Istri Sang Mafia

Istri Sang Mafia
BAB 17: Kembali


__ADS_3

Tak terasa sudah hampir satu Minggu mereka berada di Orlan sebagai relawan. Kini saat mereka berpamitan pada warga sekitar seraya menunggu kedatangan bus yang akan mengantarkan mereka ke bandara.


Semua orang kini tengah sibuk mengemasi barang-barang mereka. Kecuali Moanna. Wanita itu tengah berbincang-bincang dengan anak-anak kecil yang meminta berpoto bersamanya. Banyak hal yang mereka tanyakan. Seperti, bagaimana kota Viterbo itu? Apakah kau akan kembali kesini lagi ?


"Mungkin nanti kalian lah yang akan mengunjungiku di kota Viterbo," Ucap Moanna dengan senyuman ramah yang biasa ia berikan kepada siapapun. "Jika kalian datang ke Viterbo, carilah aku, Dokter Moanna." Ucapnya dengan bangga.


"Hem." Semua anak-anak serentak mengangguk.


"Dokter Moanna.." panggil Cira. "Semua orang akan mengambil Poto bersama." Katanya memberitahu bahwa Moanna harus ikut serta dalam Poto bersama itu.


"Baiklah, aku akan segera kesana." Jawab Moanna. "Aku harus pergi, sampai jumpa." Pamit Moanna seraya melambaikan tangannya kepada kumpulan anak-anak itu.


"Dokter Moanna sudah tiba." Teriak seseorang. "Ayo cepat ambil posisi!"


Moanna hanya tersenyum melihat rekan-rekan itu dan bergabung dibarisan paling depan untuk mengambil Poto.


1


2


3


Cekrek..


Satu Poto berhasil disimpan di SD card dan dibagikan ke chat grup mereka. "Apa semuanya sudah?" Tanya Moanna memastikan tidak ada yang tertinggal.


Semua orang serentak menjawab sudah. "Baiklah, jika begitu kita bersiap-siap karena bus kita sudah tiba." Ucap Moanna.


Hari ini, sesuatu dengan waktu yang ditentukan oleh rumah sakit dan pemerintah setempat semua relawan akan kembali ke Viterbo. Raut wajah sedih pada setiap orang terlihat melalui mata mereka. Meski mulut tak berucap, tapi tatapan para pengungsi sudah cukup mewakili ucapan selamat jalan untuk Moanna dan rekannya.


Byee....


Satu kata yang selalu terucap ketika perpisahan. Tak ada kata lain yang dapat menggantikannya. Lantas apakah arti sebenarnya kata bye itu sendiri? Apakah itu maksudnya adalah selamat jalan dan hati-hati? Atau aku akan merindukanmu, jangan lupa berkunjung lain kali? Entahlah.

__ADS_1


Lambaian tangan mengiringi kepergian Bus yang sudah dipenuhi oleh para relawan. Raut wajah senang dan lelah menyatu di setiap orangnya. Senang bisa menjadi bagian relawan yang dapat membantu sesama disaat semua orang enggan melakukannya. Lelah, tentu saja terasa terutama pada tubuh mereka. Tinggal di pengungsian dengan fasilitas seadanya membuat mereka bahu membahu saling menguatkan. Tak perlu menceritakan banyak hal mengenai apa saja yang dilakukan oleh seorang relawan.


"Apa besok kita akan bertugas seperti biasanya?" Ujar cira penasaran. Rasanya ia ingin sekali rebahan seharian di kasurnya yang empuk nan nyaman.


"Sepertinya tidak kata cuti untuk kita." Ujar Leo. Pria yang mengalami alergi parah itu kini lekas membaik dan kulitnya pun sudah kembali berwarna normal.


"Huh..." Cira membuang napasnya kasar. "Sungguh menyedihkannya diriku ini."Keluhnya kemudian menyandarkan kepalanya ke jendela bus.


Sementara Moanna sedari tadi hanya diam tak bersuara sambil bersandar pada kursi didepannya. "Dokter Moanna?" Panggil Fio sambil menarik tubuh wanita itu. Ternyata Moanna tengah terlelap dan kini malah bersandar di bahu Fio, orang yang duduk disebelahnya.


"Apa kau keberatan?" Tanya Rio. Perawat itu lantas menggeleng, "Mungkin dia kelelahan, biarkan saja dia." Jawab Fio. "Lagipula tubuhku ini kuat untuk digunakan sebagai sandaran." Lanjutnya sambil tertawa.


Berbeda dengan Moanna yang pulang sesuai rencana yang sudah ditentukan, Kenzo kini tengah mengalami hal yang berada. Nyatanya seseorang sepertinya juga mengalami rencana yang tidak sesuai. Niat hati ingin membawa Alvin dan Rei pulang malamnya setelah ia menemukan Rei, tapi ternyata pihak rumah sakit melarangnya. Ia Bahkan terus berusaha membujuk pihak rumah sakit supaya dapat membawa Alvin pulang hari ini. Tepat lima hari sejak pria berambut hitam lurus itu dirawat.


"Sudah saya katakan berulang kali, anda tidak bisa membawa pasien pulang dalam masa pemulihan." Tegas sang Dokter.


Lagi-lagi alasan itu yang Kenzo dengar dari sang dokter hingga membuat pria itu menyerah untuk membujuk pihak rumah sakit. "Bagaimana?" Tanya Rei yang wajahnya kini sudah bersih dari darah dan hanya luka lebamnya saja yang tersisa.


"Aku menyerah! Sulit sekali rasanya membujuk pihak rumah sakit." Kesal Kenzo. Ini kali pertamanya bujukannya ditolak berkali-kali.


"Cobalah!" Teriak Kenzo. "Jika kau berhasil, aku akan mencium tanganmu."


Rei berbalik, "Janji, ya?"


"Iya!" Seru Kenzo dan membiarkan pria itu masuk ke ruangan dokter. "Kau mungkin akan dimaki seperti diriku." Gumam Kenzo menduga bahwa Rei akan mengalami kegagalan seperti dirinya.


Sudah sepuluh menit berlalu sejak kepergian Rei ke ruangan dokter untuk membujuk supaya Alvin dapat ia Jawa pulang dan mendapatkan perawatan di rumah saja. Tentunya dengan dokter ahli yang tak diragukan lagi.


"Kenz.." panggil Rei yang membawa selembar kertas ditangannya. "Ayo pulang!" Ajaknya lalu memimpin Kenzo untuk mengikuti.


"Pulang kemana bodoh?"


"Tentu saja ke mansion." Jawab Rei. "Memangnya kemana lagi? Ke new York?" Ledeknya.

__ADS_1


"Memangnya mereka mengizinkan?" Tanya Kenzo. Rei pun segera menunjukkan sebuah kertas berisi perizinan untuk membawa Alvin pulang. Namun dengan syarat, bahwa apapun yang terjadi pada Alvin saat diperjalanan, jangan membawa kembali lagi kerumah sakit ini atau membawa-bawa nama rumah sakit ini.


"Cepat cium tanganku!" Perintah Rei seraya memberikan tangan kanannya untuk dicium oleh pria itu, seperti janjinya tadi.


"Sial. Tahu akan semudah ini, aku tidak perlu bertaruh apapun padanya." Gerutu Kenzo seraya hendak melakukan aksi mencium tangan Rei yang begitu putih dan mulut itu.


"Ayo bersiap." Rei segera mengambil langkah menuju ruangan tempat dimana Alvin berada.


Setelah siap dengan segala kebutuhan dan perlengkapan, kini Kenzo membawa Alvin menuju bandara menyusul Rei yang sudah duluan berangkat kesana untuk menyiapkan segala kebutuhan Alvin dipesawat nanti.


"Kenz, apa kau tahu semua yang terjadi malam itu?" Tanya Alvin yang duduk disamping pria itu.


"Tentu," jawab pria yang tengah sibuk mengemudi itu. "Apa kau ingin aku menceritakannya?"


"Tidak perlu, aku sudah menyuruh Ettore supaya memberiku salinan rekaman cctv restoran Ornansha." Ujar pria yang sudah sadar dari sejak dua hari lalu.


"Baiklah." Jawab Kenzo.


"Aku sudah membaik dan tidak perlu perlakuan spesial saat dipesawat. Aku tidak mau ada yang merasa aneh dengan itu." Pinta Alvin.


"Baiklah, aku akan menyuruh Rei melakukannya." Ucap Kenzo.


Kenzo pun segera menghubungi Rei dan meminta pria itu melakukan hal yang diinginkan oleh Alvin ketika dipesawat nanti. Butuh waktu cukup lama untuk mereka tiba di bandara. Kini Alvin pun beralih ke kursi roda lalu didorong oleh Kenzo dan menemui Rei.


Saat melewati orang-orang yang tengah berkerumun, kedua mata Alvin tak henti menatap kerumunan yang bahwa tidak ia kenal itu. Namun entah kenapa ia begitu penasaran dengan rombongan orang yang tengah begitu heboh itu.


"Apa mereka seorang tour guide?" Ujar Alvin hingga Kenzo melirik kerumunan itu.


"Benarkah? Apakah sebanyak itu?" Herannya.


Kedua pria itu akhirnya bertemu dengan Rei yang tengah duduk menunggu jam penerbangan mereka.


"Jam berapa kita berangkat?" Tanya Kenzo.

__ADS_1


"Jam 14.55" Jawab Rei seraya memberikan tiket kepada mereka berdua.


__ADS_2