
Nofri yang matanya belum mau terpejam, masih tidur telentang menandang langit-langit kamar.
Kamar penganten yang berada di rumah khaira. Istrinya.
'Apa semenderita itu dia tinggal bersama ibu tiri dan saudara tiri.
Padahal dia sudah besar, dan tidak mungkin mudah untuk menindasnya'. Fikir Nofri.
Melihat punggung istrinya yang sedang tidur. mungkin sudah tertidur pulas atau pura-pura tidur, dia tidak tahu.
Pagi sekali Nofri terbangun. Dia belum mendengar azan subuh. Lalu dia melihat jam di meja rias, masih pukul tiga pagi.
Tapi dia tidak mendapati istri nya tidur di sisi tempat tidur.
"Kemana dia?". Pikir Nofri.
Dia berniat untuk bangun, ingin mencari istrinya keluar. berfikir kalau istrinya itu marah, karena ucapannya semalam. Yang mengatakan kalau istrinya itu merasa beruntung menikah dengannya, karena anak orang kaya.
Dia merasa menyesal mengucapkannya. karena dia tidak berniat untuk itu. Apalagi menyombongkan kekayaan krang tua.
Tapi saat dia mengangkat kepalanya untuk bangun. Terlihat kepala yang tertutup mukena duduk membelakangi tempat tidur.
Mungkin sedang Sholat malam. Fikirnya.
Dia merasa sedikit senang, ternyata istrinya tidak kabur untuk tidur keluar kamar.
Dia kembali meletakan kepala nya ke bantal. Untuk tiduran lagi.
Matanya pun tidak lagi mau tertidur, entah kenapa.
Lama dia telentang sambil melihat langit-langit kamar. dan sesekali melihat kearah istrinya yang masih duduk di sana.
Tidak bergerak.
"Apa dia tertidur duduk karena selesai sholat". Ucap Nofri dalam hati.
Dilihatnya sudah lewat pukul empat, berarti sudah lebih satu jam dia telentang. Dan mungkin istrinya sudah lebih satu jam juga duduk.
Dia segera duduk untuk melihat istrinya yang tidak bergerak dari tadi. Dia cemas.
Tapi. Mendengar pergerakan dari tempat tidur, Khaira membenarkan mukenanya. Sambil sebelah tangannya menutup wajahnya. Seperti mengusap sesuatu.
"Kamu cepat bangun?". tanya Nofri.
__ADS_1
Dia sudah mendemati bagian bawah tempat tidur. Kearah istrinya.
"Sudah tidak mengantuk". Jawab khaira.
Suaranya sedikit berubah. Mungkin..
"Kamu kenapa menangis?. Apa ada yang sakit?". Tanya Nofri.
Dia tahu istrinya itu sedang menangis suaranya berubah.
"Tidak. Aku tadi sedang mengaji, karena tidak bisa tidur". Jawab khaira.
Nofri tidak bertanya lagi. Dia melihat istrinya sedang berusaha menghapus air matanya.
Tanpa berbicara lagi, khaira meletakan Al-qur'an yang baru dia baca di atas rak di samping meja Rias. Juga mukenanya.
Lalu dia menuju pintu kamar. Setelah memakai jilbab instannya.
"Kemana?". Tanya Nofri.
"Mau kekamar mandi bang". Jawabnya.
Nofri tidak menahannya. Mungkin istri nya itu sedang kebelet atau mau berwudhu kembali.
Nofripun ingin menyusulnya, tapi takut istrinya tidak nyaman. Dia duduk bersandar di kepala tempat tidur. Menunggu istrinya masuk kamar.
Sekitar lima belas menit, barulah khaira masuk ke kamar. Ternyata dia baru saja mandi. Terlihat dari dia yang memakai baju gamis.
Baju yang berbeda dari yang dia pakai keluar tadi. Dan juga..
Rambutnya di gulung handuk.
Hal itu membuatnya tersenyum sendiri. Melihat pemandangan subuh.
"Baru mandi besar ya?". Ujar Nofri.
Membuat Khaira menghentikan langkahnya. Melihat heran pada Nofri.
"Maksudnya?". Tanya Khaira.
Nofri menunjuk handuk yang membungkus rambut di kepala istrinya.
"Ah .. Itu..
__ADS_1
Aku sudah biasa mandi subuh kok". Jawab khaira gugup.
Setelah tahu maksud suaminya itu. Tapi berusaha santai. Dia duduk di kursi meja rias untuk mengeringkan rambutnya.
"Oo.. ". Ujar Nofri.
Diapun bangkit dari duduknya. Untuk pergi ke kamar mandi juga.
"Tunggu aku. Kita sholat subuh bersama". Ujar Nofri sebelum keluar dari kamar.
Khaira lalu mengeringkan rambutnya, dengan mengibas kan saja.
Sebelum suaminya memasuki kamar, khaira menyudahi saja mengeringkan rambutnya.
Rambutnya tidak begitu panjang, hanya lewat bahu sedikit. Dan jika diikat hanya sampai tengkuk saja.
Seperti yang diucapkan Nofri, merekapun sholat subuh berdua.
Pukul enam pagi, mereka keluar dari kamar. Khaira pergi kedapur untuk membuat kopi untuk suaminya, dan juga membawa cemilan peneman minum kopi pagi.
Ternyata om dan sepupunya sedang ngopi juga di ruang tengah. Tapi ayahnya tidak ada.
"Ayah kemana om?". Tanya khaira.
"Ayahmu belum pulang dari mesjid. Tadi kemi ke mesjid subuh dan kami pulang duluan.
Kedua sepupu kamu juga mau pergi kuliah". Jawab om khaira.
"Iya. Aku ada kelas pagi ini". Jawab salah satu sepupu khaira.
"Om juga mau ke toko. Nanti siang om kesini lagi.
Tante kamu akan bantu beres- beres bersama ibu yang membantu kemaren.
Mereka akan mengemasi dan mengembalikan peralatan yang di pinjam dari kelompok ibu-ibu itu.
Uang sewa peralatannya juga kemaren sudah di urus para ibu itu". Jelas om khaira.
"Baik om. Aku akan bantu tante untuk berberes". Jawab khaira.
.
.
__ADS_1