Jangan Bedakan Aku

Jangan Bedakan Aku
Merasa Muak


__ADS_3

Tepat pukul sebelas siang, Salsa baru saja keluar dari kamarnya. Dia langsung menuju dapur untuk melihat isi dari tudung saji. Makanan bergizi yang lezat lengkap dengan lalapan sudah tersaji di sana.


Salsa pun mengambil piring dan makan siang. Setelahnya, dia pun pergi ke kamar mandi untuk membersihkan diri. Namun, saat dia hendak memasukkan pakaiannya ke dalam mesin cuci, dia melihat secarik kertas yang bertuliskan 'tolong jemur pakaian ini kalau ada matahari, ya, Sa'. Dilihat dari tulisannya, sepertinya itu adalah tulisan sang ibu.


Salsa bukannya menjemur pakaian, dia malah membuang kertas itu dan berwajah seperti mengejek.


"Enak aja nyuruh-nyuruh aku. Memangnya aku babu?" Dia pun beranjak pergi meninggalkan kamar mandi menuju ke kamarnya untuk bermain ponsel.


Saat itu, dia mendengar sebuah sepeda motor berhenti tepat di depan rumahnya. Saat dilihat, ternyata itu adalah sepeda motor milik Anisa. Salsa yang mengintip dari jendela pun mengabaikan kedatangan kakaknya.


Anisa yang sudah masuk langsung buru-buru pergi ke kamar mandi untuk mengambil pakaian yang harus dijemurnya sekarang. Untung saja ada Mbak Indah sehingga dirinya tidak perlu khawatir meninggalkan warung.


Dia melihat pakaian kotor yang baru saja diletakkan di dalam mesin cuci. Dia tahu bahwa Salsa baru saja mandi. Dia hanya bisa menghela nafas panjang Karena pada akhirnya pesan dari ibunya tidak digubris.


Anisa pun mulai menjemur pakaian itu di samping rumahnya. Disaat bersamaan, lewatlah Bu Lena yang baru saja pulang dari warung.


"Eh, Nisa, kok di rumah? Bukannya sekarang kamu jualan di pasar?" tanya Bu Lena sambil menghentikan langkahnya.


"Iya, Bu, anu, tadi pagi Nisa nggak jemur berpakaian makanya besok pulang."


"Lho, bukannya ada Salsa? Memangnya kemana dia? Pasti bangun siang, kan?"


"Enggak, Bu, Salsa bangun pagi, kok. Tapi, dia lagi nggak enak badan makanya istirahat di rumah." Lagi dan lagi Anisa coba menutupi keburukan adiknya. Meskipun dia tidak perlu melakukannya karena hal itu hanya akan membuat usahanya membuat sang adik tidak membencinya lagi menjadi sia-sia.


"Udah deh, jadi orang itu nggak usah terlalu baik. Kasihan kamu kayak dimanfaatin sama adikmu." Bu Lena masih saja menepis pembelaan Anisa. Padahal mau Salsa rajin atau malas tidak ada akan berpengaruh apa-apa padanya.


"Nggak gitu, Bu, anu…"


"Heh, Buk, kalau punya mulut itu tolong dijaga, ya." Tiba-tiba saja Salsa keluar dan marah-marah pada Bu Lena.


"Nah, ini orangnya? Sakit apa? Sakit malas, ya. Kamu itu memangnya nggak punya sopan santun ya ngomong sama orang tua?" tanya Bu Lena sengit.

__ADS_1


"Gimana orang bisa sopan sama ibu kalau kerjaannya cuma ngurusin anak gadis orang lain? Mentang-mentang anak Ibu dokter terus suka-sukanya gitu ngatain anak orang lain?" Salsa berkacak pinggang sambil melotot pada Bu Lena.


"Sa, udah, Sa, kamu nggak boleh gitu sama orang tua, dosa, Sa," ucap Anisa yang menghampiri Salsa dan mencoba membujuknya untuk masuk ke dalam rumah.


"Diem, loe, gue nggak butuh nasihat loe. Seneng kan loe karena gue jadi bahan gunjingan di komplek ini?" Salsa menepis tangan Anisa yang hendak membawanya ke dalam rumah.


"Heh, Sa, kamu kok kasar banget sih sama kakakmu sendiri? Harusnya kamu bersyukur punya kakak rajin dan baik seperti dia."


"Udah deh, Bu, nggak usah ikut campur. Urusin aja keluarga ibu yang berantakan itu! Suami tukang selingkuh dan KDRT aja bangga!"


Bu Lena langsung syok mendengar perkataan Anisa. Memang suaminya ringan tangan dan tulang selingkuh. Dia ditinggalkan suaminya saat anaknya remaja karena sang suami yang selingkuh dan pergi bersama wanita lain.


"Astaghfirullah, Salsa! Kamu nggak boleh ngomong kayak gitu!" Anisa menegur Salsa yang saat ini sudah kelewat batas.


"Inget, ya, Sa, saya doakan kamu semoga memiliki suami yang bahkan lebih parah dari suami saya agar kamu tahu apa yang saya rasakan!"


Dengan berlinang air mata, Bu Lena pun pergi dari tempat itu. Sedangkan Salsa memilih untuk masuk ke dalam rumah tanpa menghiraukan Bu Lena.


"Ya kenapa? Loe nggak suka? Gue nggak peduli!"


"Ya maksud aku kenapa kamu nggak punya sopan santun sama sekali pada orang tua?"


"Ya karena dia seenaknya aja ngatain aku males?"


"Ya tapi itu memang kenyataan, bukan? Kalau kamu nggak mau dikatain, makanya berubah! Jangan kerjanya cuma nongkrong nggak jelas sampe malem, Sa! Kamu itu sudah dewasa, sampai kapan kamu begini terus?" Akhirnya Anisa menumpahkan segala kekesalan yang selama ini dipendamnya dalam hati.


"Ya suka-suka gue, dong. Ayah aja nggak melarang kok. Bilang aja kalau loe itu iri, kan? Lo nggak dimanja kayak gue kan? Gue selalu mendapatkan apapun yang gue mau. Sedangkan loe pasti dikasih yang bekas. Makanya loe iri dan sok rajin di depan semua orang."


"Sa, kalau aku sok rajin, ngapain juga aku capek-capek ngebersihin rumah ini? Nyuciin baju kamu, piring kotor kamu, masakin kamu? Kalau aku mau cari muka, mending aku nggak usah ngelakuin semua itu!" Anisa menatap tajam pada Salsa. Seakan kesabarannya sudah habis menghadapi adik yang kurang ajar itu.


"Ada apa ini?" Tiba-tiba saja terdengar suara dari ambang pintu. Terlihat Ramli yang sedang berdiri tepat di ambang pintu masuk.

__ADS_1


"Ayah." Salsa langsung berlari lalu memeluk ayahnya sambil menangis.


Ramli terkejut melihat Salsa yang menangis seperti itu.


"Anak ayah kenapa nangis? Kenapa, Sayang?" Ramli mengusap air mata Salsa sambil berkata dengan selembut mungkin.


Anisa hanya memalingkan wajahnya karena merasa terluka melihat perlakuan ayahnya yang sangat berbeda pada sang adik.


"Yah, gara-gara Kakak aku disumpahin sama Bu Lena. Terus Kakak juga ngatain aku males dan bisanya jadi beban buat dia."


Ramli terkejut dengan pernyataan Salsa, begitu juga dengan Anisa yang merasa dijebak.


"Benar, Nis?" tanya Ramli dengan tatapan tajam yang tertuju pada anak pertamanya itu.


"Enggak, Yah, semua itu nggak sesuai dengan yang Ayah dengar. Tadi dia ngatain Bu Lena kalau suami Bu Lena itu KDRT dan tukang selingkuh. Jadi Bu Lena nyumpahin dia." Anisa mencoba membela dirinya Karena sudah tidak tahan jika terus membela sang adik yang nyatanya hanya membuat dirinya semakin menderita.


"Habisnya Bu Lena ngatain Salsa males, Yah. Semua itu gara-gara kakak yang sok-sokan jemur pakaian di luar."


"Tapi kan Ayah sendiri yang tadi pagi nyuruh Anisa jemur pakaian karena nggak mau Salsa capek. Salah Nisa?" Dengan mata berkaca-kaca, Anisa menatap sang ayah dengan penuh kekecewaan.


"Halah, memang dia yang nyari muka, Yah."


"Terus kenapa kamu ngatain Salsa malas?" tanya Ramli tanpa menanggapi pembelaan Anisa.


"Karena dia…." Anisa menahan ucapannya. Dia tidak ingin tenaganya sia-sia karena sampai kapanpun ayahnya tidak akan pernah menyalahkan Salsa.


"Udahlah, Yah, Nisa capek. Maafin Nisa karena selalu salah di mata Ayah." Anisa pun pergi meninggalkan mereka dengan berlinang air mata. Untung saja jemur pakaiannya sudah siap sehingga dia tidak perlu berlama-lama di rumah itu.


Dia pun mengajukan sepeda motornya melintasi jalan raya sambil menangis. Untung saja helm yang dipakainya bisa menutupi air matanya yang terbang terbawa angin.


Namun, saat melewati persimpangan, matanya yang kabur karena menangis membuatnya tidak fokus dan kehilangan pandangan selama beberapa detik. Nahas, sebuah mobil yang berada di depannya pun tak sengaja terserempet olehnya dan….

__ADS_1


__ADS_2