Istri Sang Mafia

Istri Sang Mafia
BAB 2: Penolakan langsung


__ADS_3

Keheningan sungguh terasa dimeja makan yang memiliki panjang sekitar lima meter dengan tiga orang pria yang tengah menyantap hidangan makan siang mereka tanpa mengeluarkan suara kecuali bentrokan yang terjadi antara peralatan makan.


Semuanya pokus pada apa yang tengah mereka kerjakan. Suara hentakan kaki yang berjalan cepat kearah meja makan membuat ketiga pria itu seketika menghentikan aktivitasnya. "Kau berlari saat makan siang sedang berlangsung. Apa itu sopan?" Ucap pria berambut hitam lurus dengan tatapan tajam seperti pedang yang siap menghunus.


Pelayan yang berlari tadi lantas gemetar mendengar ucapan pria yang memiliki kewenangan ditempat itu. Mulutnya yang semula siap mengatakan semua hal yang perlu disampaikan, mendadak rapat seperti ada sebuah lem yang menempel dibibirnya. Kini pria itu itu hanya menunduk dengan denyut jantung yang tak karuan.


"Cepat katakan." Ucap pria yang duduk didekat pelayan pria itu dengan nada rendah namun penuh akan penekanan.


"A-ada.... Ya-yang da-datang u-untuk me-menemuimu." Ucap pelayan pria itu terbata.


Tanpa bertanya banyak hal lagi, Alvin yang duduk ditengah meja lantas berdiri dan langsung diikuti oleh kedua pria yang sebelumnya duduk tenang itu. Mereka kini sama-sama merapikan jas hitam yang melekat pada tubuhnya lalu berjalan meninggalkan meja makan tanpa sepatah katapun.


Usai ketiga pria itu pergi melewatinya begitu saja, pelayan pria itu lantas menghembuskan napasnya kasar karena lega akhirnya ia dapat menyampaikan apa yang menjadi tugasnya. Meskipun dengan perasaan tegang yang sangat luar biasa ia rasakan.


Dingin, kejam, dan licik nampak begitu jelas disetiap wajah ketiga pria itu. Mengapit jalannya pria berambut hitam lurus dengan gaya cepak yang tak lain adalah Alvin, kedua pria itu tak mengatakan atau bertanya apapun satu sama lain.


Kenzo, pria berambut lurus berwarna coklat keemasan seperti madu dengan postur tubuh yang besar nan atletis itu lantas membukakan pintu sebuah ruangan yang cukup besar untuk Alvin juga kedua rekannya.


Didalam ruangan itu, mereka sudah disuguhi oleh dua orang pria yang tengah duduk santai disebuah sofa yang cukup besar. "Ehem..." Rei memberi kode bahwa orang yang ditunggu kedua orang itu telah tiba hingga mereka langsung berdiri dan menghampiri Alvin.


"Apa kabar, Signore." Sapa salah satu pria kemudian menjabat tangan Alvin dan memeluk tubuh pria itu layaknya seorang teman. Tak hanya Alvin yang diperlakukan olehnya demikian, Kenzo dan Rei pun diperlakukan sama. Meski hanya jabatan tangan yang mereka dapatkan dari pria yang sudah menunggu sedaritadi itu.


"Bagiamana perjalananmu dari new York?" Tanya Alvin pada pria yang tak lain adalah sahabat keluarganya yang berasal dari keluarga Benvolio, Max.


"Sungguh menjengkelkan." Jawab Max dengan wajah kesal. Ia lalu duduk diatas kursi yang ada didepan meja tempat biasa Alvin duduk sebagai Signore. "Aku hampir mati karena wanita brengsek!" Lanjut max bercerita pada Alvin yang mendengarkan dengan begitu cermat.


"Aku tidak dapat membantumu kali ini, Max." Tegas Alvin tanpa perlu mendengar apa yang diperlukan oleh pria yang tengah mengadu pada dirinya itu. Ia sudah dapat menebak bahwa Max ingin dia menyelesaikan masalahnya dengan wanita New York itu.


"Mengapa?" Kaget Max. Ini pertama kalinya keinginannya ditolak begitu saja sebelum ia minta.


Alvin yang semula berdiri kini mendekati mejanya kemudian duduk dan mendekatkan wajahnya kearah max lalu berkata, "Jika yang kau butuhkan sebuah perlindungan, akan aku kabulkan sekarang juga. "Ucap Alvin dengan suara lembut khasnya yang membuat bulu kuduk orang yang mendengar seketika berdiri.


"Namun permintaanmu diluar kendaliku, aku tidak akan berurusan dengan mahluk tuhan yang cantik itu." Tegas Alvin menolak apapun yang dimintai oleh Max.


Max menghembuskan napasnya kasar setelah mendengar ucapan Alvin. Ia lalu bangkit dari duduknya diikuti semua orang yang juga bangkit. "Tolong pikirkan kembali permintaanku tadi, Vin." Ucapnya lalu pergi bersama rekannya meninggalkan ruangan yang berlampu terang itu.

__ADS_1


Salah satu pria yang sedari tadi bersamanya berjalan menuju sofa lalu membuka berkas-berkas tentang pekerjaan mereka yang baru diterima bulan ini. Pria dengan rambut gondrong yang menutupi dahinya itu membaca setiap lembar dengan teliti tanpa ada satupun kata yang tak tertangkap oleh Retina matanya. "Bagaimana dengan tawaran Carlo Dante tentang kasino?" Tanyanya.


"Apa yang ditawarkan olehnya, Rei?" Tanya Alvin.


"Jika kita memberi 1 juta maka keuntungan yang didapat akan bertambah 35% dari bagiannya." Papar Rei setelah membaca kertas berisi rincian keterangan tentang kasino yang ditawarkan Carlo Dante pada mereka.


"Siapa yang terlibat disana?" Sahut Kenzo yang datang menghampiri Rei dengan segelas wine ditangannya.


"Banyak." Jawab Rei sambil membaca satu persatu keluarga yang ikut serta dalam kasino itu, "salah satunya keluarga Fausto."


"Fausto? Bukannya mereka lebih menyukai bisnis narkoba dibanding kasino?" Heran Kenzo.


"Jika kau hanya mengandalkan satu bisnis kotor, maka kau akan mudah terendus." Seru Alvin yang membawa benda yang berbeda dari milik Kenzo. Dia membawa secangkir kopi hitam pekat ditangannya kemudian ikut bergabung duduk bersama kedua pria itu.


•••••••>>


Dikoridor rumah sakit usai dari kantin Moanna bergegas kembali menemui pasiennya untuk memberikan obat yang dapat meredakan rasa sakit pasca operasi. Baru saja ia memegang pintu, seseorang tiba-tiba menyapanya hingga niatnya untuk masuk keruangan itu ia urungkan.


"Dokter moanna, apa kau sudah tau tentang rumah sakit kita yang akan memberikan sebagian tenaga medisnya ke Orlan?" Tanya seorang wanita yang juga dokter dirumah sakit itu.


"Tentu," jawab Moanna dengan anggukan. "Lalu mengapa kau mengatakannya padaku?" Heran Moanna. Ia merasa bahwa kedatangan dokter wanita itu bukan semata-mata hanya lewat saja.


"Apa?" Ucap Moanna dengan suara yang cukup keras karena kaget dengan berita yang baru saja ia dapatkan dari rekan sesama dokternya. Padahal sebelumnya ia mendengar bahwa dirinya tak terlibat menjadi relawan ke Orlan saat tadi dikantin.


"Pelankan suaramu, dokter Moanna. Ini rumah sakit." Ucap dokter wanita itu mengingatkan Moanna bahwa tindakannya barusan mengganggu kenyamanan para pasien.


"Maaf, aku tadi terkejut." Ucap Moanna merasa bersalah atas tindakannya barusan. "Apa kau serius aku ikut serta dalam kegiatan itu?" Moanna memastikan kembali bahwa orang yang dimaksud dokter itu bukanlah dirinya, melainkan orang lain.


"Tentu saja," Jawab dokter itu penuh dengan keyakinan. " Disini tertulis namamu, MOANNA ADRIENNE." ucap dokter itu memperlihatkan daftar nama-nama Tenaga medis yang akan menjadi relawan ke Orlan.


Moanna memdekatkan tubuhnya pada dokter itu lalu membaca setiap nama yang tertulis diatas kertas putih itu. Ternyata benar saja, namanya terpangpang jelas diurutan nomor sembilan orang yang akan ikut ke Orlan sebagai relawan. Begitupun dengan Fio sang perawat yang berkeinginan untuk pergi ke Orlan akan terkabul karena namanya berada diurutan nomor sepuluh setelah Moanna.


"Bagaimana? Apa kau percaya sekarang?" Tanya Dokter itu pada Moanna.


Moanna tersenyum malu, "iya, aku percaya sekarang." Jawabnya. "Terimakasih sudah memberitahuku." Lanjutnya.

__ADS_1


"Sama-sama." Jawab dokter itu. "Aku permisi karena harus mengurus ini." Pamitnya lalu pergi meninggalkan Moanna.


Usai kepergian Dokter yang merupakan seniornya itu, Moanna perlahan mundur hingga tubuhnya membentur dinding. "Astaga, aku pikir aku tidak perlu pergi keluar negeri." Ucapnya kemudian memejamkan matanya dengan napas berat yang keluar dari mulutnya.


"Kau baik-baik saja, Dokter?" Tanya seorang pria yang merupakan penjaga kebersihan rumah sakit. Ia merasa kasihan melihat Moanna terpejam sambil bersandar di dinding.


Moanna membuka matanya lalu menatap pria paruh baya yang baru saja menyapanya itu, " aku tidak apa-apa." Jawabnya tersenyum ramah.


"Syukurlah," ucap pria itu. "Baiklah, aku permisi karena harus melanjutkan pekerjaanku." Pamit pria penjaga kebersihan itu lalu berjalan sambil mendorong troli berisi peralatan kebersihan.


Moanna membuang napasnya kasar. Sungguh dia sangat keberatan dengan keputusan yang dibuat oleh direktur utama mengenai keikutsertaan dirinya sebagai relawan ke Orlan. Bukan karena dia tidak mau membantu warga disana, tapi karena ia memiliki banyak pasien yang haru ia cek setiap harinya. Meskipun banyak Dokter lain yang siaga disana, tapi tetap saja para pasien selalu datang padanya.


Tak lama seorang perawat datang dengan tangan yang mendorong troli berisi makanan untuk para pasien diruangan belakang Moanna. "Siang, Dokter." Sapa perawat itu tersenyum lalu membuka pintu.


Moanna membalas senyuman itu. Dan membiarkan dia melakukan tugasnya. " Tunggu!" Cegah Moanna hingga perawat itu menghentikan langkahnya. "Ada apa, Dokter Moanna?" Tanya perawat itu.


"Bisakah aku meminta tolong padamu?" Tanya Moanna sebelum mengatakan apa yang ia inginkan. Wanita itu menyanggupi permintaan tolong Moanna dengan anggukan kecil. " tolong cek keadaan pasien bangsal nomor sembilan. Jika membaik, segera katakan padaku." Pesan Moanna. "Terimakasih." Lanjutnya lalu bergegas pergi meninggalkan tempat itu


Dengan tangan yang sibuk menggulung rambutnya yang panjang, Moanna berdiri didepan pintu ruangan direktur utama hingga ia selesai dengan urusan rambutnya. Kini wanita bertubuh tinggi itu masuk kedalam setelah beberapa kali ia mengetuk pintu itu dengan jarinya.


"Selamat siang, pak." Sapa moanna dengan senyuman ramah terukir dibibirnya.


Felix sang direktur utama melirik kearah suara berasal dan terkejut mendapati moanna berdiri didekat pintu dengan rambut diikat seadanya jauh seperti sebelumnya wanita itu datang.


"Pekerjaanku akan segera selesai, tunggu sebentar." Ucap Felix dan lantas membereskan kertas-kertas yang berserakan didepannya lalu menutup laptop hitam miliknya.


Moanna yang tak mengerti maksud Felix lantas melihat pria itu dengan raut wajah heran. Pasalnya ia hanya ingin bicara sedikit dengan pria berpangkat direktur utama itu mengenai dirinya yang ingin ikut serta menjadi relawan di Orlan. Namun sepertinya pria itu salah paham akan kedatangan dirinya diwaktu makan siang.


"Ayo, kau mau makan di restoran mana?" Tanya Felix setelah menghampiri moanna yang mematung di dekat pintu.


"Anu.... Aku sudah makan siang sebelumnya." Ucap Moanna was-was takut jika ucapannya akan membuat atasnya itu tersinggung.


Felix yang sudah siap membuka pintu kini menoleh pada moanna, "Lalu mengapa kau kembali lagi?" Tanyanya dengan tatapan kecewa yang jelas-jelas dapat dilihat oleh moanna.


"Aku hanya ingin menanyakan tentang relawan ke Orlan." Ucap Moanna mencoba memulai alasan dia kembali ke tempat yang sesungguhnya sangat ia hindari. "Kenapa aku termasuk?" Lanjutnya.

__ADS_1


Felix yang semula menghadap pintu, kini berbalik kearah Moanna. Dengan sebuah senyuman khas seorang pria, Felix menjawab pertanyaan Moanna. "Kenapa tidak aku berikan yang terbaik dari rumah sakit ini pada mereka?" Ucapnya.


"Kau salah satu dokter terbaik dirumah sakit ini, jadi aku merekomendasikanmu atas dasar itu." Lanjut Felix. Ia lalu kembali menghadap pintu dan hendak keluar melanjutkan niatnya untuk pergi makan siang. Meskipun tanpa Moanna.


__ADS_2