
"Nis, ini adikmu, bukan?" tanya Indah sambil menunjukkan ponselnya kepada Anisa.
Anisa melihat serius ke ponsel indah untuk mengenali gadis yang sedang berjoget sambil meminum alkohol itu.
"Astaghfirullahaladzim, ini kan Salsa. Kok dia kayak gini. Pantesan aja tadi ibu bersikap aneh." Anisa untuk mulutnya tak percaya melihat kelakuan adiknya.
"Kenapa sih Salsa itu kok bisa kayak gini. Apa bener ayahmu terlalu memanjakannya dan membenarkan apapun yang dia lakukan?" tanya Indah sambil menaruh ponselnya kembali ke dalam kantong.
"Mbak, maaf, ya. Sebenarnya aku pernah ngeliat Salsa bolak-balik masuk klub malam sama temen-temennya dan beberapa cowok," ucap Sela sambil menghampiri mereka saat sudah selesai mencuci.
"Apa? Kapan kamu lihat dia, Sel?" tanya Anisa setengah terkejut.
"Beberapa minggu lalu. Waktu aku beli barang di toko tempat di depan klub malam itu. Aku ngeliat dia pakai baju seksi sambil digandeng beberapa laki-laki."
"Astaghfirullah, Ya Allah, Salsa." Anisa menatap kecewa sambil menutup mulutnya. Dia tak menyangka adiknya akan terjerumus ke pergaulan bebas seperti ini. Apakah ini akibat dari ayahnya yang terlalu memanjakannya?
"Udah, Nis, jangan terlalu kamu pikirin. Pasti tadi dia udah habis kena semprot ibumu. Siapapun tau kalau ibumu udah marah besar, nggak akan ada yang berani ngelawan atau barang apapun di dekatnya akan melayang." Indah mengingatkan. Dia pernah menyaksikan Dewi bertengkar dengan seorang pedagang jam tangan yang kala itu menghinanya sebagai wanita gila harta karena terlalu rajin bekerja.
Dalam sekejap, beberapa patung manekin yang masih memakai baju langsung melayang ke arah tukang jam tersebut. Tak hanya itu, dia juga melemparkan sandal dan tongkat yang biasa dibuat untuk mengambil baju yang tergantung di atas.
Dan setelahnya, tukang jam tersebut meminta maaf berkali-kali dan berjanji tidak akan pernah menghina Dewi lagi.
"Iya, Mbak, makasih. Aku cuma khawatir sama Salsa kalau dia nggak menghentikan kebiasaan buruk ini."
"Kamu kenapa sih kok masih perhatian sama dia. Jelas-jelas ayahmu cuma sayang sama dia aja. Sedangkan sama kamu itu terlihat benar-benar pilih kasih." Indah kembali mengingatkan Anisa momen-momen tak mengenakkan.
__ADS_1
Waktu itu, Salsa yang baru saja pulang sekolah berteduh di toko baju sang Ibu karena hujan. Keadaannya saat itu sedang membawa sepeda motor dan tidak mengenakan mantel karena malu dianggap seperti ibu-ibu.
Ramli dan Anisa pun menjemput Salsa ke pasar dengan membawa mobil. Dan saat pulang, Anisa disuruh membawa sepeda motor Salsa dengan membawa mantel. Saat itu, ibunya sedang tidak ada di tokonya karena berbelanja kebutuhan toko.
Anisa melajukan sepeda motornya di tengah hujan deras. Sedangkan ayahnya yang sudah jauh meninggalkannya rupanya mampir ke warung bakso dan makan bersama Salsa. Saat dia melewati warung bakso itu, dia melihat dengan jelas ayah dan anak itu sedang menikmati makanan hangat di tengah cuaca yang buruk.
Dan saat mereka sampai di rumah, Anisa hanya tersenyum getir melihat tak ada sebungkus bakso yang dibawakan untuknya.
Bahkan, Ramli tak menanyakan apakah Anisa kedinginan ataupun sakit. Yang dimanja tetaplah Salsa. Ramli menyuruh Anisa membuatkan coklat panas untuk Salsa.
Anisa menggelengkan kepalanya beberapa kali untuk membuang jauh-jauh bayangan masa lalu itu karena ini bukanlah waktu yang tepat untuk memikirkan rasa sakit di hatinya.
***
Malam harinya, Ramli pergi ke warung kopi untuk ngopi bersama teman-temannya. Mereka adalah Pak Edi dan Pak Bayu, teman dekat Ramli sejak masih muda. Pertemanan mereka masih akrab sampai sekarang karena ketiganya masih tinggal di tempat yang sama.
"Jangan-jangan kamu udah tau ya soal Salsa yang viral," ucap Bayu sekenanya.
"Iya, aku udah lihat video anakku. Masih nggak habis pikir, kok bisa ya dia kayak gitu. Pasti dia terpengaruh sama teman-temannya atau lagi dalam keadaan sedih, makanya melampiaskannya ke klub malam." Ramli menghela nafas pelan.
Edi dan Bayu saling pandang. Tak mengerti dengan jalan pikiran teman mereka yang malah membela sang anak padahal nyatanya sang anak memang salah.
"Kamu pernah nggak sih marah sama Salsa?" tanya Edi.
"Enggak. Aku nggak pernah bisa memarahi dia. Bagaimana pun juga, dialah sumber rezeki di keluargaku hingga aku bisa seperti ini. Nggak seperti kakaknya yang hanya membuat keluarga kami susah dan sengsara."
__ADS_1
Edi dan Bayu kembali bertatapan. Ingin sekali mereka membenturkan kepala Ramli dinding warung berbahan papan itu agar sadar bahwa bukan hal yang baik ketika orang tua membeda-bedakan anak.
"Masa, sih? Kamu kok bisa punya pikiran kuno seperti itu? Semua anak itu adalah pembawa rezeki orang tuanya. Hanya karena Anisa pernah sakit saat kecil dan menghabiskan biaya banyak, kamu menganggap dia pemutus rezeki. Sedangkan saat kamu keterima menjadi PNS ketika anak kedua mu lahir, kamu seolah menganggap bahwa itu adalah keberuntungan yang kamu dapat karena kelahirannya? Kamu salah Ram." Bayu berusaha mengingatkan.
"Halah, tau apa kalian? Kalian itu belum pernah merasakan bagaimana sengsaranya kami dulu saat berhutang sana sini untuk biaya operasi Anisa. Bahkan aku dan Dewi pernah hanya makan dengan nasi dan kerupuk saja. Semua itu pasti karena Anisa." Ramli masih bersikeras dengan pikiran kunonya.
"Ram, anak pertamaku bolak balik masuk rumah sakit dan menghabiskan biaya banyak saat kecil. Tapi, aku nggak pernah menganggapnya sebagai pemutus rezeki. Bahkan sekarang dia udah menjadi seorang dokter. Dia selalu memberikan ibunya perhiasan setiap bulan."
"Ya itu kan kamu. Beda sama aku."
"Ram, padahal Anisa itu ibarat primadona di komplek ini. Semua orang tua yang memiliki anak laki-laki selalu ingin menjadikannya menantu. Karena apa? Karena dia baik, Solehah, dan ramah. Nggak seperti Salsa yang terkenal males itu." Bayu yang sudah kesal berusaha membuka pikiran Ramli.
"Kalian jangan sembarangan ngomong dong. Salsa itu nggak males. Aku memang membiasakannya manja dari kecil karena dia memang pantas mendapatkannya."
"Terserah, deh, Ram. Ya, semoga aja Salsa dapat jodoh orang kaya, jadi dia nggak perlu capek-capek ngelakuin pekerjaan rumah."
"Memang, Salsa aku sekolahin tinggi-tinggi supaya dapat suami yang kaya dan mapan. Dia harus mendapatkan kehidupan yang layak karena bisa jadi dia akan menjadi sumber rejeki suaminya nanti. Sama seperti aku yang mendapatkan rezeki karena dia."
Edi dan Bayu hanya bisa saling pandang. Mereka tidak mau lagi merespon karena tidak akan ada habisnya. Ramli tidak akan pernah mau jika anak keduanya disalahkan.
Sementara itu...
"Oh jadi ini alamat tempat tinggalnya?" tanya Bagas sambil melihat foto Anisa yang diambil secara candid oleh orang suruhannya.
"Iya, Pak bos. Dia juga belum pernah punya pacar."
__ADS_1
"Saya semakin tertarik. Tetap pantau dia terus. Bagaimana pun caranya, saya ingin mendapatkannya."
Bagas tersenyum sambil terus memandangi foto Anisa. Wanita ini memang adalah tipe ideal yang selama ini dia cari.