Istri Sang Mafia

Istri Sang Mafia
BAB 20: Seorang pengganti


__ADS_3

Usai urusannya selesai, Alvin segera pergi meninggalkan tempat tadi yang diberi nama Kānēshonbiru. Kata itu diberikan oleh Marco ayah Alvin yang berasal dari bahasa Jepang yang berarti gedung anyelir. Kini pria itu tengah duduk dikursi belakang mobil dengan mata yang di pejamkan. Hanya napasnya yang membuat tubuh pria itu bergerak-gerak. Bahkan tak ada obrolan yang terdengar didalam mobil itu. Sekalipun didalam sana terdapat tiga orang pria dewasa yang sepatutnya tengah bercerita tentang pasangan mereka masing-masing. Pantasnya.


Tapi nyatanya, mereka semua lebih suka diam ketika tidak ada hal yang berkaitan dengan pekerjaan mereka sebagai keluarga Mafia. Cinta, perasaan, dan wanita hanyalah sebuah kata yang tak pernah memiliki bukti bagi mereka. Bahkan itu tidak dapat dilihat oleh mata seperti uang. Bagi mereka saat ini, uang dan kekuasaan adalah yang terpenting.


"Mau makan siang apa?" Tanya Kenzo yang tengah mengemudi kepada dua orang rekannya yang diam membisu dengan urusannya masing-masing.


"Kita makan dirumah saja." Jawab Alvin dengan mata yang masih ia pejamkan.


"Baiklah." Ucap Kenzo setelah ia melirik pria itu.


Sementara Rei sejak masuk kedalam mobil langsung mengambil IPad hitam dan memeriksa data-data penghasilan bulan ini. Statistik keuntungan mereka pun lumayan meningkat dari bulan sebelumnya yang mengalami kerugian akibat gagalnya pemasaran pistol buatan Jack.


Ponselnya yang terus bergetar membuat Alvin merogoh kantong celananya lalu memasangkan benda itu di telinganya. "Ada apa?" Tanya pria itu.


"Ada acara dirumah, mama harap kau datang besok." Ujar seorang perempuan dari balik telepon.


"Aku tidak janji." Jawab Alvin lalu menutup panggilan itu. Ia kini meletakan benda itu begitu saja di kursi sampingnya kemudian membuang napasnya kasar.


Kenzo yang tengah menyetir menengok kebelakang melalui spion untuk melihat reaksi Alvin yang akhir-akhir ini lebih memilih ke bar dibanding menemui keluarganya yang berada di Milan.


"Bisakah salah satu dari kalian mengantikan aku besok?" Ujar pria itu tiba-tiba hingga Rei dan Kenzo kompak saling menatap.


Sungguh sudah menjadi kebiasaan bagi mereka untuk menghadiri kencan buta yang diadakan oleh mama Alvin menggantikan sang Signore.


"Giliranmu!" Ucap mereka berdua kompak saling menunjuk.


"Giliranmu, Kenz!" Seru Rei. Karena terakhir kali kencan itu diadakan, dialah yang menggantikan Alvin menemui seorang wanita direstoran terkenal di Milan. Karena saat itu Kenzo tengah pergi ke las Vegas untuk menyelesaikan permintaan rekan Alvin. Sedangkan Alvin memilih tidur di hotel dekat restoran itu berada.

__ADS_1


"Besok aku harus pergi," Ucap Kenzo. "Aku harus mengubur tubuh Petter." Lanjutnya.


Rei menatap terkejut kearah Kenzo. "Tunggu. Apa maksudmu dengan mengubur? Kau membunuhnya?"


Kenzo tersenyum bangga dengan alis yang kompak terangkat. "Hemm. Aku melakukannya saat Alvin menyuruhku ketika dia tiba di Orlan."


Rei menatap sinis pria berusia lebih tua disampingnya itu, "CK, padahal dia bagianku." Kesalnya.


Alvin yang mendengarkan perdebatan kecil diantara kedua tangannya itu menatap bergantian puncak kepala mereka. "Jadi siapa yang akan berangkat?" Lagi-lagi Alvin meminta agar kedua pria itu memilih siapa yang akan menggantikannya besok.


"Kenzo." Ucap Rei hingga pria itu melirik dengan ujung matanya. "Dia yang akan datang besok." Lanjut Rei tersenyum puas.


"Tidak bisa!" Tolak pria itu. "Sudah ku bilang aku ada urusan besok!" Tegasnya. "Jadi kau saja, Rei."


"Itu siang, malamnya kau bisa datang menemui wanita pilihan Mama." Seru Alvin hingga kedua pria itu tak lagi berkutip.


Akhirnya sudah diputuskan bahwa Kenzo lah yang akan datang besok. Pria yang dengan mata berwarna hitam pekatnya itu menatap tajam pada Rei yang tengah tertawa puas akan hal yang akan menimpa pria itu besok.


•••••>


Berada dalam lift bersama lima pria sekaligus membuat dirinya yang wanita seorang diri merasa risih dan memilih untuk berada dibarisan paling belakang.


"Aku pikir hanya aku seorang yang akan turun ke lantai tiga, ternyata banyak pria yang turun bersamaku." Gumam wanita berambut cokelat itu.


Ia kini melangkahkan kakinya setelah lift berdenting dan orang-orang bergantian keluar dari lift. "Fio!" Panggil wanita itu saat ia melihat perawat itu melintas didepannya. Segera ia berlari mendekati Perawat yang tengah mematung sambil melihat ke arahnya itu.


"Ada apa, Cira?" Tanya Fio saat wanita itu berhenti didepannya.

__ADS_1


"Kau sudah makan?" Tanya Cira.


Fio menggelengkan kepalanya, "Ini baru mau ke kafetaria." Jawabnya. "Kau mau kesana juga?"


Cira tersenyum lalu mengangguk cepat. "Ayo!" Ajak wanita itu. Fio pun mengikuti Cira menuju kafetaria untuk mengisi perutnya yang sudah bergemuruh meminta untuk segera diberi asupan.


Suasana berbeda terasa di kota Orlan. Pria berbadan tinggi dengan rambut setengah basah tengah berdiri didekat jendela sambil mengutak-atik ponselnya. Ia beberapa kali menekan nomor yang sama namun tak kunjung juga mendapat jawaban.


"Sial. Dia sepertinya sudah mati ditangan Rei." Umpat pria itu. Kini ia beralih pada nomor yang berbeda dan tak butuh lama suara pun terdengar dari ponselnya.


"Sepertinya dia sudah tiada, Max." Ucap Pria itu tanpa basa-basi.


"Tau darimana kau?"


"Aku hanya menduganya karena ponsel pria itu sudah mati beberapa hari ini." Jawabnya.


"Bodoh! Sudah ku bilang mereka amatir, mana bisa mengalahkan Rei. Sekalipun mereka pernah ada ikatan, tapi Rei sudah banyak berkembang sejak bersama keluarga Fortino." Bentak Max hingga pria itu kini menjauhkan ponselnya dari daun telinga.


"Setidaknya dia berhasil menggores Alvin." Jawab pria itu kemudian dengan senyuman bangga.


Ia dan Max adalah dalang sebenarnya dari penembakan yang terjadi di restoran Ornansha dengan menyuruh orang lain yang merupakan anak buah Michael Hwuan untuk menyerang Alvin. Namun baik Michael maupun pria itu tidak tahu sosok orang yang menyuruhnya dan segera menyetujuinya begitu saja setelah Max menawarkan sejumlah uang yang pantas sebagai imbalan atas pekerjaannya melalui telepon.


"Tapi bagaimana jika Alvin berhasil menemukan kita?" Tanya Max. "Aku tidak mau hal itu terjadi. Dan kau harus bertanggung jawab untuk itu, karena itu idemu!" Jelas Max meminta supaya pria yang masih menetap di Orlan itu untuk menutupi perbuatan mereka.


"Serahkan padaku." Jawab pria itu lalu mematikan panggilannya. Ia kini beralih pada nomor lain lalu mengirimnya sebuah pesan.


^^^*Temui aku di^^^

__ADS_1


^^^kasino Oysn.*^^^


Usai pesan itu terkirim, pria berambut pirang itu lantas berjalan dan mendaratkan tubuhnya diatas sofa berwarna navy. Satu rokok yang tersimpan di asbak ia ambil kembali lalu menyulutnya. Kepulan asap yang ia hisap dari rokok itu perlahan mulai keluar dari mulut dan hidung pria itu menjalar seluruh ruangan diikuti senyuman jahat yang terukir diwajahnya itu. "Let's play a game, Vin." Ucapnya.


__ADS_2