
"Astaga! Leo..." Teriak Moanna. Orang-orang yang mendengar teriakan wanita itu lantas menghampiri sumber suara. Dan betapa terkejutnya mereka mendapati Leo tengah duduk disudut lemari dengan kondisi yang tidak baik.
Pria tampan yang selalu memperhatikan penampilannya itu terlihat berbeda. Bukan berubah menjadi monster atau semajamnya seperti dicerita-cerita dongeng. Melainkan kulitnya yang memerah hingga wajahnya seperti udang yang matang karena direbus. "Leo kau kenapa?" Moanna menghampiri pria itu begitupun orang-orang yang lainnya.
"Jangan sentuh aku!" Teriak Leo menghentikan siapapun yang hendak menyentuh kulitnya. "Itu akan memperparah." Lanjutnya. Bukan tanpa alasan dirinya menolak bantuan dari teman-temannya. Tapi karena memang kondisi kulitnya yang gatal dan panas tidak boleh sembarang disentuh.
"Kau alergi?" Tebak Moanna setelah melihat-lihat kondisi Leo.
"Sepertinya begitu," Ucap Leo kurang yakin. "Aku alergi ikan. Tapi sepertinya aku tidak makan makanan berbahan ikan tadi." Lanjutnya menjelaskan penyebab kulitnya memerah.
"Apa kau makan pangsit tadi, Dokter Leo?" Tanya perawat pria yang satu tim dengan Moanna. Leo pun membisu mencoba untuk mengingat kembali makanan yang ia makan tadi siang. "Kau benar. Aku makan pangsit itu tadi," Sahut Leo membenarkan ucapan perawat itu.
"Pantas saja kau begitu."Celetuk Fio hingga semua mata tertuju padanya dan berpikiran sama bahwa Fio senang akan musibah yang tengah menimpa Leo. "Pangsit itu didalamnya adalah sayuran daging dengan ikan cincang, Bukan ayam." Papar Fio kemudian hingga orang-orang menepis pikiran mereka sebelumnya.
Dengan tangan yang sibuk mengipasi diri sendiri Leo berkata pada Fio, "Jika kau tahu, kenapa tidak memberi tahuku tentang itu?"
"Aku tidak tahu kau alergi ikan. Lagipula kenapa kau tidak bertanya?" Protes Fio. Ia merasa disalahkan atas apa yang menimpa Dokter Leo dan ia tidak terima akan hal itu.
"Sudahlah, sekarang kita pergi dari sini dan obati alergimu itu." Saran Moanna mengakhiri perdebatan antara perawat dan Dokter itu. Semua orang setuju dengan apa yang dikatakan oleh Moanna untuk kembali ke tempat mereka sebelumnya berada.
Luca, perawat pria yang satu team bersama Moanna tengah berdiri sambil membuka box besar berisi obat-obatan. Ia berulang kali mengambil dan menyimpan obat itu setelah membacanya. Hanya obat Flu, alkohol dan obat merah dan beberapa obat lainnya yang ia temukan namun bukan untuk meredakan alergi. Karena yakin bahwa mereka tidak membawa obat alergi, Luca pun segera pergi untuk menemui Moanna dan membicarakan hal itu.
"Bagaimana? Apa kau menemukannya?" Tanya Moanna saat Luca berdiri didepannya. Namun ia merasa heran saat melihat kedua tangan pria itu tak membawa apapun.
Luca menggeleng. "Hanya obat Flu dan penyakit lain yang aku temukan. Tidak ada obat untuk alergi disana." Jawab pria itu.
Moanna mencoba memikirkan jalan keluarnya. Hanya ada satu cara supaya Leo mendapatkan obat alerginya. Yaitu membelinya dipusat kota yang berjarak cukup Jauh dari kotanya berada saat ini. Moanna pun memilih untuk mengumpulkan semua tim medis yang bertugas untuk meminta izin dan juga menyerahkan tanggung jawab keadaan disana pada Rio.
__ADS_1
"Memangnya kau mau kemana?" Tanya Rio saat ia tiba-tiba ditunjuk untuk mewakili Moanna.
"Aku harus membeli obat untuk Leo, juga beberapa keperluan medis lainnya." Jelas Moanna. "Aku akan pergi bersama Luca." Lanjutnya hingga Luca terkejut mendengar hal itu. Bagaimana tidak, sebelumnya ia tidak diberitahu bahwa akan pergi menemani Moanna pergi ke pusat kota. "Kenapa aku?" Protes Luca.
"Kau tidak mau?" tanya Moanna dengan mata yang sinis. Luca pun terpaksa ikut apapun kemauan wanita itu meski ia sebenarnya ingin menetap.
"Aku tidak keberatan." Kata Rio. "Bagaimana dengan kalian?" Lanjut pria itu bertanya pada rekan yang lainnya. Semua menggeleng. Itu berarti mereka setuju dengan apa yang baru saja dibicarakan.
"Baiklah aku akan bersiap dan meminjam kendaraan pada orang sini." Ujar Moanna dan pergi meninggalkan bangunan tempat mereka tinggal selama disana.
Luca pun keluar tak lama setelah Moanna, begitupun dengan tim medis lainnya. Sedangkan Rio memilih untuk masuk ke ruangan sebelah tempat Leo berada. Kondisi pria itu sungguh menyedihkan. Wajahnya memerah dan sedikit bengkak sedangkan tangannya mengipasi diri sendiri dan mencoba menggaruk beberapa titik yang gatalnya sudah terlalu. "Jangan digaruk, bodoh!" Ucap Rio seraya memukul tubuh pria itu dengan kertas ditangannya.
Leo hanya menatap sebentar pria yang mengatainya itu lalu kembali pokus pada rasa gatal yang tengah melandanya itu. "Apa obatnya sudah ada?" Tanyanya.
Rio tersenyum seraya duduk diranjang didepan Leo. "Moanna baru berangkat. Butuh waktu sekitar tiga jam sampai dia kembali kesini." Ujar Rio.
"Ya mungkin kau akan menjadi udang yang siap disantap." Canda Rio.
Mengendarai mobil milik seorang relawan lainnya Moanna dan Luca pergi ke pusat kota yang bernama Orlan itu untuk membeli kebutuhan medis dan beberapa hal lainnya. Pemandangan yang mereka lalui tak henti-hentinya membuat takjub. Bahkan kini Moanna memilih menatap ke jendela pintu untuk menikmati momen langka itu seraya sesekali mengeluarkan kamera ponselnya untuk memotret.
Sungguh benar yang orang-orang katakan di website bahwa daerah Orlan adalah pusat pemandangan alami. Begitu juga dengan cuacanya yang ekstrim, buktinya sekarang panas begitu terasa hingga membuat kulit terasa matang jika berlama-lama berada dibawah cahaya matahari langsung.
"Kenapa kau mengajakku, dokter?" Tanya Luca. Ia sungguh penasaran dengan alasan Moanna memilihnya untuk ikut ke Orlan sedangkan disana ada Rio.
"Kau pandai bela diri, Jika ada apa-apa kau mungkin bisa menanganinya sendiri." Jelas Moanna sambil tertawa.
Namun sungguh berbanding terbalik cuaca yang tengah melanda kota Orlan. Kota itu kini tengah hujan deras disertai angin hingga Semua orang memilih untuk berada didalam rumah atau berteduh disebuah cafe.
__ADS_1
Secangkir kopi atau teh cocok untuk menjadi teman dikala cuaca begini. Begitupun dengan Alvin yang duduk seorang diri sambil melihat hujan dibalik jendela. Tak ada aktivitas lain yang ia lakukan selain menatap air hujan yang menempel dikaca sambil berpikir.
Apakah ayahnya melakukan hal yang sama dulu? Membunuh orang-orang yang menurutnya adalah dinding penghalang dan duri yang akan melukai sedikit demi sedikit? Atau malah ayahnya melakukan kebaikan? Sebenarnya apa itu gelar Signore?
Pertanyaan demi pertanyaan bergantian datang tanpa ada satupun jawabnya. Saking terhayut dalam pikirannya Alvin tak mengetahui jika Rei sudah duduk didepannya dengan segelas Vodka ditangannya. Rei yang sudah tahu jika Alvin tengah berpikir memilih untuk diam dan membiarkan tuannya itu berkata duluan.
"Apa kau sudah lama duduk disana?" Tanya Alvin saat ia melihat Rei ketika hendak mengambil cangkir kopi miliknya.
Rei meminum minumannya, "Baru sebentar. " Ucapnya santai dengan wajah dingin tanpa ekspresi khasnya itu.
"Apa Arturo datang bersamamu?" Tanya Alvin. Ia penasaran akan sepupunya itu yang tak menunjukkan batang hitungnya sekalipun ketika ia tiba di Orlan.
"Aku hanya bertemu dengannya di bandara," Jawab Rei. "Setelah menjelaskan semuanya di pesawat dia pergi begitu saja." Lanjutnya mengatakan apa yang terjadi pada dirinya dan Arturo saat tiba dikota ini.
"Biarkan saja dia melakukan apapun. Aku hanya ingin mendengar tentang Ilker Agha?" Alvin menangih janji Rei yang akan mencaritahu tentang pria Turki itu.
"Meskipun ia adalah orang Turki, tetapi pria tua itu cukup berkuasa di Orlan. Selain karena ia kini menetap disini, ia juga memiliki beberapa tempat kasino dan pabrik minuman khas Orlan yang digemari oleh orang-orang dibeberapa penjuru dunia." Papar Rei menjelaskan semua yang ia dapat dari informannya beberapa jam yang lalu.
"Lalu bagaimana dengan rekan bisnisnya?"
"Sejauh ini tidak ada seorangpun kolega yang pernah dikecewakan oleh Agha. Semua yang disepakati diawal selalu ditepati oleh pria itu." Jelasnya lalu kembali meminum cairan Vodka dari gelasnya itu.
"Aku ingin pergi melihat salah satu kasino Agha malam ini." Pinta Alvin. Rei pun setuju dan siap ikut serta bersama tuannya malam nanti.
Diruangan yang berbeda namun masih kota yang sama—yaitu Orlan, seorang pria berbadan atletis tengah terbaring bersama dua wanita disetiap sisi mengapit dirinya. Sesekali pria itu bergantian mengecup pipi gadis-gadis itu hingga mereka cekikikan senang. Namun tawa yang menggema diruangan kecil itu seketika hilang tatkal ponsel milik sang pria berbunyi.
"Malam ini dia akan pergi ke Oysn kasino." Ucap seseorang dibalik telepon itu melaporkan kegiatan orang yang ia ikuti selama beberapa jam terakhir.
__ADS_1
"Good Job." Puji pria bermata abu-abu itu diikuti dengan Sunggingan bibir yang menakutkan. "Malam ini adalah hadiah untukmu." Katanya kemudian.