
Benar seperti rencana Nofri. Selesai sholat ashar, dia mengajak istrinya untuk jalan sore.
Nofri mengajak khaira kepantai dekat hotel saja. Berjalan menyusuri pantai yang berpasir lembut.
Banyak wisatawan dan warga yang sedang menikmati sore. Sinar matahari yang masih terik tidak membuat jiwa pengunjung surut untuk bermain di bibir pantai.
Bermain pasir dan bermain ombak.
Walau bukan akhir pekan, tapi pantai tetap ramai pengunjung tidak begitu sepi.
Khaira bermain di bibir pantai, berlari mengejar ombak. Dan saat ombak mendekat dia lari ketepi.
Untung tadi Nofri mengatakan pada istrinya untuk memakai celana sebetis dan baju lengan panjang. Agar bisa bermain ombak tanpa melipat celana keatas.
Dan juga tidak lupa dia membelikan topi pantai yang lebar untuk istrinya.
Sedangkan Nofri duduk santai di kursi santai di bawah payung warna warni, sambil menikmati es kelapa muda dan cemilan.
Sudah hampir setengah jam khaira bermain ombak berpanas-panasan. Tapi tidak menyurutkan hatinya untuk berteduh.
Dia sangat menikmati waktu bermain ombak. Dia sangat jaranf bermain di pantai. Bisa di hitung dengan jari.
Itupun dulu, waktu masih sd. dan hanya pantai yang ada di jakarta. ombaknya tidak begitu besar.
Sedangkan di sini, ombaknya begitu mengoda. Besar dan panjang pantainya.
"Key. Sini dulu!". Panggil Nofri pada istrinya.
Dia melihat istrinya yang sudah berkeringat, dan sedikit basah kaki celananya.
Untung saja baju yang di pakai isttinya berlengan panjang. Juga sudah memakai topi lebar.
Khaira mendekati tempat duduk suaminya di bawah payung besar.
__ADS_1
"Bagus pantainya ya bang. Ombaknya juga asyik". Ujar Khaira.
Dia duduk di kursi santai yang ada di bawah payung itu. Di samping kursi santai suaminya. Dan meminum kelapa muda yang sudah berada di atas kursi santai.
"lihat wajahmu. Sudah memerah. Nanti kulitmu hitam dan mengelupas". Ujar Nofri.
Dia heran, istrinya seperti anak kecil. Bermain ombak, berlarian. Membiarkan kulitnya terpapar matahari.
"Hitam sedikit tidak apa bang. Yang penting main ombaknya puas". Ujar Khaira tersenyum senang.
"Dan juga, ini pertama kali aku main di pantai yang bagys dan luas.
Waktu kecil di jakarta aku ada beberapa kali main ke pantai. Ombak dan pantainya kecil, kurang ayik bermain. Cuma main pasir saja". Tambah Khaira.
"Kamu seperti anak kecil baru di lepas main". Ujar Nofri.
"Aku suka alam bang. Suka bermain dan lari-larian saat di taman. Aku juga suka jalan kaki. meski keliling perumahan atau di pasar". Jawab khiara.
"Iya. Di pasar itu kita bertemu banyak orang. Walau tidak saling kenal semua suka tersenyum dan menyapa.
Saling tersenyum juga tertawa". Jawab khaira.
"Kenapa mereka saling senyum dan menyapa?!". Tanya Nofri heran.
Setahunya orang di pasar sering berantem. Seperti preman, tukang parkir, maupun sesama pedangang.
"kan pedagang menaear barang dagangannya oada yang lewat memangil sambil tersenyum ramah.
Pembelipi begitu, tersenyum menawar agar harganya duskon". Ujar khaira.
Nofri mengangguk saja mendengar ucapan istrinya itu. Tentu para pedagang harus ramah.
Dia melihat sisi lain istrinya itu. Berfikir santai dan asal.
__ADS_1
Yang dia tahu Kalau di toko khaura tidak banyak bicara. tapi gesit saat melayani pelanggan yang datang.
Bergaul dengan sesama rekan kerja di toko pun sangat akrab. Sering di ajari senior. Karena dia karyawan termuda diantara karyawan toko orang tuanya.
Saat di tokopun Nofri jarang berintegrasi dengan khaira. Karena sangat jarang ketoko.
Nofri yang sebagai arsitek, sibuk di kantornya yang berada di ruangan bagian belakang toko. Sementara akhaira hari- harinya berada di dalam toko. melayani pembeli.
Keruang belakang hanya saat istirahat. Makan siang dan sholat di ruang bagian belakang. Melewati ruang kerja Nofri.
Jadi Nofri hanya akan melihat khaira lewat saja. Jarang bertegur sapa.
Makanya mereka kurang dekat.
Selama setahun belakangan semenjak Nofri fokus bekerja di ruang kerjanya yang ada di ruko irang tuanya. Dia tidak begitu dekat dengan khaira.
Tapi. Sekarang malah menjadi istrinya. Istri yang tidak begitu dia kenal sifatnya.
"Kamu mau melihat sunset di sini atau dari kamar?". Tawar Nofri.
"Aku ingin lihat disini bang. ingin merasakan angin pantai". Jawab Khaira jujur.
"Baik. Tapi kamu tidak boleh ke tepi pantai lagi. Ombaknya sudah mulai tinggi". Ujar Nofri mengingatkan.
"Hhmmm. Baik bang". Jawab khaira.
Setelah melihat ombak memang sudah agak tinggi. Jilatan air ombak yang tadi jauh dari mereka duduk. Sesekali sudah sampai ke dekat mereka.
Menandakan pasang sudah mulai naik. Padahal jarak bibir pantai dengan payung tempat mereka duduk ada sekitar sepuluh meter lebih..
.
.
__ADS_1