
Hari kini mulai gelap. Suasana yang masih tetap sama seperti dua jam yang lalu, sepi dan tenang. Moanna duduk bersimpuh disamping makam sang ayah setelah menaburkan bunga diatasnya. Semua kejadian yang dialaminya sudah didengar oleh sang ayah. Termasuk perihal dirinya akan menikah dengan Alvin.
Mata yang semula besar bak sebuah kelereng, kini menyipit karena selama dua jam berada ditempat sang ayah, Moanna tak henti-hentinya menangis. Perasaan sedih kian terasa ketika Moanna berpikir siapa yang akan mengantarkannya nanti selain sang ayah tercinta yang sudah tiada. Meskipun ia enggan menikah dengan pria yang sama sekali tidak ia ketahui asal-usulnya itu, tetapi soal pernikahan Moanna tidak dapat meremehkannya. Karena baginya acaranya itu sangat sakral dan bukan sebuah permainan ataupun percobaan.
Ingin sekali rasanya Moanna kembali mengecek kebenaran mengenai bayi didalam perutnya. Karena bagaimanapun sebagai seorang Dokter, ia tahu betul ciri-ciri orang yang mengalami kehamilan begitupun dengan orang yang sudah melakukan hubungan suami-istri. Karena menurutnya ini sedikit ganjal dan aneh.
"Apakah aku harus mencobanya sendiri?" Gumam Moanna setelah ia tidak dapat memikirkan kebenaran. "tapi jika benar terjadi, bagaimana?" Pikirnya lagi. Itu akan benar-benar membuatnya lebih hancur berkeping-keping.
"Walaupun ini bukan keinginanku, tapi ku mohon untuk ikut berbahagialah,ayah .." Tutur Moanna kemudian meninggalkan tempat peristirahatan terakhir ayahnya itu dengan kacamata hitam yang berguna untuk menutupi kesedihan dimatanya.
Moanna masuk kedalam mobil dan mengambil sebotol air mineral yang sudah dibuka. "Sebaiknya aku tidak langsung pulang kerumah," pikir Moanna yang kini menyandarkan kepalanya usai puas meneguk habis sisa air mineral itu.
Rasanya hidupnya berubah seketika setelah bertemu dengan Alvin. Apakah pria itu sebuah kesialan baginya? Ataukah ini sebuah kebetulan semata?
Suara pintu mobil yang dibuka membuat Moanna seketika membuka matanya. "Siapa kau?" Panik Moanna. "Apa yang kau lakukan?" Teriak Moanna sambil menjaga jarak dari pria yang tengah mengenakan seat belt itu.
"Duduk dan jangan berontak!" Tegas pria yang kini memegangi tangan Moanna ketika ia hendak membuka pintu mobil dan keluar.
"Mau kemana kita?" Tanya Moanna yang mulai tenang karena ternyata pria itu adalah Alvin.
"Jalan terlebih dulu, aku akan menunjukkan arahnya." Ucap pria itu kemudian melepaskan tangannya.
Moanna pun melajukan mobilnya dengan terpaksa seperti yang disuruh Alvin. Begitupula dengan mobil yang ada dibelakangnya yang didalamnya terdapat Kenzo. Setelah mendapat laporan dari Pengintai yang berada didekat rumah sakit bahwa Moanna pergi keluar, Alvin pun segera turun tangan untuk mengikuti kemana perginya calon istrinya itu. Ia penasaran apakah Moanna akan menemui kekasihnya yang diceritakan oleh mamanya tadi pagi? ataukah ke tempat lain.
Bukannya berhenti di sebuah restoran ataupun tempat mewah, ternyata mobil Moanna terparkir di tempat pemakaman umum dan itu sontak membuat Alvin semakin penasaran. Ia pun lantas mengikuti Moanna masuk ke tempat pemakaman itu dan melihat calon istrinya ternyata duduk bersimpuh disalah satu makam. "Makam siapa itu?" gumam Alvin.
Hanya sekitar sepuluh menit Alvin berdiri menyaksikan Moanna dipemakaman. Ia memilih untuk kembali ke mobilnya dan menunggu Moanna disana. Dua jam bukanlah waktu yang singkat dan itu membuat Alvin dan Kenzo yang hanya berdiam diri disana merasakan bosan.
"Kenapa dia begitu lama?" kesal Alvin.
"Entahlah, mungkin dia tertidur disana." Tebak Kenzo asal-asalan.
"Turun dan periksa dia!" perintah Alvin. Kenzo pun kemudian membuka pintu mobil.
"Tunggu!" Cegat Alvin. "Dia sudah kembali." ujarnya menunjuk kedepan.
Kenzo pun kembali mengurungkan niatnya. "Kau tunggu disini, dan ikuti mobilnya ketika bergerak!" Perintah Alvin sebelum akhirnya pria itu keluar dan mendekati mobil Moanna.
"Kemana sebenarnya tujuanmu, tuan Alvin?" Tanya Moanna setelah bosan karena dirinya hanya mengelilingi tempat yang sama.
__ADS_1
"Menghabiskan Bensin mu," Jawab Alvin. Moanna membuang napasnya kasar. Rasanya ia menyesal tidak langsung pulang kerumah jikalau akhirnya akan berakhir bersama dengan calon suaminya. Tapi bagaimana dia bisa ada disini?
Tiba-tiba pertanyaan itu muncul dipikirkan Moanna. "Anu.... Tuan, apa yang sedang anda lakukan disini?" tanya Moanna mencoba membuka sebuah pembicaraan supaya ia tidak merasa bosan dengan keadaan dalam mobil yang begitu sunyi.
"Tidak ada, Aku hanya lewat dan melihatmu." Ujar Alvin dengan pandangan yang masih fokus ke depan.
"Apa tuan—"
"Berhenti memanggilku tuan. Aku bukan tuanmu!" Tegas Alvin. "Panggil Aku, Alvin."
"Tapi..."
"Belok kanan!" Alvin tiba-tiba menyuruh Moanna membelokan setirnya saat hampir berjalan lurus. "Astaga..." ucap Moanna ketika ia menghentikan laju mobilnya karena ia membanting setir terlalu kuat.
"Kenapa kau tidak mengatakannya beberapa meter sebelumnya?" teriak Moanna kesal dengan Alvin. Belum lagi ekspresi wajah pria itu yang datar. sungguh menyebalkan.
"Aku tidak sempat memberitahumu karena aku sibuk menjawab pertanyaan mu yang banyak itu." Ucap Alvin.
sedangkan di mobil belakang seorang pria yang sedari tadi mengikuti mobil Moanna, beberapa kali membuang napasnya kasar. "Sebenarnya kemana tujuan mereka?" herannya.
Karena sedari tadi yang ia perhatikan mobil itu hanya berputar-putar disekitar sana tanpa ada kemajuan. Dan sekarang mobil itu tiba-tiba membalikkan setirnya.
Moanna menatap Alvin. "Ini mobilku, jadi aku yang harus mengemudi!" Batinnya.
"Tidak perlu. Aku masih bisa mengemudi!" Tolak Moanna.
"Ya sudah." Ucap Alvin. "Nanti didepan belok kanan dan berhenti didepan butik!" lanjutnya mulai menjelaskan kemana tujuan mereka.
Moanna pun menuruti apa yang dikatakan oleh Alvin untuk berhenti didepan butik. "Sudah sampai, turunlah!" ucap Moanna hingga membuat Alvin menatap tajam kearahnya. Sebelumnya tidak ada yang berani memerintahkan dirinya untuk turun dari mobil tetapi wanita ini, malah terang-terangan mengusirnya.
"Kenapa dia menatapku begitu?" Heran Moanna dalam hatinya.
Alvin turun dari mobil kemudian berjalan mendekati pintu dimana Moanna duduk. tok.. tok..
"Apa lagi?" Tanya Moanna ketika ia membukakan kaca mobilnya.
"Turun, dan ikutlah denganku!" perintah Alvin hingga Moanna terpaku. "Ikut dengannya? untuk apa?" Batin Moanna.
"Apa aku harus memaksamu?" lanjut Alvin setelah Moanna hanya duduk dan tak menghiraukan dirinya.
__ADS_1
Moanna pun turun dan kini berjalan bersama Alvin memasuki butik yang sepertinya khusus untuk kalangan atas.
"Enzio, suruh beberapa orang untuk berjaga di butik high class di Viterbo! Alvin tengah berada disana." perintah Kenzo pada pria yang memiliki wewenang di Kānēshonbiru, atau gedung anyelir.
"Siap, Kenz." Jawab Enzio yang segera mengutus dua puluh orang untuk langsung pergi ke Viterbo menemani sang Signore.
Didalam butik, Alvin memanggil beberapa karyawan untuk melayani dirinya dan juga calon istrinya itu. "Apa yang anda inginkan tuan?" Tanya Salah satu karyawan.
"Aku ingin memilih gaun pernikahan." Jawab Alvin, "Perlihatkan semua gaun terbaik yang kalian miliki!" Perintah Alvin hingga membuat para karyawan kewalahan untuk mengeluarkan semua koleksi gaun mereka.
"Ini tuan, koleksi gaun pengantin terbaik butik kami." Ucap seorang wanita setelah beberapa gaun berjejer didepan Alvin dan Moanna.
"untuk apa dia meminta gaun sebanyak itu?" Gumam Moanna dalam hatinya.
"Apa masih ada tamu lain disini?" Tanya Alvin kemudian.
"Untuk apa dia menanyakan tamu? ah mungkin dia ingin meminta salah satu mereka untuk mencobanya." Ucap Moanna dalam hatinya.
"Masih ada beberapa tuan," Jawab karyawan itu.
"Suruh mereka keluar!" Ucap Alvin hingga para karyawan terkejut. "Aku akan menyewa butik ini dari sekarang." Lanjut Alvin.
"Anu... Tuan, tapi kami merasa—"
"Aku akan menyewanya dua kali lipat!" tegas Alvin hingga semua karyawan terdiam, termasuk Moanna. "Membayar dua kali lipat... itu setara dengan gajiku selama dua bulan." Gumam Moanna.
"Ba-baik, tuan." karyawan itu pun segera menyuruh para tamu untuk meninggalkan butiknya dan memberi tanda bahwa buktinya sudah tutup.
"Sudah, tuan." Salah seorang karyawan melapor. "Tapi ada beberapa pria yang memaksa untuk masuk ke dalam, saya tidak bisa mengusir mereka."
"Katakan pada mereka aku menyuruh untuk menunggu diluar." Perintah Alvin yang sudah menduga bahwa para pria itu adalah bagian darinya.
"Jika tidak ada orang lain disini, siapa yang akan mencoba gaun ini?" Celetuk Moanna.
Alvin menatap ke arah Moanna. "Tentu saja calon istriku ini," ucapnya seraya merangkul pinggang Moanna. *ha..
"apa maksudnya*?"
"Baiklah nona, mari kita coba satu persatu gaunnya." Ajak seorang karyawan seraya menarik tangan Moanna. "Ta-tapi.."
__ADS_1