
Tak terasa langit yang semula berwarna biru kini berubah menjadi jingga karena sang mentari yang hendak berganti tugas dengan sang rembulan. Lampu-lampu jalanan yang semula padam kini mulai hidup satu persatu menerangi seorang pejalan kaki yang berjalan sambil menenteng sebuah koper.
Dengan topi bundar yang menutupi kepalanya, pria bermantel cokelat tua itu perlahan membuka sebuah gerbang yang dijaga oleh dua orang yang penjaga disana.
"Lama tidak berjumpa, Patch." Sapa salah seorang penjaga seraya kembali menutup pintu gerbang yang cukup besar itu. Ia lalu menghampiri pria bernama Patch itu dan memeluknya ramah.
"Kau semakin besar sekarang." Ucap patch saat merasakan tubuh penjaga itu lebih besar dari sebelumnya saat mereka bertemu terakhir kali. Dengan tawa yang ramah penjaga itu menjawab pujian patch, "Pertempuran bisa terjadi kapan saja, jadi aku harus sudah siap kapanpun." Ucapnya.
Patch hanya menyunggingkan senyuman, "apa semua berada di mansion?" Tanya nya dan dijawab anggukan oleh penjaga itu, "semua sudah berkumpul sejak tadi."Jawabnya.
Patch kemudian berjalan menuju pintu utama setelah berbincang sedikit bersama penjaga gerbang. Dengan langkah yang semakin ia percepat, akhinya pria itu tiba didepan pintu besar yang terbuat dari kayu khas Italia kuno itu. Sebelah tangannya mendorong pintu dan masuk kedalam rumah yang besar itu.
"Dimana Alvin?" Tanya patch para Rei yang kebetulan tengah berada ditempat yang sama dengannya.
Rei yang mendengar suara lantas menoleh dan menatap Patch dengan wajah yang datar, "Ditempat biasa, bersama Kenzo." Jawabnya.
Patch yang mendengar ucapan Rei lantas pergi ketempat yang dimaksud oleh pria berambut gondrong itu. Sebuah pintu yang terbuka sedikit ia ketuk sebelum akhirnya ia masuk setelah Kenzo menghampirinya.
"Patch, apa kabar." Sapa Kenzo seraya memberi pelukan singkat pada pria yang menenteng koper itu.
"Kabar baik," jawab patch. "Bagaimana denganmu?"
"Sangat baik." Jawab Kenzo dengan senyum bahagia diwajahnya.
Setelah bertukar kabar dengan Kenzo, Patch kini beralih pada Alvin yang tengah berdiri memandangi hutan dibelakang bangunan itu dari balik jendela. Wajahnya yang datar serta sorot mata yang sendu terlihat jelas pada wajah pria tampan yang masih melajang itu.
"Aku datang dengan kabar baik, Vin." Ucap Patch hingga pria berambut cepak itu menoleh dan menatapnya cukup lama. "Apa itu?" Tanya Alvin setelah beberapa waktu ia hanya menatap Patch.
Patch mengangkat koper yang sedari tadi ia bawa ditangannya, "ini senjata keluaran baru yang diproduksi pabrikmu." Jelasnya.
Alvin yang masih belum menunjukkan ekspresi bahagia menggiring tubuhnya untuk melihat isi dari koper yang pria bertopi bundar itu bawa. Segera patch membuka koper itu dan memperlihatkan sebuah shotgun seri SPAY-11 yang merupakan buatan perusahaan milik Alvin.
Dengan leluasa Alvin mengambil shotgun itu lalu mengecek apakah didalamnya sudah terdapat peluru yang siap menghunus siapapun ketika ia memetik pelatuknya. "Aku ingin mencobanya langsung." Ucap Alvin hingga membuat semua pria didalam ruangan itu saling menatap.
"Kau mau mencobanya sekarang?" Tanya Kenzo.
__ADS_1
"Kenapa tidak?" Jawab Alvin lalu meninggalkan ruangan itu dengan shotgun ditangannya.
Usai mengiringi kepergian Alvin, Patch kini menatap Hans yang dengan santainya duduk sambil menghisap rokok ditangannya. "Kau tidak takut dia bunuh diri?" Ucap Patch.
"Dia tidak selemah dulu." Jawab Kenzo.
"Tapi—"
"Kenz, cepatlah!" Teriak Alvin hingga Kenzo bangkit dari duduknya dan mematikan puntung rokok sebelum ia pergi meninggalkan ruangan itu sama seperti Alvin meninggalkan mereka berdua. "Tunggulah disini sampai kami kembali!" Pesan Kenzo saat ia berdiri diambang pintu.
"Baiklah." Jawab Patch pasrah.
Dikoridor mansion, Alvin tengah berdiri sambil bersandar pada dinding menunggu kedatangan seseorang yang baru saja ia panggil. "Kau sangat lambat!" Cetusnya saat Kenzo datang.
"Kau mau kemana?" Tanya Kenzo tanpa basa-basi karena ia sudah mengetahui karakter Alvin. Seorang pria dewasa yang tengah menikmati proses perubahan hidupnya dari terang menjadi gelap.
"Menengok Petter Morgan." Jawab Alvin kemudian memimpin Kenzo menuju garasi mobilnya.
•••••>>
Meregangkan tubuhnya setelah seharian bekerja adalah salah satu kebiasaan Moanna untuk menghilangkan rasa lelah yang melanda. "Untung hari ini aku hanya bekerja siang," ujar Moanna pada dirinya sendiri.
Dering ponsel terdengar hingga membuat Moanna merogoh saku jas putih yang melekat pada tubuhnya itu. Sebuah pesan singkat muncul yang menanyakan kapan dirinya akan datang ke apartemen milik sang direktur utama rumah sakit tempatnya bekerja.
Segera Moanna membalas pesan singkat itu dan menyatakan bahwa dirinya akan tiba sekitar setengah jam lagi. "Huhhh...." Moanna membuang napasnya lalu berjalan dikoridor Rumah sakit.
"Dokter Moanna!" Teriak seorang perawat hingga wanita yang tengah berjalan sendirian itu menolah padanya. Perawat itu lantas menghampiri Moanna yang mematung menunggunya. Namun bukannya memberitahu alasan kenapa memanggil Moanna, perawat wanita itu justru malah melihat kearah lain dengan raut wajah yang terpukau.
"Hei!" Moanna mencoba membuyarkan lamunan perawat itu dengan melambaikan tangannya. "Ada apa kau memanggilku?" Tanya Moanna. Namun bukannya menjawab sorot mata perawat itu justru mengikuti suatu objek yang membuat Moanna penasaran hingga ia pun mengikuti kemana sorot mata perawat itu.
Dua orang pria dengan mantel berjalan beriringan menjauh dari tempat Moanna dan perawat itu berada. Entah apa yang membuat perawat itu begitu takjub. Karena saat Moanna menengok, ia hanya dapat melihat punggung kedua pria bermantel hitam dan cokelat tua itu dari kejauhan.
Plak!
Moanna menepukkan kedua tangannya didepan perawat yang tadi memanggilnya hingga kesadarannya kembali berkumpul. "Katakan, kenapa kau memanggilku?" Tanya Moanna lagi.
__ADS_1
"Anu... Itu.... Pasien yang tadi sudah pulang." Ucap perawat itu dengan mata yang mencuri-curi pandang pada kedua pria tadi.
"Apa keadaannya sudah membaik?" Tanya Moanna.
"Sepertinya begitu." Ucap perawat itu. "Lagipula dia hanya mengalami lecet dibagian lutut dan sikut." Lanjutnya menjelaskan tentang kondisi pasien yang jatuh dari motor itu.
"Baiklah, aku harus pergi sekarang." Pamit Moanna kemudian melanjutkan niatnya untuk memeriksa ibunya Felix sebelum ia pulang kerumah.
Ditempat yang sama, kedua pria yang menggunakan mantel tadi lantas masuk kedalam sebuah ruangan dimana hanya ada satu bangsal yang menghuni. Seorang pria berusia hampir setengah abad terbaring lemah dengan nasal cannula yang menempel di hidungnya. Hanya matanya yang dapat bergerak dan kini tengah menoleh pada pria muda yang berdiri disamping bangsalnya.
"Hai, traditore." Sapa Alvin dengan nada mengejek. "Bagaimana kabarmu?" Lanjutnya.
Bukannya tersenyum mendengar sapaan dari Alvin, pria itu justru membuka lebar-lebar kedua matanya dengan raut wajah ketakutan setengah mati. Bahkan ia juga mencoba menggerakkan tubuhnya yang sudah mati itu supaya dapat menghindari Alvin dan Kenzo.
"Tenanglah, petter. Dia hanya ingin mencoba senjata baru miliknya." Celetuk Kenzo begitu ringannya.
Mendengar ucapan Kenzo membuat pria tua itu semakin berusaha keras menggerakkan tubuhnya supaya dapat berlari sekuat mungkin dari kedua orang yang berada di ruangannya. Tak peduli apa jadinya nanti, yang terpenting ia sudah berusaha menghindari. Meskipun itu semua tak akan pernah terjadi.
"Kau membuatnya takut, Kenz." Ucap Alvin pada rekannya itu. Kini pria berstatus sebagai pemimpin tertinggi itu beralih menatap pria yang terbaring lemah di bangsal. "Lihatlah senjata baruku," ucap Alvin setelah ia mengeluarkan shotgun yang tadi patch bawa ke mansion.
"Lebih bagus dari yang kau hancurkan, bukan?" Sindir Alvin. Kini tangan pria itu masuk kedalam selimut yang menutupi tubuh petter hingga pria lemah itu dapat merasakan senjata itu menempel diperutnya.
Tak terdengar suara pembelaan dari pria lemah itu. Hanya mulutnya yang terus bergerak mengatakan kata NO. Namun itu semua tidak dapat mencegah Alvin melakukan apa yang ia inginkan. Terlebih lagi atas apa yang telah ia lakukan pada pria muda itu tak pantas diampuni.
Shotgun Jenis SPAY-11 yang dipegang Alvin seharusnya sudah laris dipasaran sejak sebulan yang lalu. Namun karena ulah petter yang bodoh dan mudah dikelabui oleh keluarga Vyer akhirnya semua stok shotgun milik Perusahaan Alvin dibumi hanguskan oleh pemerintah yang menolak pemasaran senjata itu.
Bukan hanya itu, keluarga Vyer juga berhasil meniru shotgun buatan perusahaan Alvin dan saat ini tengah laris dipasaran Eropa hingga shotgun miliknya terpaksa harus ditarik dan diperbarui. Untungnya Rei berhasil menemukan persembunyian petter di sebuah pulau di dekat Meksiko.
"Kau tidak bisa melakukannya disini," Ucap Kenzo yang berdiri tegak dibelakang pria yang tengah menodongkan senjata api baru miliknya. "Ini tempat umum." Lanjutnya.
"Siapa bilang?" Alvin melirik tajam kebelakangnya, "aku sudah menggunakan peredam." Ucapnya dengan senyum jahat yang membuat diri Kenzo bergidik ngeri. Meskipun sudah lama dirinya berkecimpung dalam dunia gelap, tapi setelah ia bergabung bersama Alvin rasanya dunia semakin gelap dan lebih menakutkan dari dunia sebelumnya.
"Kenz!" Panggil Alvin hingga pria berambut cokelat itu menatap padanya. "Bantu aku berhitung." Titahnya.
"Baik." Jawab Hans. Pria itu kemudian mulai berhitung dari mulai angka tujuh mundur. "Tiga..... Dua..... Sat—"
__ADS_1
Tiba-tiba pintu ruangan terbuka hingga Kenzo dan Alvin menoleh kearah pintu itu. "Permisi tuan-tuan, waktu untuk menjeguk sudah habis karena pasien harus beristirahat." Ucap seorang perawat.
Alvin dan Kenzo saling menatap hingga Alvin memberi kode untuk pergi. Namun sebelum pergi, Alvin mendekati telinga petter dan berbisik, "Keberuntunganmu tidak akan ada lagi!"