
Pekerja tenda sudah hampir selesai membuka kain tenda yang terpasang di halaman depan rumah Khaira. Tinggal membongkar besinya saja.
Minuman dan cemilan yang khaira hidang juga sudah berkurang dimakan pekerja itu sambil bekerja dan mengobrol.
Nofri yang sedang duduk santai melihat pekerja sambil ikut mengobrol dengan mereka.
Dia tidak tahu apa yang akan dia kerjakan, makanya dia nongkrong saja di teras.
Dalam jadwalnya kemaren. Hari ini dia dan istrinya akan berkunjung kerumah nenek Yulia di pinggiran kota. Dan Dua hari lagi mereka akan pergi bulan madu ke bali.
Tapi istrinya sekarang adalah khaira. dan mereka baru saja melaksanakan selamatan di rumah istrinya itu.
Nofripun belum membicarakan tentang bulan madunya itu ke khaira.
Kalaupun khaira punya kesibukan, dia akan tunda beberapa bulan kedepan.
"Bang, mau makan sekarang atau makan siap sholat zuhur?!". Tanya khaira pada suaminya.
"Nanti saja kay, abang masih kenyang, ngemil kue bersama mereka". Ujar Nofri menunjuk orang yang sedang membuka tenda.
"Baik bang. nanti kalau abang lapar panggil aku ya, aku mau istirahat sebentar. Rebahan". Ujar khaira.
"Ok. Nanti abang panggil. Kamu istirhat saja". Jawab Nofri.
Maka khairapun kembali masuk kekamarnya. dia juga bepesan pada tantenya kalau dia ingin rebahan sebentar.
Tante juga mau istirahat, tiduran di ruang menonton depan televisi.
"Tante, aku rebahan sebentar ya. Selesai sholat zuhur nanti sambung lagi beres-beresnya". Ujar Khaira.
"Iya Ra. Tante juga ingin istirahat sebentar.
Nanti sore tante akan pulang sambil membawa peratatan tang di pakai kemaren.
Tante di jemput om dan sepupu kamu untuk membantu membawanya". Ujar tante khaira.
"Biar aku bantu nanti tante. Dekat juga kok". Ujar khaira.
Tante dan om khaira memang masih satu perumahan dengan khaira. hanya beda blok saja.
Tapi tantenya sudah rumahnya milik sendiri, sedangkan ayah khaira masih mengontrak.
"Lihat nanti lah. Tunggu om kamu dulu". Ujar tante khaira.
Khaira mengangguk paham. Maka diapun memasuki kamar, untuk istirahat sejenak. Sebentar lagi azan zuhur.
Sedang enak rebahan di kasur empuk yang berada di kamar pengantinnya, dia mendengar ada suara ribut-ribut di luar.
__ADS_1
Dia merasa terganggu dengan suara yang berisik itu. Bukan karena dia tidur, tapi karena dia sedang menikmati istirahatnya.
"Siapa sih yang berisik itu?". Gumam Khaira.
Dia yang masih betah rebahan jadi bangkit dengan malas.
"Menganggu saja!". Gerutunya.
Walaupun malas bangun, dia ingin melihat kejadian yang dia yakin di rumahnya. Dekat sekali suara orang berdebat.
Saat membuka pintu kamar, bersamaan dengan tante khaira yang juga ingin memanggil Khaira.
"Ada apa tante?. Kok berisik sekali suaranya?". Tanya khaira.
"Si mimi, marah-marah. Katanya dia tidak mau anaknya tinggal di rumah kakeknya. Jika dia masih jadi istri ayah kamu.
Dia ingin anak-anaknya ikut dengannya. dimana dia tinggal anaknya harus ikut". Jelas Tante.
"Kan biasa begitu juga tante. Mereka tinggal disini juga kok". Jawab Kaira.
"Itu tante kurang tahu. Dia itu narah-marah berbicara, tidak jelas maksud ucapannya". Jelas tante lagi.
"Apa ayah ada di depan?". Tanya khaira.
"Ayah kamu barusan datang. Tadi dia dari tempat pak rt. Kurang tahu tante urusan apa". Jawab tante.
"Ayo!". Ujar tante.
Mereka menuju depan rumah.
Saat Khaira dan tante sampai di ruang tamu, terlihat Nofri yang berjalan masuk.
"Ada apa bang?". Tanya khaira.
"Itu, ibu marah-narah pada ayah. tidak enak duduk di sana.
Mungkin ayah mau bicara dengan ibu. Makanya abang masuk saja". Jelas Nofri.
Khaira paham. Mungkin suaminya tidak enak mendengar perdebatan ayah dan ibu tirinya.
Apalagi ibu tirinya itu pasti membahas tempat tinggal. Dan juga mengenai uang.
Bisa-bisa dia minta suaminya untuk ikut membiayai apapun.
"Pokoknya aku tidak mau anak- anak tinggal terpisah dari ku. Aku ingin seperti biasa. Tinggal disini". Ucap ibu tiri khaira.
Khaira yang baru keluar dari dalam rumah. melihat ibu tiri nya sedang marah dan menunjuk-nunjuk wajah ayah khaira.
__ADS_1
"Kenapa kamu melapor pada ayah, hingga aku dan anak- anak tidak boleh tibggal di sini.
Jangan mentang-mentang anakmu mendapat suami kaya, kamu bisa aaja melepas tanggung jawabmu pada anak- anakku". Ujar Ibu tiri khaira.
"Seharusnya kamu memanfaatkan itu. kamu mita uang bulanan dari anak dan menantu kamu itu untuk biaya hidup kita, agar bisa hidup tenang". Oceh ibu tiri khaira.
Khaira hanya geleng-geleng kepala. Tidak tahu dengan jalan fikiran ibu tirinya.
"Maaf Mi. Aku tidak ingin menganggu anak dan menantuku.
Untuk diriku sendiri saja aku tidak akan pernah memintanya pada khaira dan suaminya.
Apalagi untuk anak-anak kamu. Mereka tidak bertanggung jawab atas itu". Ujar ayah khaira tegas.
"Dan mengenai rumah ini. Aku tidak akan memperpanjang kontraknya.
Bukan karena putriku sudah menikah. Tapi memang keuanganku sudah tidak sanggub lagi untuk membayar kontraknya". Ujar ayah khaira.
"Tidak bisa begitu. Kamu harus minta menantumu itu untuk membayarnya.
Untuk apa punya menantu kaya kalau tidak bisa menumpang hidup". Ucap ibu tiri khaira marah.
Tentu dia marah, karena tentu dia juga tidak akan bisa hidup senang lagi seperti biasa.
Selama lima tahun ini, semua kebutuhan di tanggung oleh suaminya, ayah khaira. Dia hanya menikmati saja.
"Kamu pulanglah dulu, kita bicara besok". Usir ayah khaira.
"Tidak mau. Aku mau tinggal disini". Tolak ibu tiri khaira.
"Mau pulang sendiri, atau ayahmu yang menjemput". Ancam ayah khaira.
"Kamu jangan senang dulu. Besok aku akan kesini bersama anak-anakku.
Kami akan kembali kesini". Ujar ibu turi khaira.
Walau dengan ocehan kecil, tetap mau keluar dari rumah.
Terlihat ayah khaira mengusap wajahnya. Sambil menarik nafas kasar.
Dia malu. malu pada menantu yang baru menikahi putrinya. Dia juga memikirkan putrinya yang menikah sebagai penganti.
Apa akan hidup bahagia kelak.
.
.
__ADS_1