?" Gumam pria itu. Begitu pula dengan tiga rekannya disudut yang berbeda, ikut merasakan apa yang dilakukan oleh Moanna.
__ADS_1
"Halo, Enzio.." ucap salah seorang penjaga teropong.
"Aku sudah menemukan tempat tinggal wanita yang kau maksud." Ucap pria itu. "Sekarang aku tengah memperhatikan gerak-geriknya seperti perintahmu." Ujar pria itu seraya kembali memasangkan sebelah matanya pada lensa teropong.
"Bagus." Puji enzio dari balik telepon. "Jika kau sudah lelah, minta seseorang untuk menggantikanmu." Setelah berkata demikian, Enzio lantas memutuskan panggilan itu.
"Siapa sebenarnya wanita ini? Kenapa aku harus mengawasinya?" Heran pria itu. Ia pun kini mengambil handy talky untuk memberitahu rekannya tentang pergantian pengintai ketika mereka mulai merasa lelah.
Jendela dapur yang cukup besar membuat orang-orang yang tengah mengintainya dengan jelas melihat makanan yang tengah diolah oleh Moanna. Sontak itu membuat perut mereka mulai keroncongan. "Astaga, aku jadi ingin makan karena melihatnya." Ujar pengintai dua. Ia kini memanggil rekannya untuk bergantian mengintai dan tidak lupa untuk menyuruhnya membawa serta makanan yang sama seperti makanan Moanna.
"Belilah empat makanan yang sama. Jangan lupa hubungi aku ketika kau tiba!" Perintahnya kemudian memasukan kembali ponselnya kedalam jaket.
Enzio yang sudah mendapat kabar dari para pengintai lantas melapor. "Halo, tuan." Sapanya pada sang Signore.
"Aku hanya ingin memberitahu bahwa aku sudah menemukan orang yang kau maksud," ucap pria itu. "Dan sekarang aku sudah menyuruh beberapa orang untuk mengintainya." Lanjutnya menjelaskan situasi yang tengah terjadi.
"Lanjutkan." Ucap Alvin. "Ingat, jangan berlebihan!" Pesannya kemudian mematikan panggilan dan kembali pokus pada Kenzo yang tengah makan.
"Apakah itu ibumu?" Tanya Kenzo disela makannya.
"Bukan, Itu Enzio." Jawabnya hingga Kenzo tersedak. "Kenapa dia menelponmu bukan diriku?" Heran Kenzo. Karena biasanya pria itu akan menghubunginya terlebih dahulu sebelum memberitahu Alvin.
"Entahlah." Alvin mengangkat kedua bahunya. "Mungkin dia lelah menghubungi orang mati." Jawabnya sarkasme.
__ADS_1
Kenzo yang merasa tersindir akan ucapan Alvin lantas mengeluarkan ponselnya dan mengecek apakah pria itu tadi menelponnya. Ternyata benar, Enzio telah beberapa kali memanggilnya. Namun ia lupa sebelumnya telah mengubahnya menjadi diam hingga ia tak dapat mendengar bunyi ponselnya.
"Maaf, aku lupa mengubah ponselku." Ucap Kenzo pada Alvin.
"Lupakan saja," Ucap Alvin. "Suruh saha Enzio untuk mengirimkan hasil pengintaian Moanna padaku." Lanjutnya.
Kenzo pun segera melakukannya dengan mengetik sebuah pesan yang menyuruh Enzio supaya memotret beberapa momen Moanna pada Alvin. Hanya pada Alvin. Bukan melalui dirinya lagi.
"Habiskan semuanya, aku membelinya untukmu!" Ucap Alvin pada Kenzo yang tengah memakan hidangan yang cukup banyak.
Setelah keluar dari acara keluarganya secara sepihak, Alvin mengajak Kenzo ke sebuah restoran yang cukup terkenal di Milan sebagai pengganti jamuan enak dirumah ibunya.
Namun Kenzo tak menyangka bahwa Alvin memesan makanan sebanyak itu hanya untuk dirinya sendiri. Ia menduga bahwa Alvin akan membuat pesta sendiri di restoran itu bersama orang-orang yang secara sukarela bergabung bersamanya, termasuk para wanita yang perlu kesenangan yang bahkan tidak ia kenali.
Bukan untuk dinikmati. Alvin tidak pernah meniduri wanita yang mendekati dirinya sekalipun wanita itu seksi dan cantik. Ia hanya memberikan makanan dan minuman gratis kepada mereka semua tanpa imbalan berupa sebuah hubungan sesaat diatas ranjang.
Ia menolak keras hal itu. Karena baginya wanita yang melakukan itu menginginkan uang yang jelas-jelas akan digunakan untuk memberi makanan dan segala keperluannya. Jadi daripada memilih untuk menikmati mereka, kenapa tidak bantu saja mereka dengan meringankan satu beban berupa memberinya makan.
"Aku sudah tidak kuat, Vin." keluh Kenzo. "Perutku rasanya mau meledak." ucap pria itu seraya menyandarkan tubuhnya yang sudah kekenyangan.
"Baiklah, Ayo pulang!" Alvin bangkit dari duduknya dan menyimpan beberapa lembar uang diatas bil yang sudah tersimpan diatas meja dengan sisa makanan yang masih banyak itu.
Dengan perasaan malas, Kenzo pun bangkit dan mengikuti kemana Alvin akan membawanya kini. "Langsung pulang...." Kenzo terus menerus membaca mantra itu didalam hatinya. Ia berharap Alvin tak membawanya ke tempat lain lagi kecuali rumah ibunya. Karena kini ia begitu mengantuk dan lemas karena makanan yang terlalu banyak masuk ke perutnya.
__ADS_1