
Khaira sedang membantu tante dan ibu-ibu menyusun peralatan dapur beserta piring.
Semua barang yang di pinjam pada kelompok ibu-ibu tetangga yang membantu, di sisihkan para ibu-ibu itu.
Peralatan dan piring itu memang punya kelompok ibu- ibu yang ada di perumahan ini. memang sering disewa warga yang sedang ada hajatan.
Mulai dari perlengkapan dapur hingga perlengkapan makan.
Hingga warga yang butuh bisa menyewanya.
"Yang ini punya tante kamu Ra". Ujar ibu itu menyisihkan yang punya kelompok.
Yang punya tante khaira juga di sisihkan. Dan yang milik khaira juga.
Hingga terdapat tiga kelompok perlengkapan dapur dan oecah belah.
"Termos naai sama dandang itu punya tante juga". Ujar tante saat khaira, saat khaira nembawa dari rak.
"Semua sudah lengkap kok. Piring, sendok sama yang lain juga". Ujar salah satu ibu.
"Mangkoknya sama baskon kecil sepertinya kurang bu. Kan kemaren bawanya selusin". Ujar tante.
"Mangkoknya kemaren kami bawa satu-satu bu. untuk membawa sayur dan nasi. Jadi sudah lengkap.
Hanya ada beberapa piring yang pecah, dan itu sudah di ganti saja dengan yang punya khaira.
Tidak apa kan Ra, piringnya kami ambil buat ganti yang pecah". Ucap ibu itu.
"Tidak apa bu. yang penting punya kelompok lengkap lagi". Ujar khaira.
"Iya. Memang aturannya begitu Ra. Jika ada yang pecah di pakai pada acara di rumah yang minjam, kita ambil ganti dari rumah yang punya hajat itu.
Yang penting barangnya lengkap untuk di pakai lagi bagi yang punya acara". Jelas ibu itu lagi.
"Kami bawa ya bu, Ra. Semu perlengkapan ini". Ujar ibu itu.
"Iya bu, Terima kasih sudah mau bantu sibuk. Aku bantu ya bu". Ujar Khaira.
"Ah tidak usah Ra. Kami sudah bawa gerobak kok. Biar kami bawa betgantian. Kami gantian saja membawanya". Jawab mereka.
Ya ibu-ibu itu juga sudah membawa gerobak untuk membawa perlengkapan dapur dan barang pecah belah.
Khaira dan tantenya tidak memaksa, karena mereka juga akan menyusun barang milik mereka. Juga ada beberapa peralatan milik tante khaira.
"Piring milik kamu susun lagi ke lemari ya Ra. dan tinggalkan seperlunya saja". Ujar tante khaira.
"Baik tante". Jawab khaira.
Dia menyusun piring-piring kedalam lemari. Piring itu dulu di beli oleh ibunya samasa hidup.
Ibinya suma membeli peralatan rumah tangga untuk persediaan jika ada acara di rumah. Tidak akan meminjam.
Tapi, semenjak ayahnya menikah, banyak pirring dan peralatan dapur yabg pecah dan rusak. Bahkan ibu tirinya tidak pernah menjaga dengan baik.
"Ra. Barang pecah belah yang ada di lemari pajangan itu simpan ke kamarmu saja Ra. Itu semua koleksi ibu kamu". Ujar ayah.
Ayah sudah berada di dekat Khaira yang sedang menyusun piring kedalam lemari pajangan bagian bawah.
"Kenapa yah, kan bagus di pajang yah. kalau lemarinya kosong tidak enak di pandang". Jawab khaira.
Dia heran. Kenapa ayahnya menyuruh menyimpan.
__ADS_1
"Ayah lihat koleksi ibumu tyrus berkurang. bahkan ada beberapa yang pecah. Ayah sedih saja melihatnya.
Lihat teko keramik dan tempat kue itu. Ibumu biasa memakai saat hari lebaran atau saat acara. Malah adikmu memakai untuk sehari-hari". Ujar ayah.
Dia sepeetinya keberatan barang pajangan yang hanya digunakan saat spesial, dipakai untuk sehari-hari.
Bahkan ketamik set untuk makan saat lebaran di pakai untuk makan mi, dan ada beberapa yang pecah.
Padahal istrinya dulu membeli dengan menabung uang belanja bulanan.
"Lagipula kamar kamu lebih aman sekarang. Mereka tidak bisa masuk karena kuncinya canggih di buatkan suami kamu.
Ibu dan adikmu pasti akan membuat masalah jika mereka pulang. Dan ayah tidak bisa menjamin mereka akan membalas pada perkakas ini.
Kamu lihat kemaren, karena tidak mendengar permintaan mereka, kamar kamu yang jadi korban". jelas ayah.
Khaira mengangguk paham. Karena adik dan ibunya sika merusak barang milik khaira.
Bahkan saat sekolah dulu, buku pelajaran khaira sering mereka rusak.
"Ayah akan bantu kamu mennyusunnya". Ujar ayah.
Dia mengambil baskom sedang dan menyusun eko set dan gelas pajangan yang ada di dalam lemari.
Karena kardusnya pasti sudah tidak ada lagi. Sudah lama.
"Ayah tadi juga sedah bilang pada suami kamu. Dan dia tidak keberatan". Ucap ayah.
Dia sudah membawa beberapa baskom kecil kedalam kamar khaira. Dan menyusunnya di vawah tempat tidur.
"Abang dimana yah?!". Tanya khaira.
Dia tidak melihat suaminya sejak tadi. Setelah meletakan minuman dan ikut sarapan. Khaira tadi langsung membantu tante di dapur, menyusun peralatan dapur dan barang pecah belah ke dalam lemari.
"Oo.. Aku buat minuman dulu buat mereka yah". Ujar khaira akan menuju dapur.
"Nanti saja. Mereka jiga baru datang. Kamu sekesaikan dulu mengemasi ini.
Ayah tidak mau barang ini pecah sia-sia". Uhar auah.
Khaira heran. Biasa ayahnya tidak banyak mengeluh dengan kelakuan istri dan anak tirinya.
Tapi kenapa sekarang dia selerti keberatan.
Khaira memandang ayahnya yang sibuk menyusun barang koleksi almarhum istrinya. Dan meletakan kekamar putrinya.
Dia sesekali menarik nafas dan membuangnya kasar.
"Ada apa yah?". tanya Khaira.
Ayah hanya melihat khaira sekilas, dan terus melanjutkan pekerjaannya.
Bahkan piring yang rencananya akan khaira susun ke lemari pajangan, semua sudah di masukan ayahnya ke bawah tempat tidur khaira.
"Kok kemarinya kosong?".
Tanya tante yang baru saja dari dapur. Membawa beberapa piring kecil untuk kue di acara kemaren.
"Semua di simpan di kamar khaira. Ini semua dulu ibu khaira yang beli. Aku tidak mau barangnya pecah semua". Jelas ayah lesu.
Tante khaira paham, pasti ada masalah dengan istri barunya.
__ADS_1
Hingga tante Khaira juga ikut membantu membawa ke dalam kamar khaira.
Setelah selesai, khaira membuat minuman untuk pekerja tenda. Juga membantu tantenya menyiapkan makan suang.
Saat khaira dan tantenya sibuk di dapur. Ayahnya datang.
"Ra. Ayah ingin bicara dengan kamu". Ujar ayah khaira.
Khaira menghentikan pekerjaannya yang sedang memotong bawang untuk membuat telor dadar.
Lauk kemaren masih ada, ada ayam goreng dan rendang. Dia hanya ingin menambah menu saja.
"Iya yah. Kita bicara di mana?!". Tanya khaira.
"Disini saja. Biar tantemu juga dengar". Ujar ayah.
Dia duduk di bangku plastik rendah, dekat pintu keluar dapur.
Hhhfff.
Ayah khaira menarik nafasnya.
"Tadi ayah di jemput orang tuanya Mimi ke mesjid sepulang sholat subuh tadi. Mereka ingin bicara dengan ayah.
Ayah mengikuti mereka, tapi ayah tidak dibawanya pulang kerumah mereka. dibawa ke kontrakan anaknya yang kecil, yang berada di perumahan sebelah.
Mereka membicarakan masalah kemaren, dan mereka minta maaf atas perlakuan Mimi dan anak-anaknya pada kita. Khususnya pada kamu.
Mereka tidak tahu dengan kelakuan anaknya itu". Ujar ayah khaira. Menjeda ucapannya.
"Mereka akan membawa ketiga anak mimi tinggal bersama mereka, dan jika mimi mau, dia akan pulang kesini sendiri". Jelas ayah lagi.
Khaira mengangguk paham mrndengar ucalan ayahnya.
"Tapi kalau mimi tidak mau. Dan dia ingin membawa anaknya bagaimana?". Ujar tante.
"Boleh saja. Tapi tidak tinggal di rumah ini. Rumah ini lanjutkan saja kontraknya oleh khaira". Ujar ayah.
"Tadipun orang tua mimi juga bilang begitu, kalau mimi ingin ketiga anaknya ikut dia. Maka kami akan tinggal di rumah orang tuanya". tambah ayah.
"Apa ayah bisa tinggal disana?. rumah kakek itu kan kecil. Dimana ayah tidurnya?". Ujar khaira.
Dia tahu, rumah orang tua ibu tirinya kecil. bahkan kecil dari kontrakan mereka ini.
"Ayah akan coba. Apa ibu tirimu itu masih tetap berulah jika di rumah orang tuanya.
Juga adik-adikmu. Apa dia masih bisa bermanja". Ujar ayah.
"Terus. Kenapa semua piring tadi dimasukan ke kamar?. Kalau mereka tidak akan tinggal disini?". Tanya tante khaira heran.
"Itu kan baru diskusi dengan orang tua mimi.
Mereka akan bicara siang ini.
Kalau dia tidak mau. pasti dia akan datang kesini membawa anak-anaknya dan mengamuk.
Aku hanya waspada saja". Ujar ayah khaira.
Khaira dan tante mengangguk paham. Tahu dengan sikap ibu tirinya itu.
.
__ADS_1
.
.