Jadi Penganti

Jadi Penganti
Bersiap


__ADS_3

Setelah mendengar petuah dari orang tuanya, Nofri mengajak Khaira untuk berbicara. Mengenai bulan madu tersebut.


"Menurut kamu bagaimana?. Apa kita pergi bulan madu itu?". Tanya Nofri.


Mereka baru saja selesai sholat isya, setelah berbicara dengan orang tua Nofri tadi.


"Menurutku. Aku...".


Khaira punya ide untuk tetap pergi bulan madu itu. kapan lagi bisa jalan-jalan. Keluar pulau dan naik pesawat.


"Menuru kamu apa?". Tanya Nofri tidak sabar.


Sebab dia melihat istrinya itu tersenyum sediri. Tanpa melanjutka ucapannya.


"Tapu jangan marah ya bang. Apalagi di tertawakan". ujar Khaira.


"Bilang saja. Mau aku tertawa atau marah aku juga belum mendengar pendapat kamu". Ujar Nofri.


"Hmm begini bang. Mumpung tiket dan semua sudah di pesan dan juga sudah di bayar.


Sebaiknya kita pergi saja.


Sebagai penyemangat aku yang tidak pernah pergi kesana apalagi belum pernah naik pesawat". Ujar Khaira malu- malu.


"Tapi kita liburan, bukan bulan madu". Tambahnya buru-buru.


"Bilang saja kamu ingin pergi. bicara berbelit-belit. Tapi intinya kamu ingin pergi". Ucap Nofri.


Khaira menganggukkan kepalanya sambil menyengir.


"Sekalian. Mumpung gratis". Tambah khaira.


Nofri melihat khaira yang senyum-senyum malu. Tapi mau untuk pergi. Bahkan mengoyangkan kepalanya sambil tersenyum.


"Kamu pasti menghayal Untuk pergi kan?". ujar Nofri.


Khaira mengangguk pasti. Dia sangat ingin untuk pergi kesana.


"Hmmmm. Sepertinya aku....".


Nofri mengantung ucapannya. Membuat khaira yang berhayal berhenti tersenyum memandangnya.


"Kita pergi. Tapi kamu harus ikut aturanku. tidak boleh minta ini itu. Tidak boleh beli ini itu.


Dan juga tidak boleh pergi tanpa seizinku". Ujar Nofri.


Dia berniat ingin mengerjai khaira saat di sana nanti.


"Baik bang. Aku akan patuhi aturan abang. Asal aku pergi. Aku akan ikut apapun ucapan abang". Ujar khiara.


Dia akan mengikuti aturan suaminya itu. Yang penting liburan ke pulau wisata internasional, pasti akan menarik dan berkesan.


'Yayyy... Liburan..". Guman khaira sambil mengepalkan tangannya.


Nofri merasa lucu dengan tingkah istrinya. Untuk pergi liburan kesana.


Sementara Nofri sudah biasa bepergian kesana, dan juga beberapa kota besar lainnya.


"Udik. Seperti tidak oernah liburan saja". Ucap Nofri.


Melihat istrinya sangat gembira.

__ADS_1


"Memang tidak pernah bang. Aku paling jauh baru ke kampung ibu. Itupun hanya sekali lima tahun atau lebih.


Perjalanannya pun hanya menggunakan bus sekitar dua puluh jam.


Berangkat hari ini, besok sore sampai". Ujar khaira.


"Memang kampung ibumu dimana?". Tanya Nofri.


"Di palembang. tapi bukan asli palembang, karena nenek ku juga perantauan disana". Jelas Khaira.


Nofri menganguk saja. Tidak tahu bertanya apa lagi.


"Ok. Kamu berkemaslah. Kita besok siang berangkat". Ujar Nofri.


"Baik. Aku siapkan.


Baju abang bagaimana?. Aku bantu siapkannya". Ujar Khaira.


"Boleh, Kamu kemaskan saja. Bawa untuk satu minggu. Terserah kamu mau bawa berapa, pakaianmu juga pakaianku". Ujar Nofri.


"Ok sip. serahkan padaku soal kemas-mengemasnya". Jawab khaira bersemangat.


Semangat untuk pergi bulan masu, eh liburan.


Dengan hati yang senang, khaira tidur lebih awal, sangat nyenyak. Bahkan saking nyenyaknya saat bangun tidur dia memeluk tubuh Nofri seperti memeluk guling.


"Enak tidurnya memeluk tubuhku?". Tanya Nofri.


Saat merasakan tubuh Khaira yang bergerak. Dan akan terbangun.


Mata Khaira langsung terbuka. Dan dia terkejut saat dia tahu sedang memeluk Nofri seperti Guling.


"Eh... Pantas tidurku nyenyak". Ucap Khaira memundurkan tubuhnya.


Dia sangat malu pada suami nya itu.


"kok bisa meluk sih". Gumam Khaira malu.


Dia mandi dengan kilat, dan langsung berwudhu.


Saat keluar dari kamar mandi, khaira langsung menuju ruang ganti, untuk menukar baju.


Semantara Nofri ke kamar mandi, khaira membentang sajadah untuk mereka sholat subuh.


Selesai sholat dan membersih kan kasur, barulah Khaira mulai mengemasi pakaian yang akan dibawa pergi bulan madu.


Khaira mengeluarkan koper kecilnya lagi, setelah sire kemaren mengeluarkan pakaiannya.


"Pakai ini. Biar satu saja bawanya". Ujar Nofri membawa koper besar.


"Besar sekali bang. Seperti mau pindah saja". Ujar Khaira.


Melihat koper besar di dorong suaminya.


"Tidak penuh saat pergi juga tidak apa. Nanti pulangnya pasti penuh.


Memang kamu tidak mau beli oleh-oleh untuk keluarga?". Tanya Nofri.


"Mau". Jawab khaira.


'Tapi uangku mana cukup beli oleh-oleh untuk keluarga'. Guman khaira dalam hati.

__ADS_1


Dia tetap memakai koper besar itu untuk pakaian mereka. Dia yakin, suaminya pasti mau membeli oleh-oleh. Pikirnya.


Nofri memilih pakaian yang dua perlukan selama pergi. Dan Khaira juga mengambil pakaian yang dia bawa kemaren.


"Pakaian dalam lemari itu buat kamu. Pilih yang kamu suka untuk di bawa". Ujar Nofri.


Khaira mengangguk senang. Dia sebenarnya tertarik untuk membawa beberapa stel. Tapi masih ragu untuk mengambilnya.


Walau waktu malam setelah pesta nikah mereka Nofri sudah bilang kalau baju yang ada di lemari baru di beli, untuk calon istrinya. Yulia.


Tapi yang menjadi istrinya sekarang adalah khaira. Tentu baju itu untuknya.


Mereka bekerja sama mengemas keperluan mereka kedalam koper.


.


Di sebuah rumah yang tidak jauh dari ruko milik pak Adrian, seorang wanita mengamuk dan mencak-mencak.


"Gara-gara anak sialan ini hidup di perutku. Aku tidak jadi menikah dengan bang Nofri. Aku kesal... Kesal....". Ujarnya memukul perut datarnya.


"Keluar kamu sekarang...". Ujarnya.


Terus memukuli perutnya, dan sesekali melompat-lompat.


"Yulia. Kamu sabar dulu. banyak cara untuk membuat janin itu keluar.


Kalau ksmu memukul dan bertindak kasar, tubuh kamu juga akan kesakitan". Ujar wanita yang ada di dekatnya.


Menarik Yulia untuk duduk.


"Aku ingin janin ini keluar hari ini. dan bulan depan aku mau balikan pada bang Nofri". Ujar Yulia kalud.


"Iya.. Iya..


Aku akan bantu. Banyak rekanku mengeluarkan janin itu dengan obat.


Jadi jagan sakiti tubuhmu yang lain. Cukup minum obat dan tiduran menunggu dia keluar.


setelah keluar kamu minum obat lagi. Beres". Ujar teman Yulia.


"Aku serahkan ke kamu saja. Kamu yang harus bertanggung jawab dengan ini.


Karena sering ikut kamu aku kebablasan hamil". Jawab yulia kesal.


"Jangan banyak bacot kamu. Kamu juga suka aku ajak menemani para om berkantong tebal. Siapa suruh tidak pakai pengaman.


Pintar dikit dong, biar tidak nyangkut. ". Omel teman Yulia.


"Iya. Aku tahu. Tapi kan kamu selalu lupa bawa pengaman. Hingga aku kebablasan". Ujar Yulia.


"Kalau kamu masih mengomel aku tidak mau bantu lagi!". Ucap teman Yulia.


"Ok ok. Aku akan diam.


Mana obatnya?!". Ujar yulia


Dan yulia meminum tiga buah pil berwarna hitam. Dia di suruh tiduran diatas matras yang sudah di lapisi plastik.


.


.

__ADS_1


.


__ADS_2