
Sementara ayah khaira di kota tempat tinggalnya sedang bingung.
Istrinya meminta sejumlah uang untuk memperbaiki motor putrinya yang kecelakaan beberapa hari yang lalu.
Sedangkan ayah khaira tidak punya uang untuk itu. Malah dia berniat untuk menjual motor tersebut
"Pokoknya mas sediakan uangnya. Biar aku suruh orang bengkel memperbaiki". Ujar istrinya.
Padahal ayah Khaira baru saja pulang dari pasar.
"Aku tidak bisa mencarikan uang untuk itu mi. Kalau kamu mau memperbaiki cari sendiri uangnya.
Aku pusing". Jawab ayah khaira.
"Tidak bisa begitu mas. Motor itu...".
"Kan sudah aku bilang beberapa hari yang lalu. Jual saja. uang sudah tidak ada untuk membayar angsuran motor itu". Ujar Ayah khaira.
"Kamu tidak bisa di ajak bicara mas. Uang kamu habiskan untuk pesta anakmu.
Sedikit uang untuk bengkel tidak mau kamu keluarkan". Ujar Mimi.
Ayah Khaira tidak menangapi. Dia berjalan kekamar mandi. Untuk segera membersihkan diri karena gerah.
"Aku belum. Selesai bicara mas. Dengarkan aku dulu". Teriak Mimi saat ayah khaira berjalan.
"Pakai saja uang yang kamu minta dari pak Adrian. Kamu kan juga pinjam uang pada rentenir.
Gunakan uang itu sebaiknya. Dan bayar sendiri utangmu itu. Kareba aku sudah tudak mau mengurus hutang yang kamu pinjam.
Aku sudah lelah mengurus hutang yang kamu buat". Ujar pak Iman, ayah Khaira.
"Tidak bisa mas. Kamu sebagai suami harus menanggung semua keperluanku. kamu tidak bisa lepas tangan begitu saja". Ujar mimi.
Ayah khaira tidak jadi masuk kekamar mandi. Saat mendengar ucapan istrinya. Minta suaminya bertanggung jawab atas istri.
"Apa kamu sebagai istri sudah melakukan kewajibanmu kepada suamimu?.
Apa kamu selama ini pernah melayaniku kahir dan batin?.
Tidak ada". Ujar ayah khaira melihat istrinya dari jarak emoat meter.
Ayah khaira berdiri di pintu masuk dekat dapur. Sementara istrinya berdiri di dekat lemari pembatas ruang tempat tidur.
"Selama lima tahun pernikahan kita, kamu hanya melayaniku sebatas di atas ranjang.
Itupun jarang. Bisa dikatakan sekali seminggu. Bahkan sekali sepuluh hari. Dan kamu minta uang yang lebih setelah kamu melayani ku.
Apa itu tugas istri minta bayaran setelah memuaskan suami.
__ADS_1
Sama dengan pelacur saja". Tambah ayah khaira.
"Apa kamu tidak iklas memberiku uang mas?". Matah Mimi.
"Aku ikhlas memberikan uang kerjaku padamu dan juga anak- anakmu.
Selama ini aku penuhi semua kebutuhan kalian. Hanya kalian tidak pernah menghargaiku.
Mengangab aku sebagai keluarga kalian.
Semua kebutuhanku putriku yang mengerjakan. Kalian mana pernah mengerjakan semua". Ujar ayah khaira.
Mengeluarkan semua yang sudah berapa kali dia ucapkan. saat mereka berdebat.
"Kalau kamu mulai perhitungan padaku dan anak-anak, lebih baik aku tidak punya suami. Ceraikan saja aku mas.
Buat apa aku punya suami jika tidak bisa memenuhi semua kebutuhanku dan anak-anakku yang masih butuh uang buat sekolah". Ujar Mimi.
Kesal suaminya mengungkit kekakuannya selama ini.
"Baik. Aku akan penuhi keinginan kamu". Ujar ayah Khaira.
Dia berjalan kedepan, menuju pintu depan.
"Apa kamu mau mencari uang untuk biaya bengkel mas?". Tanya Mimi. Ibu tiri khaira.
Tidak berapa lama ayah Khaira datang bersama pak rt, juga ada tiga orang. Yang biasa berkumpul di rumah pak rt. Juga seorang hansip.
"Silahkan duduk pak rt bapak- bapak". Ujar ayah khaira.
Menyuruh rt dan rombongan duduk di karpet ruang tamu. Lesehan.
"Ada apa ini pak. Kok datang ramai-ramai kerumah saya?". Tanya mimi.
Dia memandang kearah suaminya, pak Iman.
"Pak iman ingin membicarakan sesuatu. Katanya ibu minta cerai dari pak Iman. dan pak Iman minta kami menjadi saksi nya malam ini". Ujar pak rt.
"Mas?!". Kaget Mimi.
Tidak tahu ucapannya tadi membuat suaminya mengambil keputusan sendiri.
"Iya. Aku memang tidak bisa memenuhi semua kebutuhan kamu dan anak-anakmu Mi.
Mungkin aku bukan suami yang baik untuk kamu. Hingga kamu dan anak-anakmu tidak bisa hidup layak". Ujar pak Amin.
"Mas. Maksudnya apa?. Kamu kok...".
"Kan tadi kamu minta cerai padaku. Karena aku tidak bisa memenuhi kebutuhan kamu. Maka aku penuhi keinginan kamu". Jawab ayah Khaira.
__ADS_1
"Aku iman. Secara sadar dan tanpa paksaan, menjatuhkan talak pada kamu.
Mimi. Mulai saat ini kamu bukan istriku lagi. Aku akan pulangkan kamu pada orang tuamu". Ujar ayah Khaira pada istrinya.
"Mas!". Ujar Mimi lemas.
"Pak rt dan bapak-bapak semua. Terima kasih sudah mrnjadi saksi. Sekarang Mimi bukan istriku lagi.
Apapun kedepannya, urusan mimi bukan tanggung jawabku lagi". Ujar pak Iman lemas.
Sedikit kecewa karena tidak bisa nempertahankan pernikahannya.
"Baik pak. Sebaiknya bapak fikirkan lagi beberapa hari ini. Mungkin ibu Mimi juga butuh instrofeksi diri.
Bisa saja dengan kejadian ini kalian bisa lebih dewasa, dan bisa rujuk kembali setelah berfikir". Usul pak rt.
"Terima kasih pak. Mungkin saya harus berfikir ulang untuk itu pak. saya sudah sangat kecewa. Tidak akan kembali". Ujar pak Iman tegas.
"Malam ini aku akan keluar dari rumah ini". tambanya.
"Baik pak Iman, segera urus berkas untuk perpusahan kalian besok ke rumah saya. Biar tidak ada tersangkut masalah hukum kedepannya". Ujar pak rt.
"Tidak ada berkas yqng harus di urus pak. Karena kami hanya menikah siri selama ini.
Aku menikah waktu itu tidak mengurus surat ke kantor kua. hingga tidak tercatat di catatan sipil". Ujar pak Iman.
Semua terkejut, mendengar keterangan pak Iman.
"Pantas kk oak iman masih kk lama, masih ada nama almarhum istrinya". Ujar pak rt.
"Kalau begitu tentu tidak bisa meminta hak harta gono-gini, secara hanya istri siri. Juga tidak ada anak". Tambah pak Rt.
"Harta apa pak. Tinggal saja masih ngontrak. Warung di pasar juga masih sewa". Ujar mimi.
Dia kesal. Di cerai oleh Iman. Selama ini hidupnya jadi lebih tenang dan terjamin semenjak menikah dengan Iman.
Tentu sekarang dia harus bekerja keras untuk biaya hidupnya. Apalagi untuk biaya sekolah ketiga putrinya.
Lima tahun hidup terangkat derjatnya.
Maka malam itu ayah khaira keluar dari rumah yang sudah dia tempati selama lima tahun ini.
Membawa pakaian dan barang miliknya. Semua pakaiannya dia bungkus menggunakan kardus. Tidak dia tinggalkan satupun. Karena tidak akan pernah kembali lagi.
.
.
.
__ADS_1