Istri Sang Mafia

Istri Sang Mafia
BAB 10: Bencana susulan


__ADS_3

Meskipun sebagian tenaga medis tengah menjadi relawan, rumah sakit tetaplah tempat yang selalu ramai dikunjungi banyak orang. Baik sakit ataupun sehat sebagian dari mereka pasti memiliki kepentingan di tempat ini. Begitupun dengan Kenz, pria yang memiliki bola mata hitam nan tajam berjalan tegap menuju suatu ruangan yang sebelumnya pernah ia kunjungi bersama sang Signore.


Tentu saja ruangan itu tak lain adalah kamar milik petter Morgan. Seorang pria yang dulu bekerja bersama Alvin. Namun tiba-tiba ia berkhianat dan secepatnya mungkin pria paruh baya itu akan merasakan balasan dari sang tangan kanan Signore, Kenz.


Hentakan kaki yang dihasilkan oleh sepatu kets hitam menambah sensasi mencengkram siapapun yang memiliki rasa bersalah. Begitupun dengan petter, pria itu sekarang begitu sering melihat ke arah pintu masuk hanya untuk memastikan bahwa Alvin dan kenz bukanlah orang dibalik terbukanya pintu itu.


Gerakan handel pintu yang bergerak membuat Petter yang semula was-was terlihat biasanya saja karena ia yakin orang dibalik pintu itu adalah seorang perawat yang akan memberinya makanan serta obat. Tentu saja dugaannya benar. Seorang perawat datang dengan nampan ditangannya berisi makanan dan obat untuk dirinya. Senyuman kesenangan pun terlihat diwajah pria tua itu ketika sang perawat mulai menyuapinya.


Senyuman yang semula merekah diwajah petter perlahan meredup tatkala dirinya menangkap sosok pria berambut coklat dengan topi berdiri dibalik pintu. "Kenz..."Lirihnya.


Dengan santai Kenzo melirik kearah petter seraya melambaikan tangannya dan menunjuk sebuah jam dipergelangan tangannya. "Waktumu habis." Ucap Kenzo dengan gerakan mulutnya saja. Seketika petter melirik kearah perawat yang tengah menyuapinya itu dan terkejut mendapati wanita itu bukanlah perawat yang biasa mengunjunginya.


Tanpa rasa bersalah wanita itu hanya tersenyum pada petter yang mulai merasakan keram pada ototnya serta ritme jantung yang tak beraturan akibat makanan yang didalamnya terkandung racun aconite yang sengaja Kenzo masukan pada makanannya untuk membunuh pria itu. Kurang dari dua menit pria yang hidup sebatang kara itu tak lagi bergerak, alias mati.


"Sepertinya tugasku telah selesai." Ucap wanita yang berperan sebagai perawat itu pada Kenzo setelah melihat petter tak lagi bernapas. Ia lalu berdiri menghampiri pria yang berdiri didepan pintu itu. "Apa yang kau campurkan pada makanannya hingga dia bisa mati dengan mudah?" Tanyanya penasaran.


Kenzo menatap wanita cantik yang telah membantunya itu, "apa kau sangat ingin tahu?" Tanya Kenzo dan dijawab cepat oleh anggukan wanita itu. "Kau perlu ke lereng Himalaya untuk menemukannya." Lanjut Kenzo.


"Aku perlu tahu namanya, bukan tempatnya Kenz!" Kesal Wanita berambut blonde dengan sanggul seperti perawat itu. Dia adalah Alice Norin, wanita berusia 30 tahun yang selalu menyamar saat Kenzo memerlukan seorang rekan wanita untuk aksinya.


"Wolfsbane." Jawab Kenzo singkat. Wolfsbane atau aconite merupakan tanaman yang berhabitatkan di lereng bagian bawah pegunungan Himalaya, sepanjang Eropa sampai dengan Inggris. Aconite dapat tumbuh sampai dengan ketinggian 3 kaki, dengan warna daun hijau tua serta bunga berwarna biru tua.


Racun yang terbuat dari bunga ini dapat menyebabkan terganggunya fungsi jantung aritmia yang menyebabkan korban mati lemas. Keracunan dapat terjadi bahkan hanya dengan menyentuh daun tanaman tanpa mengenakan sarung tangan, karena sangat cepat dan mudah diserap. Karena sifatnya yang tidak bisa dilacak, racun ini telah menjadi salah satu yang populer digunakan untuk membunuh karena tidak meninggalkan jejak. Salah satu korban terkenalnya adalah Kaisar Claudius yang dikatakan telah diracuni oleh istrinya, Agrippina.


"Lalu akan kau apakan pria tua itu?" Tanya Alice. Kenzo menatap wanita itu lalu berkata, "itu urusanku. Urusanmu sudah selesai dan pulanglah!"


Alice yang sudah terbiasa diusir terang-terangan hanya memutar bola matanya seraya melangkahkan kakinya keluar dari ruangan tempat pembunuhan terjadi. Namun tangannya tiba-tiba ditarik hingga ia berhenti melangkah. "Jangan lupa ganti pakaianmu!" Ujar Kenzo mengingatkan Alice supaya merubah penampilan.


"Aku tahu itu." Ketus Alice lalu pergi menuju kamar mandi yang sudah tersedia sebuah tas berisi pakaian ganti untuknya. Suasana toilet yang lumayan sepi membuat Alice cukup leluasa mengganti pakaian perawatnya menjadi pakaian orang biasa. Sweater putih dan jelana jeans serta sneaker putih menjadi andalan wanita itu. Juga tak lupa, rambut blondenya yang disanggul perlahan ia lepas kemudian ia buang kedalam tas. Kini wanita itu mengingat kuat-kuat rambut hitamnya dan berjalan keluar membawa tas berisi alat penyamarannya.


Setelah Alice pergi, kini Kenzo mengambil sisa-sisa bukti yang mudah ditemukan oleh dokter seperti piring bekas petter makan, dan juga beberapa helaian rambut Alice yang ditemukan olehnya. "Tenang saja, Kau akan segera dimakamkan." Celetuk Kenzo lalu menutup pintu ruangan itu seperti tidak pernah terjadi apa-apa didalam sana.

__ADS_1


••••>>


Kericuhan kembali terjadi ketika gempa susulan yang kesekian kali kembali melanda Orlan. Para pengungsi dan para relawan dilanda kekhawatiran karena takut akan ada yang lebih kuat dari sebelumnya.


Fio yang duduk sambil memeluk kedua lututnya terlihat berkaca-kaca. "Apa aku harus menyesal karena datang ke tempat ini?" Celetuknya hingga Moanna dan rekan yang lainnya serentak menatap Fio. " Apa maksudmu, Fio?" Sahut Moanna.


"Aku hanya iri dengan kekuatan anak-anak itu." Tunjuk Fio pada sekumpulan anak-anak yang kembali bermain usia gempa berhenti. "Aku yang sudah berumur tak kuat menahan ketakutan pada diriku. Tapi lihatlah mereka ..."


Moanna tersenyum, "kau benar. Mereka sungguh kuat." Puji Moanna dengan kedua mata yang masih lekat menatap kelompok anak-anak kecil itu.


"Dokter! Gawat!..." Ucap seorang perawat dengan wajah panik.


Dengan wajah terkejut Moanna menatap perawat itu, "Ada apa? Apa yang gawat?"


"Dokter Leo..."perawat wanita itu tak melanjutkan lagi ucapannya Hinga membuat orang-orang yang berada disana pensaran dengan yang terjadi pada pria itu. "kenapa dengannya? Kenapa kau memanggilku bukan tim penyelamat?"


"Kau kan leader. Jadi kau yang bertanggung jawab, Moanna!" Bisik Fio mengingatkan wanita itu tentang posisinya sebagai penanggung jawab semua anggota relawan.


Disebuah bangunan yang sudah tak berbentuk lagi Moanna berdiri bersama perawat tadi beserta rekannya. Keanehan mulai mereka rasa ketika sosok yang dicari-cari tak terlihat dimana pun. "Dimana dokter Leo?" Ucap Fio setelah matanya berkeliling mencari pria itu.


"Hem, dia tidak ada dimanapun." Sahut perawat pria.


Moanna menatap perawat tadi yang mengajaknya ketempat itu kemudian bertanya, "apa kau hanya membuat lelucon?"


Perawat itu segera menggeleng. "Tentu saja tidak. Bagaimana mungkin aku membuat lelucon di saat keadaan genting seperti ini." Sangkal perawat itu.


"Lalu dimana Dokter Leo sekarang?" Tanya Moanna.


"Aku tadi melihatnya disini. seluruh tubuhnya memerah dan dia tengah bersama seorang anak laki-laki,"Paparnya menjelaskan secara detail kejadian tadi saat ia menemukan Leo.


"Baiklah, kita cari saja Dokter Leo disekitar sini untuk membuktikannya." Saran perawat pria.

__ADS_1


Semua orang menyetujui saran dari pria itu dan mulai berpencar untuk mencari Leo yang berada didekat sana. Teriakan demi teriakan yang memanggil nama Leo terdengar hingga mengganggu kenyamanan seorang anak yang tengah tertidur. Tangan kecil anak laki-laki itu mengucek-ngucek kedua matanya untuk memperjelas pandangannya.


Sosok beberapa orang tengah berpencar langsung Manarik perhatian anak laki-laki itu. Ia pun lantas berdiri kemudian berjalan setelah membersihkan sisa-sisa debu dipakaiannya. "Kalian sedang mencari apa?" Tanya anak laki-laki itu pada Fio yang kebetulan berada tak jauh dari lokasi anak itu tertidur.


Fio berjongkok untuk menyamakan tubuhnya dengan tinggi anak laki-laki yang berusia sekitar 11 tahun. "Kami sedang mencari salah satu rekan kami." Jawab Fio menggunakan bantuan tangannya untuk menjelaskan kepada anak utu.


"Apa dia seorang pria berambut hitam dan bermata besar?" anak laki-laki itu menebaknya sambil menunjuk rambut dan pakaian hitam yang ia kenakan hingga Fio terkejut. "Bagaimana kau tahu itu?"


"Aku melihatnya dibawa oleh seorang pria kesana." Tutur anak itu dengan masih menggunakan kedua tangannya supaya Fio mengerti ucapannya.


"Kesana?" Anak laki-laki itu mengangguk. Fio pun lantas memanggil rekan-rekannya untuk meendekat padanya. "Anak ini bilang Leo dibawa ke tempat itu." Tunjuk Fio pada sebuah bangunan tua diatas tebing. "Apakah kita akan menyusulnya kesana?" Lanjut Fio meminta pendapat orang-orang.


Karena semua orang akhirnya setuju, Mereka pun lantas berjalan menuju bangunan tua itu untuk mencri Leo. Suasana sejuk begitu terasa ketika mereka tiba didepan bangunan yang terlihat seperti tak berpenghuni itu. Perawat laki-laki yang sedari tadi berjalan dibelakang Para gadis kini bertukar posisi menjadi dirinya yang memimpin. "Apakah di Orlan ada cerita seram yang begitu terkenal?" Ucapnya sebelum membuka pintu.


Semua orang menggeleng bukan karena mereka tidak tahu, tapi karena mereka tidak ingin satu-satunya pria di timnya mendadak menjadi penakut dan malah dilindungi bukan melindungi.


Bunyi yang timbul akibat pintu yang sudah dimakan usia menambah kesan menyeramkan bagi mereka semua. Tak ada barang yang istimewa selain sebuah sofa kecil yang ditutupi oleh kain. Begitupun dengan semua jendela yang tertutup rapat hingga oksigen pun sulit masuk kedalam.


Leo!.....


Leo!.......


Teriakan demi teriakan terdengar menggema didalam bangunan itu. Seraya mencari Leo, Moanna mengedarkan semua pandangannya ke setiap sudut ruangan yang ia tempati itu. Langit-langit yang sudah terdapat sarang laba-laba serta plafon-plafon yang sudah berlubang.


Brugh..


Moanna tersandung sesuatu hingga I tersungkur dilantai bangunan yang kotor karena debu itu. "Aw..." Aduh Moanna hingga semua orang melihat kearahnya sambil bertanya, "Kau tidak apa-apa Moanna?"


"Hem. Aku tidak apa-apa." Jawabnya lalu kembali berdiri. "Apa yang membuatku tersungkur?" Heran Moanna lalu mendekati sudut sebuah lemari yang sudah lapuk itu.


"Astaga! Leo..." Teriak Moanna.

__ADS_1


__ADS_2