Istri Sang Mafia

Istri Sang Mafia
BAB 13: Obat Untuk Leo


__ADS_3

Kepanikan tengah melanda pria berkumis itu. Selain karena Alvin terluka parah, tameng sang Signore, Rei malah terduduk lemah tak sadarkan diri akibat kopi berbumbu obat tidur. Tanpa banyak bicara pria itu segera mengambil ponselnya dan menekan tiga digit angka untuk memanggil ambulance.


Sementara pria itu sibuk memanggil tim medis, Moanna yang juga seorang dokter berusaha memberi pertolongan pertama pada Alvin dengan menggulung mantelnya karena tidak ada kain kasa ataupun benda lainnya yang bersih ditempat itu. Kemudian kain itu ia gunakan untuk menutupi dada kanan pria itu supaya pendarahannya tak semakin parah. Bukan hanya itu yang Moanna lakukan, sebelumnya ia juga memeriksa luka tembak di tubuh Alvin yang untungnya bukan merupakan jenis tembakan keluar.


"Bertahanlah, lukamu tak begitu parah." Lirih Moanna sambil terus melakukan pernapasan buatan atau resusitasi jantung paru (CPR) dengan tangannya.


Tiba-tiba tubuhnya terhempas karena dorongan seseorang hingga ia terbentur kaki meja. "Aw...." Aduh Moanna.


"Apa yang kau lakukan padanya?" Bentak pria itu. Ia kini mengangkat tubuh Alvin hendak membawanya dan menunggu ambulance tiba diluar restoran.


"Jangan lakukan itu!" Cegah Moanna. Mendorong pria berkumis tadi supaya menjauh dari tubuh Alvin yang terlentang dengan posisi tubuh kanannya lebih tinggi dari posisi jantungnya. Ia kembali melakukan CPR pada Alvin dan tak memperdulikan ucapan pria tua dengan kumis diatas bibirnya itu.


"Kau dengar tidak?" Bentak pria itu semakin kesal akan tindakan Moanna yang lancang pada Alvin. Namun Moanna tak memperdulikan pria itu dan lebih mementingkan keselamatan Alvin.


Amarah semakin memuncak pria itu hingga kini ia mencengkram tangan Moanna dan menghempaskannya beserta tubuh wanita itu menjauh dari Alvin. "Siapa kau berani menyentuh tuanku?" Sergah pria itu hingga tubuh Moanna dibuat bergetar seketika.


"Aku hanya menjalankan—"


"Apa kalian keluar korban?" Tanya seorang perawat memutus perdebatan antara Moanna dan pria tua berkumis itu.


"Aku Ettore, aku yang bertanggung jawab atasnya." Ucap pria berkumis itu seraya berdiri dan merapikan pakaiannya.


Sementara Alvin segera ditangani oleh tim medis dan dibawa ke rumah sakit. Sedangkan Ettore merangkul Rei dan membawanya ke rumah sakit untuk ikut serta menjaga Alvin. Dengan tatapannya yang dingin pada Moanna, Ettore pergi meninggalkan restoran yang berantakan dan dipenuhi oleh darah itu tanpa sepatah katapun.


Moanna berjalan keluar tanpa mantel navy yang semula melekat untuk menghangatkan tubuhnya. Dengan tangan yang masih kotor oleh darah segar Alvin, Kedua mata Moanna mencari sosok pria tinggi yang sebelumnya pergi bersamanya. "Dokter Moanna!" Panggil seseorang hingga wanita itu menoleh.

__ADS_1


"Astaga, Kau terluka?" Luca membulak-balik tubuh Moanna untuk mencari luka yang membuat wanita itu berlumuran darah. "Luca, ini bukan darahku." Ucap Moanna.


"Lalu darah siapa itu?" Tanya Luca penasaran.


"Ini darah pria pejabat tadi. Dia salah satu korban penembakan setelah dua orang pria lainnya." Jelas Moanna. Alasan Moanna hanya menolong Alvin karena hanya pria itu saja yang mengalami luka sedikit lebih parah dibandingkan dua pria lainnya yang hanya tertembak dibagian paha dan lengan mereka.


"Oh begitu," Luca mengangguk-angguk paham. "Sebaiknya kita segera kembali." Saran pria itu dan disetujui oleh Moanna.


"Tapi aku harus mencuci tanganku terlebih dahulu." Ucap Moanna.


•••>>


Sementara di pusat kota Orlan tengah terjadi kericuhan akibat sebuah penembakan massal, di salah satu kota kecil yang tengah dilanda bencana seorang pria tertidur lelap dengan tubuh yang masih berwarna merah.


"Akhirnya dia tenang juga." Ucap Rio yang tengah menikmati segelas kopi instan sambil memperhatikan Leo yang tengah terlelap setelah diberi obat penenang oleh Rio.


Sudah hampir lima jam sejak kepergian dua orang itu ke pusat kota Orlan untuk membeli keperluan medis juga obat untuk Leo namun mereka tak kunjung kembali.


"Mungkin mereka mendapat kendala dijalan." Seru Cira yang mendengar ucapan dokter yang juga sama tampannya dengan Leo.


Rio menatap kearah sumber suara berasal, "kau sudah lama disana?"Tanyanya.


Cira menghampiri dokter Rio dengan kedua tangan yang terlipat didepan perutnya. "Hem. Sejak memberinya obat penenang," Jawab Cira. "Apakah dia akan baik-baik saja?" Cita kini yang bertanya pada pria itu.


Rio mengangkat sebelah alisnya, "Dia, siapa?" Pria itu gagal menangkap maksud dari perkataan Cira yang menurutnya ambigu itu.

__ADS_1


Cira membuang napasnya kasar. "Tentu saja Moanna, memangnya siapa lagi yang harus aku khawatirkan? Luca?" Jelas wanita berambut panjang sebahu itu.


Rio tertawa mendengar ucapan wanita itu, "bisa saja kan kau beralasan mengkhawatirkan Moanna tapi nyatanya bukan?" Goda pria itu hingga wajah Cira berubah menjadi kesal dan pergi meninggalkan Dokter itu.


Decit rem mobil yang cukup kuat membuat orang-orang yang berada didalam tenda berhamburan keluar untuk melihat. Sebuah mobil berwarna cokelat tua datang dengan dua orang didalamnya yang kini turun sambil membawa masing-masing satu box berukuran sedang.


Cira yang hendak kembali ke tempatnya istirahat menoleh pada sumber suara decitan itu. Terlihat Moanna dan Luca tengah berjalan ke arahnya hingga wanita itu memilih untuk berdiri mematung didekat tempat Leo dan Rio berada. "Bagaimana keadaan Leo?" Tanya Moanna ketika ia berhadapan dengan cita didepan tempat pria itu berada sebelumnya.


"Kurang baik." Jawab Cira. "Ia tadi histeris karena rasa gatal dan harus diberi obat penenang supaya tidak terus menerus menggaruk kulitnya yang sudah matang itu." Cira menjelaskan kejadian yang terjadi ditempat itu karena ulah Leo.


"Lalu sekarang dimana Dokter Rio?" Tanya Moanna dan tiba-tiba sosok pria bertubuh tinggi itu menghampiri mereka. "Aku disini,"


"Ini obat untuknya." Moanna menyodorkan satu box yang ia bawa itu pada Rio.


"Kenapa kalian begitu lama?" Heran Rio. "Apakah kalian mengalami kendala?"


Luca dan Moanna saling menatap satu sama lain hingga Cira dan Rio merasa curiga dengan kedua orang yang baru saja jalan bersama itu. "Kenapa kalian diam saja?" Tanya Cira. "Kalian tidak melakukan hal aneh kan?" Selidik wanita itu.


"Aneh bagaimana maksudmu?" Moanna malah kembali melontarkan pernyataan. "Tadi dikota terjadi penembakan massal dan salah satu korban sepertinya adalah seorang pejabat tapi dia mungkin juga seorang pengusaha." Papar Moanna menceritakan kejadian yang cukup menegangkan untuknya selama hidupnya.


"Dan saat kejadian itu, aku dan Dokter Moanna terpisah karena orang-orang panik untuk menyelamatkan diri mereka sendiri." Tambah Luca.


"Apa korban yang kau maksud seorang pria?" Tanya Cira mulai bersemangat jika mengenai seorang pria, "apa dia tampan?"


"Entahlah, aku tidak fokus pada wajahnya. Aku hanya mencoba memberinya pertolongan sebelum tim medis datang." Ucap Moanna.

__ADS_1


"Jika begitu kalian Pasti lelah." Ucap Rio ketika melihat wajah kedua orang itu yang seperti mayat hidup. Pucat kekurangan darah, mungkin karena masih syok dengan kejadian tadi. "Istirahatlah!" Perintan Rio. Moanna dan Luca pun lantas berpencar menuju Tempat istirahat mereka masing-masing.


Lain seperti Moanna dan Luca yang kelelahan karena peristiwa tadi, seorang pria kini justru tengah diselimuti oleh kebahagiaan setelah ia mendapat kabar tentang keadaan Alvin yang sudah berhasil tertembak tepat didepan Rei. Meskipun itu terjadi saat pria itu dalam keadaan tak sadar, tapi ia tetap bahagia karena berhasil membalas langsung perbuatan Rei padanya dulu.


__ADS_2