Jadi Penganti

Jadi Penganti
Pulang ke Rumah Mertua


__ADS_3

Seperti ucapan Nofri tadi siang, dia mengajak istrinya untuk pulang kerumah orang tuanya.


Banyak rencana yang akan dia bicarakan nanti dengan istrinya itu. Termasuk paket bulan madunya.


"Kami pergi dulu yah". Ujar Khaira menyalami ayahnya.


Brgitu juga dengan Nofri, dia menyalami ayah mertuanya. Tante dan juga omnya yang sudah datang menjemput tantenya.


"Hati-hati ya. Kalian sering lah datang berkunjung kesini atau kerumah om dan tante. Tante sangat senang jika kalian datang". Ujar tante khaira melepas kepergian keponakannya.


Setelah berpelukan, khaira dan Nofri menaiki mobil. Supirnya yang menjemput.


Walau rumah suaminya tidak terlalu jauh dari rumahnya, khaira tetap merasa sedih. Meninggalkan ayahnya.


Juga rumah kenangan yang dia tempati selama lima tahun ini. Walau banyak kenangan buruknya. Tapi dekat ayahnya dia bahagia.


"Kamu jangan sedih. Kamu bisa sering berkunjung kok menemui ayah". Ujar Nofri.


Saat melihat istrinya yang bersedih.


"Terima kasih sudah mengizinkan ku.


Tapi yang buat ku sedih bukan itu. Aku memikirkan ayah, yang mungkin semakin di tekan ibu dan anaknya.


Kalau untuk bertemu ayah, aku bisa tiap hari. Karena toko pak adrian tidak jauh dari pasar, dan aku bisa minta izin sebentar untuk bertemu ayah di warung". Jawab Khaira.


Nofri melihat istrinya. Yang menyebut pak adrian oada mertuanya.


"Kenapa ayah terkesan patuh dan takut pada ibu dan juga pada saudara tirimu. Kamu juga.


Padahal kan ayah bisa lebih tegas pada mereka. Secara ayah kepala rumah tangga dan yang mencukupi semua kebutuhan". Tanya Nofri.


Dia paham kalau ayah mertuanya itu menghargai keluarganya dan juga keluarga istri barunya, yang masih kerabat. Tapi tidak dengan hanya diam dan banyak mengalah.


"Aku dan ayah tidak suka berdebat. Mungkin ayah sepemikiran denganku, tidak suka ada perselisihan dan berujung pertengkaran.


Makanya aku mengerjakan yang aku mau saja, tidak dengan urusan mereka.


Sekarang ayah mungkin ingin hidup santai. Menyibukan diri di warung saja, tidak mau terbebani dengan ibu dan anaknya". Prediksi khaira.


Nofri mengangguk paham. Karena tadi ayah mertuanya juga mengucapkan demikian.

__ADS_1


"Terus, tadi kenapa kunci kamar kamu di suruh tante yang pegang, tidak ayah saja?".


"Semua peralatan dan barang pembelian ibu semua di simoan disana.


Kata ayah tadi, mungkin saja ibu dan anaknya datang dan mengamuk. membalas memecahkan semua yang ada di lemari pajangan.


Semua isi lemari itu almarhum ibu yang beli. Dan ayah menyuruh menyimpan di kamar kita.


Kuncinya aku dan tante yang pegang.


Pengalaman beberapa hari yang lalu juga, dimana ibu mengacau dan membuat kamarku seperti kapal pecah". Jelas Khaira.


Menceritakan kenapa kamarnya di kunci, dan ayah tidak memegangnya.


Nofri mengangguk paham, tentang kekhawaritan ayah mertuanya.


Mungkin karena sikap arogan istri dan anak sambungnya sekarang dia kebih waspada.


"Kalau ayah akan pindah, terus barang itu dibawa kemana?!". Tanya Nofri.


Setelah terdiam beberapa saat.


"Kalau kita mengontrak rumah...".


Khaira mengangguk. Itu sidah dia dengar waktu itu. Saat pak Adrian membahas tempat tinggal anaknya setelah menikah.


Waktu dia dan teman kerjanya jadi tim sibuk mempersiapkan pesta pernikahan Nofri dan Yulia.


"Aku mengerti. Makanya aku juga berbicara dengan tante. Jika aku tinggal di rumah abang. Semua barang di taroh di rumah Tante.


Dan bisa di ambil jika kita memerlukannya". Jelas khaira.


Nofri mengangguk paham. Sebab dia juga tidak punya hak untuk menyuruh khaira untuk membawa barang pribadi keluarganya untuk dibawa kerumah orang tuanya.


Kecuali jika mereka punya rumah sendiri, atau mengontrak.


"Apa kamu tidak keveratan jika kita tinggal di rumah orang tuaku?!". Tanya Nofri pada khaira.


"Tidak. Aku akan ikut suami, dimanapun suamiku tinggal aku harus ada bersamanya". Jawab khaira.


Begitulah yang dia tahu. Setelah menikah, mau dirumah orang tua atau mertua akan dia ikuti.

__ADS_1


"Baik. Kamu pasti sudah tahu tentang itu sebelumnya". Ujar Nofri.


"Oh ya. Apa aku masih bisa bekerja di toko?". Tanya kaira.


Sebab statusnya sekarang menantu pak Adrian. Bos tempat dia bekerja.


"Kalau kamu mau boleh saja. Tapi kamu harus selesaikan dulu pekerjaan di rumah". Jawab Nofri.


"Tapi kamu harus tanyakan dulu pada papa. Karena dia yang mempekerjakan kamu". Tambahnya.


Khaira juga berfikir demikian, dia harus berbicara dengan bosnya itu.


Apapun keputusan pak Adrian. Dia akan patuhi. Termasuk untuk melarang bekerja di toko lagi.


Dia hanya sebagai pegawai toko milik pak Adrian. Bukan bagian admin atau bagian pembukuan.


Sampai di rumah orang tua suaminya, sang bosnya. Mereka di sambut dengan senang oleh ibu mertuanya.


Bahkan bu Eva memeluk khaira sambil cilika cipiki. Juga pada Nofri suaminya.


Karena mereka sampai di rumah hampir pukul enam, tentu toko sudah tutup.


Pak Adrian dan istrinya sedang duduk santai di ruang tamu yang ada di bagian ruang bekakang toko, dekat kantor suaminya.


Mungkin mereka istirahat sejenak setelah toko ditutup.


Tapi sepertinya tidak, karena di meja tamu di depannya terlihat laptop masih terbuka. Mungkin juga kegiatan pak Adrian setelah toko tutup masih terus bekerja.


Secara mereka kan tidak hanya toko bangunan saja, tapi juga sebagai jasa pengembang, mendesain juga menerima membuat rumah, ruko.


"Kalian istirahatlah dulu, nanti turun setelah sholat magrib untuk makan malam". Ucap bu Eve.


"Baik bu". Jawab khaira.


"Aku mau meneriksa pekerjaan sebentar. Kamu keatas dulu kay". Ujar Nofri.


Khaira mengangguk. Lalu menuju kamar Nofri, sekarang kamar mereka berdua, yang berada di lantai tiga ruko ini.


Membiarkan suaminya bekerja.


.

__ADS_1


.


.


__ADS_2