
"Aku tidak mau yah. Rumah ayah tidak bisa menampung kami". Tolak Mimi. Ibu tiri khaira.
Pagi menjelang siang orang tuanya berbicara padanya. Tadi sepulang sholat subuh, dia mengajak menantunya untuk berbicara di rumah anak bungsunya.
Membicarakan perihal anak dan cucunya yang sudah membuat masalah di rumah mereka.
"Kamu harus pilih Mi. Mau tinggal dengan Iman atau dengan anakmu.
Kalau mau ikut iman, biarkan anakmu tinggal dengan kami. Kalau tidak...".
"Tidak bisa yah. Kalau mas iman masih menganggab aku istrinya, aku akan bawa anakku kemanapun aku mau.
Kalau tidak. Aku tidak mau tinggal disana". Potong Mimi.
"Ok. Kalau kamu tidak mau, kalian pisah rumah saja. Suruh iman pulang kesini sekali seminggu.
Aku tidak bisa melepas kalian tinggal bersama di sana.
Sudah beberapa tetangga yang ayah datangi, untuk mencari tahu kebenaran sikap kamu selama ini tinggal disana.
Kamu cukup kurang ajar pada suami juga anak tirimu.
Kamu bayangkan saja hidup sebelum menikah dengan iman.
Tinggal di sini dan suami malas.
Untung ada iman yang baik. Mau menikahi kamu". Ujar ayah Mimi.
"Tapi yah...".
"Tidak ada tapi-tapian.
Tinggal disini atau iman pulang sekali seminggu kesini". Potong ayah mimi.
"Masa sih yah, tinggal hanya berseberangan jalan raya pulangnya sekali seminggu.
Itu bukan suami istri namanya yah". Tolak Mimi.
__ADS_1
"Terserah kamu. mau tinggal disana tanpa membawa anak, atau kalian tinggal disini.
Ayah malu mendengar perangai kamu dan anak-anak mu pada anak Iman itu.
Kalian yang sebenarnya menumpang. Tapi malah kalian jadikan dia seperti pembantu". Marah ayah mimi.
"Itu tugasnya yah, kan rumah itu ayahnya yang mengontrak. Ya dia dong yang bertanggung jawab membersihkan". Bela Mimi.
"Tahu kamu kalau ayahnya yang mengontrak. Berarti memang kalian menumpang disana.
Maka dari itu anak-anakmu itu tidak boleh tinggal disana". Ujar ayah mimi telak.
"Kamu tinggal di sini agar ayah bisa lihat. Bagaimana kamu melayani suami kamu.
Dan kamu tidak bisa menolak. Ayah sudah putuskan itu". Ucap ayah Mimi.
"Tapi yah....".
"Jemput pakaian anak-anak kamu semua. Jika kamu tidak mau pisah tinggal dengan anakmu, bawa sekalian baju kamu". Ucap ayah mimi.
"Disini ramai yah, tidak cukup kamar lagi". Teriak Mimi
"Kamu bikin kamar di tanah samping, buat kalian tinggal. Sambung saja dindingnya". Balas ayah Mimi.
Membuat Mimi kesal dengan perintah ayahnya.
Lima tahun hidup tenang di kontrakan bagus, sekarang balik lagi kerumah orang tuanya yang sempit.
"Aku tidak mau tinggal disini. Rumah ayah sempit, dimana aku akan tidur, anakku juga". Geram Mimi.
Dia berniat untuk mendatangi rumah yang biasa dia tempati dengan suami dan anaknya lima tahun belakangan.
Kontrakan suaminya cukup besar, ada tiga kamar. Ruang tamu dan dapur cukup bersih. Karena iman suaminya mengontrak rumah di perumahan.
Beda dengan rumah orang tuanya yang berada di perkampungan seberang jalan raya.
Rumah orang tuanya berada dalam gang dan juga sempit.
__ADS_1
Rumah orang tuanya memang punya empat kamar, tapi penghuninya banyak.
Ada juga tinggal disana adik laki-lakinya beserta dua orang anaknya, yang ditinggal kabur istrinya. Serta ada satu adik perempuannya yang belum menikah.
Padahal si bungsu adik laki- lakinya sudah menikah, dan mengontrak di rt sebelah.
Ruang tamu kecil, dapur yang sempit. Dan penghuni yang banyak, pasti akan membuat dia dan anak-abaknya tidak nyaman untuk tinggal.
Ingat saat dia dan suaminya dulu tinggal di sini.
'Aku akan bujuk mas Iman, agar mengizinkan aku dan anak-anakku tinggal disana.
Ketiga putriku sudah enak tinggal di perumahan, dan tidak perlu berebut tempat tidur dan makanan dengan tante dan sepupunya.
Dua malam kemaren kami tidur berdempetan di dipan usang kamarku yang sempit dan kusam.
Padahal di kontrakan ketiga anakku tidur di kamar bertiga dengan dipan yang bagus. Di kamar utama yang lebih besar dari kamar yang lain.
Walau bertiga, mereka punya kasur sendiri-sendiri. Beda dengan Khaira yang sendiri di kamar.
Makanya aku tempatkan dia di kamar belakang yang kebih kecil, karena kamar sendirian.
Apalagi khaira yang sudah menikah, pasti tidak akan tinggal di sana. Dia tentu akan di bawa suaminya intuk tinggal di rumah mertuanya yang kaya, atau bisa jadi mereka juga mengontrak.
Dengan semangat mengebu dan juga hatinya yang sedang kesal, Mimi keluar rumah oranv tuanya, menuju jalan raya. Yang tidak jauh dari rumahnya.
Untuk menuju rumah kontrakan yang dia tinggali lima tahun belakangan.
Hanya berjalan sekitar sepuluh menit dan menyebrang jalan besar, menuju perumahan tersebut.
.
.
.
.
__ADS_1