
Usai dari apartemen Arturo, kedua pria yang sama-sama mengenakan mantel itu kembali ke mansion Alvin yang letaknya berada di dekat danau Bolsena. Deru angin malam menemani langkah kedua pria yang berjalan beriringan itu. Beberapa pria menyambut kedatangan mereka dengan sebuah senyuman. Namun Alvin hanya mengangguk kecil dan hanya Kenzo-lah yang membalas senyuman mereka.
Tak seorangpun wanita terlihat berjalan di mansion itu karena memang Alvin meminta agar semua pekerja wanita diganti oleh pria. Dari mulai chefs, pengurus rumah, semuanya adalah pria. Entah apa alasan sang Signore mengubahnya.
Sambutan seorang pria yang berdiri didepan pintu utama kini membuat Alvin memberikan senyuman. Meski pria yang menyambut kedatangannya tak memberi senyuman seperti yang lainnya, alias datar tanpa ekspresi. Dia adalah Rei. Pria Jepang-Italy yang sudah hampir lima tahun menjadi orang kepercayaan Alvin selain Kenzo.
"Apakah percobaannya berhasil?" Tanya Rei.
Kenzo menggeleng. "Itu mungkin bagianmu." Jawabnya penuh arti. Rei yang mendengar jawaban dari Kenzo lantas mengerti maksud dari bagiannya. Itu berarti orang itu masih hidup dan kini giliran dirinya membereskan apa yang seharusnya terjadi.
"Perlukah kulakukan sekarang?" Tanyanya lagi.
"Tidak perlu." Tolak Alvin. "Ada hal yang lebih penting yang akan kau kerjakan!" Lanjutnya kemudian masuk kedalam diikuti Kenzo dan juga Rei dibelakangnya.
Kedua tangan kanan sang Signore berjalan dibalik punggungnya tanpa saling bicara ataupun menatap. Mereka kini fokus pada langkah yang ternyata berbarengan hingga membentuk sebuah irama. "Ternyata kita sehati." Celetuk Kenzo pada Rei yang ternyata hanya merespon dirinya dengan anggukan kecil. Tanpa sepatah katapun.
"Cih, Sifatnya tidak pernah berubah." Kesal Kenzo dalam batinnya. Tentu saja ia sudah mengenal watak dari rekannya yang dingin dan kaku itu karena sudah hampir enam tahun mereka bersama dan hidup didalam mansion itu.
"Kau sudah menyelesaikan semuanya, Rei?" Tanya Alvin dengan langkah yang masih melaju.
"Sudah." Jawab Rei sambil terus berjalan dibelakang Alvin bersama Kenzo.
"Bagus." Puji Alvin. Pria itu kemudian duduk dikursi biasa tempat dimana ia bekerja bersama kedua pria itu. "Besok kau berangkat ke Orlan bersama Arturo." Ucapnya memberi tugas baru pada Rei.
"Untuk apa?" Tanya Rei. Ia bingung karena tiba-tiba diminta untuk pergi ke Orlan bersama sepupu Alvin yang memiliki sifat yang berbeda dengannya. Arturo yang suka buang-buang waktu dengan bermain bersama wanita dan lambat membuat Rei sangat benci jika harus berada satu tempat bersama pria itu.
Namun apalah daya. Apapun yang dikatakan oleh Alvin akan ia lakukan meski itu hal yang ia benci sekalipun. Tak ada kata penolakan dalam hidupnya jika menyangkut dengan sang Signore.
"Arturo yang akan menjelaskannya padamu." Ucap Alvin.
••••>>>
Sorot cahaya mentari muncul malu-malu dari balik gumpalan awan putih. Suara klakson yang semula hening kini mulai bising karena aktivitas manusia akan segera dimulai.
Perlahan mata yang semula tertutup kini terbuka dan melihat sekeliling. Tempat yang tak asing baginya. Plafon berwarna putih serta beberapa boneka yang tersusun rapi diatas lemari membuatnya semakin yakin bahwa dia sudah terbaring di kamarnya.
__ADS_1
Segera ia bangkit setelah menyadari bahwa dirinya benar-benar berada dikamarnya. "Bagaimana bisa?" Heran Moanna. Ia lalu mengitari ruangan dengan cat dominan berwarna putih itu namun tak menemukan orang selain dirinya.
"Siapa yang mengantarku?" Rasa penasaran semakin menggebu dihati Moanna. Ia kini bangkit dan berjalan keluar dari kamarnya menuju dapur dan bertanya. "Mah, apa semalam aku pulang sendiri?" Tanya Moanna pada wanita tua yang tengah mencuci piring.
Ibunya hanya menatap anak gadisnya itu lalu kembali melanjutkan aktivitasnya. "Apa kau minum begitu banyak hingga kau tak ingat?"
Moanna tertegun. Bukankah semalam ia hanya meminum segelas teh di apartemen Felix, Lantas mengapa ibunya mengatakan hal itu?
"Kau semalam dibawa oleh seorang pria tampan." Lanjut Mamanya.
Alis Moanna terangkat, "pria tampan? Siapa itu?"
"Mmm,, entahlah. Mama lupa menanyakan namanya, yang jelas dia tampan." Ucap ibu Moanna yang mengingat betul wajah pria tampan yang membawa putrinya pulang semalam. Pria dengan poni yang menutupi keningnya, serta mata yang besar dihiasi bulu mata yang lentik. Tak lupa juga tubuh yang atletis dan senyuman hangat yang diberikan pria itu saat bertatap wajah dengannya.
Moanna yang masih merasa sedikit pusing dan mual berjalan mendekati ibunya untuk mengambil Air minum yang berada tak jauh dari tempat ibunya berada. "Kenapa senyum-senyum sendiri, mah?" Heran Moanna yang tak sengaja melihat ibunya tengah mencuci piring sambil tersenyum.
"Tidak apa-apa." Sangkalnya. "Hei, apa pria semalam kekasihmu?" Tanya Mama Moanna.
"Eh?" Moanna yang tengah minum air melototkan kedua matanya. "Aku tidak tahu siapa pria yang mama maksud." Ucap Moanna. Mana mungkin dia tiba-tiba mengiyakan ucapan mamanya itu padahal dia sendiri tidak tahu sosok pria yang dimaksud ibunya. Lagipula dia baru saja mengakhiri hubungan yang sudah ia bangun selama bertahun-tahun bulan lalu karena kekasihnya selingkuh dengan rival sekolahnya.
Moanna semakin terkejut dengan setiap ucapan yang keluar dari mulut mamanya itu. "Mama ini masih pagi. jangan bicara aneh-aneh!" Moanna kini berjalan meninggalkan dapur untuk membersihkan dirinya dan berangkat ke rumah sakit.
"Anak jaman sekarang bukannya takut tidak laku malah lebih takut menikah." Celetuk mama Moanna dengan kepalanya yang ia gelengkan pelan. Kini wanita itu membingkai tubuhnya dengan apron berwarna hitam dan bersiap untuk membuat sarapan selagi Moanna mandi.
Setengah jam berlalu akhirnya Moanna keluar dari kamar dengan pakaian rapi serta snelli yang menggantung dilengan kirinya. "Ma, aku berangkat." Pamit Moanna.
Mama Moanna yang tengah sibuk didapur lantas menghampiri putrinya yang hendak keluar. "Tunggu!" Teriaknya. "Sarapan sudah selesai, makanlah dulu."
Moanna yang berdiri didepan pintu kini melangkahkan kakinya kembali masuk kedalam rumah dan duduk dimeja makan menunggu sang mama menghidangkan sarapan untuk mereka.
"Kapan Mama kembali?" Tanya Moanna tiba-tiba disela dirinya mengunyah.
"Besok." Jawab Mama Moanna dengan lirih. Ia merasa pertanyaan putrinya itu adalah ungkapan lain supaya ia kembali pada keluarga barunya. Ya, kedua orang tua Moanna telah berpisah saat dirinya duduk di bangku sma. Karena merasa bahwa sang ibu dapat melakukan apapun, seperti memasak dan bekerja, Moanna lebih memilih ikut bersama sang Ayah untuk membantunya bertahan hidup. Namun tak disangka ayahnya meninggal setahun setelah ia resmi bergelar dokter.
Sedangkan sang ibu menikah lagi bersama seorang guru dan dikarunia seorang anak perempuan yang kini duduk dibangku sma. Sepeninggalan sang ayah, Moanna berkali-kali diajak sang mama untuk ikut tinggal bersamanya karena ia berpikir anak gadisnya itu tidak lagi memiliki alasan untuk menolaknya. Namun ternyata ia salah. Moanna justru ingin tinggal sendiri dan berjanji akan mengunjungi kediaman Sang mama sesering mungkin.
__ADS_1
"Moa, Minggu depan adikmu akan liburan musim panas." Mama Moanna kembali mengajak putrinya berbicara.
"Kemana kalian akan pergi?" Tanya Moanna seraya menyuapi mulutnya yang sudah kosong.
Mama Moanna menuangkan air kedalam gelasnya lalu minum sebelum akhirnya ia menjawab pertanyaan dari Moanna. "Adikmu ingin datang ke Piazza Navona." Jawabnya.
"Kapan kalian berangkat ke Roma?" Tanya Moanna lagi. Jelas ia tahu betul acara itu. Atraksi Piazza Navona yang menjadi pasar utama di Roma selama lebih dari 300 tahun, acara yang ikonik dan Fontana dengan tugu dan air mancur yang berhiaskan patung-patung memiliki daya tarik tersendiri bagi-bagi orang untuk menikmati musim panas disana.
"Mungkin Minggu ketiga musim panas." Jawab Mama Moanna. "Apakah kau akan ikut berlibur bersama kami, Moa?" Tanyanya. Ia berharap anak pertamanya itu bisa ikut bersama mereka menikmati musim panas sebagai keluarga.
Moanna menyimpan gelas setelah ia meneguk habis air didalamnya. "Entahlah, aku belum tahu." Jawab Moanna membuat sang ibu yakin bahwa jawaban itu adalah sebuah penolakan atas ajakannya. "Aku sepertinya akan pergi ke Orlan dan belum tahu kapan akan kembali." Jelas Moanna kemudian.
"Apakah kau berlibur disana?" Mama Moanna menumpuk piring karena makanan mereka telah sama-sama habis.
Moanna menggeleng, "aku akan pergi kesana sebagai relawan bersama beberapa tenaga medis dari rumah sakit." Tutur Moanna. "Jika aku kembali lebih cepat, aku akan ikut bersama kalian." Lanjut Moanna hingga raut wajah mamanya yang semula sedih kini sumringah.
"Benarkah?" Mama Moanna mencoba meyakinkan bahwa dia tidak salah dengar. "Tentu. Aku akan ikut berlibur meskipun paman tidak mengijinkan!" Ucap Moanna sambil tertawa. Dia memanggil suami baru mamannya itu dengan sebutan paman, karena baginya sosok ayahnya tidak akan tergantikan oleh siapapun. Dan suami mamanya pun tak keberatan dengan panggilan Moanna padanya.
"Aku harus berangkat sekarang." Pamit Moanna. Ia kemudian berangkat setelah mencium kedua pipi mamanya. "Bye.."
Mama Moanna melambaikan tangannya mengiringi kepergian Moanna yang kini telah sukses menjadi seorang dokter. Seyuman bangga terlihat jelas diwajahnya yang sudah tak muda lagi. Usai punggung anaknya menghilang, Mama Moanna kembali masuk kedalam untuk membereskan rumah dan pergi belanja makanan untuk persedian dirumah putrinya.
Setibanya diparkiran rumah sakit, Moanna keluar dan segera masuk ke dalam bangunan pusat kesehatan di kota Viterbo itu. Dengan snelli yang sudah terpasang di tubuhnya Moanna berjalan di koridor rumah sakit menuju ruangannya. Namun tiba-tiba ia mendengar seseorang memangil namanya. Ia pun berhenti dan menoleh.
"Ada apa?" Tanya Moanna ketika Cira berhenti melangkah.
"Direktur utama memintamu untuk menemuinya." Jawab Cira. Tadi pagi-pagi buta Felix sudah berada dirumah sakit mencari-cari Moanna. Namun tak kunjung bertemu karena Moanna belum datang.
Moanna terdiam. Ada sedikit rasa takut yang mengguncang dirinya saat tahu Felix ingin bertemu dengannya yang sudah pasti diruangan pria itu. Dan kali ini apa lagi yang akan dilakukan pria itu padanya? Apa dia tidak malu dengan perbuatannya semalam?
Prook..
Cira menepuk kedua tangannya didepan wajah Moanna hingga wanita itu mengerjap. "Kau sedang memikirkan apa?" Tanya Cira. Rasa ingin tahunya mulai naik mengenai hubungan antara direktur utama rumah sakit dengan dokter cantik itu.
Moanna segera menggeleng, "tidak ada." Jawabnya singkat disertai senyuman. "Dimana aku harus menemuinya?"
__ADS_1
"Di ruangannya." Jawab Cira. Keduanya kini berpamitan dan kembali melakukan kegiatannya masing-masing. Cira yang kembali mengecek keadaan pasien dan Moanna yang kini menuju ruangan Felix.