Jangan Bedakan Aku

Jangan Bedakan Aku
Penggemar Baru


__ADS_3

Anisa meringis kesakitan saat bagian tangannya lecet karena tergores batu jalanan.


"Aduh, neng, hati-hati, dong. Jadi luka, kan." Seorang pedagang es buah yang tak jauh dari sana menghampiri Anisa dan membantunya berdiri. Pria itu juga membantu mendirikan sepeda motor Anisa.


"Makasih, ya, Bang. Tapi, ini mobil siapa, Bang?" tanya Nisa sambil menunjuk mobil yang baru saja diserempetnya.


Baru saja pria itu ingin berbicara, tiba-tiba saja si pemilik mobil datang.


"Eh, ini, neng. Mas mas ini yang punya," ucap pedagang es buah sambil menoleh ke arah pria berjas yang tampan itu.


"Mas, maaf, tadi saya nggak sengaja membuat mobil Mas lecet. Tapi saya akan ganti rugi, kok." Anisa menatap pria itu dengan tatapan khawatir jika niat baiknya tidak diterima.


"Nggak apa-apa, lagian ini salahku karena memarkirkan mobil agak ke tengah." Tanpa diduga reaksi pria itu berbeda. Dia bahkan sama sekali tidak mempermasalahkan mobilnya yang lecet akibat keteledoran Anisa.


"Tapi beneran nggak apa-apa, Mas?" tanya Nisa sekali lagi.


"Iya, nggak apa-apa, kok." Pria itu tersenyum dengan begitu lembut. "Oh ya, nama kamu siapa?" Sepertinya dia tertarik pada Anisa.

__ADS_1


"Nama saya Anisa, Mas."


"Anisa? Nama yang sangat bagus. Kenalkan, nama saya Bagas. Kamu mau kemana? Kok kayaknya buru-buru."


"Saya harus kembali ke warung saya, Mas."


"Dimana?"


"Di pasar ujung sana." Anisa menunjuk pasar tempatnya berjualan.


"Oh, kamu emang jualan apa."


"Kebetulan saya lagi laper, nih. Kamu bisa nggak masakin saya makanan yang enak. Setelah itu saya akan anggap kita impas."


"Tapi, Mas, kerusakan yang terjadi di mobil Mas kan sangat mahal. Gimana bisa cuma diganti dengan sepiring makanan?" Anisa mengernyitkan dahinya.


"Saya ini pecinta kuliner. Setiap rasa yang enak dan cocok di lidah saya akan saya beri apresiasi dengan nilai yang tinggi."

__ADS_1


"Ya udah, Mas, ayo."


Anisa pun segera membaca sepeda motornya menuju ke pasar dengan diikuti mobil Bagas.


Sesampainya di pasar, mereka pun langsung masuk ke dalam dan menuju warung tempat Anisa berjualan. Bagas terlihat sangat antusias karena warung Anisa begitu rapi dan bersih.


Dia pun meminta dibuatkan sepiring nasi goreng lengkap dengan telur mata sapi setengah matang kesukaannya. Dan setelah nasi goreng itu selesai, suapan pertama yang dirasakannya sungguh luar biasa. Dia terus memuji-muji masakan Anisa dan adalah rasa paling enak yang pernah dia rasakan.


"Anisa, aku minta nomor ponselmu, ya. Soalnya aku tertarik untuk menjadikan warungmu sebagai penyedia makanan ketika aku mengadakan rapat di kantorku. Ini kartu namaku." Bagas memberikan sebuah kartu nama pada Anisa.


Bagaskara Prasetyo. Itulah nama lengkapnya. Di bawah tulisan nama itu ada jabatan yaitu direktur PT ADW.


Anisa hampir tak percaya bahwa orang yang ada di depannya saat ini adalah seorang direktur perusahaan ternama. Dia pun memberikan nomor ponselnya pada Bagas. Mungkin saja ini adalah awal untuknya meraih kesuksesan. Dengan kemahiran yang memasak, dia ingin sekali mendirikan sebuah restoran dengan uangnya sendiri. Setelah semua hutangnya lunas pada sang ayah, dia akan merealisasikan rencananya dengan menabung secara perlahan.


Setelah Bagas pergi, terlihat Adit yang melihat Anisa dari jauh dengan perasaan kecewa. Tadinya dia ingin mampir untuk makan siang. Namun, karena melihat Anisa yang baru saja memberikan nomor ponselnya pada pria itu, dia pun berbalik arah dan hendak pergi.


Namun, tiba-tiba dia pun teringat.

__ADS_1


"Untuk apa aku merasa minder? Aku kan Sultan. Ah, semenjak aku terbiasa jadi rakyat biasa, aku jadi lupa siapa aku sebenarnya." Adit memegangi kepalanya sambil berjalan menghampiri warung Anisa untuk memesan makanan.


Masih ada waktu dua jam lagi karena Anisa biasanya menutup warung sekitar jam dua siang. Dan setelah itu, dia akan pergi ke toko baju ibunya untuk membantu di sana sampai sore.


__ADS_2