
Khaira dan Nofri baru saja mendarat di bandara yang ada di pulau wisata terbesar.
Khaira sangat senang. selama di perjalanan dan pesawat tadi tidak henti-hentinya tersenyum dan bikin vidio.
Nofri membiarkan saja aksi istrinya itu. Paham kalau ini kali pertamanya istrinya naik pesawat. Tentu sangat berkesan dihatinya.
Saat berjalan turunpun khaira sibuk berfoto. Selesai mengambil bagasinya, Nofri mengiring istrinya keluar dari bandara.
Nofri mengeret kopernya, dan satu tangannya membimbing tangan istrinya, yang sibuk membuat Vudio.
"Sudah kay?. Mobil jemputan sudah datang tuh". Nofri mengingatkan.
"Sebentar bang. ponselku lelet. Mungkin sudah oenuh memorinya. Jadi susah buat menyimpan Vidio". Jawab khaira.
Mereka berdiri di depan mobil hotel yang menjemput mereka. Sang supir menaikan koper mereka.
Nofri melihat kearah tangan istrinya, yang mengutak-atik ponselnya. Terlihat android biasa.
"Pasti memorinya sudah penuh. Seri lama ponselmu itu". Ujar Nofri.
"Iya. Aku mau hapus beberapa foto dan vidio. Biar bisa berfoto nanti.
Tidak lucukan, liburan jauh- jauh tapi tidak punya foto". Ujar Khaira.
"Jangan dihapus, sayang kalau dihilangkan. Nanti kamu kalau mau foto pakai ponselku saja". Ujar Nofri.
Mendorong istrinya masuk ke mobil.
"Ok. Ponsel abang kan bagus. Pasti hasil fotonya juga bagus". Ujar Khaira senang sambil tersenyum.
Nofri hanya geleng-geleng kepala. Melihat tingkah istrinya yang terlihat bahagia.
Liburan dan foto dengan ponselnya.
Maka mereka menaiki mobil untuk menuju hotel. Sebelum keluar bandara, mereka ditawarkan oleh supir hotel berfoto di merek bandara internasional di pulau wisata ini.
Tentu saja dengan ponsel Nofri.
Mereka sampai di hotel pas makan siang, dan mereka langsung makan di restoran hotel dulu, sebelum memasukan koper mereka di kamar.
Hotelnya bukan hotel berlatar villa. Yang penuh nuansa tradisional.
Hotelnya hotel yang berada di tengah kota, masih di tepi pantai. Dan kamarnya berada di lantai sebelas. Hingga laut lepas terlihat dari ketinggian.
"Selesai makan ini kita kemana?!". Tanya khaira.
"Kita sore nanti jalan. siap makan siang ini istirahat dulu sampai sore.
Kamu bisa lihat pemandangan dari kamar hotel saja dulu". Usul Nofri.
"Ok. Pasti pemandangan lautnya bagus dari kamar". Ujar Khaira.
"Pasti. Kamar hotel yang di pesan menghadap laut". Jelas Nofri.
"Asyik. Pasti sunsetnya bagus dilihat dari atas.
Ayi cepat selesaikan makan nya bang". Ucap khaira tidak sabar.
Menyuap makanannya, supaya lekas habis.
__ADS_1
"Ayo!". Ucap Nofri.
Khaira mengiringi suaminya memasuki lift. Mengeret koper, menuju kamar mereka di lantai atas.
"Wah.. Cantiknya kamarnya bang". Ujar khaira saat baru masuk kekamar.
Dia langsung menelusuri kamar besar dan bagus itu. Sambil tersenyum.
"Lautnya juga luas dan indah dilihat dari atas sini". Ujar khaira.
Menyingkap kain Gorden, kaca pembatas kamar dan balkon.
"Jangan keluar dulu. Itu bongkar dulu kopernya, biar pakaian di pindah kelemari". Ujar Nofri melarang Khaira membuka pintu balkon.
"Ingin melihat dari luar sebantar bang". Ujar Khaira.
"Tiga menit saja. Setelah itu sholat, bongjar koper dan istirahat.
Karena sore nanti kita keluar". Ujar Nofri memasuki kamar mandi.
"Baik bang!". Ujar khaira senang.
Dia membuka pintu kaca pembatas. Lalu keluar, berdiri di balkon.
Memandang lautan lepas yang membiru.
"Hmm pantas abang melarang keluar sekarang. Panas banget". Ujar Khaira meniknati lukisan alam nan indah.
Lalu dia masuk kekamar saat mendengar pintu kamar mandi terbuka. Berarti suaminya sudah selesai berwudhu.
Selesai mereka sholat berjamaah, Nofri rebahan di kasur. Dan khaira menyusun pakaian di lemari. Serta menyimpan koper dalam lemari itu.
Cemilan yang dia bawa dari rumah untuk di pesawat tadi. Tapi dia tidak menyentuhnya karena sibuk berfoto dan merekam vidio.
"Kemana?!". Tanya Nofri.
Saat melihat istrinya menuju balkon.
"Mau nongkrong ke balkon. Menikmati pemandangan". Jawab Khaira.
"Tidur dulu untuk istirahat". Tawar Nofri.
"Aku tidak biasa tidur siang bang. biasa ditoko juga". Jawab Khaira.
"Ya terserahlah. Aku mau tidur sebentar. Kamu jangan keluar tanoa izinku". Ujar Nofri mengalah.
Membiarkan istrinya duduk di balkon kamar. Dia ingin tidur sebentar, karena mengantuk.
Semalam dia tidak bisa tidur nyenyak, karena semalaman tidur di peluk istrinya.
Membuat tubuhnya panas dingin.
.
"Sakitnya... perutku sakit..". Teriak yulia yang sedang mengalami pendarahan.
Dia yang semalam meminum pil hitam tiga biji merasakan reaksinya pagi tadi. Bahkan sampai siang ini perutnya masih terasa sakit yang amat sangat.
"Tahan sebentar yulia. Ini termasuk lama reaksinya. Biasanya orang minum pil itu reaksinya empat jam, dan keluar sekitar dua jam setelah itu.
__ADS_1
Tapi kamu kok sudah lebih delapan jam baru bereaksi. pasti janin itu tidak mau keluar.
Tapi kalau tidak keluar satu jam lagi, kamu tambah minum pilnya.
Kita tunggu saja". Ujar wanita itu.
Yulia yang kesakitan menangis, sakitnya sangat menusuk dan membuat perut bawahnya seperti di remas dan di putar.
"Sakit... ". Teriak Yulia.
"Tahan yulia, mungkin sebentar lagi janin itu keluar. Aku waktu itu juga begitu. perutku seperti di masukan blender. Sangat sakit.
Tapi setelah dia keluar, lega rasanya". Ujar wanita lain yang menemaninya.
Yulia di temani oleh dua orang teman yang sama pekerjaan mereka, penjaja kenikmatan.
Diluar kamar juga ada beberapa wanita, seprofesi dengan mereka. Bahkan juga akan meminum pil laknat itu, karena kebobolan.
Yulia menangis, dan sesuatu keluar dari pangkal pahanya.
"Sudah keluar Yulia". Ujar teman yang senior.
Melihat gumpalan bercampur darah membasahi perlak yang ada.
teman yang satunya membantu memegang perut bawah khaira, membuat darah segar banyak keluar.
Dengan cekatan mereka membersihkan semua sampai bersih. Dan rapi.
Bahkan memasangkan pembalut dan menutupi kaki yulia dengan selimut.
Nafas yulia sesak tidak beraturan. karena menahan sakit.
"Kamu jangan banyak bergerak dulu. Tubuhmu masih lemas". Ujar wanita senior itu.
Khaira yang masih lrmas dan pucat hanya bisa menahan tangis, sakit yang dia rasa sangat meremukan perutnya.
"Kamu di temani dia dulu. Kalau ada apa panggil saya.
Si Anita dan Ona juga mau minum pil. Aku mau kesana dulu". Ujarnya.
Lalu dia keluar dari kamar yang Yulia tempati.
"Kamu bisa istirahat dua minggu ini. kalau mau bekerja lagi sebaiknya hati-hati.
Biar aman pasang kb saja. Tidak kebablasan seperti ini.
Mengeluarkan janin itu hampir sama sakitnya dengan melahirkan. Bedanya hanya besar kecil janin saja yang keluar". Jelas wanita yang menemani Yulia.
"Untung kak Mery baik. Mau bantu kita yang kebablasan. Dia tidak hanya bantu kita cari pelangan yang mau dilayani.
Tapi juga mau bantu membersihkan janin yang tidak diinginkan". Tambahnya.
Yulia hanya mendengar sambil memejamkan matanya. Karena perutnya masih sakit, dan merasakan darah sesekali mengalir di bawah sana.
Dia merasa senang janin itu keluar dengan lancar. Setelah sembuh, dia akan kembali mendekati Nofri. Atau kalau bisa mencari yang lebih kaya lagi.
.
.
__ADS_1