Jadi Penganti

Jadi Penganti
Rencana Pak Adrian


__ADS_3

"Assalamualaikum".


Sang maneger mengunjungi Khaira di depan ruang intensif.


Tadi saat dia akan datang, menanyakan pada pegawai yang menemani Khaira dari semalam.


"Waalaikumusalam". Jawab Khaira dan mama mertuanya.


Mereka sedang duduk di ruang tunggu. Sementara ayah mertua sedang di dalam ruang intensif, melihat putranya. Nofri.


"Bagaimana operasi suaminya mnak?. Apa berjalan lancar?". Tanya sang Maneger.


"Alhamdulillah lancar pak. Kata doktet menunggu siuman saja". Ujar Khaira.


"Oh iya. Kenalkan ini mama mertua saya pak.


Ma, ini naneger hotel tempat kami menginap. Dan beliau yang mengantar ke sini semalam". Ujar Khaira memperkenalkan mereka.


Sang maneger menyalami bu Eva, namanya Nofri.


"Oh iya. Terima kasih nak sudah nembatu anak dan menantu saya". Ujar mama Nofri.


"Sudah kewajiban saya bu, merela tamu hotel saya". Ujar si maneger.


Lalu mereka berbincang sebentar. Sampai pak Adrian keluar ruang intensif. Dan gantian bu Eva yang masuk ruangan itu.


"Apa boleh aku bicara yang sebenarnya pak, mbak?". Ujar sang maneger.


Setelah mereka berkenalan dan berbincang sebentar. Mereka duduk di ruang di kursi panjang yang ada di tunggu itu.


Membuat khaira terkejut.


"Iya. Apa ada hubungannya dengan putra dan menantu saya?". Tanya pak Adrian.


"Iya pak. Tentang kecelakaan yang menimpa putra bapak.


Apa bapak kenal dengan wanita ini?". Tanya sang maneger.


Memperlihatkan foto.


"Iya. Dia dulu calon istri putra saya. Dan mereka gagal menikah karena wanita ini ternyata hamil pria lain.


Maka kami membatalkan pernikahan tersebut". Ujar pak Adrian.

__ADS_1


Seolah paham dengan ucapan pria paruh baya di depannya. sama dengan keterangan yang Nino dapatkan dari wanita itu.


Hanya wanita itu bilang istri dari calon suaminya yang sekarang yang menikung calon suaminya. Ternyata dia yang di tolak keluarga calon suaminya, karena hamil anak pria lain.


Sang maneger mengangguk paham. Lalu dia menceritakan semua yang dia ketahui semalam dari Nino.


"Dasar si Yulia. Sudah hampir menipu kita, sekarang malah ingin mencelakai Nofri.


Apa yang dia mau sih?.


Papa tidak akan memaafkan dia". Geram pak Adrian.


Putranya masih belum sadar sedari kemaren. Bahkan setelah operasi semalam, belum juga putranya bangun.


"Kalau boleh saya usul. Jangan biarkan wanita itu menemui putra bapak. Sangat berbahaya jika dia nekat untuk bertindak lebih". Usul sang maneger.


"Dan sebaiknya menantu bapak pindah hotel yang terdekat saja dari rumah sakit ini.


Selain jauh dari hotel, juga wanita itu masih menginap di sana. Pasti akan bertemu dengan menantu bapak kapanpun". Ujar sang maneger.


"Baiklah nak, aku setuju. Sebaiknya sewa apartemen yang ada di samping rumah sakit ini saja.


Kita tidak tahu Nofri akan sadar dari komanya. Dan setelah Nofri sadar, kita pindahkan ke kota tempat kita tinggal". Ujar pak Adrian.


"Pakai apartemen saya saja pak. Unit apartemen saya ada di sana. Tapi kecil". Ujar sang maneger menawarkan.


Tapi apa apartemen itu kamu tempati? Kalau kami tinggal disana bagaimana kamu?". Tanya pak Adrian.


"Iya pak. Tapi bapak tenang saja. Saya akan tinggal di rumah saudara saya selama bapak memakainya.


Lagi pula bapak mungkin akan berada di sini tidak lama. kan sampai putra bapak baikan.


Mudah-mudahan cepat sadar dan bisa di pindah ke kota bapak". Ujar sang maneger.


"Baiklah. Aku setuju. berapa sewa perharinya. Kita harus bicarakan". Ujar pak Adrian.


"Anggablah saya putra bapak, dan baoak memakai punya anaknya.


Saya hanya membantu. Saya ingat orang tua saya jika mereka yang menghadapi hal seperti ini". Ujar sang maneger.


"Iya. Aku sudah menganggab kamu putraku, karena sudah membantu anak dan menantu kami yang sedang keusahan.


Tapi aku mau memberi reski untuk anakku. Bilang saja". Ujar pak Adrian.

__ADS_1


"Oh begitu. Aku serahkan saja pada bapak. Berapa bapak berniat memberi tambahan belanja buat anaknya". Ucap sang maneger.


"Baik lah nak. Bapak setuju. Anggablah kami irang tuamu. Juga anak dan menantuku sebagai saudara kamu". Ujar pak Adrian.


"Oh ya. Siapa nama kamu?". Tanya pak Adrian.


"Namaku Fahmi pak". Jawab sang maneger.


"Baiklah nah Fahmi. Mungkin usia kamu dan Nofri seumuran. Nofri sekarang berumur dua puluh enam". Ujar pak Adrian.


"Hehe... Aku sudah tiga puluh satu tahun pak. Tapi belum menikah. Bujang lapuk". Jawab Fahmi malu.


Karena dia belum menikah. Kalah dari Nofri.


"Oh maaf. Mungkin sebentar lagi kamu bertemu dengan jodohmu. aku do'akan". Ujar pak Adrian.


"Aaminn". Jawab Fauzi mengaminkan.


"Oh ya fauzi Kalau boleh, minta bantuan sekali lagi. Kamu pindahkan saja barang milik adikmu yang ada di hotel ke apartemen kamu.


Biar aku dan dan semua bisa istirahat disana bergantian sore ini.


Aku yakin khaira tidak istirahat dan tidur semalam ini. Berjaga di ruang ini". Ujar pak Adrian.


"Bailah pak. Aku akan bawakan semua barangnya. Akan aku bawa saat makan siang nanti".jawab Faizi.


"Aku akan kehotel untuk berkemas ya pa. papa dan mama kan ada di sini menjaga bang Nofri". Usul Khaira.


"Tidak usah dek, biar aku yang mengemasi. Nanti minta bantu Titi untuk mengemasi semua.


Titi pegawai hotel yang menenani kamu semalam.


Juga jangan sampai keberadaan kamu di ketahui wanita itu". Terang Fauzi.


"Iya kay, kamu tunggu di sini saja. mungkin saja Nofri akan srgera siuman. Jadi jangan pergi lama-lama". Tambah pak Adrian.


"Baiklah pa". Jawab Khaira.


Mengalah untuk tifak ikut kehotel. Untuk mengemasi barangnya.


Sebenarnya hampir semua barang sudah di kemas. Tinggal beberapa pakaian yang akan di pakai untuk pulang.


Maka pak Adrian dan Fauzi merencanakan sesuatu untuk Yulia.

__ADS_1


.


.


__ADS_2