Jangan Bedakan Aku

Jangan Bedakan Aku
Mengalah


__ADS_3

Seminggu kemudian. Suasana sore yang seharusnya dihiasi oleh aktivitas senja yang menyenangkan berubah mencekam karena sejak tadi pagi, Salsa tidak mau keluar kamar. Mereka mendapatkan laporan itu dari Devi yang tak kunjung melihat Salsa keluar kamar dari dia datang sampai pulang.


Bahkan, makanan yang ada di meja makan tak disentuh sedikitpun olehnya.


"Sa, buka pintunya dong. Kamu kenapa, Sa?" Anisa mencoba mengetuk pintu kamar itu dan membujuk sang adik.


"Iya, Nak, kamu mau apa biar Ayah belikan," sambung Ramli.


"Sa, kamu kenapa, Nak? Buka pintunya, Sayang." Dewi juga turut membujuk sang anak bungsu meskipun pada akhirnya tidak membuahkan hasil sama sekali.


Hingga akhirnya, Salsa pun keluar dengan kondisi yang sangat acak-acakan. Tubuhnya lemah, matanya sembab dan membengkak karena kemungkinan menangis seharian. Namun, mereka tidak tahu bahwa yang membuat Salsa menangis karena dia menonton drakor yang sangat sedih untuk mendukung sandiwaranya saat ini.


Mereka pun nonton Salsa untuk duduk di atas kursi. Menatapnya dengan penuh kecemasan sambil menanti jawaban darinya.


"Aku sedih, Buk, Yah, Kak. Aku patah hati." Akhirnya Salsa mengaku. Dia menundukkan kepalanya sambil menangis terisak.


"Astaghfirullah, siapa laki-laki yang berani melukai kamu?" tanya Anisa sambil memeluknya.


"Mas Bagas, Kak," ucap Salah terbata-bata karena isak tangisnya.


"Apa? Bagas? Kamu pacaran sama Bagas?" tanya Dewi terkejut. Padahal dia tahu bahwa Bagas dekat dengan Anisa. Hampir setiap hari pria itu memesan makanan di warung Anisa.


"Enggak, Buk. Sebenarnya aku itu suka sama Mas Bagas. Makanya aku mau berubah demi dia. Aku nggak mau menjadi Salsa yang pemalas dan egois. Tapi, dia malah membuatku patah hati. Karena dia menyukai perempuan lain." Salsa melanjutkan tangisannya setelah selesai bercerita.


"Hah? Siapa perempuan itu, Sa? Kok dia tega banget sama kamu." Ramli terlihat kesal dan tak terima karena anak kesayangannya dibuat menangis seperti itu.


"Maafin aku harus bilang ini. Tapi, Mas Bagas bilang kalau dia suka sama Kak Anisa. Padahal jelas-jelas aku yang suka sama dia duluan. Aku sedih, Buk, Yah, mana mungkin aku menyakiti hati kakak. Aku tau, pasti Kakak juga suka sama Mas Bagas, kan?"


Anisa terlihat bingung dan serba salah. Sebenarnya, Bagas pernah menyatakan cinta padanya beberapa waktu lalu. Namun, dia menolaknya karena tidak ingin berpacaran sebelum menikah. Dia juga tidak mau mengambil resiko karena baru mengenal Bagas.


"Apa? Jadi Bagas suka sama Anisa? Sa, kamu kok tega banget sih sama Salsa. Lihat dia jadi sedih." Ramli menatap kecewa pada Anisa yang jelas tidak memaksa Bagas untuk menyukainya.

__ADS_1


"Apa sih, Yah, kenapa ayah malah menyalakan Anisa? Ya bukan salah Anisa kalau Bagas suka sama dia." Dewi mencoba membela Anisa. Dia masih kesal karena suaminya tak kunjung berubah.


"Iya, Yah, Ayah jangan salahin Kak Anisa. Salahin aja aku yang suka sama Mas Bagas. Harusnya aku tahu diri. Mana mungkin Kak Anisa menolak Mas Bagas demi aku. Aku siapa, sih?"


"Sa, jangan gitu, dong. Kamu berhak bahagia, Sayang. Pasti kita bisa melakukan sesuatu agar Bagas menyukai kamu." Ramli masih saja mengeluarkan kalimat-kalimat yang sangat menyakiti telinga Dewi.


"Udahlah, Yah, kamu pergi aja, deh. Salsa udah berubah, jangan diprovokasi lagi!" Dewi melotot pada Ramli yang hanya berdecak kesal.


"Iya, Yah, jangan kayak gitu. Mana mungkin aku mengkhianati Kak Anisa. Nggak apa-apa, kok, kalau Kak Anisa juga suka sama Mas Bagas. Yah, Salsa ikut tinggal sama Bibik aja, ya, di Bandung. Kayaknya Salsa nggak bisa tinggal di sini lagi. Salsa akan mencoba melupakan Mas Bagas."


Semua terkejut mendengar niat Salsa yang ingin tinggal bersama sang Bibi.


"Sa, kamu kok ngomong gitu sih. Aku sama Mas Bagas nggak punya hubungan apa-apa. Lagian kita cuma temenan aja kok. Kakak nggak mempunyai perasaan apa-apa sama dia." Anisa terpaksa membohongi Salsa agar gadis itu berhenti bersedih. Meskipun pada kenyataannya, dia juga menyukai Bagas.


"Ya, tapi kan Mas Bagas suka sama Kakak. Mana mungkin Kakak nggak mau. Mas Bagas itu kaya, ganteng, kantoran."


"Enggak, Sa, aku memang nggak suka sama dia. Sebenarnya ada satu orang yang sejak dulu udah aku sukai. Dia berkali-kali menyatakan cinta, tapi nggak pernah aku terima. Mungkin ini adalah waktu yang tepat untuk membalas perasaannya agar Mas Bagas berhenti menyukaiku."


"Siapa, Nis?"


"Emm itu, Bang Adit."


"Apa?" Mereka semua kompak terkejut.


"Adit mana, Nis? Adit sopir angkot itu?" tanya Dewi sambil mengernyitkan dahinya.


Perlahan Anisa mengangguk dan membuat mereka kembali terkejut.


"Kakak yakin suka sama dia? Dia itu kan cuma sopir angkot, kak?" tanya Salsa refleks. Padahal saat ini, dirinya sudah berhasil membuat Anisa mengalah.


"Ya, meskipun dia cuma sopir angkot, tapi dia baik dan pekerja keras."

__ADS_1


"Tapi, Nak, kamu nggak perlu menggunakan cara ini agar Bagas menyukai Salsa. Kita bisa pikirkan cara lain." Dewi menanggapi. "Dan kamu, Sa, jangan memaksa perasaan orang lain."


Salsa menunduk mendengar teguran sang ibu. Bukan sedih, melainkan kesal.


"Buk, jangan gitu, dong. Aku memang suka sama Bang Adit. Dan usiaku juga udah matang untuk menikah, kan? Tolong izinkan aku menikah dengannya, ya." Anisa memegangi tangan sang ibu agar mengizinkannya menikah dengan Adit.


Karena pada kenyataannya, Adit tak pernah bosan menyatakan cinta pada Anisa.


***


Anisa melajukan sepeda motornya melintasi jalanan untuk menemui Adit. Bukan, bukan di pasar, melainkan di sebuah rumah kontrakan yang diketahui merupakan tempat tinggal Adit.


Dia mengetuk pintu rumah Adit menunggunya keluar. Adit terkejut setengah mati bahkan hampir pingsan mengetahui wanita pujaannya mendatangi kediamannya.


Dengan pintu depan yang masih terbuka, mereka pun masuk ke dalam rumah dan mengobrol.


"Ada apa, Nis, kok tumben-tumbenan kamu ke sini. Kamu tahu rumah abang dari mana?" tanya Adit sambil memberikan secangkir teh kepada Anisa dengan tangan yang masih gemetaran.


"Itu nggak penting, Bang. Aku cuma mau tanya sama Abang. Abang masih suka nggak sama aku?"


Lagi-lagi Adit hampir pingsan mendengar pertanyaan dari Anisa. Apakah kepala wanita ini terbentur ketika dalam perjalanan ke rumahnya?


"Nis, kamu nggak salah nanya ini?"


"Jawab aja, Bang."


"Iya, Abang masih suka sama Nisa. Kan seminggu lalu Abang nyatain perasaan ke kamu. Tapi, kamu nggak respon, hehe."


"Bang, kalau Abang masih suka sama aku, apa Abang mau menikahi aku?"


"Hah?" Adit melongo mendengar pertanyaan Anisa yang lagi-lagi membuat jantungnya hampir copot. Dia melihat wajah Anisa yang sangat serius itu. Dia mengerti bahwa saat ini gadis itu tidak sedang bercanda.

__ADS_1


"Nis, Abang...."


__ADS_2