
"Nak Nofri, kamu pergilah istirahat. Ikuti istrimu". perintah ayah Khaira.
"Baik yah". Jawab Nofri.
Nofri yang sebenarnya belum mengantuk terpaksa mengikuti perintah mertuanya.
Karena dia tahu, mertuanya sedang bermasalah.
Bisa jadi mereka mau diskusi menyelesaikan masalah. Atau akan bertengkar sengit.
Makanya dia pergi beranjak saja memasuki kamar. Mengikuti istrinya yang telah lebih dahulu masuk kamar.
Isrtinya tadi datang dan melihat saja ocehan ibu tirinya itu, lalu balik tanpa berkata- kata.
Sebelum masuk ke kamar, Nofri masih sempat mendengarjan ucapan ayah mertuanya.
"Dari waktu kan sudah aku bilang padamu. Kalau Nila kuliah, aku tidak sanggup untuk biayanya.
Kamu tahu, kalau aku bekerja tidak tetap sekarang". Ujar ayah khaira.
"Tapi mas...".
"kamu pulang saja dulu. Kita bicarakan nanti. Aku akan datang kerumah orang tuamu segera". Potong Ayah khaira.
"Aku mau menginap di sini. Nila, ajak....".
"Tidak bisa. Kalian pulanglah dulu. jangan bikin aku menyuruh kalian pulang secara kasar!". Ujar Ayah khaira dingin.
"Mas...".
"Keluar sendiri atau aku seret!". Potongnya.
"Aku tidak terima kamu perlakuan seperti ini mas. Jangan mentang-mentang sudah dapat besan kaya, kamu merasa baik.
Belum tentu mas.
Ingat. Putrimu hanya jadi penganti. Dan penganti itu biasanya hanya untuk sementara.
Bisa....".
"Aku bilang keluar. Cepat!". Teriak ayah khaira.
Nofri yang akan menutup pintu kamar kaget mendengar suara keras ayah mertuanya itu.
Saat Nofri masuk kekamar, dia tidak melihat istrinya ada di dalam kamar. Dia melihat ke sekeliling kamar yang tidak besar itu, dan tidak juga melihat istrinya.
Dia akan berbalik keluar, untuk mencari istrinya. Tapi sebelum sampai tangannya untuk membuka pintu, pintu terlebih dahulu terbuka dari luar.
"Dari mana?". Tanya Nofri.
Melihat istrinya masuk kamar.
"Dari kanar mandi bang". Jawab Khaira murung.
__ADS_1
Dia menutup pintu kamar mereka dan menguncinya.
Lalu dia dia duduk di samping tempat tidur. Nofripun mengikuti istrinya duduk.
"Ada apa?!". Tanya Nofri.
Karena melihat wajah istrinya itu di tekuk.
"Hhffff....
Maaf bang. Abang melihat dan mendengar masalah yang sedang ada di rumah ini". Ujar khaira pelan.
Dia malu. Baru menikah dan baru pertama kali suaminya itu menginap di rumanya, sudah mendengar perselisihan antara ayah dan ibu sambungnya.
"Maaf, membuat abang terkejut dan tidak nyaman". Tambah Khaira.
"Tidak perlu minta maaf. Setiap keluarga dan semua orang tua pasti ada masalah yang mereka hadapi.
Itu tergantung dari cara mereka menyikapi dan menyelesaikannya.
Kita sebagai anak cukup mendengar dan mendo'akan mereka supaya perselisihan mereka tidak berlarut-larut, dan cepat selesai". Ujar Nofri bijak.
Orang tuanya juga pernah berselisih paham dan berdebat kecil, walau tidak pernah bertengkar hebat.
Bahkan juga pernah dia lihat mereka saling diam beberapa hari.
"Kalau boleh tahu, diantara ketiga saudara kamu itu, yang mana satu ayah dengan kamu.
Aku tahu dia ibu tiri kamu". Ujar Nofri.
Semenjak itu, ayah diatur oleh beliau. Dan ayah tidak bisa membantah atau menolak keinginannya.
Kalau ayah menolak, dia mengancam akan bilang pada orang tua ayah, karena beliau masih kerabat orang tua ayah.
Dan kakek yang menjodohkan mereka. Ayah tidak bisa apa. Hanya mengikuti saja. Karena mertua ayah masih saudara kakek.
Tidak enak untuk berdebat dengan orang tua". Jelas Khaira.
"Apa ayah dan kamu merasa tertekan?!". Tanya Nofri.
Dia melihat, ayah mertuanya itu tidak banyak bicara. Dan lebih banyak mendengar. Itu yang dia lihat dari kemaren. Semenjak datang kerumah ini.
"Setiap ayah mendebat beliau, pasti kedua mertua ayah datang untuk menceramahi ayah. Mengajari ayah. Tapi tidak pernah mengajari anak mereka.
Hingga ayah lebih banyak mengalah. Bahkan saat uang gaji ayah harus di setor, ayah hanya menyimpan seperempat gaji ayah untuk keperluan ayah sendiri". Ujar khaira.
Nofri mengangguk mendengar cerita istrinya, tentang keluarganya.
"Kalau abang tidak keberatan. Aku ingin kita tidak tinggal di rumah ini. Aku tidak nyaman dengan mereka". Pinta Khaira.
"Tidak nyaman?. Apa karena kamu sudah menikah kamu merasa tidak nyaman dengan mereka.
Kan selama ini kamu tinggal disini bersana mereka. Kenapa baru sekarang kamu merasa tidak nyaman?". Tanya Nofri menyelidiki.
__ADS_1
"Atau kamu sudah merasa beruntung menikah denganku?". Tambah Nofri.
Dia berfikir, apa istrinya merasa sudah beruntung, karena menikah dengannya. Yang bisa dikatakan anak pengusaha dan berada.
Tentu hidupnya akan lebih baik dan terjamin.
Khaira malah melihat suaminya itu dengan tajam. Tidak berekspresi.
Walau matanya menatap tajam. Tidak ada senyum. Hanya wajah dingin saja.
"Hhhffff".
Khaira mengalihkan pandangannya ke arah meja rias sambil menarik nafas pelan.
"Maaf. Mungkin seperti memanfaatkan keadaan.
Tapi kalau boleh jujur. Semenjak ayah menikah, aku sudah tidak nyaman dengan mereka.
Aku di perlakukan seperti orang yang menumpang hidup di rumah ini. Mengerjakan semua pekerjaan di rumah. Kecuali mencuci.
Saat masih sekolah aku harus mencari tambahan belanja untuk uang saku. Karena uang belanja minguanku di potong.
Jatah seminggu yang di beri ayah harus aku cukupkan untuk dua minggu.
Saat aku ingin kuliah karena aku dapat undangan dari universitas negri. Ayah yang awalnya mengizinkan jadi tidak memberi izin lagi.
Hingga aku mencari pekerjaan setelah lulus sma. Dan aku harus ikut membayar sewa kontrakan". Ujar Khaira pelan.
Mencurahkan semua beban yang dia rasakan lima tahun belakangan ini.
"Maaf untuk minta lebih. Aku akan ikut saja mana yang terbaik.
Kedepannya pun, jika ada niat untuk tidak bersama lagi aku juga tidak keberatan.
Aku hanya ingin tenang. Tidak ingin membebani semua.
Maaf". Tambah Khaira semakin pelan berucap.
Nofri termenung mendengar ucapan istrinya. Dia merasa kasihan mendengar cerita istrinya itu. Ternyata ibu tiri istrinya sedikit semena-mena.
Hingga istrinya tidak punya pilihan atau pendapat.
Khaira bangkit dari duduknya. Dia menuju sisi tempat tidur. Dan merebahkan tubuhnya.
Tubuhnya lelah, begitu juga fikirannya.
Dia bertekad, harus kuat menjalani kehidupan yang mungkin belum mulus jalannya.
Akan banyak liku dan gelombang yang akan dia hadapi.
Tapi dia tidak akan mengeluh, dan tetap berjuang, walau ada rasa tidak di butuhkan oleh siapapun.
.
__ADS_1
.
.