
Hari kini telah berganti. Seperti hari-hari biasanya, bekerja tanpa kenal libur, Moanna berangkat memenuhi kewajibannya sebagai tenaga medis. Tak banyak hal yang ia lakukan sebelum pergi dari rumahnya, hanya mengambil kunci mobil diatas lemari serta sebuah roti berisi selai kacang yang tersimpan tak jauh dari arahnya berjalan.
Siang itu Moanna memiliki janji dengan seorang pasien yang belum ia ketahui pria atau wanita. Yang ia tahu, orang itu baru saja menjalani operasi. Menyetir sambil memakan roti adalah sebuah kebiasaan setiap Moanna berangkat bekerja. Mungkin itu suatu kebiasaan buruk yang tidak boleh ditiru karena dapat membahayakan pengguna jalan. Tapi bagi Moanna itu adalah sesuatu yang membuat perjalanannya menyenangkan.
Tinggal dipusat kota membuat Moanna tak membutuhkan waktu lama untuk tiba diarea parkir rumah sakit. Dengan snelli berwarna putih yang senada dengan sepatunya Moanna keluar menuju ruangannya dan menunggu pasien sesuai janji yang disepakati sebelumnya.
"Dokter sancia!" Panggil Moanna hingga wanita yang menggunakan kursi roda itu lantas menoleh. "Ada apa?" Tanyanya penasaran setelah wanita itu menghampirinya.
"Aku ingin bertanya tentang pasien yang akan aku tangani," Ucap Moanna. Rasanya ia begitu penasaran dengan sosok pasein yang menurutnya aneh. Tentu saja aneh, karena setelah ia mendapat panggilan dan membuat janji, ia malah tak mendapat keluhan apapun dari pasien. Baik itu keluhan jahitan yang tidak bagus ataupun efek samping pasca operasi. Sama sekali tidak ada.
"Memangnya kenapa?" Heran Sancia. Dokter yang duduk dikursi roda itupun kini pasrah dibawa kemanapun Moanna mendorong kursinya itu.
"Dia ingin check up tapi tanpa keluahan apapun, apa itu wajar?" Ujar Moanna.
"Mungkin dia seorang laki-laki, makanya bicaranya singkat, padat dan jelas." Jawab Sancia sambil tertawa.
Moanna terdiam. "Mungkin." Jawabnya dengan kepala yang mengangguk-angguk kecil.
"Kapan kau janji dengannya?"
"Jam 11.45. " jawab Moanna.
Sancia melihat ponsel yang ia simpan diatas pahanya. "Ini sudah jam 11.43, apa kau tidak akan terlambat?"
Mata Moanna membesar. "Benarkah?"Tanyanya tak percaya.
Sancia mengangguk lalu memperlihatkan jam dilayar ponselnya. "lihatlah!"
"Astaga, dokter sancia aku duluan. Terimakasih atas waktumu." Moanna segera berlari meninggalkan Sancia didekat pintu lift. "Apakah Felix masih mengejarnya?" Gumamnya seraya memperhatikan wanita yang tengah terburu-buru itu.
Moanna yang berjalan cepat membuat orang-orang yang berpapasan dengannya terheran-heran dan menggeleng. Tak biasanya dokter yang menjadi wajah rumah sakit itu berjalan begitu terburu-buru.
"Sial, aku lupa jika dia berpesan untuk tidak terlambat sedikitpun." Ujar Moanna dan segera masuk kedalam ruangannya.
"Hah!" Moanna terkejut ketika ia mendapati tiga pria telah berada di ruangannya. Satu orang duduk dikursi dan dua orang sisanya berdiri berjauhan yang kini sama-sama melihat kearahnya. "Si-siapa kalian?" Tanya Moanna setelah ia melihat satu persatu pria berpakaian rapi layaknya seorang pejabat itu.
__ADS_1
"Tentu saja aku yang membuat janji denganmu tadi." Jawab Alvin dengan wajah datar yang masih menatap Moanna.
"Benarkah, maaf karena aku datang terlambat." Ucap Moanna seraya tersenyum dan segera duduk didepan Alvin.
"Baiklah, dengan tuan siapa?" Tanya Moanna membuka obrolan seperti biasanya. Namun dengan keadaan dirinya sendiri seorang wanita dan tiga pria didepannya membuatnya sedikit gugup. Ditambah lagi mata mereka yang terus memperhatikannya. "Sial, kenapa aku jadi gugup begini?" Batinnya.
"Alvin." Jawab pria berambut hitam itu.
"Berapa usia tuan jika saya boleh tahu?"
"Langsung saja lakukan tugasmu. Waktu kami tidak banyak!" Ujar salah seorang pria yang berdiri.
Moanna tersenyum ramah, "Baiklah jika seperti itu, tuan silahkan baringkan tubuh anda disana." Ucap Moanna menuntun Alvin supaya berbaring.
Alvin perlahan bangkit dari duduknya dan berjalan menuju bangsal kemudian berbaring. Alvin yang baru pertama kali diperiksa oleh dokter wanita tampak khawatir. Entah apa yang dikhawatirkan oleh pria itu. Yang jelas kini Rei dan Kenzo tengah tertawa dalam hatinya melihat tuan mereka memasang wajah khawatir yang jarang sekali terlihat itu. "Ini harus diabadikan." Batin Kenzo.
"Aku ingin memotretnya." Rei ikut bersuara dalam hatinya.
Moanna menyingkapkan kemeja berwarna putih dan langsung menampakkan kulit putih dan mulus pria itu. Tentu saja bekas luka Opera yang masih basah menghiasinya. "Apakah ini bekas peluru?" Tanya Moanna yang Fokus pada bekas luka di dada kanan Alvin.
"Dilihat dari bekas jahitannya, ini akan segera sembuh. Anda saat ini tidak boleh melakukan aktivitas berat hingga luka itu mengering." Jelas Moanna yang kini menatap wajah Alvin yang terbaring. Begitupun dengan Alvin yang juga menatapnya. Tentu saja kedua orang itu menatap dengan wajah. yang sama-sama datar. Namun Moanna segera memberi senyuman ramah supaya ia tidak dikatai Dokter yang jutek dan kaku.
Moanna yang hendak kembali ke mejanya tiba-tiba berhenti dan kini memperhatikan Rei. "Aku sepertinya pernah melihat pria ini." Gumam Moanna dalam hatinya.
"Jangan terlalu lama melihatnya, nanti kau akan menyesal." Celetuk Kenzo hingga Moanna menatapnya. "Maaf atas kelancanganku." Ucap Moanna kemudian. Ia kini melanjutkan kembali langkahnya diikuti tatapan kedua mata Rei. Ya pria itu jelas-jelas mengingat wajah Moanna. Wajah wanita yang ia suruh pindah saat duduk di restoran Ornansha, Orlan. Tak disangka wanita itu ternyata adalah seorang dokter. Lebih mengejutkannya lagi, dia seperti mengikuti kemana dirinya pergi.
"Apakah anda merasakan efek samping jangka panjang setelah operasi?" Tanya Moanna setelah ia menulis informasi tentang pasiennya itu.
"Tidak." Jawab Alvin singkat.
"Bicara saja singkat. Kau pikir dengan banyak bicara uangmu akan habis, hah?" Batin Moanna kesal dengan jawaban Alvin yang terlalu singkat itu.
"Baiklah, sepertinya anda tidak mengalami keluhan besar." Ucap Moanna seraya memberikan secarik kertas. "Itu obat untuk bekas operasinya. Jika ada keluhan, silahkan datang kembali." Tutur Moanna.
"Terimakasih, lainkali jangan terlambat." Ucap Alvin dan lantas bangkit dari duduknya. "Karena waktuku sangat berharga!" Lanjutnya.
__ADS_1
"Maaf atas terbuangnya waktumu yang berharga itu." Jawab Moanna seraya berdiri dan mengantar kepergian Alvin beserta kedua tangannya, Kenzo dan Rei.
Dilorong rumah sakit usai menyelesaikan tugasnya ketiga pria itu berjalan beriringan. "Apakah kau pernah bertemu dengannya?" Tanya Kenzo pada Rei.
"Pernah. Saat di restoran Ornansha," Jawabnya tanpa menatap Kenzo. Jawaban yang diberikan Rei barusan membuat Alvin berhenti melangkah dan menengok kebelakang menatap Rei. "Apa dia pemilik mantel itu?" Tanya Alvin dengan mata yang menunjuk paper bag ditanggan Rei.
Rei terdiam untuk kembali mengingat malam itu dan apa jenis pakaian digunakan oleh Moanna. Namun sialnya ia malah mengingat pakaian yang dikenakan oleh Luca, pria yang duduk bersama Moanna saat itu. "Aku tidak mengingat dia mengenakan apa." Jawab Rei kemudian hingga membuat Alvin kecewa.
Dengan raut wajah kesal Alvin berjalan menuju tempat tes DNA. Tujuan sebenarnya pria itu sejak awal memang bukan untuk check up, melainkan untuk melakukan tes DNA pada pakaian yang membalutnya saat penembakan di Orlan hingga ia masih bisa bernapas hingga saat ini. Ia ingin tahu siapa orang itu dan berharap dapat berterimakasih atas tindakannya.
"Tuan Alvin," sapa seorang Dokter pria yang baru saja keluar dari ruangan yang dituju oleh Alvin.
"Apa kau bisa membantuku?" Tanya Alvin tanpa menjawab sapaan pria itu.
"Tentu, apa itu?" Jawabnya sambil tersenyum.
Rei mengangkat tangannya yang memegang paper bag lalu memberikannya pada Dokter itu, "Alvin ingin kau menemukan DNA pemilik mantel itu." Jelas Rei.
"Itu mudah." Jawab Dokter itu. "Tapi aku tidak yakin akan sangat akurat karena sepertinya pakaian ini masih baru." Jelasnya setelah membuka paper bag itu.
"Berapa lama waktu untuk mengetahuinya?" Timpal Kenzo menambahkan.
"Mungkin sekitar 3-4 hari baru hasilnya akan keluar." Dokter itu kembali memasukan mantel itu kedalam paper bag.
"Baiklah, lakukan yang terbaik!' pesan Alvin kemudian memutar tubuhnya dan pergi meninggalkan Dokter yang masih berdiri didepan pintu itu.
"Jika hasilnya keluar, jangan beritahu siapapun sebelum Alvin mengetahuinya!" Pesan Rei lalu ikut pergi meninggalkan Dokter itu menyusul Kenzo dan juga Alvin.
Sambil berjalan menuju tempat parkir, Rei masih berpikir mengenai Moanna. Mengapa wanita itu ada di Orlan kemarin dan sekarang di rumah sakit viterbo?
Sungguh sial. Setelah beberapa kali bertanya pada Ettore tentang pemilik mantel itu, pria itu berulang kali mengatakan bahwa dirinya tidak tahu wajah wanita itu karena tertupi oleh rambutnya. Sedangkan dirinya tak tahu kejadian itu karena tertidur.
Sedangkan Alvin yang sejak tiba di mansion terus menerus melihat cctv restoran Ornansha untuk melihat perbedaan setiap wanita yang mengenakan mantel berwarna navy dan hitam— karena dari cctv mantel hitam dan navy tampak sama. Namun pria itu juga sulit menemukannya, bahkan wajah wanita itu tak terlihat karena tertutup oleh rambut dan sesekali memunggungi kamera.
Itulah alasan mereka datang ke rumah sakit untuk mencari DNA wanita itu dari pakaian yang dibawa Alvin hingga saat ini. Barangkali itulah yang paling akurat dari perkataan atau penglihatan manusia yang terkadang salah.
__ADS_1