
Pagi setelah sholat Subuh, ayah khaira pergi kepasar menggunakan motornya.
Motor yang tidak terlalu tua yang masih terawat. Karena ayah khaira sering mencuci motor itu. Hingga masih terlihat bagus.
Biasa setiap ayah khaira mau pergi berjualan kepasar, khaira sudah menyiapkan secangkir kopi dan biskuit untuk sarapan sebelum berangkat.
Walau ayah khaira bekerja sebagai penjual sarapan pagi dan warung nasi, tapi tiap pagi khaira selalu membuatkan secangkir kopi.
Begitu juga tiap pulang malamnya, selalu di sambut secangkir kopi. Itu kebiasaan dari almarhum ibunya.
Beda dengan ibu dan saudara tiri khaira. Tidak pernah menjamu suami dan ayah sambung mereka.
Yang mereka tahu hanya minta uang dan dan keperluan pribadi mereka.
Sebenarnya ayah khaira tidak keberatan untuk itu. Selagi dia ada rezeki tidak apa membiayai mereka semua.
Tapi semakin lama istri dan anak sambungnya semakin menjadi. Bahkan tidak sedikitpun mereka menghargai dirinya yang sudah membiayai mereka selama lima tahun ini.
Semenjak anak sulung istrinya masih kelas satu smp dan yang bungsu masih sd.
Sekarang si sulung sudah sma mau lulus, dan yang kecil sudah kelas dua smp.
Betiga anak sambungnya dia biayai. Bukan hanya membantu seperti ayah sambung lainnya. Tapi sepenuhnya. Hingga dia melupakan kewajiban pada putrinya sendiri.
Padahal putrinya yang pintar dan undangan di universitas negri. Tidak dia izinkan untuk kuliah. Itu karena hasutan dari istri barunya itu. Yang ingin ketiga anaknya sekolah.
Bahkan sekarang rumah yang dia sewa dikuasai para anak sambungnya. Hingga dia tergusur tidur di ruang makan yang di sulap menjadi kamar.
Aku tidak mau lagi di manfaatkan. Aku sudah lelah.
Bagaimana hari tuaku nanti. Sekarang saja saat tubuh sehat dan ada uang, mereka tidak menghargaiku. Ayah khaira mulai berfikir hari tuanya.
__ADS_1
Tidak mau di jadikan sapi perah lagi.
"Sudah masak semua jun?". Tanya ayah khaira pada karyawan warung nasinya.
Sekitar lima belas menit berkendara, ayah khaira samlsi di warung makan miliknya yang ada di pasar.
Selama beberapa hari kemaren warung dia serahkan pada karyawannya. Karyawannya bertiga yang bekerja di sana.
"Sudah pak. Ayam dan ikan juga sudah diantar pelanggan". Jawab karyawan ayah khaira.
Warung makan ayah khaira memang buka pagi, pukul setengah tujuh. Makanya setelah sholat subuh dia berangkat dari rumah.
Sedangkan sup sudah di masak kemaren sore, pagi tinggal memanaskan saja
Pukul setengah enam sudah mulai memasak. Warung makan ayah khaira menjual sarapan pagi seperti nasi goreng, soto, sup, mi rebus dan mi goreng.
Pukul sepuluh juga akan menjual nasi untuk makan siang. Karena siang lebih banyak orang makan nasi putih. Walaupun menu sarapan pagi masih ada di sediakan.
Ayah khaira ikut sibuk membantu ketiga karyawan yang sedang memasak. Ada yang mencuci ayam juga ikan. Ada yang memanaskan kuah soto, juga sedang membuat nasi goreng di wajan besar. Sambil mengoreng telur.
Di magic com besar nasi juga sedang dimasak.
Di dapur warung terdapat sekitar enam atah tujuh kompor, yang di gunakan secara bersamaan.
Pukul setengah tujuh, karyawan yang mencuci ikan dan ayam tadi segera membuka roling warung. Karena menu sarapan pagi sudah nasak, dan sudah bisa di makan jika ada pelangan yang datang.
Dia membuka roling sambil menata meja dan kursi tempat pelanggan duduk untuk menikmati sarapan.
"Pak. Kemaren ibu datang untuk minta uang. Tapi tidak saya kasih, dan beliau marah marah.
Karena semua sudah saya bayar ke pemasok kita. Juga belanja tambahan untuk persediaan.
__ADS_1
Catatannya beberapa hari kemaren ada di dalam laci". Ujar karyawan ayah khaira.
Ayah khaira menarik nafas. Dia sangat kessl, istrinya itu pergi kewarung hanya ubtuk minta uang. Di minta pertolongan untuk ikut sibuk di warungvdia tidak mau.
"Besok-besok jika datang lagi, jangan pernah kasih. Karena uang belanja keperluan di rumah sudah di berikan dua kali sebulan.
Ada atau tidak ada uang jangan berikan. Bilang aku yang larang". Perintah ayah khaira.
Dia tidak mau di ganggu lagi. Cukup di rumah saja dia di atur. Jangan sampai warung juga ikut di kuasai.
"Baik pak. Aku akan ingatkan semua rekan yang lain, untuk. tidak memberi ibu mimi uang jika datang". Jawab karyawan itu.
Ayah khaira mengangguk.
Baru selesai di buka roling warung, dan merapikan meja. Para pelanggan sudah ada yang datang untuk sarapan pagi.
Warung ayah khaira tidak terlalu besar. hanya ada empat deretan meja dan bangku saling berhadapan. Juga ada dua meja di bagian luar.
Dapurnya berada di bagian belakang. Satu karyawan untuk tukang cuci dan bersih-bersih, juga mengantar makanan pesanan pelangan yang menesan.
Satu lagi tukang masak juga bisa membantu membungkus jika ada pesanan di bungkus.
Dan yang satu mengambilkan menu pesanan pelangan. sedangkan ayah khaira jadi kasir, dan akan ikut turun tangan mengambilkan makanan jika pengunjung ramai.
Juga bantu memasak jika ada yang istirahat sholat dan makan. Ketiga karyawan ayah khaira bekerja sama untk bekerja. Ketiganya juga bisa masak untuk mengantikan yang sedang istirahat.
Rutinitas warung ayah dari pagi hingga sore. Sibuk melayani pembeli.
.
.
__ADS_1
.