
Udara kota Viterbo hari itu sungguh panas hingga Moanna menaruh snelli miliknya ditangan kirinya setelah ia selesai menangani seorang anak yang keracunan makanan. Ia ta henti-hentinya menggerakkan tangannya supaya menghasilkan angin untuk mendinginkan lehernya.
Berjalan melewati kafetaria membuat Moanna tak melewatkan kesempatan untuk mampir dan meminum air putih dari lemari pendingin. "Ah..." Ucap Moanna setelah dahaga di tenggorokannya mereda.
"Gerah ya?" Ucap Seorang pria yang hendak mengambil minuman dingin hingga membuat Moanna terkejut. "Dokter Leo, kau mengagetkanku!" Kesal Moanna memukul pelan bahu pria itu.
"Begitu saja kau terkejut," ledek pria itu setelah ia selesai meneguk setengah dari minumannya.
Moanna mengerucutkan bibirnya lalu berbalik dan berjalan meninggalkan Leo. "Bagaimana harimu?" Tanya Leo.
Moanna terdiam. Tidak mungkin dirinya memberitahu pria itu bahwa dia mengawali hari dengan kesialan. "Menyenangkan seperti biasa." Jawab Moanna disertai kedua alis yang terangkat bersamaan.
"Aku dengar kau mendapat masalah," celetuk Leo hingga membuat Moanna seketika menghentikan langkahnya. Apakah Leo tahu kejadian pagi tadi?tidak mungkin.
"Masalah apa maksudmu?" Tanya Moanna gugup.
"Masalah kau yang hendak mengambil cuti, apakah direktur Felix mengijinkannya?" Ujar pria itu.
Moanna menghembuskan napasnya kasar lalu menggelengkan kepalanya, "Aku bahkan sudah berjanji pada keluargaku akan menghabiskan musim panas bersama." Ucap Moanna sedih. Ia bingung harus mengatakan apa ketika pulang ke rumah nanti pada mamanya tentang rencana liburan yang akan gagal karena dirinya sulit mendapatkan cuti.
Bekerja sebagai dokter mungkin impian semua orang karena gaji yang diterima cukup fantastis. Tapi dibalik semua itu ada hal yang sangat tidak menyenangkan, yaitu kurangnya waktu bersama keluarga.
"Aku mengerti perasaanmu," Seru Leo mencoba menghibur Moanna yang tengah bersedih itu.
Suara nyaring ponsel membuat kedua orang yang tengah berjalan bersama itu lantas berhenti dan memeriksa ponsel masing-masing. "Itu milikmu," ucap Leo setelah ia meraba tubuh yang ternyata tak terdapat benda persegi panjang itu.
"Mama..." Gumam Moanna. "Ada apa, mah?" Tanya Moanna ketika ponselnya ia simpan ke daun telinganya.
"Apa kau bisa pulang sekarang?" Tanya wanita tua yang tengah memegang satu benda kecil ditangannya.
__ADS_1
"Tidak bisa, masih banyak hal yang perlu aku lakukan." Jelas Moanna. "Memangnya ada apa?"
"Tidak apa-apa, jika pekerjaanmu sudah selesai segeralah pulang!" Pesan wanita itu dan panggilan pun berakhir.
"Ada apa?" Tanya Leo setelah Moanna kembali menghampiri dirinya.
"Entahlah, mamaku menyuruh untuk segera pulang." Jelas Moanna.
"Sepertinya urusan keluarga, ya?" Tebak Leo sambil tersenyum.
"Mungkin, aku juga kurang tahu." Moanna mengangkat kedua bahunya lalu kembali melanjutkan perjalanan mereka.
Sementara di mansion yang terletak di danau Bolsena, keempat ketua dari setiap keluarga masih bersitegang meminta keputusan Alvin sebagai Signore supaya mau mendukung bisnis narkoba yang diawali oleh keluarga Benvolio.
Drtt....
^^^"Aku tidak tahu siapa wanita ini, tapi kenapa dia ada dirumahnya?" Tanya salah satu pengintai— sang pengirim pesan yang berada disekitar rumah Moanna.^^^
^^^"Biarkan saja, dia ibu dari wanita pemilik rumah." Jawab Alvin.^^^
Hentakan kaki berhenti beberapa meter dibelakang Alvin yang tengah duduk membelakangi pintu masuk. "Semua ketua keluarga sudah pergi," Ujar Kenzo memberitahu bahwa semua orang tadi telah meninggalkan mansionnya.
"Bagus, katakan pada semua orang aku ingin sendiri! Jangan temui aku sampai besok pagi!" Tegas Alvin kemudian berjalan menuju ruangan paling disukainya—yaitu kamar tidur.
Kenzo mengangguk paham akan maksud tuanya itu. Ia pun lantas pergi memberi tahu tetua pengurus rumah untuk menyampaikannya kepada setiap pegawai.
"Ettore!" Panggil Kenzo. "Beritahu semua orang bahwa Alvin tidak boleh diganggu hingga besok pagi!" Lanjutnya memerintahkan pria yang berusia sekitar setengah abad itu.
"Siap, kenz." Ettore pun pergi menuju tempat dimana para pegawai berkumpul, yaitu dirumah samping yang dikhususkan sebagai tempat untuk mereka.
__ADS_1
Lonceng pun berbunyi ketika Ettore memukulnya hingga semua pegawai kini berbaris rapi diruangan itu tanpa sedikitpun suara. Ettore pun mulai membuka mulutnya dan berkata, "Hari ini jangan temui tuan Alvin hingga besok pagi! Sekalipun hanya untuk memberinya makan, tidak perlu!"Tegas Ettore.
"Yes, pak!" Seru semua pegawai kompak.
Ettore pun lantas pergi meninggalkan ruangan itu tanpa sepatah kata pun. "Sepertinya kita sedikit santai hati ini." Ujar salah seorang pria.
"Sepertinya begitu, tuan Alvin akan berada di kamar beberapa jam kedepan. Jadi kita bisa sedikit bersantai, " Seru rekannya.
Sementara sang Signore baru saja tiba ke kamarnya. Melepaskan semua pakaiannya kemudian masuk ke kamar mandi untuk memberikan keringat yang sudah menempel pada kulitnya. Tak butuh waktu lama bagi seorang pria untuk mandi, kini Alvin sudah berpakaian santai dan segera membaringkan tubuhnya di atas kasur.
"Huh..." Alvin membuang napasnya pelan. "Apa hari-harimu tertekan begini, ayah?" Gumamnya. Ia berharap akan ada suara yang memberinya jawaban juga ketenangan secara bersamaan.
"Apakah ibu tempat kau mengeluh?" tanyanya lagi sambil menatap langit-langit kamarnya. "Sepertinya aku merindukanmu, Ayah."lirih Alvin
pertanyaan-pertanyaan berlalu lalang di otak Alvin hingga akhirnya pria itu kelelahan kemudian tertidur karena tak menemukan sebuah jawaban yang ia cari.
••••>>>
Hari sudah larut dan tugasnya pun kini sudah selesai. Setelah membereskan ruangannya, Moanna bergegas meninggalkan rumah sakit dan segera pulang untuk menemui sang mama.
Mengendari mobil yang ayahnya beli dulu sebelum meninggal, Moanna membuka dashboard mobilnya untuk melihat sebuah pigura kecil berisikan Poto dirinya dan sang ayah saat berada berlibur di pantai.
"Aku merindukanmu, ayah." Lirih Moanna. "Besok kita bertemu siang, " lanjutnya memberitahu sang ayah bahwa dirinya akan berkunjung ke makam.
Moanna kembali meletakkan pigura itu lalu mulai menghidupkan mesin mobilnya dan segera melajukannya.
Jarak dari rumah sakit ke rumahnya tak begitu jauh karena dirinya memang sengaja memilih untuk tinggal ditempat yang sama dimana ia bekerja. Moanna membuka pintu rumahnya yang sudah gelap seperti dunia diluar saat ini.
Berpikir bahwa mamanya telah tidur, Moanna memilih berjalan menuju kamarnya untuk mandi kemudian tidur. Baru esoknya ia akan bertanya kepada mamanya apa yang terjadi.
__ADS_1