
"APA!" Rei terkejut mendengar apa yang terlontar dari mulut sang Signore. Begitupun dengan Kenzo yang seketika menghentikan laju mobilnya hingga wajah Alvin hampir mencium kursi kemudi.
"Apa kau ingin mati?" Sergah Alvin seraya menendak Kursi yang diduduki oleh Kenzo.
"Ma-maaf, aku spontan menginjak rem karena kaget mendengar ucapanmu." Ujar Kenzo seraya menghadap ke belakang.
"Kau yang benar, Vin." Rei mencoba meyakinkan kembali ucapan yang keluar dari mulut Alvin itu. Ia tak pernah menyangka bahwa Alvin ingin memiliki hubungan yang serius melalui sebuah pernikahan. Masalahnya saat ini tak ada siapapun wanita yang menarik perhatiannya, tidak satupun.
"Bercanda kah wajahku ini?" Alvin menunjukan wajah seriusnya pada kedua orang yang sama-sama membalikkan badannya.
Rei dan Kenzo saling menatap dan berkata dengan matanya, ya Kali ini Alvin serius."Apakah ada orang yang Sudi menikah denganku dan menerima kegelapanku?" Tanya Alvin dengan nada memelas.
"Tentu ada, Vin." Seru Rei meyakinkan pria itu bahwa ada satu dari berjuta wanita didunia ini yang siap menerima segala hal dalam dirinya.
Alvin tersenyum getir, "Sayangnya tidak ada." Ucapnya. Ia kini menatap lekat kedua wajah kedua tangannya itu lalu berkata, "Dengarkan aku, mulai sekarang kita akan menyembunyikan identitas kita dibalik sebuah bisnis!"
"Bisnis apa? Narkoba?" Celetuk Rei dengan polosnya.
Kali ini Rei mendapat giliran kursi yang didudukinya ditendang oleh Alvin. "Gunakan otakmu! Apa narkoba barang legal di Negera ini, hah?" Bentak Alvin.
"Maaf, Aku lupa." Jawab Rei.
"Bagaimana dengan minuman tradisional?"
"Minuman tradisional?" Rei dan Kenzo saling menatap. "Memangnya kita memiliki bisnis seperti itu?" Tanya Rei.
Brugh...
Satu pukulan mendarat dilengan Rei, "Kita bisa memulainya dari Sekarang, bodoh!" Bentak Kenzo.
"Atur semuanya mulai sekarang!" Ucap Alvin. Rei dan Kenzo sontak mengangguk dan kembali ke posisi semula, menghadap ke depan. Rei segera mencari tempat yang cocok untuk bisnis kali ini. Sebuah pabrik dan pastinya sebuah toko untuk menjual minuman mereka nantinya.
__ADS_1
Lamanya perjalanan dari Milan ke Bolsena akan cukup lama hingga hari kini sudah mulai menggelap. Ketiga pria tadi tak langsung ke mansion, melainkan kembali ke pusat kota Viterbo untuk mengantarkan Alvin. Bertemu dengan Moanna.
Usai merapikan pakaiannya, Alvin berjalan menuju sebuah restoran yang cukup ramai akan pengunjung. Tak hanya seorang diri, seperti biasa ia akan ditemani oleh dua pria tampan dibelakangnya, Rei dan Kenzo. Bahkan kali ini beberapa anak buahnya sudah berada disetiap penjuru dan siap jikalau kejadian seperti waktu itu terulang kembali.
Moanna yang sudah duduk disebuah meja menunggu kedatangan pasiennya itu dengan membaca menu untuk mengisi mulutnya yang sudah mulai bosan itu. Decitan kursi yang ditarik membuat Moanna melirik dengan ujung matanya.
"Keterlambatanku bukan disengaja. Aku baru kembali dari Milan," Ucap Alvin yang sudah duduk di depan Moanna. Sedangkan kedua pria yang berpenampilan berbeda duduk dimeja yang tak jauh dari Signore berada.
Moanna menutup buku menu lalu meletakkannya diatas meja. "Waktuku tak sepenting waktu seorang pejabat," Cetus Moanna. Padahal sebenarnya Dokterlah profesi yang paling memakan waktu lama dalam setiap harinya.
Alvin mengangkat sebelah alisnya, "Pejabat?" Gumamnya dalam hati. Beberapa saat kemudian ia tersadar bahwa Moanna menyangka dirinya sebagai seorang pegawai pemerintahan.
Sementara dikursi sebelah, kedua pria dewasa yang tengah memperhatikan tuannya itu saling berbisik, "Apa kau bisa menebak profesi Alvin dari penampilannya?" Tanya Kenzo.
Tanpa melirik Rei menjawab. "Tentu, dia seorang mafia."
Brugh...
Satu tendangan berhasil mengenai kaki kiri Rei hingga pria itu akhirnya menatap pada Kenzo. "Apa aku salah?"
"Lalu menurutmu bagaimana?" Rei malah membalikkan pertanyaan yang sama pada Kenzo.
"Aku pikir dia seperti seorang CEO, atau pejabat." jawab Kenzo lalu kembali fokus pada meja sang Signore.
"Jadi ini adalah alasan kembali secepatnya dari Milan?" Batin Rei dengan tatapan yang penasaran pada Moanna. Ia jelas-jelas pernah melihat wajah wanita itu, tetapi entah dimana.
"Maaf atas kelancanganku sebelumnya, tapi bolehkan aku memesan makanan sebelum kita mulai?" Tanya Moanna. Perutnya saat ini rasanya sudah menendang-nendang meminta agar segera diberi asupan.
Alvin menatap Moanna tanpa berkata. "Jika waktumu tidak banyak, lebih baik kita mulai sekarang." Moanna mengatur posisinya untuk mendengarkan keluhan yang dirasakan oleh Alvin.
"Silahkan!" Jawab Alvin kemudian. Moanna terdiam melihat pria tanpa ekspresi itu.
__ADS_1
"Terimakasih sebelumnya." Ucap Moanna dan segera menyuruh pelayan untuk menghampiri mejanya.
"Bagaimana denganmu, tuan? Kau ingin memesan apa?" Tanya Moanna pada Alvin.
"Satu Acquacotta." Ucap Alvin setelah beberapa detik ia terdiam dan segera disiapkan oleh pelayan.
"Sambil menunggu makanan tiba, mari kita mulai." Ajak Moanna dan disetujui anggukan oleh Alvin.
"Apa yang kau rasakan akhir-akhir ini pada tubuhmu?"
Alvin yang semula duduk bersandar kini memajukan tubuhnya mendekat pada meja. "Tubuhku tidak sekuat dulu, terkadang aku merasa tubuhku ini akan ambruk kelantai saat itu juga." Tutur Alvin.
"Apa ada keluhan lainnya? seperti bekas luka jahitan yang tak kunjung mengering?"
Alvin menggeleng. "Tidak ada," Jawabnya. "Apakah itu cukup parah?" tanyanya kemudian.
Obrolan serius terlihat dimeja Alvin oleh kedua tangannya. "Obrolan mereka sangat serius, apakah Alvin mengajak wanita itu untuk menikah?" Celetuk Kenzo.
Kali ini kenzo-lah yang merasakan tendangan pada kakinya, "Bodoh! wanita mana yang mau diajak menikah oleh pasien yang tak dikenalnya?"
Kenzo tersenyum, "Kau benar juga."
"Tapi kemungkinan besar Alvin berbicara tentang pernikahan karena bertemu dengan Dokter itu." Duga Rei. Karena sebelum bertemu dengan Moanna, pria dengan profesi mafia itu tidak pernah berbicara tentang suatu hubungan, apalagi soal pernikahan, tidak pernah.
"Sepertinya efek samping pasca operasimu cukup serius, tuan..."
"Alvin. Panggil aku Alvin," Seru Alvin.
Makanan yang mereka, tidak! Moanna tunggu-tunggu akhirnya tiba hingga membuat selera laparnya meningkat.
"Selamat makan, tuan." Ucap Moanna sebelum perempuan itu menyantap makanannya hingga membuat Alvin yang tengah mentiupi sendok berisi sup terkejut.
__ADS_1
"Terimakasih." Ucap Alvin kemudian memakan sup itu setelah puas ia mentiupinya.
Moanna menatap Alvin yang tengah mentiupi supnya, "Dia pria dingin dan tertutup." Batin Moanna menduga-duga