Jadi Penganti

Jadi Penganti
Tidak Bisa Tidur


__ADS_3

"Istirahatlah. Kita besok pagi- pagi pergi motoran.


Rencananya kita ke kampung wisata dekat Gunung". Ujar Nofri.


"Baik bang". Ujar khaira.


Dia pergi bersih-bersih, setelah duduk santai sejenak. mandi sedikit biar segar. Karena baru dari luar dan berkeringat.


Khaira mandi dengan air hangat, karena sudah malam. Takut akan demam.


Tidak asyik kan, jika tiba-tiba demam saat liburan begini. Dia sangat ingin menikmati liburan bertajuk bulan madu.


"Abang tidak mandi?. Kita belum sholat isya". Panggil khaira.


Nofri sedang berdiri di balkon kamar hotel.


"Iya. aku akan mandi". Ujarnya.


Lalu masuk ke kamar untuk segera mandi.


Ada bau asap saat Nofri lewat dekat Khaira.


"Abang merokok?". Tanya Khaira.


Saat tahu itu bau asap rokok.


"Iya". Jawabnya.


Langsung masuk kamar mandi.


'Tumben dia merokok?. Setahuku dia tidak pernah merokok. Beberapa hari ini bersama tidak pernah melihat dia merokok.


Apa aku yang tidak tahu kalau dia merokok. Dan tidak pernah merokok di dalam rumah'. Guman Khaira.


Tidak mau memikir aneh-aneh, khaira mengelar sajadah di kamar. Untuk sholat isya yang telat. Karena baru sampai kekamar.


Selesai sholat isya, mereka mengobrol sebentar. Dan tiduran.


Entah kenapa, Khaira jadi tidak bisa tidur. Dia memandang langit-langit kamar hotel. Lampu utama kamar sudah dimatikan.


Dan dia yakin, kalau suaminya sudah tertidur.


Khaira mengambil ponselnya yang ada di atas meja samping kepala tempat tidurnya.


"Baru pukul sebelas. Tapi mataku kok tidak bisa tidur ya". Gumam Khaira.


Dia bangkit dari rebahannya, untuk mencari angin duduk di balkon kamar.


Dia berjalan perlahan. Agar tidak menganggu tidur suaminya.


Pelan-pelan dia membuka pintu kaca itu, sedikit saja agar bisa dia keluar.


Angin segar menerpa wajahnya yang baru keluar dari pintu.


Angin sangat kuat berhembus dari arah laut lepas. Walau sudah hampir tengah malam tapi tidak terlalu dingin.


Hingga rambut khaira bererak di terpa angin laut malam hari.


Selain pulau ini suhunya sedikit hangat, juga cuaca sangat cerah. Dengan angin yang kencang, juga terdengar hempasan ombak laut dari kejauhan.


Hotel tempat mereka menginap berada di seberang jalan bibir pantai. Dan seberangnya langsung pantai Dimana banyak warung tenda yang masih ada pengunjungnya.


"Kenapa tidak tidur?. Sudah malam ini!".


Tiba-tiba Nofri sudah berdiri di pintu penghubung balkon dan kamar.


Khaira kaget, karena tiba-tiba suaminya sudah berdiri di depan pintu.


"Belum mengantuk bang. Makanya cari angin biar dingin. Dan bisa tidur cepat". Ujar Khaira.

__ADS_1


"Ayo masuk. Nanti masuk angin. Anginnya sangat kencang". Ujar Nofri.


"Se...".


"Masuk sekarang key. Dingin". Potong Nofri.


Dengan malas khaira masuk kamar. Mengikuti suaminya.


Tapi setelah menutup pintu kaca, dia membuka lebar Gorden, agar bisa melihat langit malam.


Saat berbalik dia di kejutkan dengan suaminya yang berdiri di belakangnya, hingga mereka bertabrakan.


Hampir saja Khaira jatuh, dan untung Nofri cepat memeluk tubuhnya agar tidak terjatuh.. Mereka sama-sama reflek berpelukan.


"Maaf bang. Aku kaget". Ujar khaira malu.


Berusaha melepas pelukan suaminya.


Buru-buru menuju tempat tidur. Karena jantungnya berdetak kencang saat di peluk tanpa sengaja oleh suaminya.


"Gordennya kenapa di buka itu". Ujar Nofri


"Ingin lihat langit malam bang". Jawab khaira merebahkan tubuhnya di kasur.


"Mau lihat langit malam kok tiduran?". Tanya Nofri.


"Lihat sambil tiduran bang". Kilah Khaira.


Sebenarnya dia malu karena tanpa sengaja berpelukan.


Maka Nofri pun kembali merebahkan tubuhnya di samping istrinya.


Dia sebenarnya juga tidak bisa tidur. Karena....


Nofri pria normal. Berdua dengan istrinya dikamar, sesuatu dalam dirinya ada gejolak rasa yang ingin di salurkan.


Keinginan pria normal yang punya nafsu.


Dia akan buat istrinya itu nyaman dan percaya dulu padanya. Kalau pernikahan ini akan mereka jalani dengan iklas.


"Masih belum bisa tidur?". Tanya Nofri.


Melihat istrinya yang gelisah. Putar kiri, putar kanan. Sudah lebih sepuluh menit mereka tiduran.


"Belum bang. Padahal aku sudah ingin tidur. Takut besok kesiangan untuk pergi.


Tidak sabar mau keliling". Jawab Khaira.


Nofri memiringkan tubuhnya menghadap kearah istrinya yang tiduran telentang.


"Mau tidur nyenyak?". Tanya Nofri.


Dia akan memancing istrinya itu untuk beribadah. Walau dia juga tidak tahu cara memulai untuk itu.


"Caranya?". Tanya khaira ikut miring menghadap suaminya.


"Hmmm.. aku juga tidak tahu ini benar atau tidak. Tapi dengar cerita orang dewasa, jika suami istri tidak bisa tidur, harus olah raga malam dulu, baru bisa tidur nyenyak". Ujar Nofri memancing.


"olah raga malam?. Maksudnya apa bang?". Tanya khaira.


Dia belum paham dengan arah tujuan ucapan suaminya.


"Ya itu. Hubungan suami istri. Jika suami istri beribadah. mereka sama- sama menyalurkan hasrat mereka dengan penuh cinta, akan terasa nikmat dan bergairah.


Mereka akan nyenyak dan nyaman untuk tidur". Jelas Nofri.


Khaira yang tahu maksud dari ucapan suaminya itu mulai berfikir.


Hubungan suami istri?. Apa suaminya akan meminta haknya malam ini.

__ADS_1


Apa yang harus dia lakukan.


"Hm.. Maksudnya?". Tanya khaira sedikit berdebar.


"Begini!". Ujar Nofri.


Mendekatkan tubuhnya kearah istrinya. Hingga jarak mereka sangat dekat.


Nofri mengelus pipi istrinya. Lalu mengelus bibir istrinya dengan jari.


"Hubungan halal yang diridhoi allah". Bisik Nofri.


Membuat Khaira merinding.


Nofri mendekatkan wajahnya kewajah istrinya. Mengecup kening istrinya. Lama.


Dia yang merasakan tubuhnya menegang menyudahi kecupan pada kening istrinya itu.


"Tidurlah. Aku akan tunggu sampai kamu siap". Ujar Nofri.


Memeluk tubuh istrinya. Menyusupkan sebelah lengannya ke leher istrinya.


Khaira merasa tubuhnya kaku saat di peluk erat oleh suaminya.


Membiarkan saja tubuhnya dalam dekapan suaminya itu. Dan dia ikut melingkarkan tanggannya di pinggang suaminya. Yang mendekapnya erat.


Suaminya reflek melingkarkan kakinya ke pahanya. Juga diikuti beberapa kali Nofri mengecup keningnya.


Beberapa saat mereka saling dekap dan memeluk. Dan Nofri menjarakkan wajahnya dari kening istrinya itu.


Mereka saling pandang. Dalam keremangan lampu kamar. Telapak tangan Nofri mengelus wajah istrinya, hingga mengelus bibis istrinya.


Dengan memberanikan diri, wajah Nofri mendekat. Bibir yang tadi mengecup kening istrinya, mulai berani mengecup bibir istrinya itu.


Membuat tubuh khaira menegang. Itu dapat di rasakan oleh Nofri.


Bukan hanya kecupan yang khaira rasakan. Bibir suaminya malah menyesap habis bibirnya itu. Seperti menyedot es krim.


'Bibirku'. Gumam Khaira dalam hati.


Merasakan bibir dan lidah Nofri yang bergerak liar, seolah sudah ahli.


"Di balas Key, jangan diam saja". Ujar Nofri mengigit bibir istrinya.


Hhmmm.. Hhmmmm.


Sesapan Nofri semakin liar, membuat Khaira kehabisan nafas. barulah Nofri melepas sesapannya dari bibir istrinya.


"Bernafas, jangan tahan nafasnya". Ucap Nofri.


Menjilati bibir basah istrinya dengan lidah. Membuat khaira geli.


Nofri menyudahi aksi lidahnya bermain di bibir istrinya. Dia tidak mau kebablasan hingga kegiatan lanjutan. Walau dia sangat ingin.


Dia tahu istrinya belum siap untuk itu. Dan tadi dia sudah bilang kalau dia melakukan jika istrinya sudah siap.


"Aku lapar. Kita makan yuk". Ajak Nofri masih memeluk tubuh istrinya.


Khairapun merasa sangat nyaman di dekapan suaminya.


"Boleh bang. Aku sedikit lapar. Tapi ini sudah larut untuk makan". Jawab khaira tanpa melepas pelukan suaminya.


"Atau kamu saja saya makan. Aku sangat lapar ingin memakan kamu!". Ujar Nofri.


Dia mendorong tubuh istrinya hingga telentang, dan dia berada di atas tubuh istrinya itu.


.


.

__ADS_1


.


__ADS_2