Jadi Penganti

Jadi Penganti
Keputusan Ayah


__ADS_3

Ayah khaira dan suaminya sholat zuhur ke mesjid yang tidak jauh dari rumahnya.


Sepulang dari mesjid mereka makan siang bersama. Hanya berempat dengan khaira dan tantenya.


"Yah. Aku minta izin untuk membawa Khaira.


Kami rencana sore ini mau pulang kerumah orang tua ku.


Kami akan berkunjung kesini sesering mungkin. Dan ayah juga kunjungi kami kesana kapanpun ayah mau". Ujar Nofri.


Tadi sebelum berangkat ke mesjid, Nofri memang sudah bilang pada istrinya Khaira. Kalau mereka akan pulang kerumah orang tuanya.


Mungkin mereka akan tinggal disana untuk sementara waktu. Danakan menginap di rumah ayah jika mereka ingin.


Terlihat ayah khaira menarik nafasnya. Melihat putri dan menantunya.


"Ayah izinkan. Ayah titip putri ayah ya Nofri. Dan semoga kalian menjadi keluarga yang di lindunggi allah.


Samawa buat kalian.


Ayah percayakan putri ayah padamu. Tapi jangan lupakan ayah. Sering-seringlah kalian mengunjungi ayah, atau memberi kabar". Ucap ayah Khaira.


"In sya allah yah. Aku akan menjaga putri ayah, seperti ayah menjaganya". Jawab Nofri.


"Kami juga akan sering berkunjung kesini". Tambah Nofri lagi.


Khaira merasa sedih melihat ayahnya. Yang mungkin saja setelah dia tidak di rumah ini, ibu dan saudara tirinya akan lebih semena-mena.


Akan membuat ayahnya pusing dengan tingkah laku dan tuntutan ibu tirinya itu.


"Ayah jaga kesehatan ya yah. Khaira tidak disini untuk mengingatkan ayah.


Jangan telat makan". Ujar khaira.

__ADS_1


Selama ini hanya khaira yang memasak dan membuatkan kopi untuk ayahnya.


Ibu tirinya tidak pernah memperhatikan kebutuhan suaminya. ayah khaira.


Apalagi ketiga saudara tiri khaira. Mereka tahunya hanya minta uang dan pergi nongkrong sepulang sekolah.


Walaupun ketiga anaknya perempuan, ibubtiri khaira tidak pernah memerintah putrinya untuk membersihkan runah atau memasak.


Bahkan mencuci saja ibu tiri khaira mengupah tetangga untuk mencuci pakaian mereka.


Sungguh di manja ketiga putrinya itu.


Padahal semua kebutuhan mereka, ayah khaira yang mencukupinya. Tapi tidak ada sedikitpun mereka santun. Walau sekedar membuatkan kopi, atau menghidang makanan yang sudah khaira masak.


Mereka larut dalam fikiran mereka. Untung mereka sudah selesai makan. Dan piring belum di bawa kedapur.


"Untuk kalian ketahui. Sewa rumah ini tinggal lima bulan lagi. Mungkin ayah tidak menyambung untuk menyewa nya.


"Kenapa yah?. Terus bagai mana dengan ibu dan ketiga anaknya?". Tanya khaira heran.


Tadi dia sempat mendengar pertengkaran ayah dan ibu tirinya. Yang mengatakan kalau ibu tirinya itu tidak mau pindah.


"Ayah tinggal disini saja. Biar kami bantu dana untuk tambahan sewanya". Ujar Nofri.


Karena dia ikut sedih, saat ayah mertuanya mengatakan tidak sanggub membayar sewa rumah yang besar.


"Terima kasih nak. Bukan ayah tidak mau menerimanya. Kalian lebih butuh saat ini". Tolak ayah khaira.


"Semua itu sudah ayah fikirkan. Ayah kan sangat jarang dirumah siang hari


Pulang hanya untuk tidur. makanya ayah mau cari yang lebih kecil. Ayah ingin tenang saja.


Ayah akan sewa rumah yang lebih kecil dan lebih murah, di dekat pasar. biar ayah dekat untuk ke warung

__ADS_1


Kamu kan tahu, Ibu dan juga saudara tirimu itu tidak pernah bersyukur. Selama ini ayah sudah terlalu banyak mengalah pada mereka, bahkan ayah terkesan tidak acuh padamu.


Bukan ayah tidak sayang pada kamu. Tapi ayah hanya ingin kamu faham sikap mereka yang suka menang sendiri.


Jika ayah bicara, mereka lebih dahulu membela diri, dan menjelekan kamu. Makanya ayah lebih banyak diam dan sibuk di pasar saja, dari pada berdebat. Ujung-ujungnya kita yang selalu di salahkan". Ujar ayah khaira.


Menceritakan keluhannya pada putrinya, juga pada menantunya.


Ayah khaira punya warung makanan di pasar. Warung nasi dan sarapan. makanya dia pergi setelah subuh. Dan selesai magrib baru pulang.


"Terus, kalau mereka tidak terima untuk pindah bagaimana yah?. Kan ayah yang kesusahan jadinya". Ujar khaira.


"Kalau mereka tidak mau pindah, ya mereka lanjutkan saja menyewa rumah ini". Ujar ayah khaira santai.


Khaira tidak bertanya lagi. Mungkin memang ayahnya sekarang tidak memikirkan tempat tinggal yang besar dan lengkap.


Cukup pulang untuk dia tidur dan beristirahat. Dan selebihnya di warung.


"Terus barang-barang bagaimana yah?". Tanya khaira


Karena dia ingat perabot dan kamar set yang baru.


"Untuk lima bulan kedepan biar kan saja dulu, kalian pasti akan sering berkunjung dan menginap.


Dan kalau kalian pindah rumah, kalian bisa bawa kerumah atau kontrakan kalian". usul ayah.


Khaira mengangguk. Tahu dengan kesedihan ayahnya. Yang dipaksa menikah dengan anak dari saudara jauh kakek.


.


.


.

__ADS_1


__ADS_2