Jangan Bedakan Aku

Jangan Bedakan Aku
Bertengkar


__ADS_3

"Maksud kamu apa ngomong gitu, Dit? Jangan mentang-mentang kamu orang kaya, terus kamu bisa semena-mena sama Anisa. Inget, ya, tanpa restu saya, kamu juga nggak bakalan bisa nikah sama dia!" Ramli menatap tajam Adit yang ucapannya sudah menyinggung perasaannya.


"Ya kan emang kenyataannya Ayah terus saja membela Salsa meskipun dia salah. Dan Anisa? Bahkan dia nggak melakukan apapun tetap aja salah di mata Ayah." Adit juga tak terima dengan pembelaan Ramli yang menurutnya masih tidak masuk akal.


"Heh, yang ngebesarin Anisa itu saya, bukan kamu! Kamu cuma terima pas udah besarnya aja. Jadi saya tau gimana repotnya membesarkan dia. Apalagi dengan perekonomian kami yang seringkali merosot sejak dia lahir."


"Kok Ayah kolot banget, sih? Padahal Ayah berpendidikan tinggi, ASN, tapi kenapa pemikiran Ayah masih kolot kayak gini? Heran, deh, entah pemikiran dari mana kayak gitu!" Adit menatap Ramli dengan sinis.


"Heh, kamu kok bawa-bawa pendidikan dan pangkat saya, sih? Mau kamu pernikahan kalian nggak saya restui! Saya suruh nanti Anisa menceraikan kamu!"


"Ramli! Udah, dasar aki-aki kolot! Yang dibilang Adit itu bener! Ngapain kamu pake ngancem mau misahin mereka? Udah gila kamu? Otakmu pindah ke dengkul, ya?" Dewi memelototi Ramli yang hanya membuang muka dan menghembuskan nafas kasar.


"Belain terus anakmu yang merepotkan itu! Tau nggak sih, harusnya waktu itu Salsa yang nikah sama Adit. Kan sesuai, soalnya Salsa berpendidikan tinggi. Kalau Anisa ya cocoknya sama Bagas, biar jadi menantu dan istri kesayangan." Tanpa rasa malu, Ramli malah mengatakan hal tak masuk akal itu.


"Heh, Ramli! Memang aki-aki nggak punya otak kamu, ya. Pemikiranmu itu udah keterlaluan! Nanti lama-lama aku cocolin cabe rawit ke sosis kamu biar tau rasa kamu!" ancam Dewi dengan nafas yang memburu karena emosi.

__ADS_1


Ramli langsung menjauhkan diri dari Dewi karena takut akan ancaman itu. Bukan tanpa alasan, dulu, saat Ramli ketahuan chatting dengan teman kerjanya, Dewi pernah menaruh balsem ke ****** ******** hingga membuatnya harus berendam di dalam ember yang penuh dengan es.


"Udah, Dit, jangan kamu dengerin ucapan aki-aki ini, ya. Otaknya memang eror karena kebanyakan ditipu. Sadar kamu, Ramli! Duit kita kebanyakan habis ditipu kan gara-gara ketololan kamu!" desis Dewi.


Ramli yang memang menyadari bahwa itu adalah kesalahannya masih tetap membuang muka.


"Ya udah, Buk, maafin Adit tadi sempat kebawa emosi. Sekarang kita ke rumah sakit, yuk," ajaknya.


"Naik mobil mewah kamu kan?" tanya Ramli tiba-tiba.


"Iya, Yah, naik mobil aku. Kalau naik angkot nanti kasihan Anisa."


"Kok kasihan Anisa?"


"Ya kan, semua hal buruk yang terjadi sama Ayah selalu dikaitkan dengan Anisa."

__ADS_1


Mendengar ucapan Adit, Ramli pun membuang muka karena merasa malu.


Mereka pun segera pergi ke rumah sakit untuk menjenguk Salsa. Di mobil, Ramli terlihat berfoto selfie dan membuat status di aplikasi hijau miliknya.


"Mobil mantu." Begitulah caption yang terdapat di statusnya itu.


Hingga beberapa orang temannya langsung membalas statusnya dengan berbagai pujian dan juga pertanyaan.


"Siapa, Pak? Suami Salsa, ya?"


"Wah, Salsa beruntung banget punya suami kaya raya."


"Enak banget naik mobil menantu, Pak. Minta dibelikan, dong."


"Mas Ramli, boleh dong bawa Caca muter-muter pake mobil itu."

__ADS_1


Ramli langsung menghapus pesan dari Caca sebelum istrinya tahu. Karena Caca adalah orang yang dulu pernah chattingan dengannya hingga membuat ****** ******** diolesi balsem. Sejak itu dia sudah tidak berani lagi berinteraksi dengan wanita lain.


__ADS_2