
Usai membersihkan diri, Moanna kini berdiri kebingungan harus melakukan apa dengan status barunya kini, yaitu menjadi seorang istri. Karena kini dirinya tengah berada dikamar hotel, jadi ia tak perlu repot-repot membersihkan kamar yang ditempatinya, bukan?
"Aku lapar, sepertinya aku harus keluar untuk mencari makanan." Ujar Moanna dan segera mengambil ponselnya lalu berangkat untuk mencari makanan yang dapat membuatnya perutnya kenyang. Karena sejak acara pernikahannya dimulai, ia sama sekali belum mengisi perutnya dengan apapun.
Menggunakan lift membuat Moanna tak membutuhkan waktu lama untuk tiba di lobby hotel. Ia pun dengan segera keluar dari area hotel elite di kota itu dengan baju tidur dan bergegas menuju sebuah restoran terdekat.
"Sudah lama aku tidak makan pizza," gumam Moanna setelah melihat papan nama didepannya lalu menghampiri tempat makanan yang ia gumamkan itu.
Sesaat pintu restoran itu terbuka, aroma dari pizza yang dibawa seorang pelayan membuat Moanna mengikuti aromanya hingga ia tak sabar untuk menyantap makanan dari restoran itu.
Usai menempati sebuah meja, Moanna segera memanggil seorang pelayan untuk datang kemudian ia pun memesan satu pizza padanya.
"Mohon ditunggu, nona." Ucap pelayan itu seraya meninggalkan meja Moanna.
Dering ponsel membuat Moanna seketika melihatnya.
^^^*Apa kau jadi^^^
^^^datang?*^^^
"Astaga," Moanna menutup mulutnya, "Aku lupa." Lanjutnya lalu bergegas pergi meninggalkan restoran itu tanpa menyantap sedikitpun pizza yang ia pesan sebelumnya.
"Nonaa!... Kau mau kemana?" Teriak seorang karyawan yang sudah membawa pizza pesanan Moanna ditangannya.
"Maaf, aku batal memesannya." Teriak Moanna buru-buru. "Uangnya sudah aku simpan dimeja!" Lanjutnya lalu meninggalkan restoran itu.
Segera ia berlari secepat mungkin untuk tiba disebuah gang dekat sekolah yang jaraknya tak jauh dari hotel. Mungkin sekitar 500 meter. Disana sebuah motor sport putih terparkir bersama sang pengemudi yang terduduk diatasnya menatap Moanna yang tengah terengah-engah. "Maaf...." ucap Moana. "Sepertinya kita—"
"Aku tau." Potong pria yang tengah duduk diatas motor sport itu. "Kau sudah resmi menikah kan? jadi kembalilah padanya!" Lanjut pria itu seraya memasangkan kembali helm pada kepalanya.
"Leo..." Lirih Moanna menatap pria yang siap membawanya pergi itu. "Maafkan aku," ucapnya kemudian.
Tentu saja pria yang menunggunya itu adalah Leo, rekan kerjanya sebagai dokter.
"Kau tidak salah Moa, pria itu yang salah!" Tegas Leo namun masih dengan suara yang lembut.
Moanna memegang lengan Leo. "Bawa aku bersamamu, Leo!" Pinta Moanna hingga membuat Leo terdiam sejenak.
"kemana?"
"Kemanapun Leo! Bawa aku pergi jauh darinya!" Moanna menggoyangkan tangan Leo memohon supaya pria itu membawanya.
"Tidak, Moanna." Tolak Leo. "Aku tidak bisa membawa istri orang seenaknya!" Tegas Leo hingga Moanna terdiam dan menatap pria itu.
"Tapi... Aku terpaksa," lirih wanita berambut sebahu itu.
Leo menarik napasnya panjang lalu memegang punggung tangan Moanna. "Kau mungkin butuh sedikit hiburan, naiklah!" Seru Leo dan disambut senyum kegembiraan diwajah wanita yang baru saja mengingat janji suci dengan seorang pria kaya yang datang tiba-tiba dalam hidupnya .
ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ
__ADS_1
Dengan tergesa-gesa Alvin berjalan menuju kamar untuk segera merebahkan tubuhnya yang sudah seharian kesana-kemari. Sambil melonggarkan dasinya Alvin membuka pintu lalu masuk kedalam kamarnya yang masih diterangi oleh lampu.
Tanpa merasa ada sesuatu yang janggal, Alvin berjalan lurus menuju kamar mandi untuk mandi dan mengganti pakaian dengan pakaian yang lebih santai.
Kini setelah mengganti pakaiannya Alvin merebahkan tubuhnya diatas ranjang setelah mematikan lampu di ruangan itu. Suasana hening begitu terasa di ruangan itu dengan cahaya lampu yang temaram. Baru saja ia memejamkan matanya tiba-tiba ia merasa tangannya menyentuh sesuatu hingga membuat matanya kembali terbuka. Ya, ia menyentuh sebuah cincin yang terpasang dijari manis kirinya.
"Dimana wanita itu?" Ujar Alvin baru sadar bahwa Moanna tak ada disampingnya maupun di kamar mandi.
Segera ia mengambil ponsel dan memanggil Kenzo yang baru saja akan menyantap makan malamnya.
"Ada apa, Vin?" Jawab Kenzo yang sudah mulai lelah itu.
"Wanita itu menghilang!" Seru Alvin.
Namun dengan wajah datar dan biasa, Kenzo menjawab dengan santai. "mungkin dia di kamar mandi,"
"Bodoh! Itu tidak mungkin. Aku baru saja menggunakannya."Kesal Alvin.
"Mungkin dia ada ditempat lain, Vin." ujar Kenzo memberi saran supaya Alvin mencari Moanna di setiap sudut dikamarnya. "Cari disudut ruangan itu!" celetuk Kenzo.
"Berisik! Dia tidak ada disini. Dan di bukan cicak yang menempel disudut ruangan!" Kesal Alvin. "Cepat kau cari dia di setiap tempat di hotel ini!" Perintahnya kemudian dan memutuskan panggilan itu.
Kenzo menarik napasnya panjang. "Baru saja aku akan istirahat," keluhnya lalu beranjak dari tempat tidur. Dia pun segera menyuruh Enzio untuk menunggunya di lobby hotel bersama beberapa anak buahnya.
"Semoga ini tidak begitu rumit." Ujar Kenzo lalu keluar kamar untuk menemui Enzio.
"Nyonya Alvin menghilang, cari dia segera!" Kenzo menjawab pertanyaan Enzio sekaligus menyuruh pria itu.
"Baik!" Seru Enzio tanpa basa-basi dan segera mengerahkan anak buahnya untuk mulai mencari keberadaan sang nyonya Alvin, yaitu Moanna.
Sementara di jalanan yang mulai sepi, dua orang tengah berboncengan seraya menikmati angin malam tanpa berpikir apa yang menunggu mereka.
"Leo, aku laper." teriak Moanna setelah menepuk pundak pria itu.
"Apa?" Leo bergantian menatap ke jalan dan kebelakang.
"Aku laper.."
"Siapa yang terkapar?" Tanya Leo sengaja berpura-pura.
"Laper Leo, aku Laper!" Teriak Moanna kesal.
Leo menepikan motor sport putih miliknya itu lalu membuka helmnya. "Kau mau makan apa?" tanyanya setelah membalikkan setengah badannya menghadap wanita yang duduk lebih tinggi darinya.
"Pizza. Aku mau makan pizza," Seru Moanna. Ia kembali teringat akan pizzanya yang belum sedikitpun ia sentuh.
"Baiklah, mari kita mencari penjual pizza." Ujar Leo kemudian memasang kembali helm full face berwarna hitam pada kepalanya.
Tanpa mereka sadari, sebuah mobil berwarna putih juga tengah berhenti tak jauh dari mereka. "Aku menemukannya." Ucap pria dibalik kemudi.
__ADS_1
"Ikuti dia!"
"Siap."
Pria itupun lantas melajukan mobilnya seperti yang diperintahkan. Ia mengikuti kemanapun laju motor sport didepannya itu.
Lima belas menit kemudian akhirnya mereka tiba didepan sebuah restoran pizza. Tempat duduk didekat jendela yang menghadap langsung ke luar restoran menjadi pilihan mereka berdua.
Begitu jelas pemandangan dari luar restoran Dimata Moanna. Begitupun dari dalam Restoran ke luar hingga membuat seorang pria yang tengah duduk disamping kemudi menatap dengan sorot mata yang tajam.
Setelah berhenti didepan restoran pizza, pria dengan mobil putih yang mengikuti Moanna segera memberi laporan hingga membuat Alvin bergegas menuju restoran bersama Kenzo.
"Apa kau kenal pria yang bersamanya?" Tanya Alvin dengan sorot mata yang tak teralihkan sedetikpun.
"Dia adalah rekan kerja Dokter Moanna." Jawab Kenzo.
"Namanya! Aku perlu namanya."
"Aku tidak tahu, Vin." jelas Kenzo.
Merasa Harga dirinya sebagai mafia diinjak, Alvin segera menarik sabuk pengamannya dan berjalan masuk kedalam restoran.
"Apakah kau menyukainya?" tanya Leo saat Moanna tengah mengunyah suapan pertama pizza pesanan mereka.
"Hm," Moanna mengangguk. "Kamu mau mencoba yang ini?"
Moanna menyodorkan tangannya berniat menyuapi Leo, namun yang menyantap pizza darinya bukanlah Leo. Melainkan Alvin yang kini duduk disamping Leo.
"Enak. "Jawabnya dengan senyuman penuh arti dan tatapan mata yang tajam bergantian melihat istrinya dan rekan kerjanya.
"Ka-kau," Moanna terkejut hingga matanya melebar. Lebih terkejutnya lagi, pria itu tak datang sendirian melainkan bersama tangan kanannya, Kenzo dan Enzio.
"kenapa kau terkejut?" Alvin menatap Moanna dengan sorot yang penuh arti. "Aku suamimu, harusnya aku yang terkejut karena mendapati istri yang baru saja aku nikahi makan malam bersama pria lain." Alvin kini menatap pria yang duduk disampingnya.
"Maaf sebelumnya, sepertinya anda salah paham tuan." Leo membuka mulutnya.
"Maksudmu aku salah dengan penglihatanku?" Alvin membalikkan badannya menghadap Leo.
Leo membisu. Mulutnya seperti dikunci tiba-tiba sehingga bibirnya kelu untuk menjawab.
"Bawa dia masuk ke mobil!" Perintah Alvin dengan mata yang masih menatap tajam pada Leo.
"Maaf, nona." Kenzo menarik tangan Moanna.
"Lepaskan aku!" sergah Moanna. "Aku mau makan pizza!" Kenzo melepaskan tangan Moanna seperti keinginan wanita itu.
"Bawa dia kenz!" perintah Alvin dengan suara yang halus.
"Maaf nona, ikutlah bersamaku!" Kenzo menarik Moanna supaya pergi meninggalkan tempat itu. Karena ia tau apa yang akan terjadi selanjutnya.
__ADS_1