
Ayah khaira yang pulang selepas sholat magrib kaget. Saat dia memasuki kamar yang biasa di tempati sudah berubah.
Kamar set yang ada di dalam kamar sudah tidak ada di dalam kamar. Berganti kasur busa singel yang di gelar di atas karpet.
Di dalam ada putri bungsu istrinya yang sedang tiduran. Malah dia hanya melihat sekilas, lalu sibuk dengan ponselnya lagi.
Ayah khaira menutup kembali pintu kamar itu.
Dia heran. Kok kamarnya sudah kosong saja dan berganti menjadi kamar anak sambungnya.
Masih bingung dengan yang dia lihat barusan. Tiba-tiba dia di kejutkan dengan datangnya istrinya dari luar rumah.
Istrinya itu menjinjing bungkusan yang dia yakini kotak makanan.
"Kamu sudah pulang mas?!". Ujarnya
"Oh ya. Kamar kita sekarang di tempati oleh Susan. Karena Liona ingin kamar sendiri. Sementara Fani menempati kamar khaira. Mereka ingin kamar sendiri- sendiri.
Makanya tempat tidur kita di pindah ke ruang makan. Dan di batasi dengan lemari". Jelas Mimi.
"Besok kamu beli triplek untuk membatasi ruang makan itu untuk jadi kamar kita. Biar aku panggil saja tukang untuk mengeejakannya". Ujar mimi panjang lebar.
Sementara ayah khaira tidak menanggapinya. Dia berlalu ke ruang belakang. Ruang makan yang sekarang menjadi kamar dadakannya.
Mengambil handuk dan juga baju ganti yang ada di lemari. Berniat untuk mandi, karena gerah pulang dari rumah om khaira, mengantar barang yang akan dititipkan.
Untung rumah om khaira itu lumayan besar. Hingga perabot dan perlengkapan milik khaira di tempatkan di paviliun rumah tersebut.
Paviliun itu adalah tempat barang dagangan milik mereka, dan mereka menarohnya di garase untuk sementara waktu. Sebelum di bawa kepasar.
Selesai mandi ayah khaira kembali ke kamar barunya. Ubtuk istirahat. Karena besok di akan mulai ikut berjualan di pasar.
Semenjak khaira menikah dan acara selamatan, warung di serahkan ke karyawan untuk menangani.
__ADS_1
Beberapa hari ini dia sibuk, dan akan mulai untuk menyibukan diri berjualan lagi.
Terdengar istrinya makan sambil mengobrol dengan ketiga anaknya. Tap istrinya tidak sedikitpun menawarkan dirinya untuk ikut makan.
Hal itu sudah biasa dia hadapi. Istri dan anak sambungnya itu tidak pernah peduli padanya. Jangankan untuk menawarkan minum, menyapa saja mereka bisa dikatakan jarang.
Duduk bersama hanya jika mereka akan minta uang ubtuk biaya sekolah, atau mau beli kebutuhan mereka. Itupun akan langsung pergi jika sudah dapat maunya
"Hanya anak sendiri yang benar-banar peduli padaku. Mereka hanya mau uangku dan tenagaku saja.
Tidak pernah menganggabku ada jika kebutuhan mereka sudah cukup". Gumam ayah khaira dalam hati.
"Aku akan berusaha untuk tidak peduli. Tidak ada gunanya juga peduli pada mereka.
Lima tahun aku jadi sapi perah mereka, tidak sedikitpun mereka mebghargaiku. Malah putriku mereka jadikan pembantu mereka.
Cukup aku mengalah. Selama ini aku diam menghargainya karena kerabat yang nasih terjalin. Tapi semua sia-sia". Geram ayah Khaira.
Dia memejamkan matanya. Kesibukan beberapa hari ini membuat tubuhnya lelah. Tapi dia sudah bahagia, putri satu-satunya sudah ada yang menjaganganya.
"Mas. Besok aku mau beli kursi tamu dan juga meja makan ya. Anak-anak kesusahan untuk makan di lesehan lantai".
Tanpa perasaan Mimi duduk dan mengoyang bahu suaminya yang sedang tidur. Bahkan ayah khaira rasanya baru saja memasuki alam mimpi.
Membuat ayah khaira terjengkit kaget. Hingga dia memlerbaiki posisi tidurnya. Dia kesal, dan kembali memejamkan matanya.
"Mas. Kamu dengar aku tidak. Aku minta uang untuk pergi belanja besok". Ujarnya.
"Pergi saja jika kamu punya uang". Jawab ayah khaira kesal.
"Aku mana ada uang mas!. Makanya aku minta sama kamu!". Jawab mimi kesal dan suara tinggi.
Sambil menarik tangan suaminya untuk menghadapnya.
__ADS_1
"Kalau tidak ada uang buat apa beli". Jawab ayah khaira.
Kembali miring dan memejamkan matanya.
"Ini semua salah kamu mas. Kenapa kamu membawa semua perabot. Hingga rumah kosong melompong". Ujar mimi kesal.
"Kan kamu yang menyuruh membawa semua barang khaira.
Dan semua adalah barang yang di beli almarhum ibu khaira. Bukan barang yang kamu beli. Apalagi kamu bawa dari rumah orang tua kamu.
Kalian saja selama ini memakai barang milik khaira. Apa kalian tidak malu dengan semua itu". Ujar ayah khaira.
"Kalau kamu mau beli silahkan. Tapi tidak dengan uang pemberianku.
Uang ku sudah habis untuk modal warung juga bayar sewa warung". tambah ayah khaira.
"Dan satu lagi. Hutang kamu pada rentenir itu sudah aku serahkan pada ayahmu. Aku tidak punya urusan lagi". Ujarnya sebelum kembali tidur.
"Kenapa kamu serahkan pada ayahku. Kan uangnya....".
"Ayahmu sudah bertemu dengan rentenir itu. Datangi saja orang tuamu". Potong ayah khaira tanpa melihat istrinya.
Hal itu membuat Mimi kacau. Uang yang dia pinjam atas nama suaminya untuk acara pesta. Malah di ketahui orang tuanya.
Dari tadi dia tidak bertemu dengan ayahnya itu. Dja pulang kerumah orang tuanya hanya mengambil barang dan menjemput ketiga putrinya.
Dia cemas, jika ayahnya tahu dia meminjam uang pada rentenir. Dengan dalih untuk pesta anak tirinya.
"Aku harus cari cara agar ayah tidak marah dan bertanya tentang uang pinjaman itu.
Untung uang itu masih aku simpan di tempat aman". Ujar mimi.
Dia akan berusaha agar suaminya mau membayar hutangnya.
__ADS_1
.
.