Istri Sang Mafia

Istri Sang Mafia
BAB 34: Permainan dulu


__ADS_3

"Suttt..." Alvin menyimpan telunjuknya dibibir Moanna yang seketika mengatup dan berhenti berkata. "Aku tahu apapun yang kau lakukan. Jadi jangan pernah berbohong padaku!" Pesannya dengan suara pelan namun penuh penekanan.


Moanna terpaku setelah Alvin berkata demikian. Jantungnya tiba-tiba berdegup kencang dan matanya tak berkedip beberapa saat. "Si-siapa yang bohong." Bantah Moanna kemudian. "Aku sungguh buru-buru karena ada urusan penting!" Lanjutnya lalu pergi dengan keadaan salah tingkah meninggalkan Alvin yang masih berada didalam toilet.


"Ini baru sedikit," gumam Alvin kemudian berjalan keluar. "Antar semua gaun tadi ke alamat ini!" Perintah Alvin pada karyawan yang mendekat padanya untuk melihat tempat tujuannya.


"Saya tulis alamatnya dulu, tuan." Ucap wanita itu segera mengambil kertas dan juga pulpen. "Apakah perlu dikirim hari ini juga?" Tanyanya.


"Besok pagi saja." Tegas Alvin. "Karena sekarang sudah malam." Lanjutnya kemudian berjalan meninggalkan butik itu.


Sementara Moanna segera melajukan mobilnya menuju rumah sakit. Tanpa ia sadari bahwa ada sebuah mobil hitam yang mengikuti kendaraannya.


Usai menyuruh karyawan butik untuk mengirimkan semua pakaian itu, Alvin kini keluar dan dikawal oleh beberapa orang. "kembali ke mansion, kenz!" Ujarnya.


Para wanita yang menyaksikan aksi dari Alvin hanya dapat melamun membayangkan bahwa merekalah yang menjadi istri pria tampan itu, bukan Moanna. "Tampan, kaya dan pengertian adalah pria idaman ku." Ujar salah seorang karyawan menggambarkan pasangan idamannya.


"Dia pria idaman semua wanita di dunia." seru karyawan lainnya.


Lima mobil dengan merk yang sama kini pergi meninggalkan halaman butik mengikuti mobil hitam merk Alfa Romeo. Jelas mereka semua adalah anak buah Alvin, yang akan mengikuti kemana tuannya itu pergi. Mulai hari ini.


"Aku tidak perlu pengawalan yang begitu ketat." Ujar Alvin mengatakan keberatannya atas banyaknya orang-orang yang mengawasi dirinya. "Itu membuat orang-orang curiga, termasuk Moanna." Lanjutnya kesal.


"Itu demi kebaikanmu, Vin!" Seru Kenzo, "Aku tidak mau kejadian kemarin terulang kembali." Lanjutnya sambil mengemudikan kendaraan itu di kecepatan sedang.


"Aku tidak peduli." Sergah Alvin. "Mulai besok aku akan pergi sendiri kemanapun. Tanpa siapapun termasuk kau, ataupun Rei!" Ancamnya.


"Tapi Vin, kau itu signo—"


"Signore." Potong Alvin. "Ya, aku tahu itu. Tapi bukan berarti semua berlebihan seperti tadi!" Protesnya.


"Aku tidak peduli. sekalipun kau pergi sendiri, mereka masih bisa mengawasimu." Kenzo tetap dengan pendiriannya mengawal Alvin dengan banyak orang.


Alvin berdecak kesal. Ia kini memilih diam dan memperhatikan pemandangan sekitar yang terang dengan Lampu jalanan yang bermacam-macam warnanya. "Siapkan dua orang terbaik dari mereka." Ucap Alvin tiba-tiba setelah beberapa menit pria itu terdiam.


"Jika mereka terbaik, mereka boleh mengawal diriku seperti tadi." Lanjutnya memberikan penawaran.


"Baiklah jika itu kemauanmu," Seru Kenzo.


"Baiklah, tapi ingat!" ucap Alvin dengan sorot mata tajamnya. "Hanya dua orang!" Tegasnya.

__ADS_1


••••>>


Waktu begitu cepat berlalu. Tak terasa kini sudah tengah malam dan Moanna baru saja masuk kedalam kamarnya. keringat yang masih mengalir ditubuh wanita itu perlahan bercampur dengan air hangat yang keluar dari shower.


Tarikan napas yang panjang beberapa kali hadir ditengah-tengah aktivitas Moanna. Pikirannya masih bergelut dengan acara yang akan segera tiba, yaitu pernikahan. Entah harus lanjut dengan terpaksa dan mengesampingkan impiannya menikah dengan pria yang ia cintai, ataukah harus mundur dan kembali dengan impiannya itu. Tapi..


Sosok janin yang masih diragukan keberadaannya menjadi suatu alasan mengapa Moanna mengikuti alur yang menjadi misteri disetiap harinya. "Ada atau tidaknya dirimu, aku akan mundur." Ujar Moanna setelah beberapa menit ia berdiri didepan cermin.


Keputusannya sudah matang bahwa ia akan mundur dari pernikahan itu. Tapi bukan dengan sebuah penolakan, melainkan ia sudah merencanakan sesuatu saat hari itu terjadi.


"Jika kau benar-benar nyata, aku tidak masalah membesarkanmu seorang diri." ucap Moanna seraya menatap perutnya. "Uangku cukup untuk kita hidup." lanjutnya menyombongkan diri.


Sedangkan diruang tamu, keluarganya tengah berbincang-bincang mengenai pernikahan Moanna.


"Apa benar Moanna melakukan itu, Zeta?" Tanya paman Dario, ayah sambung Moanna sekaligus suami dari ibunya.


"Entahlah," Zeta menundukkan kepalanya. "Tapi aku bahagia karena akhirnya putriku akan segera menikah." lanjutnya tersenyum.


"Aku turut bahagia untukmu, sayang." ucap Dario seraya mengelus bahu istrinya itu.


Seorang wanita berambut hitam dan kulit yang putih berdiri dibelakang sepasang suami-istri itu sambil melipat kedua tangannya. "Gabie, sedang apa kau?" tanya Moanna yang kini berdiri disamping adik sambungnya itu.


Moanna terdiam mendengar pertanyaan dari adiknya itu. "Tentu saja." Jawabnya tersenyum yang terkesan dipaksa.


"Apakah kau juga begitu?" tanyanya lagi. "kau akan menikah, bukan?"


Pertanyaan itu membuat Moanna kebingungan untuk menjawab adiknya itu. "Anu.... Gabie, maukah kau makan ice cream bersamaku?" Rayu Moanna mencoba mengalihkan topik.


"Rasa greentea?" Seru Gabie, "Ayo!"


Kedua kakak beradik yang terpaut usai cukup jauh itu berjalan keluar rumah untuk mencari ice cream. Tidak ada yang akan mengira bahwa mereka adalah saudara beda ayah karena mereka begitu akur layaknya saudara kandung.


"Kakak, Bagaimana calon suamimu itu? aku penasaran, Kenapa kau tidak pernah membawanya ke rumah?" rentetan pertanyaan keluar dari mulut gadis kecil itu.


"Itu.... karena kakak dan dia sama-sama sibuk bekerja jadi tidak sempat membawanya bertemu denganmu." Tutur Moanna.


"Ah begitu," Gabie mengangguk. "Lalu bagaimana kalian bertemu?"


"Kau terlalu banyak bertanya."Moanna mendorong pipi tembem adiknya itu perlahan. "Lihat sekarang kita sudah sampai," ujarnya memberitahu.

__ADS_1


"Kakak, mau balapan makan ice cream dengan sendok kecil lagi?" Tanya Gabie menantang kakaknya untuk melakukan permainan mereka dulu.


"Hahaha, kau tau? aku yang akan memenangkannya." Moanna tak mau mengalah pada adiknya itu.


Gabie menggeleng. "Akulah pemenangnya seperti biasa," Seru adiknya tak mau kalah. Karena memang dari dulu ketika mereka melakukan permainan itu, Gabie selalu menang dan Moanna kalah—lebih tepatnya mengalah.


Satu cup ice cream dengan sendok kecil masing-masing kini sudah ditangan mereka. "Siap, mulai!"


Kedua wanita itu berlomba menghabiskan ice cream ditangan mereka meskipun sesekali bercanda dan saling mengejek. Dering ponsel membuat keduanya saling terdiam. "Sebentar, ponselku berbunyi." ucap Moanna kemudian mengangkat sebuah panggilan. "Halo.."


"Kenapa kau tidak mengajakku bertemu dengan adikmu?" tanya Alvin.


Moanna tertegun. Bagaimana bisa pria itu tahu jika dirinya tengah bersama adiknya?


"Haruskah aku datang padamu sekarang dan memperkenalkan diri?" tanya Alvin setelah tak ada jawaban dari Moanna.


"Ti-tidak perlu! kau bertemu dengannya saat acara nanti saja." Tolak Moanna.


"Baiklah jika begitu." ujar Alvin. "Jangan melakukan hal yang aneh karena aku melihat mu setiap saat!" Lanjutnya hingga Moanna kembali dibuat terkejut.


"Setiap saat?" Gumam Moanna.


"Dengar tidak?" bentak Alvin.


"Ya, aku mendengarnya." ketus Moanna. "Tapi ba—"


"Sial, dia mematikan panggilannya." Gerutu Moanna ketika ia menyadari bahwa panggilannya sudah berakhir.


"Siapa kak? kenapa kalian bertengkar?" Tanya Gabie penasaran dengan raut wajah kakaknya itu.


"Tadi itu temanku dan kami tidak bertengkar." jawab Moanna.


"Ah, begitu." Ucap Gabie seraya menyuapkan sendok ice cream kedalam mulutnya.


"Gabie! kenapa kau curang?" ujar Moanna yang melihat ice cream dalam cup Wanita itu hampir habis.


Gabie melihat kearah mangkuk ice cream miliknya kemudian tertawa. "Maaf kak, tanpa sadar aku terus memasukkan ice cream ini kedalam mulutku."


Moanna memajukan bibirnya. "Sudahlah habiskan saja." ujarnya kemudian mulai kembali memakan ice creamnya yang mulai mencair.

__ADS_1


__ADS_2