Istri Sang Mafia

Istri Sang Mafia
BAB 7: Kunjungan sang Signore


__ADS_3

Tok...


Tok...


Tok...


Moanna mengetuk pintu setelah memantapkan dirinya dan akhinya masuk kedalam ruangan sang direktur utama. Mengingat kejadian semalam yang terjadi di apartemen membuat kedua orang itu kini merasa begitu canggung. Felix yang merasa bahwa dirinya begitu brengsek sedangkan Moanna yang berpikir akan terulangnya kejadian semalam. Makanya dia memilih untuk berdiri cukup jauh dari meja tempat Felix bekerja.


"Ada apa memanggil saya?" Tanya Moanna mencoba memulai pembicaraan supaya ia bisa segera keluar dari ruangan itu.


"Kau akan pergi ke Orlan lusa." Ucap Felix tiba-tiba hingga Moanna tercengang dan tak percaya bahwa permintaanya semalam tidak dikabulkan oleh pria itu. Lebih menyebalkannya lagi, wajah pria itu yang menunjukkan bahwa dia dapat melakukan apapun. Termasuk mengirim Moanna ke Orlan.


"Ta-tapi bagaimana dengan pasienku?" Protes Moanna. Ia mencoba mencari alasan supaya dirinya tidak jadi ke Orlan dan dapat menikmati liburan musim panas bersama keluarga ibunya. Sepertinya janjinya pada sang mama tadi.


"Kau pikir dokter disini hanya dirimu?" Sergah Felix. "Banyak dokter lain disini yang bisa menggantikan dirimu untuk memeriksa mereka!" Tegas Felix membuat Moanna tak ingin lagi menjawab pria itu. Sepertinya ini adalah balas dendam atas penolakannya semalam untuk menjadi kekasih pria itu.


Moanna menatap pria itu lalu mengedipkan matanya perlahan. "Baiklah, Aku akan berangkat ke Orlan." Ucap Moanna kemudian berjalan pergi meninggalkan ruangan itu.


Felix yang mendengar keputusan Moanna terkejut. Pasalnya ia menduga jika wanita itu akan memohon-mohon padanya supaya tidak diberangkatkan ke Orlan. Lalu kemudian dia dengan senang hati akan menyetujuinya jika Moanna bersedia menjadi kekasihnya. Namun ternyata semua rencananya gagal. Kini ia pun terpaksa harus terpisah dari sang wanita pujaan untuk beberapa waktu.


Setelah keluar dari pintu, Moanna membuang napasnya kesal. Bagaimana tidak, pagi-pagi yang seharusnya ia dapatkan adalah kegembiraan bukan kekesalan. Berjalan kembali menuju ruangannya untuk bersiap, tiba-tiba kericuhan terjadi dibelakangnya karena beberapa perawat berlarian ke arah pintu masuk utama. Penasaran, Moanna pun akhirnya ikut berlari bersama para perawat.


Tak lama sebuah ambulance datang dengan seseorang didalamnya. Secepat mungkin para perawat menghampiri bangsal yang diatasnya terbaring seorang pria tua yang berlumuran darah dibagian perutnya. Moanna yang melihat itu lantas mengambil alih karena hanya dirinya dokter disana.


"Segera bawa ke IGD!" Perintah Moanna. Ia pun mendorong bangsal itu bersama para perawat menuju IGD untuk memeriksa keadaan pria tua yang entah mengapa bisa begitu.


Setibanya di dalam IGD Moanna segera memastikan keamanan airway, atau jalan napas dengan mengajak bicara pria tua itu. "Tuan, tolong katakan sesuatu." Perintah Moanna.


"Se-su-a-tu..." Rintih pria itu. Setelah mengetahui kondisi jalan napas dan leher pria tua itu aman, Kini Moanna membuka pakaian yang membalut pria itu untuk melakukan manajemen breathing atau pernafasan. Untungnya pasien tidak mengalami luka serius pada lukanya. Hanya pembersihan area luka dan beberapa jahitan yang dilakukan Moanna pada pria tua itu.


Selesai menangani pasien tadi, Moanna kini berdiri didepan tempat sampah untuk membuang handscoon yang berlumuran darah kemudian mencuci kedua tangannya. Tarikan napas yang cukup dalam kemudian Moanna hembuskan tatkala ia kembali mengingat bahwa dirinya akan melewatkan lagi liburan musim panas bersama keluarganya.

__ADS_1


Didepan cermin toilet Moanna menatap dirinya sendiri. Wanita bersnelli yang menjadi impiannya sejak sma kini menjadi kenyataan. Tetapi sayangnya sang ayah tidak dapat menemaninya hingga ia mendapatkan pasangan dan mengandengnya menuju pria idaman yang menjadi pasangan hidupnya. "Ayah, terimakasih telah bersamaku hingga snelli ia menyatu dengan tubuhku." Lirih Moanna.


Hentakan sepatu yang bergerak masuk kedalam toilet membuat Moanna menatap ke arah pintu masuk melalui cermin untuk melihat sosok pemilik hentakan sepatu itu. Wanita dengan snelli yang sama dengannya berjalan mendekati wastafel kemudian membasuh wajahnya. "Kau sepertinya enggan pergi ke Orlan." Ucap wanita itu seraya mengelap wajahnya dengan tisu.


"Siapa bilang?" Kata Moanna yang kini menghadap wanita yang berprofesi sama dengannya itu.


"Tentu saja dari raut wajahmu." Jawab wanita berambut pirang itu. "Jika bukan karena aku dokter paling dibutuhkan disini, aku pasti akan berangkat secara sukarela." Sindir Serena dengan nada sombong. Seorang dokter junior yang baru saja mengucap sumpah dokter beberapa Minggu lalu.


Moanna menyunggingkan sebelah bibirnya lalu melangkah mendekati dokter baru itu. "Kau berada disini karena kau adalah anak pemilik rumah sakit ini. Bukan karena prestasi!" Sindir Moanna lalu melengos pergi meninggalkan toilet.


Serena yang tak rela dirinya diejek oleh Moanna hanya bisa mengepalkan kedua tangannya kesal. Rasa ingin menyingkirkan wanita itu semakin membara di jiwanya. Terlebih lagi saat ia tahu bahwa Moanna begitu dihargai di rumah sakit milik papahnya itu. "Sial." Umpatnya kemudian pergi.


Diruangan berbeda Fio tengah memeriksa keadaan seorang anak sekolah yang terjatuh dari sepeda dan menabrak sebuah gerobak buah hingga kakinya terluka. "Hei, boy. Tekuk lututmu!" Perintah Fio kemudian mengolesi lutut anak itu dengan alkohol lalu memberikan obat pereda nyeri. "Apa yang pelajar sepertimu lakukan dipasar?" Tanya Fio penasaran.


"Hanya lewat." Jawab bocah laki-laki itu singkat sambil memperhatikan lututnya yang tengah dibersihkan oleh Fio. "Apa kau selalu melakukan hal begini setiap hari?" Tanyanya kemudian.


Fio menghentikan aktivitasnya lalu menatap anak laki-laki itu. "Melakukan apa? Ini?" Fio sedikit menekan luka anak itu.


"Karena aku ingin." Jawab Fio singkat. "Lagipula kenapa pertanyaanmu begitu aneh?" Ucap Fio dan kembali mengobati luka di bagian sikut kiri pelajar pria itu. "Tentu saja aku mengobati setiap hari, karena itu tugasku." Lanjutnya.


Anak laki-laki itu tak lagi menjawab hingga membuat Fio melirik dari ujung matanya karena penasaran. Namun yang ia dapati anak itu tengah memperhatikan dirinya dengan seksama bahkan sepertinya anak itu melewatkan waktu untuk berkedip. "Sudah selesai." Ucap Fio lalu membereskan peralatan yang ia bawa.


"Terimakasih." Ucap anak laki-laki itu seraya melihat luka pada tubuhnya yang kini sudah ditutupi oleh perban. "Lainkali berhati-hatilah!" Pesan Fio kemudian meninggalkan pasiennya itu untuk beristirahat.


Fio berjalan sambil membawa nampan ditangannya untuk dicuci sebelum akhirnya disimpan. "Dokter moanna!" Panggilnya saat ia melihat wanita itu melintas didepannya. Segera Fio mendekati Moanna yang tengah mematung menunggunya itu.


"Kenapa Fio?" Tanya Moanna saat perawat wanita itu berhenti didepannya.


"Ku dengar kau berangkat lusa ya?" Tanya Fio.


"Hem, kau benar." Jawab Moanna. " Dan kau juga ikut serta, Fio." Lanjutnya memberitahu wanita itu jika dirinya akan ikut ke Orlan sebagai relawan.

__ADS_1


Kedua mata Fio terbuka lebar. Terkejut, kaget, senang bersamaan ia rasakan usai mendengar ucapan Moanna. "Benarkah?" Fio mencoba meyakinkan apa yang baru saja ia dengar.


Moanna mengangguk. "Hem, tentu saja. Mana mungkin aku berbohong." Jawab Moanna tersenyum.


Raut gembira perlahan terukir diwajah perawat yang sudah bekerja selama dua tahun dirumah sakit itu. "Jadi aku akan berangkat ke Orlan lusa bersama denganmu, Dok?" Seru Fio bersorak gembira. Moanna yang berada disamping wanita itu hanya tersenyum ikut bahagia atasnya.


Didalam mansion yang terletak dipinggir danau bolsena, Alvin baru saja keluar dari kamarnya dengan pakaian rapi seperti biasanya. Kali ini dia bersiap untuk mengunjungi pabrik pembuatan senjata miliknya bersama Kenzo.


Orang-orang yang ia lewati saat melangkah tak henti menundukkan kepalanya sebagai rasa hormat kepada sang Signore. Tak seperti biasanya Alvin berjalan dengan jas menyampai ditangannya. Karena ia selalu mengenakan pakaian seperti itu. Siap melakukan aktivitas bersama, Kenzo sudah berdiri didekat pintu utama menunggu Alvin tiba.


"Apakah Rei sudah pergi?" Tanya Alvin saat berhenti didepan Kenzo.


"Dia sudah berangkat sebelum matahari terbit." Jawabnya. Sudah menjadi kebiasaan Rei untuk pergi ataupun datang tanpa adanya matahari diluar. Alias ia selalu bepergian saat malam tiba karena pria Jepang-Italy itu berpikir bahwa mahluk hidup normal akan beristirahat pada saat malam hari.


Alvin berjalan duluan usai mendengar jawaban dari Kenzo menuju mobil hitam merek Alfa Romeo Giulia yang terkenal di Italia. Dengan Kenzo yang mengendarai mobil kesayangan Alvin, mereka keluar dari area mansion menuju pabrik miliknya yang berada didekat kota Turin.


Satu jam perjalanan mereka tempuh. Kini mobil Alvin memasuki area pabrik dibantu oleh seorang pria yang mengarahkan mereka dari luar. Alvin keluar dari mobil dengan kacamata hitam yang melekat dimatanya. Pria yang semula tidak mengenakan jas hitamnya, kini sudah melekat ditubuhnya hingga menambah ketampanan pria berusia 33 tahun itu.


Mengenakan pakaian pelindung, Alvin dan Kenzo berjalan melihat-lihat pembuatan senjata terbaru miliknya yang akan diedarkan beberapa bulan lagi. Ditemani Jack, orang kepercayaan Alvin dibagian pabrik, kedua pria itu berjalan menghampiri senjata yang sudah jadi dan hanya perlu diberi amunisi sebagai tahap akhir.


Jack mengambil salah satu pistol berukuran 15 cm itu lalu menyodorkannya kepada Alvin. "Apa kau ingin mencobanya, tuan?" Tanyanya.


Kenzo mengambil pistol itu dari tangan Jack, "biar aku saja." Jawabnya. Karena ia dapat mengerti alasan Alvin yang sedaritadi hanya menatap senjata itu.


Kenzo berjalan menjauhi Alvin dan juga Jack lalu mengarahkan tangannya untuk membidik salah satu jirigen yang berisikan air. Ia memfokuskan pandangannya kemudian telunjuknya perlahan menarik pelatuk pistol itu hingga kini —Dor! Jirigen itu seketika bocor setelah Kenzo melepaskan timah panas itu padanya.


"Bagaimana? Apa itu sudah cukup?" Tanya Jack yang takut jika senjata buatan pabrik yang ia tangani tidak sesuai dengan keinginan sang Signore. "Terimakasih, pertahankan untuk beberapa bulan kedepan." Ucap Alvin memuji pekerjaan Jack. "Pistol itu akan diedarkan." Lanjutnya.


Kenzo kembali ikut bergabung dengan Alvin dan Jack. "Aku suka pegangan pistol ini." Pujinya seraya membolak balik pistol yang ia pegang.


Puas sudah Alvin dengan pistol buatan Jack. Kini pria itu kembali untuk menghadiri rapat kepala keluarga dirumahnya.

__ADS_1


__ADS_2