Istri Sang Mafia

Istri Sang Mafia
BAB 15: Dalang penembakan


__ADS_3

Hari kini telah berganti. Setelah menunggu berjam-jam untuk tiba di Orlan akhirnya Kenzo tiba dan kini tengah berdiri sambil menatap Alvin yang terbaring diruang pemulihan. Tak ada sedikitpun suara diruangan itu kecuali alat-alat medis yang tersedia disana.


Ettore yang sedari kemarin menemani Alvin pun tak berani ikut masuk bersama Kenzo karena ia merasakan aura berbeda dari pria itu sejak ia menginjakkan kakinya dilantai rumah sakit. Ia lebih memilih menunggu diluar sambil terus mengirimkan sebuah pesan pada Rei yang entah dimana keberadaannya saat ini. "Kau dimana? Kenz sudah mendidih!" Batin Ettore. Ia khawatir akan nasib pria yang masih berusia muda itu.


"Dimana dia?" Tiba-tiba sebuah pertanyaan dari Kenzo muncul dengan nada yang dingin hingga membuat Ettore terkejut.


Dengan tangan yang masih menyentuh ponsel yang ia simpan didada Ettore lantas menjawab, "Aku tidak dapat menghubunginya sejak semalam."


"CK." Decak Kenzo kesal. Ia lalu pergi melewati Ettore begitu saja hingga pria itu menarik napas lega. "Ettore!" Panggil Kenzo hingga pria itu kembali menahan napasnya. "Jaga Alvin! Aku ada urusan." Lanjutnya kemudian.


Ettore seketika mengangguk seraya mengiringi kepergian Kenzo dari Rumah sakit. "Aku harap tidak ada pertumpahan darah." ucapnya berharap bahwa emosi Kenzo tidak akan sampai menghilangkan nyawa siapapun.


Langkah kaki yang panjang serta tubuh yang tegap membuat Kenzo semakin terlihat menawan jika dilihat dari belakang. Tentu saja, dari belakang. Karena jika kau melihat wajahnya saat ini, yakinlah kau pasti lebih memilih untuk melihatnya dari belakang karena raut wajah pria itu begitu tegas dan menyeramkan. Bahkan untuk dilihat oleh orang dewasa sekalipun.


Kenzo masuk kedalam mobil berwarna putih yang ia ambil sebelumnya dari rumah tempat dimana Alvin dan Rei tinggal selama di Orlan. Kini ia menancap pedal gas meninggalkan area parkir rumah sakit untuk menemui seseorang.


"Sembunyilah dimana pun kau mau. Karena cepat atau lambat aku akan menemukanmu!" Ucap Rei pada seseorang melalui panggilan telepon lalu mengakhirinya.


Usai mencari selama beberapa jam akhirnya Rei tahu dalang dibalik penyerangan Alvin tadi malam adalah Michael Hwuan. Ia adalah mantan atasan Rei semasa ia remaja. Jelas bahwa tujuan penembakan Alvin semalam adalah supaya Rei mencarinya dan membalas atas apa yang menimpa tuan barunya itu. Dan benar saja dugaan Hwuan, Rei berhasil menebak bahwa dirinyalah dalang semua kejadian semalam dan kini pria kecil itu akan menemuinya seorang diri.


"Halo, Rei!" Sapa seorang perempuan.


"Aku butuh bantuanmu!" Ucap Rei tanpa basa-basi. "Aku ingin kau menemukan lokasi Michael Hwuan saat ini!" Pintanya.


Wanita yang tengah berada di Milan itu menghembuskan napasnya kasar. "Kau menghubungi saat kau perlu saja." Kesalnya dengan bibir yang sengaja ia gulung.


"Jika tidak mau membantu juga tidak apa, bye!" Ucap Rei hendak mengakhiri panggilannya.


"Rei!" Teriak wanita itu hingga Rei menarik kembali ibu jarinya. "Mau apa tidak?" Tanya pria itu lagi.


"Baiklah, tunggu sebentar." Wanita itu kini beralih pada layar komputer miliknya lalu mulai mencari orang yang dimaksud oleh Rei. "Rei..." Panggilnya setelah beberapa menit ia mengutak-atik benda itu.


"Bagaimana?"


"Apa kau berada di Orlan?" Tanya wanita itu hingga Rei terkejut karena ia tidak pernah mengatakan pada wanita itu bahwa dia tengah berada di Orlan. "Aku menyuruhmu mencari lokasi Michael Hwuan. Bukan lokasiku, Sarah!"Bentak Rei. Ia berpikir bahwa wanita itu tidak sungguh-sungguh membantunya.


"Bukan, Rei." Tepis Sarah dengan suara lembutnya. "Tapi tuan Hwuan yang kau maksud berada di dekatmu." Ucapnya lirih hingga Rei membuka kedua matanya dan memutar tubuhnya untuk melihat sekelilingnya. "Sial!" Umpatnya lalu berlari secepat mungkin untuk mencari tempat yang sulit terjangkau oleh peluru.


Dor....

__ADS_1


Dor.....


Dor.....


Bunyi tembakan terdengar hingga membuat Sarah terkejut dan berteriak memanggil-manggil nama pria itu. Namun tak ada juga jawaban. "Astaga, Rei..." Sarah segera mengakhiri panggilannya dengan Rei dan beralih memanggil seseorang yang ia pikir mampu menolong pria yang tengah kesulitan itu.


"Halo, bisakah kau menolong Rei?" Ucap Sarah ketika panggilan itu terhubung.


"Kenapa dengannya?"


"Dia sepertinya mati. Aku mendengar bunyi tembakan tiga kali," ucap Sarah panik.


"Aku tidak bisa membantunya karena Alvin masuk rumah sakit, tapi beritahu aku dimana dia." Pinta pria itu.


Sarah mengangguk, "Hem. Dia berada di pinggir pantai kota Orlan." jawabnya. "Tolong suruh siapapun untuk membantu dia." Pinta Sarah kemudian. Namun ternyata panggilan itu telah terputus dan permohonannya itu sepertinya tidak didengar sama sekali.


Sementara Rei, pria yang dikira sudah mati tertembak itu kini tengah berjongkok dalam posisi selamat dan sembunyi didekat sebuah tangga. Ia kini tengah memikirkan cara supaya ia dapat mendekati anak buah Hwuan dan menghajar mereka. Tiba-tiba ponselnya berdering dan itu adalah panggilan dari Hwuan.


"Keluarlah kucing manis," ucap pria itu mengejek Rei yang memang seperti kucing ketakutan. Bersembunyi di balik sudut dinding meminta seseorang memungutnya.


"Kau turunlah dan simpan semua senjatamu itu disana, batu aku akan keluar sendiri dengan tangan kosong." Jawab Rei sedikit memberi ledekan.


Rei yang berada lebih tinggi dari tanah dapat melihat ke setiap sudut yang kini sudah tak ada lagi senapan panjang yang menodong ke arahnya. Tak lupa, ia juga mematikan ponselnya sebelum akhirnya ia pun turun menghampiri Michael Hwuan beserta anak buahnya.


"Long time no see, Rei Willian." Sapa Michael Hwuan dengan senyuman meledek.


"Tak perlu banyak kesana-kemari." Tegas Rei. "Katakan apa alasanmu melakukan itu?"


Hwuan malah tertawa saat mendengar pertanyaan yang terucap dari mulut Rei, anak buahnya dulu sebelum diambil paksa oleh Marco Fortino— ayah dari Alvin Fortino. "Sudah jelas bukan bahwa aku ingin kau kembali padaku dan tinggalkan keluarga Fortino!" Jelas pria itu.


Rei memutar bola matanya dengan senyuman disebelah bibirnya. "Hanya itu?" Tanyanya dan dijawab anggukan oleh Michael Hwuan. "Tentu saja..... Tidak!" Tegas Rei dan hendak pergi meninggalkan tempat itu.


Namun tiba-tiba anak buah Michael Hwuan yang berjumlah empat orang itu memegangi tubuhnya hingga Rei sulit bergerak. "Lepaskan aku!" Teriaknya.


Michael Hwuan mengelilingi Rei yang tengah dipegangi oleh anak buahnya itu. "Kau terlalu cepat menolak tawaranku dan terlalu percaya pada keluarga Fortino yang telah membelimu." Katanya dengan nada mengejek.


Rei tersenyum, "aku lebih percaya orang yang membeliku daripada orang yang menjualku!" Sindirnya.


Plak...

__ADS_1


Satu tamparan keras mendarat diwajah putih dan mulus pria itu hingga muncul tanda lima jari dan rasa panas kemudian.


"Bawa dia masuk ke gudang!" Perintah Hwuan pada anak buahnya."Baik." Ucap mereka serempak lalu menyeret Rei untuk ikut bersama mereka.


Didalam gudang yang bercahaya temaram, kini Rei melihat celah melalui seorang anak buah yang ternyata takut akan ruangan gelap. "Hei, apa kalian pernah mendengar tentang manusia yang hilang setelah menembus kegelapan?" Tanyanya seraya masih dalam keadaan digiring.


"Diam dan jalan!" Tegas Salah satu pria yang berbadan tinggi lebih dari dirinya itu. Ia sudah menebak bahwa Rei berniat menakut-nakuti salah satu rekannya itu.


"Baiklah." Ucap Rei pasrah. Namun tidak dengan otaknya, kini ia tengah berpikir cara untuk melepaskan dirinya dari cengkraman orang-orang ini. Sebuah ide yang cukup gila terlintang dipikirannya hingga ia tersenyum licik.


"Bolehkan aku meminta tolong?" Tanyanya.


"Apa?"


"Ada sesuatu yang merayap diperutku. Bisakah kau memeriksanya?" Pinta Rei. "Sulit bagiku menemukannya karena tanganku kalian pegang."


Keempat anak buah itu saling menatap dan menyetujui untuk membantu Rei melihat mahluk apa yang merayap ditubuhnya. Akhirnya pria yang bertubuh besarlah yang memeriksa tubuhnya. Pria itu berjongkok didepan Rei dan mengeluarkan kameja berwarna putih itu dari celananya. "Tidak ada apapun diperutmu!" Ucap pria itu dan kini ia Semakin menurunkan kepalanya hingga mendekati kaki Rei.


Duk.......


Rei menendang wajah pria bertubuh tinggi itu dengan lututnya dan segera memukul bergantian ketiga pria lainnya. Pekelahian pun tak dapat dihindari. Meskipun ia hanya sendirian dan melawan tiga orang sekaligus, tetapi ia tetap unggul karena mereka berkelahi satu lawan satu.


Perkelahian itu menguntungkan Rei yang bertangan kosong. Wajahnya yang putih dan bersih tak mendapat pukulan dari keempat orang pria yang sudah babak belur dipukuli olehnya itu. Namun tiba-tiba sebuah sabetan senjata tajam menancap tepat dibetisnya.


"Ah..." Rintih Rei. Seketika pokusnya berkurang karena rasa sakit dibetisnya dan itu langsung digunakan dengan baik oleh anak buah Michael untuk membalas setiap pukulan dari Rei. Satu pukulan tepat mengenai wajah Rei hingga pria itu tersungkur ke lantai.


"Kau terlalu cepat bertindak dan lupa bahwa aku adalah pelempar pisau yang handal." Sindir Michael yang mendekat pada Rei yang tengah tersungkur dilantai.


"Dan kau juga lupa bahwa aku adalah orang yang paling sering terkena pisaumu itu." Ucap Rei.


Michael menatap pria yang hampir kepala tiga itu lalu mendekatinya."Angkat dia!" Titah Michael dan Brugh... Satu pukulan mendarat diwajah Rei hingga hidungnya mengeluarkan darah. "Apa kau masih ingin bersama Fortino sedangkan saat ini mereka tengah berlomba-lomba untuk membunuhmu Karena kelalaianmu itu?" Tanya Michael.


"Tentu, mengapa tidak?" Jawab Rei cepat hingga kekesalan pria itu memuncak dan kembali memukul Rei hingga bibirnya robek dan mengeluarkan darah.


"Mengapa kau begitu keras kepala?" Teriak Michael tepat didepan wajah Rei yang sudah babak belur itu. Kini pria itu kembali memukul Rei dengan kuat hingga tubuhnya terlungkup dilantai.


"Aw...." Rintih Rei saat betisnya yang tertancap pisau diinjak oleh Michael dengan kuat. "Apakah ini sudah cukup untuk membuatmu berubah pikiran?" tanya Michael.


Rei menggeleng, "Tidak ada perubahan pikiran!" Tegas Rei hingga Michael semakin menekan betisnya dan membuat darah pria itu mengalir ke lantai bercampur dengan debu-debu.

__ADS_1


"Hentikan semua tindakan bodohmu itu!" Teriak seorang pria .


__ADS_2