
Pagi kembali datang dengan kehangatan dari cahayanya. Suasana rumah dipagi itu begitu ricuh karena kedatangan rombongan gaun pengantin yang begitu banyaknya. "Huaaa, ada apa pagi-pagi sudah ricuh?" Tanya Moanna yang masih setengah sadar.
"Kakak! Lihat ini." Gabie menarik tangan Moanna untuk bergabung bersama kedua orang tuanya. "Apa?" Moanna malas-malasan.
"Gaunmu, kakak. Lihat! Gaunmu snagat banyak." Seru Gabie hingga Moanna seketika membuka lebar-lebar matanya supaya penglihatannya jelas.
"APA-APAAN INI?" Sahut Moanna. "Apa mama membeli semua ini?" Lanjutnya bertanya pada sang mama.
Zeta menautkan kedua alisnya, "tidak." Sangkalnya.
"Apa itu paman?" Dario mendapat giliran pertanyaan dari Moanna.
"Tidak juga." Sangkal ayah tirinya itu. "Aku dan ibumu baru akan mengajakmu mencarinya hari ini." Papar pria itu kemudian.
"Lalu jika bukan kalian, siapa?" Tanya Gabie yang sedari tadi bingung karena semua gaun itu tidak ada yang mengaku siapa pembelinya.
"Nona, kau sudah lihat bukan bahwa tidak ada satupun dari kami yang memesan gaunmu." Ucap Moanna halus pada tiga wanita yang datang bersama gaun-gaun itu. "Jadi lebih baik jika kalian bawa kembali semua gaun itu." Lanjutnya.
"Mohon maaf nona, kami tidak bisa melakukan itu." Papar salah satu karyawan.
"Kenapa?" Sahut Moanna.
"Karena semuanya sudah dibayar." Jawab karyawan itu.
"APA?" Semua orang kompak terkejut. "Siapa yang membayarnya?" Tanya Zeta.
"Calon mempelai pria." Jawabnya hingga semua keluarga itu lagi-lagi terkejut hingga mata mereka membesar. "Keren.." Ujar Gabie kagum disaat semuanya terdiam.
"Ck." Moanna berdecak setelah beberapa saat terdiam dan lantas pergi.
Setibanya dikamar, Moanna mengubrak-abrik kasurnya untuk mencari benda pintar yang selalu dibawanya. "Dimana ponselku?" Ujarnya seraya terus mencari benda itu.
"Kakak mencari apa?" Tanya Gabie yang mengikuti kakaknya itu hingga kedalam kamar.
"Ponsel. Aku mencari ponselku," Jawab Moanna.
Gabie yang semula berdiri diambang pintu kini melangkahkan kakinya jntuk ikut membantu Moanna mencari ponselnya. "Bukankah itu ponselmu, kak?" Ujarnya sambil menunjuk meja yang dipenuhi oleh boneka.
"Mana?" Tanya Moanna mengikuti kemana telunjuk sang adik mengarah. Ia pun lantas mengambilnya dan menekan sebuah nomor.
"Apa maksudmu dengan semua ini?" Tanya Moanna setelah panggilan mendapatkan jawaban.
"Itu karena kau tidak menentukan pilihanmu kemarin." Jawab Alvin. "Makanya aku menyuruh mereka untuk membawanya kerumah mu." Jelas pria itu.
"Tapi kenapa kau membayar semuanya?"
__ADS_1
"Karena kupikir kau menyukai semuanya dan bingung harus memilih yang mana." Tutur pria itu begitu etengnya hingga membuat Moanna yang mendengarnya menepuk dahi dan menggelengkan kepalanya. "Astaga.. apa dia tidak berpikir uangnya akan habis percuma?"
"Aku akan menyuruh mereka membawa gaun-gaun itu kembali," ujar Moanna.
"Kenapa? Kurang bagus? Atau kurang banyak?" Tanya Alvin semakin mambuat Moanna merasa bahwa pria itu tidak memiliki otak.
"Bukan seperti itu, tapi—"
"Kakak, kenapa kau menyimpan buku dibawah kasur?" Teriak Gabie yang mengambil dua buah buku.
"Gabie, jangan sekarang!" Bisik kakaknya hingga membuat gadis itu mengatupkan kedua tangannya meminta maaf.
"Suruh keluargamu untuk mencobanya juga!" Pinta Alvin.
"Tidak perlu, mereka akan mencarinya sendiri hari ini." Tolak Moanna.
"Ini perintah bukan untuk dibantah!" Tegas Alvin. "Dan lihatlah bagaimana keluargamu menyukai gaun-gaun itu diruang tamu." Ujar Alvin yang kendaoat laporan dari para pengintai yang masih berada disana.
"Bagaimana kau tahu?"heran Moanna.
"Aku juga tahu semuanya, termasuk kau yang belum mencuci wajahmu ketika kau datang ke ruang tamu." Papar pria itu lalu menutup panggilannya.
Moanna melebarkan kedua matanya. "Bagaimana kau tahu?" Tanya Moanna. Namun percuma karena panggilan itu sudah diakhiri oleh Alvin.
"Sial." Kesal Moanna. Ia kini berjalan menuju kamar mandi untuk membersihkan dirinya dan seperti biasa kembali bekerja.
"Jangan lakukan apapun yang ia katakan!" Alvin membalas Poto itu yang dikirim oleh salah satu karyawan butik palsu, Alice.
Tentu saja ia harus ikut andil dalam pernikahan sang Signore. Karena bagaimanapun hanya dia wanita yang bekerja bersama pria itu. meskipun ia belum pernah menikah, tapi beberapa hal tentang hal itu cukup ia ketahui.
ketukan pintu membuat Alvin segera menyimpan kembali ponselnya itu dan mempersilahkannya masuk. "Rei menyuruh kita untuk datang ke pabrik." ujar Kenzo tanpa basa-basi lagi.
"Siang ini kita pergi ke sana." jawab Alvin seraya menyesap kopinya dan bangkit.
"Bagaimana dengan setiap kepala keluarga setelah kau memberitahu bahwa aku akan menikah?" tanya Alvin.
"Mereka terkejut kemudian mengatakan akan datang ke acara pernikahanmu." ujar Kenzo.
"Bagus." Ucap Alvin. "Tunggu aku diluar, kita akan berangkat sepuluh menit lagi."
"Baik." Kenzo keluar dari kamar Alvin untuk pergi ke dapur mengambil secangkir kopi untuk menemaninya menunggu Alvin bersiap.
Dirumah Moanna, keramaian terjadi ketika mamanya dan Gabie selalu berbeda pendapat dan berakhir pertengkaran. "Warnanya terlalu mencolok, tidak cocok untukmu kak." sahut Gabie mengomentari penampilan Moanna dengan gaun berwarna merah.
"Jangan dengarkan anak ini, kau terlihat cantik dengan gaun itu." sahut mamanya.
__ADS_1
"Gaun ini terlalu berat, aku tidak menyukainya." Ucap Moanna.
"Jangan memaksakan dirimu nona, masih ada yang lain yang mungkin kau sukai." ujar seorang pelayan yang tak lain adakah Alice.
"Ya, kau benar." Moanna setuju dengan Ucapan Alice.
^^^"Dia menolak gaun berwarna merah."^^^
^^^Alice mengirim pesan pada Alvin beserta Poto Moanna setiap wanita itu mengganti gaun.^^^
Kali ini Moanna keluar dengan warna gaun yang lebih netral.
"Kakak, ini sangat cocok padamu. benarkan?" Seru Gabie.
"Iya, kau benar. kali ini mama setuju denganmu." Ucap Zeta.
"Kau tampak sempurna, Moanna." puji Dario.
"Keluargamu menyukai gaunmu yang ini, lalu bagaimana denganmu?" Tanya salah seorang karyawan.
"Aku pilih yang ini saja." Moanna memutuskan pada gaun yang terakhir.
"Dia benar-benar cantik." Puji Alice diam-diam dalam hatinya. "Tapi apakah dia tahu tentang calon suaminya?" Ia penasaran tentang tuannya yang tiba-tiba akan melangsungkan pernikahan.
"Astaga ini sudah siang, aku harus pergi sekarang." Panik Moanna yang baru menyadari bahwa dirinya telah terlambat pergi bekerja.
Secepat mungkin ia membuka gaun yang membalut tubuhnya dibantu para karyawan butik. Sekitar sepuluh menit akhirnya Moanna telah berganti pakaian dan siap untuk pergi ke rumah sakit.
"Aku berangkat, bye." pamit Moanna.
"Ternyata dia seorang dokter." Gumam Alice ketika melihat snelli ditangan Moanna.
Secangkir kopi yang ia bawa dari dapur kini sudah habis namun Alvin belum juga keluar. "Kenapa dia lama sekali?" Heran Kenzo. Karena khawatir akhirnya ia memutuskan untuk menjemput Alvin kedalam mansion.
"Mau kemana kau?" tanya Alvin yang baru saja keluar.
"Mencarimu." Jawab Kenzo.
"Tidak perlu dicari aku pasti akan datang untuk menepati janji." Ujar Alvin lalu masuk kedalam Mobil.
"Kemana kita sekarang?" tanya Kenzo setelah ia duduk dibalik kemudi.
__ADS_1
"Menyiapkan semua hal untuk pernikahan."