
"Kamu istirahat saja tiga hari ini. Biar tubuh kamu kembali segar". Ujar wanita yang menemani Yulia.
Yulia yang sekitar dua jam yang lalu merasakan perutnya sakit akibat janin yang dia kandung keguguran. Lebih tepatnya di paksa keluar. Karena tidak diinginkan.
"Tapi aku mau menyusul bang Nofri kak. Mereka pasti sedang bulan madu di pulau B.
Seharusnya saya yang sedang bulan madu itu. Tapi dasar janin tidak tahu diri malah nyangkut di perutku.
Kesal aku". Oceh Yulia.
"Kamu harus sabar. Biar mereka menikmati bulan madu mereka dulu.
Nanti setelah mereka pulang dan kamu sudah sembuh. Kamu bisa melancarkan rencana kamu.
Untuk beberapa hari kedepan, kamu harus jaga kesehatan.
Kamu itu kalau bisa tidur tenang dua puluh empat jam. Agar tidak pendarahan.
Walau janin yang keluar itu kecil. Rahim kamu sedang tidak baik-baik saja. Setelah di paksa melepas janin itu.
Makanya kamu harus istirahat dulu. Biar aman". Ucap wanita itu.
Yulia mendengarkan ucapan wanita itu. saat ini dia juga masih merasakan kram perut. Dan merasakan inti tubuhnya mengeluarkan darah. Seperti haid.
Mungkin benar, dia harus tidur dan istirahat. Biar tubuhnya cepat pulih.
"Baik kak. Aku mau tidur". Ujar Yulia.
"Istirahatlah. Sebentar lagi makan dan minum obat lagi. Agar tidak pendarahan". Ujar wanita itu.
Maka Yulianpun tidur. Karena dia lelah. Lelah hati dan juga fikiran. Ditambah perutnya yang masih kram.
.
Dirumah ayah khaira ibu tiri dan saudara tiri khaira duduk di ruang tengah yang sudah kosong. Hanya terbentang tikar di lantai ruangan.
Ayah khaira pergi ke luar rumah setelah berdebat dengan ibu tiri khaira tadi, perihal perabot dan alat rumah tangga yang di pindah, hingga rumah jadi kosong.
"Kenapa sih ma semua di bawa. Kanjadi kosong rumah ini!". Kessl anak sulung Mimi.
"Entahlah. Ayah sambung kamu itu. Padahal mama hanya minta isi kamar si khaira itu yang harus di pindah. Biar kalian tidak berdempet tidur.
Eh malah semya di bawa.
__ADS_1
Di dapur juga. Hanya tinggal kompor dan beberapa piring dan alat masak seadanya.
Masa semua piring dan alat masak yang lengkap juga dibawa untuk khaira. Padahal kan dia bisa minta pasa meetua kayanya itu". Jawab ibu tiri khaira kesal.
Rumah yang mereka tempati benar-benar kosong. Beda dengan selama lima tahun mereka tinggal di sini. Semua lengkap.
"Awas saja si khaira itu. Akan aku ganggu dia agar dicerai suaminya.
Dia kan cuma pengantin penganti. Pasti suaminya itu tidak akan suka dan tertarik padanya". Ucap anak sulung ibu turi khaira.
"Iya ma. Kan kak khaira itu dinikahkan hanya untuk menutup malu saja. Karena pernikahan batsh di hari acara". Tambah anak kedua mimi.
Mereka membicarakan khaira. dan berencana menganggu pernikahan khaira.
"Sekarang kalian berdua masak sana buat makan malam kita". Perintah Mimi pada putrinya.
"Ah malas ma. Kita beli saja nanti". Jawab putri sulungnya.
"Iya ma. Kalau tidak mama saja yang masak. Aku mau pindah ke kamar itu". Ujar putri kedua mimi.
Menunjuk kamar khaira yang sudah kosong.
"Aku yang akan pindah kesana". Ujar si sulung.
"aku..".
Mereka berdua berdebat menginginkan untuk pindah ke kamar khaira.
"Aku ingin kamar sendiri". Ujar yang nomor dua.
"Aku juga". Jawab si sulung.
Mereka bertengkar berdua berebut kamar.
Ibu tiri khaira meninggalkan kedua anaknya yang sedang bertengkar, menuju dapur untuk memasak makan malam.
Beras sisa pesta memang di tinggal dua karung kecil di atas meja. Juga bahan untuk dimasak seperti sayur dan bumbu dapur juga masih ada di keranjang dapur.
Bahkan kulkas tuapun ikut dibawa, hingga tidak ada lersediaan lauk sepeeti ijan atau ayam. Hanya ada telur dan ikan kering.
"Dasar serakah Semua dibawa. Padahal disini masih dibutuhkan". Omel ibu tiri khaira.
Untuk majik com tidak ikut di bawa. Hingga masih bisa memasak di sana.
__ADS_1
Mimi memasak nasi juga akan membuat lauk telur rebus dengan kentang goreng. Dan sayur yang ada, sisa acara kemaren.
Kedua anaknya masih bertengkar berebut pindah kamar.
"Kalian jangan ribut terus. Bagi saja". Teriak mimi dari dapur.
"Aku ingin kamar sendiri ma!". Ujar si sulung.
"Aku juga!". Teriak yang nomor dua.
"Aku juga ingin kamar sendiri". Sambung sibungsu yang masih kelas satu smp.
Mereka berdebat siapa yang akan pindah, dan siapa yang keluar.
Hingga mimi mendekati mereka.
"Ma. Kami ingin kamar sendiri- sendiri". Ujar mereka.
"Kalian tahu kan, kamar di rumah ini hanya tiga. Dan satu kamar mama. Jadi kamar depan harus berdua". Jawab Mimi.
Dia pusing mendengar ketiga anaknya berebut kamar. Ditambah hatinya yang kesal karena memasak dengan seadanya.
"Mama pindah saja ke ruang makan itu ma. Kan bisa di batasi dengan lemari.
Seperti di tempat kajek, tempat tidur anak Om di belakang lemari pajangan.
Dan kami punya kamar sendiri- sendiri". Ujar si bungsu.
"Iya ma. Mama pindah saja. Ayah kan tidak perlu kamar. Ayah pulang sering malam dan langsung tidur". Tambah si sulung.
Mimi berfikir sambil melihat ruang makan yang cukup besar. Juka dibatasai lemari kain tiga pintu yang ada di kamar akan menjadi tempat tidurnya dengan suaminya.
"Baik. Tapi kalian bantu mama memindahkan lemari dan tempat tidurnya". Ujar mimi.
Maka mereka berempat bekerja sama memindahkan tempat tidur tua milik mimi.
Bukan. Tempat tidur milik almarhum ibu khaira dulunya. Kamar set itu milik ayah dan almarhim ibu khaira. Dan di pakai ibu tiri khaira semenjak menikah dengan ayah khaira.
.
.
.
__ADS_1