Jadi Penganti

Jadi Penganti
Mencari Makanan


__ADS_3

Selepas sholat magrib, Nofri mengajak Khaira untuk keliling di warung tenda yang ada di sepanjang jalan menuju hotel.


Mereka berjalan beriringan. Tidak seperti suami istri atau pacaran. Mereka berjalan ber jarak. Kadang Khaira agak kebelakang saat berjalan.


Banyak minuman dan cemilan yang di jajajan pedagang. Tapi khaira hanya tertarik dengan kerupuk dan buah.


"Tidak mau beli itu atau itu?!". Tanya Nofri.


Menunjuk jajanan masa kini yang di sukai perempuan. Seperti makan ala korea dan jepang, versi indonesia.


Ada ramen dan sushi. Juga tersedia di warung tenda sepanjang jalan.


"Tidak bang. Aku mau cari yang kering-kering saja". Tolak khaira.


"Yang kering bagaimana?. Kerupuk?". Tanya Nofri.


Heran dengan istrinya. Biasanya teman wanitanya sangat suja jika di tawarkan makanan ala-ala korea begitu.


Tapi khaira tidak mau.


"Sejenisnya. kerupuk atau biskuit". Ujar khaira.


"Apa kamu tidak lapar?. Kan kita bisa makan disini. Kamu mau makan apa?". tanya Nofri.


Mengajak Khaira makan.


"Kalau makan aku mau ayam geprek atau pecel ayam.


Apa abang sudah lapar?". Tanya Khaira.


"Sedikit". Jawab Nofri.


"Ayo kita makan dulu. Nanti abang pingsan kalau telat makan". Ujar Khaira.


"Tidak begitu juga kali kay. Lagi pula aku tidak kelaparan juga". Ujar Nofri.


"Oo..


Kita keliling dulu bang. Nanti baru kita cari makan. Mungkin banyak pilihan". Ujar Khaira.


"Ok". Jawab Nofri.


Maka mereka berjalan di jalan sepanjang pantai. Deburan ombak terdengar kencang. Karena angin malam berhembus kencang.


"Aku mau beli itu bang!". Tunjuk khaira.


Kearah tenda yang menjual cemilan. Terpajang aneka cemilan khas pulau ini.


"Ayo". Ujar Nofri mengajak istrinya mendekat.


"Ini saja bang". Ujar Khaira.


Mengambil dua jenis keripik buah. keripik buah salak dan buah nangka.

__ADS_1


"Hanya itu?". Tanya Nofri heran.


"Iya. waktu itu di toko ada yang bawa keripik ini. Aku suka. Tapi satu bungkus untuk bersama. Aku ingin beli. Tapi katanya oleh-oleh". Jawab khaira jujur.


"Keripik ini ada di jakarta kok. di toko oleh-oleh besar". Ujar Nofri.


"Aku kurang tahu bang. Waktu itu teman bilang oleh-oleh dari bandung.


"Di toko pusat oleh- oleh yang besar ada menyediakan. Bukan hanya dari bandung saja meeka jual.


Dari sumatra, kalimantan. Bahkan dari luar negripun juga ada". Jawab Nofri.


Dua mengambil keranjang dan memilih beraneka jenis keripik buah. Juga keripik khas lainnya.


"Banyak sekali bang. Apa abang beli untuk oleh-oleh sekalian?". Tanya khaira.


"Bisa jadi. Kalau habis salama disini, kita belu lagi. Kan kita seminggu di sini". Jawab Nofri.


keranjang yang tadi hanya isi dua bungkus, menjadi dua kantong besar.


"Ayo. Kita cari makan dulu. Sudah lewat pukul delapan". Ujar Nofri melihat jam di pegelangan tangannya.


"Baik bang. Kita makan apa?". Tanya Khaira.


Melihat warung yang menjual makanan.


"Apa kita makan di hotel saja. Kalau kamu tidak mau dan malu makan disini". Ujar Nofri saat melihat istrinya ragu melihat warung tenda.


Dia berpendapat kalau istrinya malu makan di warung tenda. Sama dengan beberapa wanita yang pernah dekat dengannya.


"Siapa yang malu bang. Aku ragu mau makan ayam geprek nasi apa bakso.


Kalau makan bakso nanti malam lapar lagi. Mau makan nasi lagi ingin bakso". Jawab Khaira lengkap.


"Ya makan bakso saja dulu. Nanti beli bubgkus ayam gepreknya". Ujar Nofri langsung masuk tenda bakso.


"Boleh?". Tanya khaira.


Mengikuti suaminya yang sudah duduk di kursi penjual bakso.


"Boleh. Kamu pesan saja. Buat makan di hotel nanti". Jawab Nofri.


Sambil memesan bakso dua porsi.


"Abang juga mau ayam gepreknya?. Biar aku pesan". Tanya Khaira.


"Boleh". Jawab Nofri.


Khaira mau berdiri untuk memesan ayam geprek yang ada di samping tenda bakso.


"Biar saya panggil saja kesini tukang ayam gepreknya mbak". Ujar pelayan.


Seolah tahu keinginan Khaira.

__ADS_1


"Ok". Ujar khaira kembali duduk.


Saat bakso lesanan nereka datang, bersamaan dengan tukang ayam geprek tiba.


"mau pesan ayam geprek mbak?!". Tanya penjual ayam geprek.


"Iya mas. Aku pesan dua potong ayam. Dan yang satu cabenya di pisah ya mas". Ujar khaira.


"Baik mbak. Di tunggu ya". Ujarnya.


Lalu khaira memulai makan bakso. Tanpa di beri teman- temannya. Seperti kecap sais dan cabe.


Hal itu membuat Nofri heran. Melihat istrinya makan bakso polos.


Sangat aneh terlihat oleh nofri. Biasa wanita suka makan pedas, hingga kuah bakso berwarna merah.


"Kenapa tidak pakai itu". tanya Nofri menunjuk kecap dan cabe.


"Nanti. Mau makan begini dulu". Jawab khaira.


Dia menyuap bakso yang ada di mangkoknya. Mencomot beberapa buah bakso. Juga mie nya.


Setelah menyuap beberapa suap. Khaira lalu menambah kecal saos dan cabe. Lalu memajannya hingga habis.


Bahkan baksonya lebih dulu habis dari suaminya. Nofri.


"Abang belum habis?". Tanya khaira.


Melihat mangkok bakso suaminya masih setengah.


Nofri mengeleng saja. Lalu menyuap habis baksonya.


Setelah menghabiskan bakso dan ayam geprek mereka juga sudah siap. Maka mereka kembali berjalan ke hotel, uang tidak jauh dari sana.


Sesampai di hotel, mereka istirahat sejenak. Belum bersih- bersih. Karena capek dan juga masih kenyang.


"Besok rencananya mau sewa motor, untuk keliling. kamu mau ikut tidak?". Tanya Nofri.


Mereka duduk santai di balkon hotel.


"Mau.. Mau..


Kemana rencananya motoran bang?". Tanya khaira.


"Keliling saja. Menyusuri kota dan ke tempat wisata yang ada". Jawab Nofri.


"Asyik. Aku sangat suka naik motor. Keliling-keliling". Jawab Khaira senang.


Dia sangat suka naik motor. Karena dari kecil dia dan abangnya sering diajak ayahnya motoran keliling kampung, kadang ketaman.


.


.

__ADS_1


.


__ADS_2