Jadi Penganti

Jadi Penganti
Motoran


__ADS_3

Sudah empat hari Nofri dan Khaira berbulan madu. Dan mereka berkeliling jalan-jalan motoran. mengunjungi beberapa tempat wisata. Juga belanja.


Dan jangan lupa. Aktifitas ranjang tidak ketinggalan. Semakin hari semakin hot.


Nofri dan Khaira makin lengket dan mesra.


Tidak malu-malu lagi untuk bermesraan dan bercinta.


Khaira yang awalnya malu dan risih saat berdekatan. Malah semakin candu selalu ingin dipeluk suaminya. Khaira nagih selalu ingin di gerayagi Nofri.


"Har ini kita kemana sayang?". Tanya Nofri.


Mereka yang baru saja olah raga ranjang selesai subuh tadi. padahal semalam sebelum tidur mereka olah raga ranjang. Sebalum subuh juga.


Dan setelah mandi dan sholat subuh juga mereka mengulangi lagi.


Mereka sama-sama candu dan sedang terbakar gairah. Maklum, penganten baru.


"Kita ke daerah P bang. Disana perbukitan yang banyak sawah. pasti indah pemandangannya". Ujar Khaira.


"Boleh. Kesana sekitar tiga jam prrjalanan. Kamu tidak apa kuta memakai motor?. Atau kita sewa mobil saja". Ujar Nofri.


"Kita motoran saja bang. lebih enak untuk masuk jalan kampun natinya". Usul Khaira.


"Ok sayang. Kira berangkat setelah sarapan.


Ayo kita mandi bareng". Ajak Nofri.


Menarik bangun tubuh polos istrinya. Diapun sama.


Sudah tidak canggung lagi untuk tidak berpakaian didalam kamar. Nofri beralasan sudah saling lihat luar dalam. Dan sama-sama merasakan yang lebih intim.


Selesai sarapan mereka pergi ke dasa wisata yang Khaira sebutkan tadi.


Mengendarai motor, yang di perkirakan kurang lebih tiga jam waktu tempuhnya.


"Jangan lupa bawa baju ganti juga pakai sepatu. Jaket langsung pakai saja. Masih dingin suhu pagi.


Mungkin bisa jadi kita pulang sore atau malam". ingat Nofri.


"Baik bang". Ujar khaira.


Dia membawa satu stel baju serap untuknya juga suaminya.


Kalau jaket mereka pakai langsung. Khaira memasukan kedalam tas punggungnya yang sedikit besar.

__ADS_1


"Ayo!". Ajak Nofri.


Mereka mengendarai motor berpakaian lengkap. Dari helm standar, sarung tangan juga masker. Begitu juga drngan khaira.


Dia juga memakai masker dan sarung tangan. Tidak ketinggalan helm.


Nofri menyewa motor matic untuk mereka keliling. karena mereka berkendara santai menikmati perjalanan dan duduk nyamam salama perjalanan.


"Kita mampir sebentar ke counter depan ya sayang". Ujar Nofri.


"Baik bang". Jawab khaira.


Dia mengikuti keinginan suaminya. Mungkin suaminya ada perlu.


Ternyata Nofri membelikan dirinya ponsel pintar, yang sama harganya dengan motor.


"Bang. Ponselnya mahal sekali. beli yang biasa saja, atau ponsel ku ini servis saja". Ujar khaira.


"Pakai saja. Tidak mahal kok kalau untuk istriku". Ujar Nofri.


Membujuk Khaira, agar mau mengunakannya.


Hingga Khaira mau memakai ponsel itu.


Khaira mengabadikannta dengan pobs barunya itu. Banyak vidio dan foto yang dia ambil.


Sepasang penganten baru yang sedang dilanda kasmaran terus saja mengabadikan momen penuh cinta mereka.


Benar dugaan Nofri. Mereka pulang dari tempat wisata itu malam. Padahal mereka berangkat setelah sholat ashar dan sampai di hotel setengah sembilan malam.


.


"Mas. Sepeda motor liona belum di perbaiki orang bengkel.


Katanya dia minta uang pangkal dulu lima ratus ribu. karena beli onderdilnya mahal". Ujar mimi.


Padahal ayah khaira baru saja sampai dari warung. Tubuhnya masih capek karena kesibukan di warung tadi seharian.


"Biarkan saja dulu. Uang sedang tidak ada.


Kalau sudah ada uang baru kerjakan". Jawab ayah Khaira.


"Mana bisa mas!. Liona pergi kesekolah bagaimana?. Dia kan mau ujian akhir!". ujar Mimi.


Dia marah, suaminya tidak mau memberikan uang untuk memperbaiki motor Liona.

__ADS_1


Padahal motor liona rusak parah. Bodynya remuk, pecah semua. Juga stangnya bengkok.


"Liona itu kaki dan tangannya patah juga terkilir. Tidak bisa membawa motor. Naik ojol saja kesekolahnya". Jawab ayah khaira.


Tidak mungkin putri sambung nya itu bisa membawa motor. Apalagi tangan kanannya di gip.


"Kan Susan atau Fani bisa memakai motor mas. Mereka bisa mengantar Liona kesekolah atau pergi periksa". Ujar Mimi.


"Mereka tidak punya sim.


Liona saja yang baru punya sim bisa kecelakaan.


Apa kamu mau Fani kecelakaan jika membiarkannya membawa motor?.


Liona dan Susan saja belum sembuh". Ujar ayah khaira.


Sudah beberapa hari ini kedua anak sambungnya yang kecelakaan sering berisik tengah malam.


Meringis kesakitan, minta di bimbing ke kamar mandi atau minta di belikan makanan kesukaannya.


Jadi ayah khaira tahu, mereka masih belum bisa beraktifitas. Apalagi membawa motor.


"Terusbagai mana Liona dan Susan ke sekolah?. Hari senin mereka harus bisa masuk". Tanya Mimi.


"Ojol saja mi. Atau Liona di jemput temannya yang pakai motor.


Kan Liona juga sering antar jemput temannya. teman yang sering nongkong liona banyak yang pakai motor". Usul ayah khara.


"Malu lah mas, minta antar jemput temannya.


Pokoknya motor Liona harus di sevis dan di perbaiki". Putus Mimi.


"Terserah kamu kalau mau. Uang yang kamu pinjam ke rentenir kan ada.


Juga jangan lupa, angsuran motor bulan ini". Ujar ayah khaira.


Dia mau mandi, karena gerah beraktifitas seharian.


.


.


.


.

__ADS_1


__ADS_2