
"Pak. Apa bapak yang akan mengunci warung?". Tanya anak buah ayah khaira.
Warung yang sudah tutup dari menjelang magrib tadi. Dan juga sudah selesai menyiapkan yang akan di jual besok.
Biasa setelah sholat magrib mereka sudah pulang. Sedangkan sekarang pak iman masih betah duduk di kursi yang ada dindapur..
Lampu warung pun sudah di padamkan. Tinggal yang di dapur saja.
Semua yang sudah masak juga sudah di tutup rapi dan di letakan di atas meja biar aman. Agar tidak bisa di ganggu binatang malam penjaga pasar.
"Iya, kamu duluan saja. jangan lupa bawa kunci kamu. Nanti aku kunci dengan cadangan yang ada padaku". Ujar pak iman.
"Baik pak. Aku duluan pulang". Ujarnya.
"Iya". Jawab ayah khaira.
Teman yang lain juga sudah pulang setelah selesai magrib tadi.
"Malas rasanya untuk pulang. Tapi aku harus segera menyelessikan satu-satu permasalahan.
Aku tidak akan membayar angsuran motor lagi. Biar mimi yang akan usahakan.
Juga soal hutang yang aku tidak ketahui, tidak akan ikut bertanggung jawab. Biar mimi yang bertanggung jawab". Gumam ayah khaira.
Setelah duduk sebentar, ayah khaira berdiri dari duduknya. Bersiap untuk pulang.
Memeriksa kompor dan juga alat masak lainnya sebelum keluar warung. Juga tidak lupa dia mematikan sekring lampu. agar tidak ada arus pendek.
Bersiap untuk pulang mengendarai motor lamanya yang masih terawat.
Lima belas menit mengendarai motor, ayah khaira sampai di rumah. Dengan suasana rumah yang hening. Sepi.
Tapi pintu rumah tidak terkunci. Ayah khaira tidsk ambil pusing.
Dia masuk kekamarnya. Bukan kamar, tapi ruang makan yang dibatasi lemari jadi ruang tidurnya sekarang.
Setelah mengambil baju ganti, ayah khaira memasuki kamar mandi untuk bersih-bersih. setelah seharian bekerja di warung.
Tidak lupa dia langsung mencuci oajauan yang dia pakai. Walaupun punya istri, mimi tidak pernah mencucikan pakaiannya. Khairalah selama ini yang mengerjakan untuknya.
__ADS_1
"Kamu sudah pulang mas. Aku baru saja dari rumah sakit. Liona jatuh dari motor, dan dia membonceng susan". Ujar mimi.
Berbicara tanpa di tanya saat melihat ayah khaira keluar kamar mandi.
"Oo...".
Itu saja ucapan ayah khaira. Dia langsung pergi ke gang samping rumah untuk menjemur pakaian yang dia cuci.
Terdengar sibuk-sibuk di depan rumah.
"Sakit ma. Aduh...".
"Tanganku juga sakit".
"Tahan sebentar. Nanti sudah duduk dan tiduran bisa tenang".
"Jangan cepat jalannya".
"Sakit.. Jangan kuat pegang tangannya".
Banyak lagi ucapan dari kedua putri mimi yang cedera. Katanya jatuh dari motor.
Ayah Khaira pun menuju kedepan. Melihat putri sambungnya yang terdengar sedang meringis kesakitan.
Sementara susan tangannya di balut perban penuh. Seperti patah tulang atau terkilir. Ayah khaira tidak tahu.
Mereka didudukan di karpet yang terbentang di ruang tamu. Hanya satu karpet.
"Dimana jatuh tadi?". Tanya ayah khaira pada pria yang membimbing Liona.
Setelah kedua putri sambungnya duduk dengan tenang lesehan di karpet.
"Di perempatan depan pak. Dekat pasar pagi. Tapi mereka bukan jatuh, motor mereka menabrak gerobak pedagang buah.
Sepertinya mereka ngebut, hingga tidak bisa mengelak orang yang berjalan di pinggir". Jawab orang itu.
Ayah khaira melihat istrinya. Ternyata istrinya berbohong, bilang putrinya jatuh dari motor.
"Luka kalian bagaimana?. Apa tidak parah?". Tanya ayah khaira pada putri sambungnya.
__ADS_1
"Tangan susan patah mas. Sedangkan Liona lecet-lecet. Kepalanya juga luka". Ujar Mimi.
Kedua putri sambungnya hanya diam tidak menjawab. meringis saat mereka memperbaiki duduk mereka.
"Motornya rusak parah mas. Sekarang di titip di bengkel dekat perapatan". Tambah Mimi.
Ayah khaira memang tidak berniat untuk memperbaiki. Selain tidak punya uang, juga malas melihat putri sambungnya itu sok-sok an jika mengendarai motor.
Dia sudah sering melihat putri sambungnya itu berkeliling motoran dengan teman- temannya.
Ada saja tujuannya pergi dengan motor.
Tapi dia tidak pernah di dengar saat berbicara. Bahkan istrinya juga melarang dia untuk menegur putri sambungnya itu.
Ayah khaira meninggalkan ruang tamu yang masih ramai oleh orang yang menolong tadi.
Ayah khaira pergi kedapur untuk minum. Sebab istrinya tidak pernah menyambutnya dengan minum atau memasak untuk makan bersama.
Setelah minum dia sempatkan untuk melihat tudung saji, mana tahu ada makanan untuk makan malam.
Kosong. Hanya ada piring berisi sepotong telur dadar dan sambal.
Ayah khaira tidak berniat untuk makan. Karena tadi sore dia sudah makan. Seandainya nanti lapar dia akan bikin mi saja.
Ayah khaira memang jarang membawa makanan dari warung makannya. Dia pernah tersinggung oleh putri ssmbungnya.
Jika dia membawa lauk.atau makanan jualan warung. Dikatakan nakanan sisa karena tidak laku di jual.
Makanya dia tidak pernah lagi membawa untuk istri dan putri sambungnya itu.
Hanya membawa untuk makan malam khaira saja.
Selesai sholat isya, ayah khaira pergi tidur ke kasur di kamar dadakannya, di balik lemari pakaian.
Walau masih terdengar ringisan dan erangan kesakitan kedua putri sambungnya.
Tapi dia harus tidur, untuk mengistirahatkan tubuhnya yang lelah. Hatinya juga.
.
__ADS_1
.
.