Istri Sang Mafia

Istri Sang Mafia
BAB 7: Salah paham yang memalukan


__ADS_3

11 jam waktu yang harus mereka tempuh dari Viterbo hingga tiba di Orlan menggunakan pesawat terbang. Suasana yang sudah gelap dan tak ada seorangpun warga lokal yang menjemput, membuat mereka terpaksa tidur di bandara karena kebingungan.


"Kita beristirahat disini dan tunggu matahari tiba supaya tidak tersesat." Ucap Moanna yang ditunjuk sebagai leader dari para relawan.


"Baiklah, lagipula tidak ada siapapun yang menyambut kita." Tambah Dokter Leo. "Kita harus pergi kemanapun bersama!"


Para tim medis pun lantas menyetujui usulan yang diberikan oleh Moanna. Mereka pun kini berjalan mencari sesuatu didekat bandara yang kebetulan adalah sebuah penginapan sederhana. "Sebaiknya kita menginap disana hingga jemputan tiba besok." Ujar seorang perawat pria menunjuk penginapan sederhana itu. Semua tenaga medis yang sudah merasa lelah tak banyak komplen dan memilih ikut apa yang akan dilakukan oleh rombongan.


"Moanna!" Panggil Dokter Rio hingga perempuan yang mengikat rambutnya itu kini berbalik, "Iya?"


Rio berlari pelan seraya menarik koperna, "Aku tidak tahu kenapa kau tiba-tiba ikut bersama kami. Tapi aku senang." Ucapnya dengan senyuman hangat. Pria yang berusia tak jauh darinya kini merentangkan sebelah tangannya. "Ledies first.." ucapnya hingga Moanna tersenyum seraya menggelengkan kepalanya lalu berjalan duluan seperti yang sudah dipersilahkan oleh Rio.


Rombongan tim medis yang berjumlah sekitar dua puluh orang itu tiba didepan penginapan yang ditunjuk tadi disambut oleh seorang pegawai wanita. "Selamat malam, tuan dan nyonya.." sapa pegawai wanita itu menggunakan bahasa Orlan.


Moanna berjalan mendekati pegawai wanita itu lalu berbicara menggunakan bahasa Inggris. "We need a place to rest, is this available for everyone?" Tanya Moanna.


Pegawai itu mengangguk lalu mempersilahkan semua orang untuk mengikutinya. Ada sepuluh kamar yang tersedia di tempat itu hingga membuat mereka harus tidur masing-masing berdua dalam satu ruangan supaya semuanya kebagian tempat untuk istirahat.


"Semuanya, silahkan kalian pilih ruangan untuk kalian tempati dan bersama siapapun." Tutur Dokter Leo. "Tapi harus sesama gender!" Tegasnya kemudian.


Semua orang kini sudah berpasangan dan masuk ke ruangan masing-masing. Namun Moanna masih terduduk disebuah kursi sambil membuat catatan untuk besok. "Secangkir kopi akan menyegarkanmu." Ucap Leo menyodorkan secangkir kopi instan yang ia buat.


"Terimakasih." Ucap Moanna menerima kopi itu lalu menyesapnya.


Leo ikut mendudukkan dirinya didepan Moanna. "Sebelumnya kau bilang tidak ikut serta, lantas sekarang kau adalah leader kami. Apa ini sebuah kejutan?" Ucap pria berusia 34 tahun itu.


Moanna menatap Leo, "Ya, mungkini ini memang sebuah kejutan untuk kalian." Jawab Moanna singkat. Wanita berambut light brown itu mengacuhkan Leo dan kembali menatap alat tulisnya.


Leo menutup kertas Moanna dengan telapak tangannya. "Jawab Aku, Moanna!" Tegas pria itu. "Semua ini terjadi karena malam itu bukan?"


Moanna tersendat, bagaimana bisa Leo tahu malam itu? Apa pria itu berada ditempat yang sama dengannya? Pikiran Moanna saling bersahutan mengadu argumen tentang Leo. Dan tiba-tiba ia teringat ucapan sang ibu mengenai pria tampan yang mengantarnya pulang malam itu.


Moanna melirik tempat sekitar mereka. Tak ada siapapun disana karena semua orang mungkin sudah terlelap. Moanna mendekatkan wajahnya kearah Leo, "Apa kau yang mengantarku pulang kerumah malam itu?" Bisik Moanna.


Leo tersenyum lalu ikut mendekatkan wajahnya kearah Moanna. "Hem. Aku juga mencoba milikmu itu," bisiknya.

__ADS_1


Kedua mata Moanna seketika membesar. "Apa!" Kejutnya. "Bagaimana kau bisa seringan itu mengatakannya?" Kesal Moanna dengan tangan yang menggebrak meja.


Bukannya merasa bersalah Leo Justru malah tertawa cengengesan, "Maaf Moanna, aku tidak meminta izin darimu karena takut kau akan terbangun dan memarahiku."


Moanna sontak berdiri. Tangannya kini bertolak pada pinggangnya dan matanya menatap tajam pada Leo. "Tentu saja aku marah. Dimana hati nuranimu hingga tega mengambil harta berharga milikku?" Sergah Moanna hingga menggema di seluruh ruangan.


Leo yang semula hanya ingin bercanda seketika panik ketika melihat reaksi wanita itu serta kedua matanya yang memerah dan mulai berair. "Kenapa dia menangis?" Batinnya.


"Jawab Aku Leo!" Teriak Moanna. Leo yang panik dan takut jika relawan lain terbangun dan salah paham padanya karena Moanna menangis langsung berdiri dan menutup mulut wanita itu. "Kenapa kau menangis?" Tanyanya berbisik. Kedua mata bulat pria itu bergantian menatap Moanna dan pintu masuk.


Moanna menatap Leo tanpa menjawab pertanyaan itu. Matanya semakin merah dan air matanya kian banyak keluar hingga membasahi tangan Leo. "Jawab Moanna! kenapa kau menangis?" Ucap Leo dengan berbisik. "Apakah tindakanku berlebihan karena menggunakan milikmu itu untuk berkeliling sebelum mengantarnya ke rumahmu?"


Moanna membisu. Apa maksudnya dengan berkeliling? Apakah yang daritadi pria itu maksud adalah mobil miliknya? Jika memang benar, berarti ia sudah salah menduga dan juga menuduh pria itu melakukan hal yang tidak pernah mungkin dilakukan Leo padanya. "Astaga, aku malu sekali.." batin Moanna.


Melihat bahwa Moanna sudah kembali tenang, Leo melepaskan tangannya dari mulut wanita itu. "Katakan, kenapa kau menangis?" Leo menatap kedua mata Moanna yang terus menerus menghindari kontak dengannya.


"Maaf, aku mungkin lelah." Lirih Moanna lalu pergi meninggalkan Leo yang masih dibalut kebingungan atas sikap Moanna barusan. Pria itu kini menggaruk kepalanya yang tak gatal dan menatap punggung Moanna yang masuk kedalam kamarnya.


Dibalik pintu Moanna bersandar sambil mengusap air mata yang tersisa diwajahnya. "Kenapa aku berpikir jauh sekali?" Rengeknya. Sungguh malu ia akui saat itu dan tak ingin bertemu Leo untuk beberapa saat.


Moanna yang bingung harus menjawab apa segera berjalan menuju tempat tidur dan membaringkan tubuhnya. "Jangan katakan pada siapapun yang baru saja kau lihat!" Perintah Moanna sebelum akhirnya ia kembali menenggelamkan wajahnya pada bantal.


Perawat itu hanya menggelengkan kepalanya heran dengan sikap dokter cantik itu. Ia kini bergabung bersama Moanna untuk tidur dan merebahkan seluruh tubuhnya yang pegal-pegal itu.


•••>>>


Pagi kini telah menyingsing membagi sinarnya kepada mahluk bumi yang siap beraktivitas. Begitupun dengan para relawan yang sudah siap masuk kedalam bus jemputan yang memang disediakan untuk mereka. Layaknya seorang guru taman kanak-kanak yang mengabsen setiap muridnya, Moanna menyebut nama para relawan satu persatu lalu menyuruhnya masuk kedalam bus.


"Leo?" Panggil Moanna tanpa memindahkan pandangan dari kertas digenggaman tangannya. Tampaknya ia masih malu dengan kejadian semalam yang seratus persen adalah salahnya. Leo yang mengerti akan tindakan Moanna terhadapnya tak banyak bicara dan masuk kedalam bus seperti relawan lainnya.


Usia semua urusannya selesai, Moanna kemudian masuk kedalam bus sebagai relawan terakhir. Ternyata alam tak berpihak padanya lagi karena kebetulan tempat duduk kosong yang tersisa hanya satu, yaitu disamping Leo. Mau tak mau Moanna harus duduk disamping pria itu dan menerima semua yang terjadi.


"Aku akan meminta penjelasan mengenai semalam." Bisik Leo pada Moanna ketika wanita itu duduk hingga matanya membesar.


"Hei, apa yang sedang kalian bisikkan?" Tanya Fio yang melihat Leo mengatakan sesuatu pada Moanna.

__ADS_1


Moanna tersenyum, " Tidak ada. Dia hanya mengatakan bencana yang terjadi di Orlan." Ucap Moanna berbohong.


"Bencana apa?" Tanya Fio begitu polosnya. Wanita yang terakhir mengetahui bahwa dirinya berangkat ke Orlan tidak tahu apa-apa tentang Orlan. Termasuk bencana alam yang telah menimpa kota itu.


Cira yang duduk disebelah Fio lantas terkejut, "kau benar-benar tidak tahu?" Wanita berambut pendek hitam itu tak habis pikir jika rekannya itu hanya sekedar berangkat dan tidak tahu apapun.


Fio menggeleng. "Kita ke Orlan karena disana telah terjadi gempa yang cukup kuat dan mereka kekurangan tenaga medis." Jelas Leo. "Makanya kita menjadi relawan untuk membantu kebutuhan medis mereka." Lanjutnya.


Fio membulatkan mulutnya karena akhirnya ia tahu mengapa banyak tenaga medis yang dikerahkan ke Orlan. Ternyata kota kecil yang digadang-gadang memiliki pemandangan indah itu mengalami sebuah bencana.


Sungguh benar apa yang orang-orang katakan, pemandangan Orlan begitu menyejukkan mata mereka yang memandang. Sekalipun dilihat sekilas dari balik kaca bus tetap saja membuat semua orang takjub. Tak ada seorangpun yang tak mengabadikan momen saat itu. Suasana hutan yang masih begitu alami tanpa campur tangan manusia serta beberapa domba-domba yang menggemaskan berlarian ceria bermain bersama kelompoknya.


Saking asyiknya menikmati pemandangan tak terasa sudah satu jam perjalanan mereka tempuh dan kini sudah tiba ditempat tujuan mereka. Tak seperti sebelumnya yang begitu indah dengan pemandangan, kini mereka disuguhi pemandangan yang begitu menyedihkan. Bangunan yang semula berjejer kokoh kini hancur berkeping bagaikan balok Jengga yang jatuh berantakan. Begitupun dengan keadaan orang-orang yang mengungsi, begitu menyayat hati para tenaga medis yang baru saja turun dari bus.


Moanna yang sudah terlebih dahulu turun, segera mengajak rekannya itu untuk menyimpan barang bawaan mereka ke tempat yang sudah disediakan oleh warga setempat untuk mereka istirahat. Usai semua orang berkumpul dan berbaris, Moanna berbicara didepan memberi sedikit arahan kepada rekannya itu. Ia lantas membagi rekannya itu menjadi beberapa kelompok supaya tidak bertindak sendiri-sendiri dan memudahkan orang-orang mencari bantuan medis.


"Apa semua sudah paham?" Tanya Moanna saat ia hendak mengakhiri ucapannya. Semua orang serentak menjawab paham dan kini mulai mencari kelompok mereka masing-masing untuk memulai kegiatan mereka sebagai relawan.


Kali ini Moanna bersama dengan seorang dokter senior yang bernama Tom juga Fio dan seorang perawat lagi. Mereka berempat berjalan untuk memeriksa keadaan para pengungsi yang tengah berkumpul disebuah tempat olahraga yang kebetulan tidak mengalami kerusakan yang cukup parah.


"Halo, Saya seorang dokter. Adakah keluhan yang dialami kalian?" Tanya Moanna dalam bahasa Inggris.


Namun mereka semua diam. Mungkin karena kebanyakan dari mereka merupakan anak-anak dan orang tua yang sepertinya tidak mengerti bahasa Inggris. Moanna pun memperagakan ucapannya tadi dengan gerakan tangannya supaya mereka mengerti maksudnya.


Tiba-tiba seorang anak perempuan menghampiri Moanna dan rekannya lalu duduk bersimpuh didepan Moanna seraya menarik tangan wanita itu. "Here..... So..... Sick," lirih anak perempuan itu menunjuk bagian pinggannya.


Ketiga rekan Moanna saling menatap. Kemudian membawa anak perempuan itu ke tempat yang nyaman untuknya berbaring. Ternyata setelah Moanna memeriksa pinggang yang ditunjuk anak itu ia menemukan sebuah luka kecil yang didalamnya terdapat sebuah pecahkan kaca yang tersangkut. "Cepat ambil tindakan!" Perintah Moanna dan segera disetujui dengan anggukan.


Fio segera membawa perban yang disimpan ditempat mereka tinggal, sedangkan yang lainnya membantu Moanna membuang sisa pecahkan kaca dipinggang gadis kecil itu. Namun saat Moanna hendak membelah sedikit dari pinggangnya, anak gadis itu tiba-tiba menghentikannya sambil menggeleng. "Here... So ... Sick," hanya kata itu yang terus-menerus diucapkannya.


"Bagaimana ini, dokter? Sepertinya dia ketakutan." Ucap Tom khawatir.


Moanna bergantian menatap Fio dan juga rekannya yang lain. "Believe me, here not sick again." Tutur Moanna disertai tangan yang menggambarkan ucapannya. "If you still scared, just see the handsome man there." Lanjut Moanna menunjuk seorang perawat pria yang memang tampan.


Gadis kecil itu menuruti apa yang dikatakan Moanna, meski tidak begitu mengerti apa yang dikatakan oleh wanita itu, tapi setidaknya isyarat yang ditunjukkan Moanna dapat dimengertinya.

__ADS_1


Perlahan Moanna pun mulai melakukan pembedahan kecil dipinggang gadis itu, tak butuh waktu lama baginya hingga serpihan kaca itu berhasil dikeluarkan.


__ADS_2