
Salsa yang baru saja masuk ke dalam rumah tertegun melihat ibunya yang sedang mengacak-ngacak lemari di dalam kamar untuk mencari surat tanah.
Di sana terlihat Anisa yang menangis sambil membujuk agar sang Ibu berhenti mencari surat tanah itu. Di belakangnya ada Ramli yang terlihat gugup karena nyatanya, Dewi tak kunjung menemukan surat tanah itu.
"Lho, kok nggak ada? Biasanya kan Ibu simpan di sini!" ucap Dewi kesal.
"Nyari apa sih, Bu? Heboh banget?" Tiba-tiba Salsa masuk dan bertanya.
Dewi lantas menoleh dan menatap putri keduanya yang terlihat berantakan.
"Kamu habis dari mana kok kotor banget?"
"Tadi Salsa jatoh, di pinggir sawah, Buk. Lihat, nih, tangan Salsa jadi lecet." Salsa jangan yang lecet karena terjatuh tadi.
"Apa? Jatuh? Terus kondisi kamu gimana? Kamu nggak terluka kan?" tanya Ramli dengan tatapan penuh kekhawatiran.
Dewi yang melihat perlakuan suaminya pada Salsa kembali emosi. "Terus, gimana sama sepeda motornya? Kerusakan apa yang kamu buat?"
__ADS_1
"Ih, kok Ibuk bilangnya gitu sih. Aku nih habis jatuh, Buk. Sepeda motornya masuk ke sawah. Gak tau tuh, tadi bolak-balik mati di jalan. Kata kang bengkel kayaknya mesinnya sih."
"Wah, banyak juga, ya." Dewi menatap Ramli yang terlihat tidak marah sama sekali. "Terus gimana cara kamu benerin sepeda motor itu? Pakai uang kamu kan?"
"Hah? Uang aku? Ya enggaklah, Buk. Kan ada Ayah."
Dewi tersenyum sambil menahan emosi. "Oh, uang ayah? Oke, minta sama ayahmu sekarang!"
"Ibuk kenapa, sih. Pasti ayah langsung ngasih dong." Salsa berbalik menghadap ayahnya sambil menadahkan tangan. "Yah, minta satu juta buat benerin sepeda motor aku. Tadi kata kang bengkel biayanya lima ratus ribu, lima ratus ribunya buat aku, ya."
Dewi menatap Ramli, menunggu jawaban yang akan diberikan pada Salsa.
"Tapi nanti bakalan dikasih, kan, Yah? Ayah kan punya simpanan uang dari Kakak."
Deg, sontak Dewi langsung menoleh ke Anisa yang tertunduk takut.
"Apa? Simpanan uang? Simpanan uang darimana?" tanya Dewi pada Anisa.
__ADS_1
Namun, dia pun menoleh ke Ramli karena tak mendapatkan jawaban dari Anisa. "Simpanan uang dari Anisa? Gimana maksudnya, Mas?"
"Jawab, Mas!" teriak Dewi karena tak mendapatkan jawaban dari siapapun.
"Tunggu! Nisa, mana uang lima belas juta yang waktu itu kamu bilang mau ditabung. Mana? Sini buku tabungannya!"
Anisa diam tak berkutik. Dia masih terus menundukkan kepalanya karena merasa ketakutan.
"Pasti kamu kasih ayah kamu, kan? Jawab Ibu!"
"Maafin Nisa, Bu. Nisa cuma mau memulangkan uang operasi Nisa waktu kecil. Supaya ayah dan ibu nggak bertengkar lagi gara-gara Nisa."
Dewi mengusap wajahnya lalu menangis tersedu-sedu. "Ya Allah, suami macam apa yang engkau berikan padaku? Macam apa yang tega meminta biaya operasi anaknya sendiri."
"Bu, jangan nangis, maafin Nisa. Ayah nggak minta. Tapi Nisa yang ngasih biar Ayah bisa lebih adil sama kami. Agar ayah dan ibu nggak bertengkar lagi."
"Ngapain kamu minta maaf? Kamu itu nggak salah! Yang salah itu ayahmu! Ayahmu ini memang Ayah yang paling tega di dunia ini!" Dewi beralih menatap tajam Ramli.
__ADS_1
"Kamu jangan nyalahin aku terus, dong. Aku nggak pernah minta kok."