
Hingga pukul delapan malam, tamu yang datang merupakan banyak tetangga perumahan dan kerabat ayah khaira, bergantian datang.
Mereka sangat senang kalau anak kemenakan mereka menikah. Apalagi khaira anak yang baik, suka membantu dan murah senyum.
"Sebaiknya kalian makan dulu. Sepertinya sudah tidak ada lagi yang datang. Karena tante rasa kerabat dan semua keluarga sudah datang". Ujar Tante khaira.
Setelah sholat magrib tadi, khaira lebih banyak duduk di dalam rumah. Tidak di hiasan yang berbentuk lelaminan kecil yang ada di teras rumah.
Tadi siang sampai sore khaira dan Nofri duduk di sana, meberima ucapan dari tamu yang datang. Juga di ajak berfoto.
"Kalau sekalian ganti baju bagai mana tante. Gerah". Ujar Khaira.
"Boleh saja. Tapi jangan pakai pakaian santai. Gamis saja pakai. Mana tahu masih ada yang datang". Usul tante khaira.
"Baik tante". Ujar khaira.
Khaira yang sedikit capek, karena sebagai penganten tentu dia sering di ajak berfoto oleh tamu dan kerabat.
Untung dia hanya memakai baju borkat dan tidak memakai pakaian adat. Lebih terlihat santai.
"Mau aku bantu?".
Ujar Nofri, yang mengikuti khaira memasuki kamar.
Dia juga gerah masih memakai jas lengkap. Walau magrib tadi dia sholat. Dan memakainya lagi.
"Boleh bang. Ini mahkotanya banyak jarum pentulnya". Ujar Khaira.
Karena mahkota tiara yang terpasang di kepalanya banyak memakai pentul. Juga hijabnya yang banyak menggunakan jarum pentul.
Setelah semua pentul yang menempel di hijab khaira. Maka khaira dengan mudah melepas jilbab dan pernak perniknya.
"Abang bersih-bersihlah dulu, biar aku siapkan pakaian abang". Ujar Khaira.
Dia menyuruh Nofri untuk kekamar mandi, Karena dia ingin membuka bajunya. Malu membuka baju saat ada suaminya itu.
"Ok abang mau mandi dulu". Ujar Nofri mengambil handuk.
"Apa tidak ada yang mau di bantu lagi?". Tanya Nofri melihat kearah Khaira tang duduk di depan meja rias.
"Tidak bang". Jawab khaira.
"Ok. Tapi apa kamu yakin bisa buka resleting kebayanya?.
Tadi abang lihat kebayanya pakai resleting di belakang". Ujar Nofri.
"Aa.. Itu.. Aku bisa...".
"Sini aku bantu dulu. Biar turun resletingnya. Nanti saat aku balik dari kamar mandi kamu masih belum bisa bukanya". Ujar Nofri.
Yang sudah langsung berdiri di belakang Khaira.
Lalu dia menurunkan resleting baju borkat khaira. Hingga khaira sedikit menahan nafasnya saat bunyi resleting di turunkan.
"Sudah. Sekarang kamu bisa ganti baju". Ujar Nofri .
Setelah selesai membantu menurunkan resleting baju istrinya.
"Terima kasih bang". Ujar Khaira.
Tidak sampai lima belas menit, nofri sudah selesai mandi.
Gitapun sudah selesai berganti baju. Dengan gamis biasa. Tapi tidak rumahan modelnya. Menggunakan jilbab instan.
Juga riasan khaira sudah dia hapus dengan pembersih wajah.
__ADS_1
Setelah Nofri selesai sholat, mereka berdua keluar kamar. Untuk makan malam bersama.
"Ayo makan dulu". Ujar tante.
"Baik tante". Ujar khaira.
Ternyata ayah, om dan sepupu khaira sedang makan malam.
Ibu-ibu yang membantu juga ada yang ikut makan bersama. Pemuda dan bapak yang ikut sibuk juga ikut makan.
Mereka majan menghadapi seprah makan. Yang pasti sudah di bersihkan dan di ganti lauknya.
Tadi saat khaira mau berganti baju, seprah ini kosong. Semua makanan di bawa kedapur untuk di panaskan.
"Kami duluan makan ya Ra, nak Nofri". Ujar ayah.
Ayah tadi mengajak pekerja yang membantu untuk makan bersama sebelum mereka pulang.
"Iya yah". Jawab Nofri.
Khaira duduk di dekat tantenya di samping Nofri suaminya.
Khaira membantu suaminya mengambilkan nasi, dan lauknya Nofri sendiri yang mengambil.
Selesai makan, mereka berbincang. Sementara tante dan ibu-ibu membereskan piring dan makanan.
Khaira pun mengikutinya kedapur, walau tidak ikut membantu. hanya duduk sambil berbincang.
Para ibu bekerja sama bekerja di dapur, yang memanaskan lauk, yang mengemasi piring kotor, baik di dalam rumah maupun di luar di bawah tenda.
Ada yang mencuci piring. Juga ada seorang ibu dan tante sedang membungkus lauk. Yang nanti akan di bawa para ibu ini pulang, untuk keluarga mereka.
Para ibu itu bekerja sambil bercanda. Seolah lelah hari ini tidak terasa.
Itupun hanya mengundang lewat pembicaraan saja, tanpa undangan resmi". Ujar salah satu ibu.
"Betul. Aku yang datang ke blok G untuk mengundang secara langsung dari rumah ke rumah, semua ibu-ibu itu datang tanpa kecuali". Ujar ibu yang lain.
"Yang aku datangi juga datang semua bu". Tambah yang lain.
Semua membicarakan keberhasilan mereka. Acara sukses, tamu datang semua dan makanan yang mereka buat bisa di katakan habis semua.
Tidak banyak sisa makanan di piring kotor tamu.
"Memang tante undang semua warga?". Tanya khaira.
Mendengar pembicaraan ibu- ibu itu. Masih semoat tantenya kepikiran untuk mengundang tetangga.
Padahal setahunya, hanya kunjungan keluarga dan kerabat Nofri, suaminya saja.
"Iya. Waktu kamu selesai akad nikah, siangnya om dan ayahmu berbincang dan berdiskusi. Kalau mereka ingin mengadakan selamatan di rumah.
Makanya siang itu tante langsung menelfon ibu-ibu grup ini. Minta pendapat mereka.
Awalnya mereka terkejut kalau kamu menikah. setelah tante ceritakan, semua ibu-ibu ini jadi bersemangat untuk ikut sibuk di acara selamatan ini.
Makanya sore itu mereka langsung membagi tugas untuk pergi kerumah-rumah, mengundang untuk acara hari ini.
Mereka juga tante bentuk panitia seksi sibuk di acara ini. Mulai dari belanja kepasar masak juga menghidang Dan menjamu tamu.
Buktinya acara kamu sukses.
Pasti ayah dan suami kamu senang". Jelas tante khaira.
Khaira jadi tersanjung, karena kesigapan dan kerjasama tante dan ibu-ibu itu. Walau mereka pasti mendapat uang lelah, tapi semangat mereka membuat acara ini selesai dengan baik.
__ADS_1
Apalagi khaira tidak begitu banyak keluarga di sini. Hanya keluarga ayahnya saja yang ada.
"Terima kasih ibu-ibu. Khaira sangat tersanjung dengan semua perlakuan ibu". Ujar khaira tulus.
"Sama-sama Ra. Kami juga senang membantu. Kamu itu anak yang baik, juga suka menolong.
Hanya ibu tiri kamu saja yang tidak bersyukur. Punya putri yang baik dan rendah hati". Jawab salah satu ibu.
Mereka sudah selesai mengerjakan pekerjaan beres- beres dan memanaskan lauk.
Menyisihkan ke dalam mankok dan di tutup di meja dapur.
Juga sudah dibungkus untuk mereka bawa pulang. Tidak lupa untuk pemuda dan bapak yang ber jaga di depan tadi.
Sedang asyik berbincang, terdengar suara orang berdebat di depan.
Khaira yang sedikit lelah dan mengantuk mengikuti para ibu yang berjalan keruang depan.
"Aku tidak terima mas, aku yang istri kamu tidak kamu bolehkan masuk kerumah sendiri.
Kamu malah menyuruhku pulang kerumah orang tuaku".
Ternyata ibu tiri khaira yang datang bersama ketiga anak nya.
"Kamu ini khaira, sudah menikah malah minta di adakan pesta pada ayah kamu.
Harusnya kamu sadar diri, kalau sudah menikah itu tanggung jawab ayahmu sudah tidak ada lagi padamu". Ujar ibu tiri khaira.
Dia menarahi khaira ysng baru datang dari belakang.
"Kamu tidak bisa melarangku untuk memberikan aoapun pada putriku.
Khaira putri kandungku. Sampai kapanpun dia masih putriku.
Walaupun dia sudah menikah, dan semua tanggung jawabku sudah kuberikan pada suami nya, aku akan menyediakan waktu untuknya". Jawab ayah khaira berbicara lembut. Tidak emosi.
"Tidak bisa mas, ketiga anak kita masih membutuhkan biaya lebih. Kamu jangan fokus pada khaira saja". Ujar ibu tiri khaira tidak terima.
"Iya yah. Aku tahun depan lulus sma. juga akan mau masuk perguruan tinggi. butuh banyak biaya yah". Ujar si sulung, saudara tiri khaira.
"Itu semua bukan tanggung jawabku Nila. Aku akan bantu jika aku mampu. Tidak sepenuhnya". jawab ayah khaira pada anak sambungnya.
"Tidak bisa mas. kamu harus membiayai Nila kuliah. karena itu adalah impiannya dari dulu untuk kuliah. Biar bisa bekerja di bank.
Dan juga, kamu sekarang penanggung jawabku dengan ketiga putriku". Jawab ibu tiri khaira.
Khaira menarik nafasnya pelan. Karena waktu dia lulus sma dua tahun yang lalu, dia juga ingin kuliah.
Ayahnya mengizinkan dia kuliah. Karena dia dapat undangan di universitas negri di ibu kota provinsi.
Tapi ibu tirinya tidak mengizinkan dia untuk kuliah, dengan alasan anak dia perempuan.
Dan entah apa yang dia ucapkan waktu itu, hingga ayah khaira tidak mengizinkannya kuliah.
Khaira yang malas mendengar perdebatan itu, dia beringsut saja mundur untuk masuk kekamarnya.
Dia malu, terutama pada suaminya. Yang mengetahui kalau keluarganya kacau.
"Aku mau istirahat dulu tante, ibu-ibu". Ujar khaira melewati mereka.
Karena dia tidak sanggub melihat ayahnya selalu di atur dan dimarahi ibu tirinya.
.
.
__ADS_1