
Beberapa hari kemudian.
"Eh, Bu Ibu, udah lihat belum berita yang lagi heboh sekarang?" tanya Bu Lena saat dirinya dan beberapa ibu-ibu sedang berbelanja sayur di warung. Di sana memang menjadi tempat yang cocok untuk mengobrol.
"Iya, saya juga udah baca beritanya. Dan video mereka udah berseliweran, lho," ujar Bu Asih ikut menanggapi.
"Nggak nyangka, ya, ternyata suaminya Anisa itu bos besar. Malah suami saya kerja di salah satu pabriknya," ucap Bu Mega.
"Iya, duh, rezekinya emang bagus banget. Ya wajar, sih, dia kan anak baik dan berbakti. Nggak seperti adiknya yang nggak punya sopan santun itu. Tau nggak, waktu saya berantem sama dia, saya sumpahin dia supaya mengalami nasib lebih parah dari saya. Eh, ternyata malah terkabul. Dia disiksa sama suaminya." Bu Lena terlihat begitu senang menceritakan nasib Salsa.
"Bu, beli telornya sekilo, ya," ucap Dewi yang tiba-tiba saja datang ke warung itu. Bahkan ibu-ibu yang sedang mengerumpi tidak mengetahui kapan dia datang.
"Eh, Bu Dewi, belanja, Bu?" sapa Bu Asih.
__ADS_1
"Iya, Bu," sahut Dewi sambil tersenyum ramah.
"Bu, sini, dong, kami mau denger loh cerita tentang Adit. Kami udah denger beritanya. Adit itu ternyata seorang pengusaha sukses, ya." Bu Lena mengajak Dewi untuk bergabung dengan mereka.
"Alhamdulillah, iya, Bu. Udah lama saya tau, tapi Adit emang sengaja merahasiakan dulu pesta ulang tahun perusahaannya tiba." Dewi menghampiri mereka dan duduk di sebelah Bu Lena.
"Wah, enak banget punya menantu orang kaya. Minta beliin mobil lagi dong, Bu. Kapan lagi bisa nikmatin harta menantu," colek Bu Mega.
"Duh, saya nggak bisa kayak gitu. Selagi saya dan suami saya masih mampu, saya nggak akan minta sama menantu. Malu kalo kata saya." Dewi hanya mengulum senyum kecil.
"Masa, sih, Bu? Emangnya Della nggak keberatan? Maksud saya, anak ibu si Luki kan nggak kasih nafkah ke Della karena gajinya untuk ibu. Masa Ibu minta sih?" tanya Bu Lena sambil mengernyitkan dahinya.
"Ya nggak papa, dong. Kan jadinya uang saya dobel. Emang dasar si Della yang bucin parah sama anak saya, makanya dia mau-mau aja saya kadalin. Saya juga selalu tanamkan dalam diri Luki supaya lebih mengutamakan ibunya dulu, baru istri dan anaknya." Masih dengan senyuman penuh kebanggaan. Bu Mega seakan tak malu dengan apa yang dikatakannya.
__ADS_1
"Bu, kasian lho kalau anak mantu dibikin kayak gitu? Kalau nanti Della sadar terus minta cerai sama Luki gimana? Kan kasian rumah tangga anak sendiri jadi hancur," tambah Bu Asih.
"Ya kalau kayak gitu saya tinggal ke Mbah dukun aja terus minta jim...eh." Bu Mega yang keceplosan langsung menutup mulutnya karena sudah keceplosan.
"Anu, Bu, saya baru inget tadi lagi masak air. Saya duluan, ya." Bu Mega pun buru-buru pergi.
"Ya ampun, di zaman kayak gini, masih aja main magic. Nggak kasian sama anak orang." Bu Lena menatap prihatin.
"Ternyata dia nggak berubah. Dari dulu suka main magic. Ternyata rumor itu bener, ya. Suaminya aja dibawah ketiaknya. Pasti itu pake magic." Bu Asih mencibir.
"Duh, Ibu-ibu nggak boleh gitu. Ya udah, saya pulang dulu, ya." Dewi pun pamit pada mereka setelah membayar belanjaannya.
"Bu Lena, tadi cerita tentang Salsa gimana sih? Ayo dong cerita lagi." Bu Sumi yang merupakan pemilik warung rupanya penasaran dengan obrolan mereka tadi.
__ADS_1
"Dengerin, ya, Bu. Jadi gini, waktu itu kan saya lewat dari rumah Salsa. Terus kan saya tegur dia karena...."
Pembicaraan itu pun terus berlangsung hingga berhasil menjadi cerita yang siap untuk disebarluaskan ke para pembeli yang ada di sana. Sudah pasti, kisah Salsa dan ayahnya itu akan menjadi buah bibir masyarakat di daerah itu.